Apakah Perlu Membedakan Mainan Anak Laki-Laki dan Perempuan

Mainan Edukatif

mainan anak perempuan, mainan anak laki-laki

Didaksi.com −Saat saya mengantar anak untuk beli mainan, maka saya cukup mudah menemukan display permainan yang terkotak-kotak berdasar gender. Satu sisi kita akan menemukan dispaly mainan boneka, perlengkapan alat rumah, masak-masakan dengan warna yang khas, seperti ungu, merah muda, renda dan pita yang mendominasi. Sementara di sisi sebelah, saya cukup mudah untuk menemukan mainan pistol-pistolan dan mobil-mobilan dengan warna hijau, hitam, abu-abu serta biru. Bagi sebagian besar orang dan bahkan penjual mainan anak itu sendiri, mainan boneka yang akrab dengan warna merah muda itu selalu dikonotasikan dengan mainan anak perempuan sementara di sebelahnya ada mobil-mobilan dengan warna hitam itu selalu akrab dengan mainan anak laki-laki.

Baca juga 10 Tips Memilih Mainan Anak

Apakah perlu membedakan mainan anak laki-laki dan perempuan itu dibedakan? Apakah laki-laki secara naluriah suka warna biru dan hitam sementara perempuan suka dengan warna pink dan biru muda? Apakah laki-laki bermain dengan mobil-mobilan dan pistol-pistolan sementara perempuan dengan boneka itu adalah kodrat inheren atau hanya konstruksi sosial? Bagaimana efeknya bagi masa depan kehidupan anak-anak?  Pertanyaan itu muncul dalam diri saya setelah melihat display permainan anak yang selalu membedakan berdasarkan jenis kelamin, mulai dari toko-toko konvensional hingga marketplace.

Kenapa Biru untuk laki-laki dan Pink untuk Perempuan

Philip Cohen, salah satu sosiolog dari University of Marylanda mengatakan bahwa pada mulanya tak ada perbedaan antara warna laki-laki dan warna perempuan. Laki-laki atau pun perempuan menggunakan gaun beranda putih. Pemilihan warna itu muncul belakangan yang lekat dengan strategi pemasaran dalam dunia bisnis.

Pink dan sejenisnya identik dengan warna untuk perempuan sejak perang dunia II, karena mantan ibu negara Amerika, Mamie Eisenhower dikenal mempunyai obsesi terhadap warna pink. Segala perabot dan barangnya selau penuh dengan warna pink. Tak heran ketika Mamie Eisenhower dijuluki sebagai ‘mother of pink’. Perempuan pada umumnya pada saat itu belum identik dengan warna pink. Tapi karena ibu negara selalu tampil di berbagai acar dengan warna pink, maka itu menjadi sorotan utama semua media.

Imajinasi publik terus dihubungkan bahwa warna pink elegan untuk perempuan. Pada tahun 1957, film Funny face, yang dibintangi oleh Audrey Hepburn sebagai Jo Stockton muncul ke publik dengan dominasi poster warna pink. Soundtrack film itu berjudul “Think Pink!” terdapat lirik yang berbunyi “What a woman oughtta think, but tell her if she’s gotta think: think pink!”. Warna pink terus digerakkan oleh banyak industri untuk identik dengan warna kaum perempuan.

Doktrin ihwal konotasi warna untuk laki-laki dan perempuan itu kian menguat ketika beberapa industri di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, mulai menggembor-gemborkan produk mainan anak laki-laki yang identik dengan biru dan perempuan berwarna pink. Pelabelan warna itu ada nyaris ada dalam setiap produk anak-anak, mulai dari mainan, baju, hingga perabot lainnya.

Konotasi warna yang dulu diberikan untuk kepentingan bisnis dan pemasaran kini sudah menjadi pemahaman umum. Kalau ada anak yang berbaju dengan warna pink, maka banyak orang langsung berpandangan bahwa itu anak perempuan, meskipun anak itu laki-laki. Konotasi warna sudah menjadi norma sosial yang sudah mapan di masyarakat hingga warna permainan dan displaynya juga dibedakan.

Preferensi Mainan Mobil-mobilan untuk Laki-Laki dan Boneka Untuk Perempuan

Tak ada bukti yang ihwal preferensi mainan, mobil-mobilan untuk anal kai-laki dan boneka untuk anak perempuan. Pemetaan itu tak lebih dari sekadar kebutuhan Bisnis. Agnes Nairn dan Ed Mayo Consumer Kids: How Big Business is Grooming Our Children for Profit (2009) mengatakan bahwa pemetaan mainan anak perempuan dan anak laki-laki sebenarnya tak lebih dari untuk mempertahankan bisnis demi meraup keuntungan dari kehidupan anak-anak. Anak-anak adalah dunia yang sangat menguntungkan secara profit sehingga kehidupannya diekploitasi dengan ragam cara.

Bagi Mayo, munculnya pasar anak-anak yang membedakan antara anak laki-laki dan perempuan adalah demi menghasilkan lebih banyak uang, pada dasarnya. Hal itu bukan sesuatu yang terprogram secara genetis, itu diciptakan secara budaya. Karena itu tak bersikap naluriah, maka kita bisa mempertanyakan dengan kritis ihwal perbedaan itu yang kini sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat.

Efek Negatif

Pelabelan mainan dengan bias gender dapat menghambat minat anak dan bakatnya. Dengan membatasi mainan anal laki-laki dan perempuan, anak-anak sudah dikotak-kotakkan pula ihwal impian dan cita-citanya di asa yang akan datang. Laki-laki cita-citanya juga selalu identik dengan pilot, pesepak bola, pembalap, presiden serta impian-impian lain yang dekonstruksi dari mainan anak yang bias gender. Perempuan cita-citanya juga dibatasi dengan model, ibu rumah tangga, penyanyi serta konotasi impian lain yang selaras dengan mainan anak-anak. Dari mainan yang bias gender menjalar menjadi sebuah impian hingga akhirnya juga berpengaruh pada struktur kehidupan masyarakat secara umum.