Apakah Thomas Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Sosok
Thomas Alva Edison Penemu, Thomas Alva Edison ADHD, Thomas Alva Edison
(Thomas Alva Edison/paxibay.com)

 

Didaksi.com—Sekolah dengan kelas konvensional menjadi “bencana” bagi Thomas Alva Edison. Datang ke sekolah, duduk dan mendengarkan instruksi guru sangat tidak  cocok untuk anak seperti Thomas, meskipun itu adalah skill yang dibutuhkan untuk berhasil di sekolah. Thomas yang mempunyai gaya berfikir tangential, idenya bisa melompat dari satu topik ke topik yang lain dan begitu juga perhatian dan fokusnya, akan membuat orang yang memerintah atau yang mendengarkan menjadi bingung. Itulah kenapa gurunya melabeli sebagai anak yang mempunyai kelemahan dalam belajar dan bahkan  secara ekstrem ada yang beranggapan Thomas mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Benarkah Thomas si jenius yang diusir dari sekolah itu mengalami ADHD? Apakah Thomas Edison heperaktif, impulsif, susah fokus/hiperfokus, sebagai gejala dari ADHD? Dengan seribu penemuan yang telah dipatenkan, Thomas yang dianggap gagal dalam ruang kelas dan sukses di kalangan kehidupanya mempunyai kisah unik yang sebagian orang diangap mendekati ciri-ciri ADHD.

Ada beberapa keunikan Thomas yang tak bisa dipahami di sekolah sehingga ia dilabeli anak yang bermasalah. Thomas mampu mengerjakan banyak proyek secara simultan. Thomas dan stafnya pernah mengerjakan empat puluh proyek pada satu waktu di laboratorium Menlo Park. Ketika mengerjakan satu proyek, di tengah jalan muncul ide baru, maka Thomas bisa beralih untuk mengejar ide barunya, bahkan kadang, proyek utama bisa dilupakan saat ada ide baru datang dan lebih menggiurkannya. Salah satu contoh, saat mengembangkan sebuah kabel transatlantik, Thomas menggunakan karbon bubuk sebagai konduktor dalam percobaan untuk mensimulasikan impedansi listrik. Tapi percobaannya rusak. Tentu Thomas sedikit kesal. Dengan cara berfikirnya yang mudah berpindah dari satu titik ke titik yang lain menyebabkan Thomas terpesona oleh properti baru yang ditemukan dalam karbon bubuk. Thomas mengikuti ide ini sampai membawanya untuk menciptakan penemuan lain yang bermamfaat untuk mengontrol arus listrik. Meski Thomas belum berhasil dalam ide utamanya, tetapi ide keduanya telah berhasil memperkuat sinyal suara di telepon yang baru diciptakan oleh Alexander Graham Bell.

Baca juga: Thomas Alva Edison; Si Jenius yang Diusir dari Sekolah

Thomas juga dikenal sebagai sosok yang perhatiannya mudah terganggu tetapi juga bisa menjadi sosok yang hyperfokus. Scott Teel Scott Teel Defending and Parenting Children Who Learn Differently (2007mengisahkan, dimana Thomas dari yang mulanya tidak terlalu konsentrasi, karena ada gangguan atau bosan,  tiba-tiba beralih menjadi sangat fokus. Menjelang hingga acara pernikahan berlansung,  Thomas masih memikirkan sebuak proyek. Salah satu proyek yang belum selesai itu tetap ada di pikirannya sepanjang upacara pernikahan. Thomas merasa butuh sedikit waktu untuk menyelesaikan proyeknya dan setelah itu ia akan bebas untuk berkonsentrasi pada pengantin baru. Ketika sampai di rumah, Thomas memberitahu bahwa dia akan pergi kerja sesaat. Ia berjanji untuk hanya pergi sebentar ke laboratorium. Beberapa jam kemudian, asistennya menemukan Thomas bekerja keras dan penuh semangat. Asistenya sungguh heran menemukan Thomas dan bertanya, “Kenapa kamu ada disini sampai tengah malam di hari pernihakanmu? Thomas menjawab, “I’ve lost track of time. I had best get home and celebrate my wedding” Perhatian Thomas memang mudah terganggu dan beralih pada satu perhatian yang kalau ia menyukaianya maka bisa menjadi hyperfucus dan lupa waktu. Ada begitu banyak kisah yang menunjukkan keunikan Thomas, mulai dari sosok yang hyperfokus hingga susah untuk konsentrasi, hiperaktif, bagi sebagian orang, beberapa ciri-ciri mirip dengan ADHD. Tapi bukan berarti Thomas adalah anak dengan ADHD. Tidak!

Thom Hartmann The Edison Gene: ADHD and The Gift of the Hunter Child (2003) menegaskan bahwa sifat hiperaktif, impulsif dan susah fokus/hiperfokus yang dimiliki Thomas tak bisa memberikan kita kesimpulan bahwa Thomas mengalami ADHD. Thomas memang mempunyai kerentanan genetik untuk didiagnosa ADHD, tetapi bukan berarti Thomas sama dengan anak-anak yang memiliki sifat ADHD. Ada banyak orang yang memiliki ciri-ciri seperti anak ADHD, tetapi kalau itu mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, maka itu bisa didiagnosa ADHD. Tapi kalau anak yang memiliki ciri ADHD dan tak menggangu dalam aktivitas keseharian, maka itu tak layak untuk didiagnosis ADHD.

Bagi Thom Hartmann, anak-anak yang mempunyai keseamaan gen atau bahkan sifat dan prilaku layaknya Thomas, justru menjadi berkah bagi masyarakat dan dunia, karena anak dengan tipe itu kalau proses edukasinya berlangsung dengan tepat akan cenderung menjadi sosok penemu ulung, inovator, dan pengusaha yang sukses. Kunci utama adalah bagaimana memahami cara belajar dan mampu mengungkap potensi utama yang terpendam, maka itu akan menjadi anak menggemparkan bukan anak bermasalah seperti yang disematkan pada Thomas oleh duru sekolahnya.

Tapi kalau anak dengan tipe seperti itu disalahtafsirkan sehingga harus berujung pada pendidikan khusus, maka mereka akan menjadi sosok yang reaktif, menantang dan cendrung menghilang kreativitasnya demi sebuah stabilisasi peraturan yang diterapkan di sekolah. Anak dengan tipe seperti Thomas akan selalu dianggap gagal, bodoh, terbelakang dan mengalami ganggun belajar di sekolah.

Mereka bukan penghafal pelajaran yang baik dan penerima intruksi yang patuh, tetapi mereka penuh dengan jiwa pelopor, penjelajah dan pertualang. Sekolah terlalu kecil menampung kreativitas anak-anak seperti Thomas dan anak-anak yang sejenis. Maka tugas utama ketika menemukan anak yang mempunyai ciri-ciri seperti Thomas adalah menemukan gaya belajar, mencari keunikan dan mendidik dengan panuh kasih sayang sebagaimana yang dilakukan Nancy Edison pada Thomas.

 Nancy Edison sebagai Penyelamat

Saat Thomas tak mendapat layanan pendidikan dan dilabeli sebagai anak yang bermasalah, maka Nancy Edison selalu ada untuk  Thomas. Thomas diklaem tak bisa tak bisa belajar, Nancy Edison justru percaya bahwa anaknya bisa belajar dan sukses. Nancy Edison percaya bahwa Thomas bisa belajar  dan memahami bahwa anaknya selalu belajar dengan cara yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Nancy ingin melihat dan mengembangkan kelebihan Thomas, bukan justru memamerkan kelemahannya dan terpojok dalam kubangan keputusasaan.

Nancy adalah ibu rumah tangga biasa yang mempunyai kasih sayang dan kepedulian yang luar biasa pada Thomas. Saat Thomas mengalami kesulitan, maka Nancy selalu ada disampingnya untuk menuntun Thomas menemukan jalan keluarnya. Ketika Thomas mengalami kesulitan, mana Nancy selalu memotivasi dan memeluknya dengan penuh kehangatan. Saat kesulitan itu terpecahkan, Nancy mengapresasi dan dengan antusias bertanya pada Thomas bagaiman cara memecahkan kesulitan itu.

Thomas pernah  melakukan eksprimen dan tak menemukan jawaban, kemudian bertanya pada ibunya, ternyata Nancy juga tidak tahu, akhirnya Nancy mengajak Thomas untuk menemui beberapa tokoh yang dianggap mampuni dan mendatangi perpustakaan untuk mencarai jawabannya, maka pemecahan belum juga ditemukan hingga akhirnya Nancy berkata pada Thomas, “Thomas sayang, kita telah berupaya dengan keras untuk memecahkan jawabannya tetapi tak seorang pun dan tak ada buku petunjuk satu pun yang bisa memecahkan. Kamu tahu artinya, berarti Tuhan menyuruhmu untuk menemukan jawaban untuk semua orang. Ayolah semangat dan terus mencoba. Kamu pasti bisa”

Menjadi orang tua yang menuntun anak-anaknya memang tak harus pintar dalam segala hal dan mampu menjawab pertanyaan yang dibutuhkan anaknya di segala bidang. Menuntun ak harus bisa segalanya, tapi menuntun itu harus memberi segalanya: kasing sayang, perhatian, kepedulian dan kerja keras.

Daftar Bacaan
Scott Teel Defending and Parenting Children Who Learn Differently, (New York:
Praeger Publishers, 2007).
Thom Hartmann The Edison Gene: ADHD and The Gift of the Hunter Child (United
States: Park Street Press, 2003)