Manfaat Bermain Untuk Anak Usia Dini

Mainan Edukatif

Oleh: Amin Ngamah dan Dwi Susanti*

Bila kita menyebutkan kata bermain apa yang akan terlintas di pikiran kita, pastilah suatu aktivitas yang menyenangkan. Apalagi bila kita melakukan aktivitas bermain bukan hanya sekedar mendengar. Lalu bagaimana dengan anak? tentu saja anak sangat menyukai bermain, tidak dapat terelakkan lagi jika anak tidak terpisahkan dengan dunia bermain. Karena memang dunia anak adalah dunia bermain. Dimana ada anak pastilah ada aktivitas bermain. Tidak salah jika kehidupan anak akan diisi aktivitas bermain. Dengan bermain dunia akan lebih bervariasi, lebih berwarna dan lebih indah.

Sebenarnya apa itu bermain? Banyak para ahli yang telah menjabarkan istilah bermain, satu sama lain mendefinisikan konsep bermain berbeda menurut persepktif mereka. Begitu pun dengan kita apabila disuruh memberikan definisi bermain maka jawaban kita akan beraneka ragam. Menurut Karl Buhler dan Schenk Danzinger bermain adalah kegiatan yang menimbulkan kenikmatan, dan kenikmatan itu memberikan rangsangan tersendiri. Sedangkan Menurut Singer (dalam kustanti 2004) bahwa bermain dapat digunakan anak-anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan kreativitas anak. Dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep ilmiah tanpa paksaan.

Sebagai pendidik anak usia dini, bagaimanakah proses pembelajaran yang kita lakukan. Sudahkan membuat anak merasa senang, nyaman dan mampu menerima atau menyerap apa yang telah kita ajarkan. Apakah kehadiran kita sangat dinantikan, dirindukan ketika kita terpaksa ijin tidak mengajar mereka? Kalau justru mereka senang dengan ketidakhadiran kita maka kita perlu instropeksi diri, apakah mungkin mereka kurang suka dengan cara penyampaian atau metode mengajar kita. Memahami dan bersentuhan langsung dengan dunia anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan tetapi juga kesabaran, keuletan dan keikhlasan. Anak itu pribadi yang unik yang suka dengan bermain, untuk itu kita juga harus mengikuti dengan dunia mereka. Lakukan proses belajar dengan bermain, karena dunia anak memang dunia bermain. Berikan fasilitas yang anak butuhkan buatlah mereka mengeksplor dirinya, bantulah mereka menemukan dengan caranya sendiri jangan terlalu membatasi, karena pembatasan hanya justru menghambat kreatifitas mereka. Berikan rangsangan supaya kreatifitas anak muncul jangan matikan kreativitas. Belajarlah menyelami anak, karena dengan bermain anak akan menemukan segala sesuatunya dengan pemikiran sendiri. Jangan pernah melarang anak untuk bermain tetapi lebih arahkan mereka ke hal yang positif.

Manfaat Bermain

Secara umum bermain memiliki manfaat, setidak-tidaknya manfaat fisik dan release[1]. Secara fisik bermain dipandang sebagai aktivitas yang mampu menggerakkan badan. Sebagian besar orang dewasa memanfaatkan bermain dengan berolahraga seperti jogging, renang, bersepeda. Dengan berolahraga orang akan merasa lebih lepas berekspresi seperti dengan berteriak.  Walaupun berkeringat mereka justru tampak gembira. Jadi bermain memiliki manfaat kenikmatan, kesenangan, pelepasan energi, pengurangan ketegangan, relaksasi serta ekspresi diri.

Bermain juga dianggap sebagai kegiatan yang menyalurkan hobi dan menyatukan orang dalam konteks relaks sehingga banyak hal dapat dibicarakan tanpa menimbulkan gejolak yang berarti. Seperti membuat festival laying-layang ataupun pengadaan lomba tertentu. Berbeda. Bermain dalam kerangka ini dapat menyatukan orang dalam latar belakang yang berbeda.

Bermain juga dapat berfungsi sebagai pemeliharaan. Sebagian orang dewasa akan memanfaatkan bermain untuk sarana pemeliharaan tubuh. Seperti berjingkrak jingkrak, menyapu sambil menggoyang-goyangkan badan dan  kegiatan lain yang bersifat spontanitas. Bermain juga bisa bermanfaat untuk sarana mendidik anak, seperti ketika orang dewasa bermain dengan anaknya.bukan karena kelebihan waktu karena mereka mau mendidik anak. Melalui bermain mereka ingin menanamkan kebersamaaan, sprortivitas dan megajarkan aturan bermain yang lebih baku.

Menurut Sigmund Freud (1958) bermain dapat dijadikan terapi, anak-anak atau orang tertentu yang memiliki trauma atau masalah serius dapat diterapi lewat bermain. Terapi yang digunakan bisa dengan bermain boneka, bermain air, bermain pasir ataupun bermain lain yang telah dirancang.

Bermain menyediakan ruang untuk memanfaatkan imajinasi seperti dalam pengandaian, belajar perspektif seperti dalam bermain boneka dan peran, memunculkan ide baru, membangun konstruksi kerjasama dan mendapatkan konsep sistem.

Melalui bermain maka akan tercipta kepercayaan diri yang kuat dibanding anak-anak yang gagal bermain, akan menumbuhkan kemauan berbagi, memperoleh kecakapan turn talking (pola pergiliran bicara), membuat resolusi konflik dan mengontrol emosi agresi. Bermain juga mampu menguji ketahanan secara fisik, melatih konsentrasi, membangun ketekunan serta belajar mengambil resiko.

Manfaat bermain bagi Anak Usia Dini

Setiap anak pasti suka bermain, dengan bermain anak akan lebih ceria, senang dan bahagia. Bagi anak-anak bermain akan mempengaruhi enam aspek perkembangan anak (Catron & Allen, 1999)

Bermain Mengembangkan Kognitif Anak

Bermain membantu anak membangun konsep dan pengetahuan. Pengetahuan tentang sekolah, misalnya dibangun anak melalui informasi yang di dengarnya dari orang ain (termasuk dari teman sebaya) begitu menyimpan memori tentang sekolah maka akan diolah sehingga semakin lama akan menjadi konsep yang sempurna. Bermain membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, proses ini terjadi ketika anak bermain peran. Misal ketika anak bermain telp telponan maka anak belajar memahami pespektif orang lain dan bagaimana menemukan strategi bermain dengan orang lain serta bagaimana memecahkan masalah. Bermain mendorong anak berpikir kreatif.

Bermain Mengembangkan Kesadaran Diri

Bermain mengembangkan kemampuan bantu diri (self help). Melalui bermain anak menemukan, mengembangkan, meniru dan mempraktikkan rutinitas kehidupan sehari-hari. Seperti bermain boneka, menyusun balok mengatur tidur dan mandi. Bermain memungkinkan anak bereksperimen dengan aturan nonstereotip. Melalui bermain anak bisa mengembangkan variasi aturan, hal ini mendorong anak membuat keputusan sendiri. Bermain memberikan pelajaran tentang keselamatan dan ksesehatan. Bermain seperti ini dengan cara bermain peran.

Bermain Mengembangkan Sosial Emosional Anak.

Bermain membantu anak mengembangkan kemampuan mengorganisasi dan menyelesaikan masalah. Anak-anak yang bermain mesti bisa berpikir bagaimana mengorganisasi materi  sesuai dengan tujuan mereka bermain. Misal ketika bermain dokter-dokteran alat apa yang mesti disediakan, anak juga memikirkan apa tugas dokter atapun mengetahui karakteristik dari bermain dokter-dokteran. Bermain membantu anak mengekspresikan dan mengurangi rasa takut. Menurut  Barnett (dalam Brewer, 1995) menemukan bahwa anak-anak yang ketakutan akan terkurangi rasa takutnya setelah mereka mengekspresikan ketakutannya itu ke dalam kegiatan bermain.

Bermain membantu anak menguasai konflik dan trauma social. Bermain membantu perkembangan emosi yang sehat dengan cara menawarkan  kesembuhan dari rasa sakit dan kesedihan (Cass, 1974; Catron & Allen, 1999). Melalui bermain anak belajar menyerap, mengekspresikan dan menguasai perasaan mereka secara positif dan konstruktif.

Bermain membantu anak mengenali diri mereka sendiri, sedangkan mengenali diri sendiri mempunyai implikasi penting  bagi hubungan antar manusia. Anak akan belajar sendiri sebagai individu yang terpisah dan unik yang mempunyai pemikiran dan perasaan bermacam-macam pula, yang akan direalisasikan melalui pengalaman bermain imajinatif. Selain ituu mendorong anak untuk memahami dan menerima emosi mereka sendiri menimbulkan perkembangan diri yang lebih baik, meningkatkan hubungan serta kapasitas mereka untuk menghadapi tekanan dari perubahan.

Bermain Mengembangkan Motorik Anak

Bermain yang menimbulkan gerakan otot seperti berlari, melompat maka akan membantu anak mengontrol gerak motorik kasar. Anak usia 5 hingga 6 tahun perlu bermain aktif karena saat ini banyak anak menghabiskan waktu untuk aktivitas pasif seperti bermain hp dan menonton tv. Dengan melakukan olah tubuh secara aktif otomatis pertumbuhan fisik anak jauh lebih baik dibandingkan anak yang kegiatannya banyak beraktivitas pasif. Bermain juga membantu anak menguasai ketrampilan motorik halus, sperti menjahit, menata puzzle, memapu papan dan mengecat.

Bermain Mengembangkan Bahasa Anak

Bermain membantu anak meningkatkan kemampuan komunikasi. Mengapa? Karena bermain akan menyediakan ruang dan waktu bagi anak untuk saling berinteraksi dengan yang lain. Bermain akan menunjang perkembangan bahasa dan berbahasa anak bahkan bermain memiliki andil yang besar bagi perkembangan kognitif, emosi dan social anak (Bredekamp & Coplple, 1999). Bermain  akan memotivasi anak memperoleh bahasa kedua (Heat, 1982; Bredekamp & Copple, 1999), karena masa-masa awal perkembangan anak merupakan waktu yang tepat untuk memperoleh bahasa kedua.

Dalam bermain anak-anak dapat berimajinasi sehingga dapat meningkatkan kreativitas anak-anak. adanya kesempatan untuk berpikir  yang  lebih kreatif antara batas-batas dunia nyata menjadikan anak-anak dapat mengenal proses berpikir yang lebih kreatif yang akan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Jenis-jenis Permainan Tradisional dan Aspek Pengembangan yang terdapat di dalam Permainan Tradisional.

Permainan tradisional merupakan permainan yang telah diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya, yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang baik, positif, luhur dan tidak merupakan hasil industrialisasi. Hasil dari beberapa penelitian ternyata permainan tradsional dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan anak[2]. ang berasal dari nenek moyang kita. Berikut ini beberapa jenis permainan tradisional yang bermanfaat untuk pengembangan lingkup Anak Usia Dini.

Cublak-cublak Suweng

Cublak-cublak suweng merupakan permainan yang berasal dari Jawa Tengah, pencipta dari permainan ini belum jelas tetapi dapat dipastikan jika penciptanya adalah walisongo, tokoh penyebar agama Islam.

Peralatan yang dibutuhkan: biji-bijian, kerikil atau uang koin untuk dijadikan symbol “suweng”

Lagu yang dinyanyikan; “Cublak-cublak suweng…suwenge ting gelenter…mambu ketudhung gudhel…pak empong lera lere…sopo ngguyu dhelikake… sir sir pong dhele kopong… sir sir pong dhele kopong

Cara bermain:

  • Permainan ini membutuhkan setidaknya tiga anak dan diawali dengan undian.
  • Anak kalah akan menjadi pak empong dan menelungkup ke bawah di tengah, sementara yang lain duduk melingkari pak empong dengan telapak tangan membuka ke atas di punggung pak Empong.
  • Salah satu pemain memegang suweng. Suweng dipindah-pindahkan memutar dari telapak tangan yang satu ke yang lain sambil diiringi nyanyian Cublak Cublak Suweng bersama-sama. Begitu seterusnya sampai lagu dinyanyikan dua sampai tiga kali.
  • Pada kalimat “sopo ngguyu ndhelikake”, suweng diserahkan ke slah satu telapak tangan untuk disembunyikan dibalik tangan. Di akhir lagu, saat kalimat sir sir pong dhele kopong semua pemain pura-pura mengenggam suweng dan terus menyanyi, pak empong bangun untuk menebak siapa yang memegang suweng.
  • Apabila tebakannya salah harus telungkup lagi dan permainnan dimulai dari awal. Jika yang anak menjadi pak empong sampai tiga kali maka terkena hukuman sesuai kesepakatan namun hukuman sifatnya tidak menyakiti.

Permainan mampu mengembangkan aspek seni, karena permainan dilakukan sambil bernyanyi, anak dapat mencocokkan irama lagu dengan gerakan tangan. Selain itu melatih ketrampilan motorik halus juga dapat mengenal bahasa jawa.

Cina Buta

Cina buta merupakan permainan tradisional anak dari sumatera Utara. Cina buta dapat dimainkan oleh sepuluh sampai tiga puluh anak sekaligus. Permainan akan semakin seru jika lebih banyak.

Peralatan yang dibutuhkan adalah sapu tangan sebagai penutup mata. Bisa diganti yang lain asal bisa menutup mata, terutama berwarna hitam

Cara bermain:

  • Anak-anak yang bermain akan suit menentukan siapa yang akan bermain menjadi cina buta. Anak yang kalah yang akan menjadi cina buta.
  • Anak-anak yang lain membuat lingkaran dan cina buta ditutup matanya dan ditempatkan ke tengah lingkaran.
  • Anak-anak kecuali cina buta dapat menyanyikan lagu yang sesuai dengan bertepuk tangan.
  • Setelah selesai anak-anak berjongkok menghadap lingkaran. Setelah itu cina buta akan berjalan menuju kearah anak yang berjongkok dan meraba wajah dan menebak nama teman yang diraba. Apabila benar yang ditebak akan menjadi cina buta tapi bila keliru maka akan menjadi cina buta lagi. Permainan dilanjutkkan lagi.
  • Permainan berakhir bila semua sepakat.
  • Selama bermain anak-anak diperbolehkan berhenti untuk ijin apabila mau pipis dengan mengatakan encap.

Permainan ini melatih anak untuk bersosialisasi tanpa memandang latar belakang dan lewat permainan ini anak akan lebih mengetahui karakter fisik teman. Jadi dalam permainan ini karena bisa mengidentifikasi teman maka bisa amengembangkan aspek kognitif juga mengembangkan aspek sosial emosinal karena menanamkan sikap untuk tidak membedakan ketika memilih teman.

Jamuran

Menurut beberapa sumber permainan ini diajarkan oleh Sunan Giri.

Dalam permainan ini tidak ada peralatan khsusu yang digunakan. Namun semakin banyak anak yang ikut maka akan semakin ramai dan seru.

Cara bermain:

  • Permainan dilakukan oleh 4 orang atau lebih.
  • Diawali dengan hompimpa, anak yang kalah akan berjaga dengan berdiri di tengah lingkaran. Sementara yang lain mengelilingi sambil bergandengan dan menyanyikan lagu : “jamuran…jamuran yo ge ge thok, jamur opo yo ge ge thok, jamur paying ngrembuyung koyo lembayung, siro badhe jamur opo?
  • Setelah menyanyi lagu, anak yang membentuk lingkaran akan berjongkok dan menunggu anak yang berjaga menyebutkan jamur tertentu.
  • Misal anak yang jaga menyebut jamur parut maka yang lain akan mencari sandaran dan mengangkat salah satu kakinya untuk menggeliti kaki setiap anak dan yang tetawa akan menjadi penjaga berikutnya.
  • Selain jamur parut ada jamur yang lain misal jamur bunga, montor, angin, patung dansebagainya. Dan harus ditirukan oleh anak lainnya.

Permainan ini bisa melatihkan kemampuan berbahasa karena ada waktu disaat tanya jawab, anak juga bisa menuangkan ide untuk menjawab pertanyaan dari lagu jamuran.

Balap Karung

Pada zaman dahulu balap karung biasanya dimainnkan oleh anak laki-laki usia 6-12 tahun. Inspirasi permainan ini karena pada zaman system kerja romusha karung digunakan untuk penghangat tidur. Serta untuk menyimpan beras dan menyembunyikan senjata yang dirampas dari Jepang.

Peralatan yang digunakan

  • Arena permainan memanjang eskitar 20 meter lebar tiga sampai empat meter yang dibagi 4 atau 5 jalur.
  • Karung karung beras yang dapat dimasuki anak maupun orang dewasa.

Cara bermain:

  • Peserta memulai permainan dari garis start dengan memasukkan kedua kaki dalam karung dengan posisi berdiri.
  • Peserta akan balapan dan siapa yang sampai finish lebih dahulu itu yang menang. Peserta boleh jalan cepat ataupun melompat, peserta yang jatuh boleh berdiri dan melanjutkan permainan.

Permainan ini mengembangkan aspek motorik kasar karena  ada gerakan yang melibatkan otot besar. Selain itu meningkatkan semangat kompetensi, sportivitas, kemampuan membangun strategi

Petak Umpet

Jika di Sumatera Utara permainan ini bernama taratintin dan di Jawa Barat Ucing Sumput.

Peralatan yang digunakan: boleh pohon besar ataupun tembok untuk bersandar yang jaga.

Cara bermain:

  • Para pemain melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang berjaga. Semakin banyak yang ikut maka permainan akan semakin seru.
  • Pemain yang berjaga akan menghadap tembok/pohon dan berhitung 1-10 untuk member kesempatan bersembunyi bagi yang lain.
  • Setelah selesai berhitung maka penjaga mencari persembunyian semua teman yang lain sampai berhasil. Apabila berhasil maka penjaga berlari dan menyentuh tembok ini menandakan telah berhasil menenukan persembunyian. Apabila yang sembunyi mau tidak jaga maka harus menyentuh tembok/pohon dan mengucap thung jika di Jawa tengah. Yang ketemu maka akan jaga, tetapi jika berhasil menemukan temannya lebih dari satu yang jaga akan di undi,
  • Apabila saat berlari dan sama-sama menyentuh tembok antara penjaga dan yang bersembunyi maka diharapkan kejujuran dari keduanya, siapa yang lebih dulu.

Permainan ini mengembangkan aspek nilai agama moral karena ada penanaman nilai kejujuran didalam permainan ini, selain itu juga aspek kognitif karena ada waktu saat membilang 1-10. Fisik motorik juga terdapat didalamnya karena anak akan berlari.

*Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini Stainu Purworejo

Daftar Pustaka

[1] Dr. Tadkiroatun Musf iroh, M.Hum.” Bermain dan Permainan Anak” https://PAUD4201-M1.Pdf/ (diakses pada 20 Februari 2019, pukul 22:59)

[2] Iswinarti,M.Si Tim PlayPlus Indonesia.2016. “Ensiklopedi Permainan Tradisional Anak Indonesa”. Erlangga.