Bahaya Pornografi bagi Anak

Isu Pendidikan

Didaksi.com−Pornografi tak lagi menjadi perbincangan privat, tapi sudah menjadi bahan konsumsi publik yang merambah dalam dunia anak-anak. Pornografi telah banyak menggelinding, menelisik dan merampas dunai anak-anak. Pornografi yang menyentuh dalam dunia anak tak kalah kerasnya dengan eksploitasi fisik dalam diri anak. Dunia anak-anak yang awalnya dihantui dengan kekerasan fisik kini berubah bentuk dengan modus yang sangat halus tapi menggerogoti karakter dan mental anak berupa gambar pornografi. Secara kasat mata pornografi bagi anak mungkin tak akan dengan instan diketahui pengaruhnya. Pengaruh pornografi terhadap diri anak-anak secara pelan tapi pasti akan mempengaruhi mental psikologis anak untuk selalu terbayang-bayang dalam hidupnya.

Menurut Elly Risman (2010) pornografi dapat merusak otak anak-anak, bahkan lebih jika dibandingkan dengan kerusakan dari narkoba. Baginya pornografi adalah kokain lewat mata. Lebih buruk daripada narkoba yang hanya menyerang tiga bagian pada otak. Pornografi dapat merusak lima bagian otak. pornografi merusak otak anak yang belum memiliki perkembangan prefrontal cortex (PFC) yang sempurna.

Betapa bahanya pornografi bagi anak yang belum memiliki PFC sampai-sampai lebih dari bahayan nakoba. Tentu ini bukanlah sebuah strategi komunikasi untuk menakuti agar anak menjauh dari pornografi, tapi ini merupakan fakta riil penelitian yang sudah sapat dipertanggungjawabkan validitasnya. Kalau narkoba selama ini menjadi bahan kecaman banyak kalangan, maka prnografi sejatinya juga menjadi kutukan bersama untuk menyelamatkan generasi-generasi bangsa.

Baca juga: 

Aksi pemberantasan terhadap pornografi selama ini cendrung sangat instan. Ibarat pemadam kebakaran, ketika ada korban pornografi, maka pihak orangtua, lembaga pendidikan dan pihak yang berwajib lainnya mengadakan razia. Mungkin pada saat dilakukan razia siswa tertangkap, tapi itu tak bakal memberikan efek jera terhadap siswa untuk berhenti total. Strategi ini tidak akan menuntaskan persoalan sampai pada akarnya, tapi hanya menyentuh permukaannya saja yang pada suatu saat akan kembali muncul.

Pendidikan Moral

Salah satu strategi paling penting untuk menghindari anak dari bahaya pornografi adalah lewat jalur pendidikan. Dengan medium pendidikan, baik itu pendidikan formal, informal dan non formal anak-anak akan memilih dan menghindari setiap sesuatu dengan sadar. Anak-anak akan melakukan sesuatu bukan karena tekanan, tapi karena memang itu pilihan pribadi yang dipilih dengan bekal pengetahuan. Menggerakkan sikap anak-anak dengan penuh kesadaran tak bisa langsung dengan hukuman, tapi lewat pendidian kasih sayang.

Anak itu ibarat balon yang apabila ditekan maka pantulannya akan semakin keras. Anak-anak apabila selalu dididik dengan herdikan, bentakan dan tekanan maka rasa pemberontakan dalam dirinya akan kian tinggi. Meski pada dasarnya apa-apa yang disuruh terhadap anak itu adalah kebaikan, tapi cara dan metode yang dibangun kurang tepat dengan psikologi anak-anak sehingga pesan yang ingin disampaikan tak membuahkan hasil yang maksimal. Tapi malah justru hanya menjadikan kepribadian anak-anak tambah keras dalam melawan.

Strategi lewat jalur tekanan ini hanya menjadikan anak sebagai korban dari sekian rentetan masalah yang pada mulanya bukanlah anak yang menciptakan. Siapa yang pertamakali membuat video pornografi dan siapa pula jejaring yang telah menyebarkan serta lewat jalur apa anak-anak bisa mengakses itu semua. Jawaban dari semua itu jelas-jelas bukan anak-anak, tapi mengapa kemudian ketika terjadi penyelewengan yang terjadi anak-anak selalu menjadi objek razia yang disalahkan.

Anak adalah korban dari rusaknya kultur sosial. Sebagai korban anak tak bisa langsung disalahkan dengan hitam putih. Menyalahkan dan menghakimi anak berarti hanya membunuh segelintir virus yang menyebar sedangkan akar dari virus itu belum sepenuhya dimusnahkan. Sangat penting untuk pihak yang berwajib untuk memberikan sangsi yang berat bagi pelaku dan pihak yang telah terlibat dalam penyebaran virus pornografi itu.

Dalam melakukan pendekatan terhadap anak alangkah lebih bijaknya apabila pihak sekolah bekerja sama dengan pihak orangtua dalam melakukan pendidikan moral. Pihak orangtua selayaknya sudah memberikan pendidikan anak ihwal bahaya pornografi mulai sejak awal. Sejak sarana informasi dan komunikasi, layanya televisi, dan Hanpone telah menjadi bahan konsumsi anak, pihak orangtua sejatinya memberikan pendidikan moral yang baik ihwal efek negatif dan positif dari sarana itu sehingga anak-anak dapat menggunakannya secara tepat dan benar.

Meski orangtua adalah lingkungan paling penting dalam memberikan kontrol terhadap anak-anak, pihak sekolah juga tak akan bisa dilepaskan perannya sebagai lingkungan kedua. Sekolah yang selama ini terkesan dengan peraturan yang kaku dalam menghakimi anak yang menjadi korban dalam peyebarluasan video porno bisa beringsut pada pola pendekatan yang lebih humanis. Janganlah anak-anak selalu dijadikan sebagai objek mencari kesalahan. Tempatkanlah anak-anak sebagai subyek didik yang merdeka yang nantinya bisa memilah dan memilih tentang mana yang baik dan mana yang kurang baik. Bukan berarti sekolah lembek dalam mengontrol anak-anak, sekolah tetap tegas dalam melakuka tindakan hukuman apabila menjumpai siswa yang salah.

Sumber Gambar: pixabay