7 Larangan dalam Mendidik Anak

Tips

Didaksi.com−Mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Semua orang tua sudah pasti ingin mendidik anak sebaik-baiknya. Tapi keinginan saja tak pernah cukup tanpa dibekali dengan cara yang benar dan tepat. Apalagi serbuan teknologi saat ini cukup gencar, orang tua perlu cara bagaimana cara mendidik anak di era digital. Banyak orang tua yang menggunakan cara kurang tepat dalam mendidik anak, seperti menggunakan cara dengan kekerasan, selalu menyalahkan anak hingga keselahan-kesalahan mendasar lain. Untuk itu, orangtua dan guru harus mengetahui beberapa larangan dalam mendidik anak. Didaksi telah mengumpulkan 8 larangan dalam mendidik anak.

mendidik anak, cara mendidik anak nakal, larangan dalam mendidik anak

Menggunakan Kekerasan

Tidak sedikit orang tua yang salah membedakan antara kedisiplinan dan kekerasan. Dalam praktiknya, orang tua selalu menggunakan jalan hukuman-hukuman yang keras dengan dalih kedisiplinan. Kalau ada anak yang tidak bisa mengerjakan tugas sekolah, kemudian orang tua membentak dan bahkan mencibirnya, maka itulah kekerasan. Orang tua yang menggunakan kekerasan sebagai cara untuk membuat anak disiplin hanya akan membuat petaka bagi perkembangan mental anak itu sendiri. Anak menjadi sosok penakut untuk eksplorasi. Anak merasa tertekan untuk melakukan aktivitas belajar. Kondisi psikologis anak seperti inilah yang membunuh prestasi anak.

Anak yang didik dengan kekerasan tertanam kalau melakukan kekerasan itu adalah suatu yang wajar. Di alam bawah sadarnya sudah melekat bahwa mengatasi masalah dengan kekerasan itu bukan suatu yang tabu, tapi menjadi kewajaran atau bahkan dianjurkan. Ada penanaman nilai dalam diri anak yang menjadi bom waktu yang suatu saat meledak. Inilah yang melahirkan kekerasan berantai dalam sekolah hingga masyarakat.

Dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua memberikan kesimpulan bahwa anak-anak yang pada masa usia dini selalu dipaksa, baik itu melalui ajakan yang ketat, bentakan yang keras atau bahkan memaki-maki anak, maka itu akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental di masa yang akan datang. Anak itu juga mempunyai mental keras, walaupun secara hukum tindakan ini belum terbukti sebagai kekerasan, tapi kekerasan psikis anak berpengaruhpada mental kurang baik. Pengaruhnya tak langsung pada saat itu juga, tapi ini akan jauh kelihatan ketika anak sudah dewasa.

Secara lebih lanjut Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak. Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka dikemudian hari . Ini sangat potensial terjadi. Kalau anak-anak dalam masa usia dini dididik oleh orangtuanya dengan pendidikan yang memaksa, maka ketika dewasa ia akan agresif dan apa yang diinginkan atau tujuan utama dari melatih dan mengajari anak tak akan pernah tercapai.

Saatnya orang tua mengubur ambisi untuk menuntut anak dengan tekanan dan kekerasan. Cara tersebut juga dapat menurunkan wibawa orang tua dihadapan anak. Meski anak patuh dengan cara kekerasan, tapi itu kepatuhan yang berangkat dari keterpaksaan yang suatu saat akan sirna. Berbeda dengan orang tua yang menggunakan cinta kasih terhadap anaknya, maka itu melekat sepanjang masa. Maka sangat penting merubah tradisi kekerasan ke tradisi penuh cinta kasih sehingga anak merasa nyaman dalam belajar.

Perlu orang tua sadari bahwa rumah itu adalah tempat paling utama untuk memupuk anak agar berprestasi di sekolah. Kalau di sekolah anak sudah mendapatkan beberapa pelajaran dengan cara yang baku atau bahkan penuh dengan perintah, maka di ruah semestinya menjadi ruang belajar yang lebih menyenangkan, tanpa tekanan, dan menghibur. Orang tua semestinya menjadi tempat untuk mengeluarkan segala bentuk gundahan yang didapat dari sekolah.

Orang tua yang bijak tidak akan pernah menggunakan kekerasan sebagai media untuk mendidik anak. Meski anaknya sangat nakal dan tugasnya selalu mendapat tanda tangan merah, orang tua akan memahami lebih jauh kenapa itu semua bisa terjadi pada anak. orang tua tipe ini menganggap semu hasil kerja anak bukanlah sebagai sebuah kegagalan, tapi sebagai proses yang harus ditempa dan dilalui dengan penuh ketekunan dan kesabaran.

Menyalahkan Anak Saat Menemui Kegagalan

Ada orang tua yang tidak ingin berkompromi dengan kegagalan. Kalau anak melakukan suatu pekerjaan dan gagal, maka orang tua menyalahkan anak dan membandingkan dengan anak orang lain atau bahkan dengan saudaranya yang berprestasi. Misalnya, seorang ibu yang sangat membanggakan kakak sehingga ketika adiknya melakukan sesuatu dan itu dibawah jauh kualitas kakaknya, maka sang ibu tadi langsung mengatakan, “Kenapa kamu ini tak seperti kakaknya yang ketika dinasihati dan diberi tahu satu kali saja tentang gerakan dan bacaan shalat langsung manut sedangkan kamu meski berkali-kali masih terdapat banyak kesalahan”. Ungkapan itu atau bahkan ungkapan lain yang membanding-bandingkan antara kakak dengan adiknya atau bahkan dengan orang lain membawa efek yang kurang baik bagi anak yang dibanggakan dan bagi anak yang seakan direndahkan.

Bagi anak yang dibanggakan dari perbandingan itu berdampak secara psikologis yang kuran baik. Anak itu seakan menjadi anak yang sempurna sehingga sangat berpotensi untuk salah arah. Ini banyak kita jumpai anak-anak belita yang selalu disanjung atau bahkan selalu dielus-elus dari kecil ketika dewasa menjadi anak manja yang selalu membuat banyak kesalahan. Ini bagi saya sangat wajar mengingat ketika masih kecil ia selalu dibesarkan dengan sanjungan demi sanjungan sehingga perasaan bahwa dirinya orang yang sampurna dan tak mungkin berbuat kesalahan akan tertanam dalam pikiran bawah sadar.

Bagi anak yang selalu direndahkan dan orang tua menyalahkan karena telah gagal akan tumbuh menjadi orang yang selalu dihantui dengan keragu-raguan. Anak ini akan menjadi takut untuk melakukan eksprimentasi dan inovasi dalam hidupnya. Dalam kondisi yang ragu-ragu inilah proses belajar gerakan shalat dan bacaan pun justru akan menjadi lebih terlambat dari pada anak yang tak dibanding-bandingkan. Kalau anak ini melihat gerakan shalat orang tuanya, tentu untuk meniru secara langsung gagap karena dalam dirinya dihantui dengan keragu-raguan akibat dari selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Proses membanding-bandingkan ini sebenarnya sangat banyak terjadi pada orang tua yang tak mampu melihat kemampuan anak secara utuh. Orang tua yang membanding-bandingkan adalah mereka yang tak mampu melihat potensi kedirian yang tersimpan dalam diri anak sehingga ia membanding-bandingkan dengan orang lain. Semestinya orang tua tak harus membandingkan dengan orang lain, tapi akan lebih bijak apabila orang tua melihat lebih jauh kemampuan yang terdapat dalam diri anak.

Niat orang tua membanding-bandingkan antara kemampuan anak yang satu dengan yang lainnya tentu untuk menumbuhkan motivasi. Tapi ini salah alamat. Mugkin kalau orang tua membanding-bandingkan pada orang dewasa itu akan memicu dan menyulut semangat. Tapi kalau ini dilakukan pada anak kurang pantas. Anak bukanlah orang dewasa yang masih serba terbatas, baik fisik, kemampuan dan pengalamannya. Anak usia dini belum mempunyai pengalaman belajar yang luas sehingga untuk mengambil keputusan secara cepat belum bisa.

Kalau ada orang tua yang selalu membanding-bandingkan kemampuan anaknya dalam melakukan proses berlatih dan belajar shalat secara tak langsung ia telah mengambil jalan pintas untuk mendidik anaknya. Apapun tujuannya ketika dilalui dengan jalan pintas, maka itu akan menghasilkan sesuatu yang kurang baik dikemudian hari. Meski pada saat itu anak kelihatan diam dan seakan mengikuti apa yang kita inginkan, tapi itu akan berdampak secara psikis.

Orang tua semestinya memahami bahwa setiap anak mempunyai keunikan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Meskipun antara kakak dengan adiknya. Kakaknya bisa jadi mempunyai perkembangan motorik yang lebih lambat dibanding dengan adiknya sehingga melakukan gerakan shalat secara lebih lambat. Atau bahkan sebaliknya. Perbedaan kemampuan inilah yang semestinya diperhatikan sehingga orang tua tak melakukan kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal.

“Aku berpikir dan terus berpikir selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, sembilan puluh sembilan kali, kesimpulan yang kubuat salah. Yang keseratus kali aku benar” Itulah salah satu pernyataan Albert Einstein yang patut direnungkan oleh orang tua. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru itu adalah pintu masuk menuju kesuksesan. Orang tak akan pernah menjadi juara atau berprestasi tanpa melewati pintu kegagalan. Kalau orang tua langsung menyalahkan anak ketika gagal, secara tak langsung orang tua tersebut telah menghalangi anak untuk berprestasi.

Menyerahkan Tanggung Jawab pada Pembantu

Di era yang serba sibuk ini, tidak sedikit kita menjumpai orang tua yang menyerahkan proses pendidikan anak mereka pada orang lain, baik itu pembantu atau pun tempat pengasuhan anak. Orang tua lebih memilih untuk mengutamakan pekerjaan dibanding dengan berdampingan dengan anak. Mereka berfikir tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk mendidik anaknya seakan bisa lunas dengan menyewa pembantu untuk mendidik atau bahkan menyerahkan pada tempat penitipan anak.

Orang tua yang menyerahkan tanggung jawab pendidikannya pada anak berpengaruh terhadap tingkat prestasi anak di sekolah. Anak yang diasuh oleh orang lain mendapatkan kehangatan kasih sayang yang berbeda. Kasih sayang orang tua yang hangat tentu tidak tergantikan dengan kasih sayang orang lain. Ketika kasih sayang sudah tidak didapatkan oleh anak, maka motivasi untuk berkembang dengan baik juga akan tersendat.

Kasih sayang orang tua bagi anak ibarat bensin dan anak adalah motornya. Bagaimana mungkin motor akan berjalan dengan baik kalau bensinnya tidak bagus atau bahkan bensinnya banyak campuran airnya. Tentu jalannya akan terseok-seok. Itulah gambaran sederhana pentingnya kasih sayang bagi orang tua terhadap anak sehingga bisa meningkatkan prestasi belajar.

Anak yang tanpa kasih sayang juga akan bertindak keras dalam kehidupannya. Implikasi krusial ketika orang tua sudah melempar tanggung jawab anaknya pada pembantu tidak hanya berdampak pada kian menurunnya prestasi belajar anak, tapi juga pada proses pembentukan mental dan karakter anak yang cenderung lebih keras. Anak cenderung bersiap keras ketika menghadapi persoalan.

Sebelum semuanya terlambat, bagi orang tua, secara lebih khusus kaum ibu yang masih punya tanggungan dalam mendidik anak dan satu sisi juga masih mempunyai ikatan kerja, semestinya bisa mempertimbangkan mana yang perlu didahulukan. Apakah orang tua ingin anaknya berprestasi dan mempunyai karakter yang lemah lembut atau justru orang tua lebih memilih untuk mengedepankan pekerjaan dengan melempar tanggung jawab pada orang lain. Semua itu tergantung pada pilihan orang tua.

Kurang Apresiatif

Orang tua yang tidak mengapresiasi prestasi perkembangan anak, maka anak merasa kurang dihargai. Segala upaya yang telah dilakukan oleh anak untuk melakukan yang terbaik seakan tak mendapat respons apa-apa dari orang tua. Pada titik inilah semangat dan motivasi yang sebelumnya bergemuruh lambat laun pupus. Inilah awal dimana anak-anak sudah tak ada semangat lagi untuk menjadi sosok yang berprestasi. Bagi anak, berprestasi atau tidak, tidak ada perbedaan yang signifikan.

Anak tak hanya menurun dalam kualitas belajar, tapi juga beralih pada hal-hal lain, bisa saja perkara negatif, yang dapat menarik perhatian dari orang tua. Anak bisa melakukan perkara negatif untuk menyita perhatian orang tua. Motivasi dari perbuatan itu kadang hanya bentu sensasi dari anak untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.

Maka penting bagi orang tua untuk memberikan apresiasi pada anak sesuai dengan kapasitas prestasi yang telah dicapai. Apresiasi untuk anak tak harus dengan pemberian hadiah atau barang-barang yang mahal, tapi bisa melalui bentuk pujian, ciuman dan rasa kasih sayang pada anak. Semua bentuk apresiasi bermanfaat bagi anak. Dengan apresiasi anak merasa dihargai, disayangi dan dihormati. Itulah yang membuat motivasi.

Selalu Bertengkar di Depan Anak

Perselisihan atau bahkan pertengkaran dalam keluarga itu adalah suatu yang wajar. Pasangan suami istri tentu tidak semuanya selaras dan se ide. Pasti ada perbedaan pendapat dan ide yang bisa berujung dengan perselisihan apabila tidak dirawat dengan baik. Perselisihan dan pertengkaran itu menjadi kurang wajar apabila dilakukan di depan anak. Dan realitas semacam ini jamak kita menjumpai dimana orang tua sudah tidak lagi memperhatikan psikologi anak. Bertengkar seakan hanya urusan suami dan istri. Padahal secara tak langsung itu mempunyai pengaruh negatif bagi anak.

Orang tua yang bertengkar di depan anak sebenarnya menunjukkan sikap kurang dewasa. Sikap ini bisa ditampakkan dengan saling berkata kasar antara ibu dan bapaknya, saling bentak atau bahkan saling pukul diantara keduanya. Anak merekam semua perkataan dan perbuatan yang menampakkan sikap negatif itu dan berpengaruh pada dirinya.

Anak yang dibesarkan dalam situasi itu membentuk mental psikologi anak menjadi keras, jauh dari kasih sayang dan berpotensi untuk menimbulkan kenakalan remaja. Perlu kita sadari, beberapa kasus kenakalan remaja yang saat ini kian merajalela salah satu penyebabnya adalah diakibatkan oleh hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Anak mempunyai potensi untuk melakukan penyimpangan itu karena anak sudah kehilangan keteladanan dan perhatian dari orang tua. Keteladanan yang hilang dan perhatian yang kurang membuat anak merasa teralienasi dan keluar dari kehidupan keluarga dan mencari pelarian dengan perbuatan-perbuatan menyimpang.

Dengan demikian, hindarilah bagi semua orang tua untuk bertengkar di depan anak. Kalau ada perselisihan atau ketidak setujuan dalam bidang tertentu, maka carilah penyelesaian di tempat dan waktu dimana anak-anak tidak ada. Orang tua yang selalu bertengkar di hadapan anak-anak adalah sikap ‘bunuh diri’ dalam proses pendidikan. Anak-anak tidak hanya kehilangan semangat dan kepercayaan untuk berkembang, tapi juga menjadi virus yang mempengaruhi perkembangan mental anak.

 Terlalu Banyak Melarang Anak

Melarang adalah suatu sikap membatasi untuk tidak berkompromi dengan benda atau situasi tertentu, seperti orang tua yang melarang anaknya bermain diluar rumah.  Orang tua berkewajiban melarang anaknya apabila anaknya ingin melakukan sesuatu yang bisa berakibat fatal pada keselamatan diri anaknya dan dianggap kurang pantas, seperti anak yang masih berusia lima tahun tiba-tiba ingin belajar naik mobil.

Tapi tindakan melarang menjadi kurang baik apabila itu bisa membatasi ruang gerak anak untuk melakukan eksplorasi pikirannya, seperti anak-anak yang suka mencoret-coret buku untuk menggambar tiba-tiba dilarang oleh orang tua. Larangan orang tua terhadap anak yang tidak sesuai dengan kapasitasnya justru membunuh kreativitas anak itu sendiri.

Anak yang dibesarkan dengan terlalu banyak larangan untuk melakukan ini atau itu tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Dalam diri anak sudah terbentuk sikap untuk diam diri karena selalu dibentuk dengan larangan-larangan. Anak merasa takut untuk melakukan hal-hal baru, baik itu dalam bermain maupun dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Tindakan terlalu banyak melarang ini sungguh menjadi bumerang yang sangat bahaya bagi perkembangan kepribadian anak.

Tapi satu sisi orang tua juga merasa ketakutan ketika terlalu banyak membuka ruang bebas karena sudah terlalu banyak realitas sosial yang kebablasan dalam memberikan ruang kebebasan bagi anak. Banyak pergaulan-pergaulan yang mendorong dan menjebak anak. Hal ini menjadi pertimbangan juga bagi orang tua untuk membuka ruang kebebasan bagi anak-anak.

Maka salah satu jalan tengah bagi orang tua adalah sebagai pengontrol. Sikap orang tua yang baik jangan terlalu protektif  terhadap anaknya sehingga terkesan otoriter tapi juga jangan memberikan ruang yang terlalu longgar, terkesan permisif sehingga mengakibatkan anak kebablasan. Biarkanlah anak melakukan sesuatu yang diinginkan dengan catatan itu tidak mengancam fisik atau pun jiwa sang anak.

Kalau anak-anak melakukan sesuatu yang dapat menambah wawasan anak, maka berilah ruang. Kalau orang tua melakukan sesuatu yang berbahaya, berilah peringatan. Meski melakukan sesuatu yang berbahaya, janganlah langsung dilarang dengan keras karena itu akan membuat anak tidak percaya diri nantinya.

Selalu Mengabulkan Permintaan Anak

Setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk menafkahi anak, mulai dari memberi makan pada anak, belanja hingga kebutuhan dan keinginan lainnya. Banyak orang tua, terutama mereka kalangan menengah ke atas yang memenuhi segala kebutuhan dan keinginan anak. Setiap anak minta sesuatu maka orang tua langsung memberikan, tanpa berfikir lebih banyak efek dari apa yang dibeli dan bagaimana dampaknya secara psikologis apabila anak selalu dikabulkan permintaannya.

Sikap orang tua yang mengabulkan segala bentuk permintaan terhadap anak merupakan luapan cinta kasih. Tapi luapan cinta kasih orang tua terhadap anak juga ada cara tersendiri sehingga tidak membuat anak manja. Bersikap terlalu pelit dan membatasi keinginan anak untuk membeli sesuatu juga kurang baik. Orang tua yang mengabulkan segala bentuk permintaan dari anaknya juga kurang tepat. Ketika anaknya minta motor, orang tua langsung mengabulkan. Beberapa saat kemudian, ketika anak mintak dibelikan mobil, maka orang tua juga mengabulkan.

Sikap orang tua tersebut tentu membentuk karakter dan mental anak menjadi sosok hedonis dan lebih mementingkan penampilan. Anak yang permintaannya sering dikabulkan, maka setiap ada perkembangan baru anak akan mudah latah dan tidak berpikir panjang dengan langsung meminta sama orang tua. Kalau orang tua tidak mengabulkan, maka anak akan memberontak. Sikap ini merupakan akumulasi dari sikap orang tua yang mulai awal setiap anak meminta sesuatu langsung dipenuhi. Kebiasaan itu terus membentuk karakter dan sifat anak.

Secara lebih ekstrem banyak anak yang mulai awal permintaannya selalu dikabulkan, cenderung menjadi anarkis ketika orang tua tidak mengabulkan. Kalau anak-anak tidak anarkis, maka dia akan mencuri uang atau pun barang milik orang tuanya untuk membeli sesuatu yang diinginkan. Intinya, keinginan anak itu seakan menjadi kewajiban untuk dipenuhi sehingga pelbagai cara ditempuh untuk memperolehnya.

Dengan demikian, orang tua harus bisa mengontrol permintaan anak. Orang tua harus bisa membedakan mana itu kebutuhan dan mana keinginan. Kalau itu bersangkut paut dengan kebutuhan untuk pendidikan anak, maka orang tau wajib untuk mengabulkan. Kalau itu berkaitan dengan keinginan, maka orang tua harus mempertimbangkan terlebih dahulu. Apakah barang yang diminta itu layak untuk dimiliki oleh seorang anak atau tidak. Kalau barang itu layak dimiliki oleh anak dan anak siap untuk bertanggung jawab untuk merawatnya, orang tua bisa mengabulkan permintaan anak.

Daftar Bacaan
Kevin Steede, 10 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak, (Jakarta: Tangga Pustaka, 2008)
Barbara K, Given,  Brain-Based Teaching, (Bandung: K Kaifa, 2007)
Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad 21, (Bandung: Nuansa, 2002)
Ariesandi, Rahasia Mendidik Anak Agar Pintar dan Bahagia, (Jakarta: Gramedia, 2008)
Sandy Macgregor, Students’ Steps to Success, ter, (Bandung: Hikmah, 2007
Sandy MacGregor, Studets’ Steps To Success, 7 Langkah Menuju Sukses,Pen, Ibnu Setiawan (Jakarta: Hikmah, 2007)