Banjir: Konsep Integrasi dan Penerapannya dalam Pembelajaran PAUD

Strategi

 Banjir, pembelajaran, PAUD

Adakah yang bisa kita lakukan agar dunia tetap menjadi tempat dimana burung bisa terbang dan menyanyi, tempat kita menghirup udara yang bersih, tempat kita tidak takut tenggelam atau takut mengalami kekeringan yang membakar, tempat kita bisa membangun keluarga yang berkecukupan ?[1]

Dunia seperti yang diimpikan Thomas L. Friedman, kini menjadi harapan yang kusut dan lusuh. Bukan karena pesimis-miskin harapan, tetapi penghancuran sistemik terhadap lingkungan hidup sudah menggelinding jauh masuk ke pola hidup masyarakat dan merasuk dalam kebijakan. Tahun 2007, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mempresentasikan kepada publik dalam bentuk Vedio Compact Disk (VCD) laporan tentang perusakan dan penghancuran sistemik serta terancana bumi pertiwi Indonesia. Presentasi itu berjudul Indonesia…Sebentar Lagi (Indonesia….Twilight). Dihadirkan sorotan realitas sesungguhnya dari wajah Indonesia yang ‘gundul’, dilanda banjir, industri pertambangan yang tidak menghiraukan ekses bagi kualitas kehidupan, krisis air dan pembuangan sampah polutif. Dibalik peristiwa di Indonesia tersebut bercokol kemiskinan, salah urus, korupsi dan penggoblokan.[2]

Baca juga

Mengurai Problem Gerakan PAUD

Konsep Dasar PAUD

Bangsa kita sebenarnya mempunyai alam yang subur, hutan yang rindang kehijauan dan lautan yang menyimpan banyak ”mutiara”. Saat ini kesuburan itu tak memberi efek apa-apa dan hutan yang dulu menjadi penyelamat dan penyeimbang siklus kehidupan sekarang berubah menjadi ancaman. Keseimbangan alam pun seakan sudah berada diambang ketidakpastian. Menurut laporan FAO (Badan Pangan Dunia),[3] Indonesia menghancurkan hutan kira-kira 51 kilometer persegi setiap hari. Artinya kira-kira seluas 300 lapangan sepak bola yang hancur setiap Jam yang rusak karena penebangan hutan yang tidak terkendali. Tak heran kalau kemudian KOMPAS, 4 Mei 2007 berdasarkan data FAO dalam kurun waktu 2000-2005 menurunkan tulisan berjudul “Indonesia masuk “rekor Dunia’; tercatat sebagai negara penghancur hutan tercepat di Dunia.

Bangsa Indonesia sudah akrab dengan bencana, salah satunya adalah banjir. Bencana banjir menjadi persoalan yang tiada akhir menyandra kita, dari dulu hingga sekarang dan akan datang. Banjir telah menjadi bencana nasional. Pada tahun 2009 provinsi paling barat di Indonesia, Aceh sedikitnya dilanda banjir sebanyak 40 kali. Dalam waktu bersamaan daerah-daerah di Sumatra juga merasakan banjir. Bencana banjir juga terjadi di Sulawesi utara, pada tanggal 13 Februari 2009. Di Pulai Jawa, Bengawan Solo dan Sungai Berantas adalah sungai yang paling banyak menyumbang banjir untuk daerah Sragen, Ngawi, Madiun, Bojonegoro dan Gresik. Di Kota besar, layaknya Jakarta, banjir tidak hanya menjadi masalah social ekonomi, tetapi juga menjadi fenomena politik.[4]

Banjir dan genangan yang terjadi di suatu lokasi diakibatkan antara lain sebagai berikut; 1) Perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungan. 2) pembuangan sampah. 3) Erosi dan Sedimentasi. 4) Kawasan kumuh di sepanjang sungai. 5) Perencanaan Sistem pengendalian bajir yang tidak tepat. 6) Curah hujan. 7) Pengaruh fiografi/geofisik sungai. 8) kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai. 9) pengaruh air pasang. 10) Penurunan tanah dan rob, genangan akibat pasang air laut. 11) Drainase lahan. 12) Bandung dan bangunan air. 13) Kerusakan bangunan pengendali banjir.[5]

Bila dikalsifikasikan antara tindakan manusia dan yang disebabkan oleh alam, maka lebih banyak disebabkan oleh tindakan manusia dibanding dengan alam.[6] Sebelas sebab dari tindakan manusia meliputi; peruahan tata guna lahan, pembuangan sampah, erosi dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai, perencanaan pengelolaan system banjir yang tidak tepat, pengaruh fisiografi sungai, kapasitas sungai yang tidak memadai, penurunan tanah dan rob, drainase lahan, bendung dan bangunan air serta kerusakan bangunan pengendalian air. Sedangkan beberapa sebab alami hanya meliputi;curah hujan, pengaruh fisiografi sungai, kapasias sungai, pengaruh air pasang, penurunan tanah, kerusakan bangunan oleh bencana alam. Factor manusia lebih dominan dibanding dengan yang bersifat alami.

Rekayasa banjir—berbicara ihwal prinsi-pripsip ilmiah dan matematika untuk tujuan praktis, seperti desain dan operasi struktur yang efesien dan ekonomis[7]—dan menejemen banjir yang banyak mendalami tentang sisitem pengendalian banjir, pelaksanaan pengendalian banjir, kreteria perencanaan pengendalian banjir dan metode pengendalian banjir,[8] hanya menjadi bagian upaya untuk menanggulangi dan menangani terjadinya banjir. Aspek fundamental yang berkaitan dengan penyebab non alamiah dari banjir belum tergarap secara serius. Manusia sebagai penyebab non alamiah masih terus menjadikan alam sebaia objek ekploitasi. Melakukan rekayasa banjir dan menejeman banjir yang baik tanpa melakukan radikalisasi perubahan paradigmatic terhadap alam seperti menggarami lautan, ‘sia-sia’.

Proses eksploitasi ini terus berjalan dengan kecanggihan ilmu pengeahuan dan tekhnologi. Nilai-nilai etis sudah berganti dengan rasionalisme. Kearifan lokal yang dimiliki tiap-tiap daerah diberangus oleh paradigma positivistik yang rasional. Mereka sudah beranggapan kearifan lokal sudah tak relevan karena tidak bisa terukur dan terbukti secara rasional dan empiris. Padahal bangsa Indonesia yang majmuk ini sarat dengan kearifan-kearifan lokal yang serat dengan pesan moral-etis dan mempunyai cara kerja budaya tersendiri untuk memelihara lingkungan.

Dominasi pandangan antroposentrisme, menempatkan manusia di atas alam, telah menjadikan manusia sangat berkuasa yang bisa melakukan apa saja demi kepuasan sesua dengan kapasitasnya.[9] Kalau ia menjadi pengusaha maka ia akan mengekplorasi alam sesua dengan kepentingan bisnisnya, dan kalau ia menjadi penguasa akan menggulirkan kebijakan yang kurang menguntungkan bagi keseimbangan alam tak jauh beda juga dengan masyarakat. Jadi pada prinsipnya krisis ekologis yang selama ini terjadi akar pesoalannya terletak pada bangunan struktur nilai hidup manusia yang timpang dalam memandang dan berintraksi dengan alam.[10]

Dalam konteks inilah makna interelasi agama-sains menjadi sangat signifikan.[11] Dalam agama apapun, termasuk Islam, manusia yang menjadi khalifah di muka bumi ini disuruh untuk senantiasa memelihara, mengopeni dan menjaga seluruh keseimbangan ekosistem. Manusia memang menjadi khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi ini. Menjadi khalifah di muka bumi dengan tetap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Allah. Sebagai khalifah atau pemimpin yang mewakili, maka Allah menurunkan Al-Quran sebagai pijakan hidup (way of life) agar dalam menapaki jalan kehidupan ini sesuai dengan tugas kekhalifahannya, yakni untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi ini. (QS. Hud: 61).

Memang pada dasarnya seluruh ciptaan Allah di muka bumi ini diperuntukkan bagi ummat manusia agar mereka menikmati. Allah SWT berfirman “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menciptakan langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 29).

Tapi disisi yang lain, manusia tidak sekedar menikmati dan menggeruk keuntungan secara bebas dari penciptaan bumi ini, melainkan bagaimana manusia dapat menjaga keseimbangan lingkungan dengan memelihara dan merawatnya secara etis agar tidak terjadi kerusakan. Dalam firman-Nya “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah pada-Nya dengan rasa takut dan harapan sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuata baik”. (QS. Al-A’raaf: 56).

Ada sebuah penelitian yang cukup menarik untuk kita petik hikmahnya. Raoul France,[12] salah satu ahli biologi dari Wina, dalam penelitiannya menemukan fakta bahwa tanaman sanggup untuk mengemban tujuan mereka dapat meregang ke suatu arah atau mencari sesuatu yang mereka butuhkan melalui cara-cara yang sama mesteriusnya dengan kisah percintaan yang paling fantastis di kalangan manusia.

Tanaman, bagi France, kiranya tahu, semut mana yang akan mencari nektarnya, maka ia akan menutup diri ketika semut-semut tersebut lewat dan hanya akan membuka kembali ketika hanya ada cukup embun di batangnya. Untuk melindungi dirinya, tanaman menimbulkan duri, memproduksi rasa yang pahit atau sekrasi lengket yang dapat menagkap dan membunuh serangga-serangga jahat.

Ilustarsi tersebut hanya ingin menggambarkan ihwal tanaman yang menjadi bagian dari lingkungan kita juga mempunyai kepekaan, rasa, ingatan sebagaimana makhluk ciptaan Allah yang lainnya. “seperti halnya manusia, tanaman pun berfikir, berbicara, dan berinteraksi dengan bahasanya sendiri…. “.[13] Itulah salah satu ungkapan ekstrem Peter Tompkinn tentang tanaman yang hanya menjadi bagian dari lingkungan kita sehari-hari. Sungguh tidak terbayangkan kalau lingkungan, layaknya hutan, yang diberlakukan semena-mena oleh ummat manusia; Bagaimana sesungguhnya seruan mereka terhadap manusia yang tidak etis dalam menyikapinya. Dalam hal ini tidak heran kalau Tuhan dalam salah satu ayatnya telah menegaskan ihwal kerusakan yang ada di muka bumi ini tidak lebih hanyalah dampak dari perbuatan manusia itu sendiri. Itulah salah satu bentuk kcmunikasi klimaks dari lingkungan hidup untuk berkomunikasi dengan manusia.

Kerusakan lingkungan yang kian hari kian parah membutuhkan tumbuhnya kesadaran semua pihak untuk bahu membahu mengatasinya, termasuk juga elemen agama. Permasalahan lingkungan tidak hanya butuh ketegasan hukum dan kesigapan pemerintah, peran pendidikan untuk menumbuhkan paradigma peserta didik yang berwawasan lingkungan menjadi program jangka panjang yang sangat vital dalam menopang masa depan ummat manusia. Tumbuhnya kesadaran kolektif ihwal peran lingkungan hidup dalam menopang masa depan adalah kunci awal untuk memulihkan prilaku-prilaku eksploitatif terhadap lingkungan.

Di Indonesia, Islam menjadi agama mayoritas pemeluknya, pendidikan Islam pun sangat dituntut perannya untuk melahirkan manusia-manusia yang mempunyai kesadaran lingkungan. Pendidikan Islam harus progresif dan respek terhadap dinamika perkembangan zaman. Dulu sebelum Indonesia merdeka pendidikan Islam berperan dalam mengeluarkan Indonesia dari jeratan kolonialisme dengan gaya menghadapi pendidikan kolonial yang menindas.[14] Saat ini, setelah penjajahan kolonial bubar dan beralih terhadap persoalan-persoalan baru, termasuk persoalan banjir yang diakibatkan oleh cara pandang yang salah terhadap alam, pendidikan Islam juga dituntut untuk berperan aktif.

Maka pada kajian ini akan dibahas konsepsi; makna dan macam-macam banjir, penyebab banjir dalam persepektif sains dan agama, serta bagaimana penerapannya dalam model pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Membangun konsep yang integrative tentang fenomena banjir cukup penting agar kita mampu membaca persoalan banjir dan mencari strtaegi besarnya secara lebih holistic. Dan berbicara penerapannya dalam PAUD itu juga sangat penting agar proses ekternalisasi dan internalisasi kesadaran akan lingkungan hidup bisa bermula dari dini.

Adaptasi

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Banjir di daerah pantai dapat disebabkan air laut pasang naik yang terlalu tinggi.[15] Banjir adalah meluapnya aliran sungai akibat air melibihi kapasitas tanpungan sungai sehingga meluap dan menggenangi dataran atau daerah yang lebih rendah di sekitarnya.[16]

Bagi Mislan ada dua pengertian mengenai banjir: (1) aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah disisi sungai. Aliran air limpasan tersebut yang semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka tanah yang biasanya tidak dilewati aliran air, dan (2) gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka air di muara akibat badai. Untuk negara tropis, berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat dikategorikan dalam kategori: (a) banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia, (b) banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai, (c) banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, bendung, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir dan (d) banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan tidak dapat menahan tekanan air maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir bandang.[17]

Bencana banjir memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1. Banjir biasanya terjadi saat hujan deras yang turun terus menerus sepanjang hari.
2. Air menggenangi tempat-tempat tertentu dengan ketinggian tertentu.
3. Anjir dapat mengakibatkan hanyutan rumah-rumah, tanaman, hewan dan manusia.
4. Banjir mengikis permukaan tanah sehingga terjadi endapan tanah di tempat-tempat yang rendah.
5. Banjir dapat mendangkalkan sungai, kolam atau danau.
6. Sesudah banjir, lingkungan menjadi kotor oleh endapan tanah dan sampah.
7. Banjir dapat menimbulkan korban jiwa, luka berat, luka ringan, atau hilangnya orang.[18]

Ada beberapa macam dan jenis banjir.

1. Banjir Bandang.
Banjir Bandang tak hanya membawa materi air, tapi banjir yang satu ini juga mengangkut material lain berupa lumpur maupun sampah. Banjir seperti ini jelas lebih berbahaya daripada banjir air. Dari sekian banyak kejadian, sebagian besar diawali oleh adanya longsoran di bagian hulu sungai, kemudian material longsoran dan pohon-pohon menyumbat sungai dan menimbulkan bendung-bendung alami.[19]

2. Banjir Sungai
Banjir sungai terjadi biasanya karena ada curah hujan yang beralngsung lama. Air sungai yang ada meluap dan menimbulkan banjir disekitarnya. Banjir ini biasanya terjadi musiman. Salah satu contohnya fenomena banjir di Jakarta, Bengawan Solo dan beberapadaerah sungai lainya.

3. Banjir Pantai.
Banjir ini berkaitan dengan adanya badai siklon tropis dan pasang surut air laut. Banjir besar yang terjadi dari hujan sering diperburuk oleh gelombang badai yang diakibatkan oleh angin yang terjadi di sepanjang pantai. Pada bajir ini air laut membanjiri daratan karena satu atau kombinasi pengaruh-pengaruh dari air pasang yang tinggi atau gelombang badai.[20]

4. Banjir lahar dingin.
Banjir ini biasanya datang apabila terjadi erupsi gunug merapi. Erupsi inilah yang kemudian mengalirkan lahar dingin dari puncak gunung ke pelbagai kaki gunug dan sungai-sungai yang ada di bawahnya.

Penyebab terjadinya banjir pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga factor.[21]
1. Pengaruh aktivitas manusia.
– Pemamfaatan dataran bajir yang digunakan untuk pemukiman industri.
– Penggundulan hutan yang kemudian berimplikasi pada mengurangnya resapan tanah dan meningkatkan larian tanah ke permukaan.
– Membuang sampah ke sungai. Masyarakat yang tinggal di bantara sungai masih banyak yang tidak memiliki kesadaran menjaga lingkungan hidup. Banyak diantara mereka yang masih mempunyai kebiasaan membuang ke sampah ke sungai. Membuang sampai ke sungai akan menimbulkan arus air kian mengecil. Ketika sampah itu sudah menumpuk di sungai dan musim hujan datang, maka terjadi peningkatan debit air sungai, karena air sungai terhalang oleh aliran sampah, maka terjadilah banjir.[22]

2. Kondisi alam yang bersifat statis.
– Kondisi geografi yang ada pada daerah yang rawan badai atau siklon
– Kondisi topografi yang cekung.
– Kondisi alur sungai, mulai dari tingkat kemiringan hingga pada bentuknya.

3. Kondisi alam yang bersifat dinamis.
– Tingginya curah hujan.
– Ada pembendungan atau araus balik
– Penurunan muka tanah atau kerapkali ambles.
– Pendangkalan dasar sungai karena sedimentasi yang tinggi.

Kalau penyebab banjir yang ada di Indonesia lebih disebabkan oleh factor alam, tentu rekayasa dan menejeen banjir yang sudah pernah dilakukan sejak dulu akan bisa mengurangi tingkat intensites banjir. Sebagaimana penulis telah singgung sebelumnya, penyebab banjir di bangsa kita ini lebih banyak factor manusia. Lingkungan kita telah banyak yang dikeruk dan dirusak.

Permasalahan mendasar dari kerusakan lingkungan adalah keserakahan. Sifat ini telah mewabah dalam seluruh sektor kehidupan, mulai dari penguasa, pengusaha dan masyarakat. Absennya kesadaran akan eksistensi lingkungan hidup sebagai penopang keseimbangan alam yang menjangkiti penguasa, industri dan masyarakat berdampak pada terjadinya pelbagai bencana.[23] Pola relasi manusia dengan yang lainya bersifat instrumental, yakni menjadikan alat bagi kepentingan manusia. Inilah yang oleh Sonny Karef menjadi sebab utama terjadinya eksploitasi berlebihan sehingga berimplikasi terhadap krisis ekologis.[24]

Penguasa kesadarannya telah tergadaikan kepada pengusaha. Mereka sudah tidak lagi mempunyai karangka berfikir jangka panjang. Yang ada adalah bagaimana dapat menguntungkan bagi diri dan keluarganya. Pada titik egoisme yang tak terpertihkan inilah penguasa akan semena-mena mengeluarkan kebijakan lingkungan. Pasal demi pasal pun akan mudah terjual asal memenuhi pasal kepentingan diri dan kelompoknya.

Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2008 adalah salah satu bukti kongkrit bahwa pemerintah telah menjual hutan lindung kita. Kebijakan tersebut oleh banyak kalangan aktivis lingkungan dianggap akan mengancam terhadap kelestarian lingkungan kedepan. Karena dengan peraturan tersebut seakan-akan pemerintah telah mengkomersialisasikan hutan lindung pada para kaum kapitalis. Suatu hal yang pasti ketika hutan lindung sudah berada pada genggaman kaum kapitalis, maka ancaman serius keruisakan lingkungan tidak bisa terelakkan lagi.

Pemerintah sebenarnya bukan tidak tahu akan implikasi serius dari keluarnya peraturan tersebut. Tapi pengetahuannya telah kalah dengan sifat keserakahannya. Pengetahuanya telah tumpul dan diganti dengan nafsu-nafsu dan ambisi pribadinya. Sehingga korporasi alais kongkaligkong dengan pengusaha sangat dimungkinkan terjadi. Transaki pasal demi pasal antara penguasa dan pengusaha menajdi rahasia umum yang sangat mencekik dan tidak menguntungkan bagi masa depan lingkungan.

Ketika pemerintah sudah tidak lagi mengutamakan kepentingan khalayak umum dalam mengambil suatu kebijakan atau bahkan sangat mendiskreditkan rakyat, maka pada saat inilah benih-benih frontal dari rakyat juga akan mencul. Dalam keadaan hidup yang serba mepet dan pas-pasan sedangkan banyak kebijakan pemerintah yang justru melegitimasi kemiskinannya maka tidak berlebihan kalau kemudian dari mereka banyak yang melakukan penebangan hutan dan pelbagai eksploitasi yang lainnya.

Pemerintah yang selama ini masih berpijak pada pertimbangan kapital sejatinya dierubah pada pola yang lebih humanis. Bukan berarti hutan atau lingkungan kita tidak bisa dijadikan bahan komersial untuk mendatangkan keuntungan yang bermamfaat, tapi itu butuh pertimbangan yang serius dan jeli. Kalau dalam perjalanannya hutan kita dapat mendatangkan keuntungan tapi pada sisi lain itu akan berimplikasi pada keselamatan lingkungan, maka lebih baik keuntungan kapital diundur dulu. Yang sejatinya paling diutamakan bukan keuntungan kapital tapi keseimbangan alam. Keseimbangan dan kelestarian alam sungguh harganya tidak ternilai.

Eka Budianta menegaskan bahwa dalam melihat dan memecahkan persoalan lingkungan hendaknya tidak berpangkal semata-mata pada keuntungan bagi manusia, melainkan bagi lingkungan secara menyeluruh maupun keseimbangan ekosistem itu sendiri harus menjadi pertimbangan yang tidak disepelekan. Pertimbangan secara menyeluruh, seperti aspek ekonomi menguntungkan dari segi tidak berlebihan, selayaknya menjadi kalkulasi yang seimbang dalam mengambil suatu kebijakan.[25]

Begitu juga dengan rakyat sebagai orang yang paling akrab dengan lingkungan. Hendaknya paradigma lingkungan sebagai obyek yang harus digeruk dan diambil keuntungannya untuk memenuhi kebutuhan kapital dirubah pada pola posisi yang sejajar. Karena bagaimanapun paradigma subyek-obyek yang selama ini banyak dipakai telah banyak berimplikasi pada kian menjamurnya praktik-praktik eksploitasi dan penggerogotan lingkungan. Maka dengan merubah paradigma lingkungan sebagai obyek pada subyek yang sama-sama mempunyai peran, diharapkan pola intraksi kita dengan lingkungan akan berubah pada arah yang lebih berpihak bagi kelestarian dan lingkungan.

Paradigma Interelasi dalam Bencana Banjir

Di dalam Al-Quran (Bayani) banyak sekali Surat dan ayat yang berkaitan dengan bencana alam dan banjir. Banjir besar pernah terjadi pada kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaumnya Nabi Nuh. Peristiwa banjir yang menelan banyak korban itu bisa kita kaji dalam ayat Al-Quran Surah Hud ayat 32—49, Surah al-A’raf ayat 65—72, dan Surah Saba ayat 15—17. Secara teologis, awal timbulnya banjir tersebut karena pembangkangan umat manusia pada ajaran Tuhan yang coba disampaikan para nabi. Namun, secara ekologis, bencana tersebut bisa diakibatkan ketidakseimbangan dan disorientasi manusia ketika memperlakukan alam sekitar.[26]

Dalam surat lain terdapat dalam Surah Al-Mu’minun ayat 23, Surah Al-Ankabuut ayat 29 serta beberapa ayat lain yang terkandung di dalamnya. Fenomena banjir di dalam Al-Quran tidak hanya dijelaskan secara teologiss, tetapi secara tersirat juga mengandung aspek ekologis. Ketika kita membaca ayat ayat al-Qur’an di antaranya surah Hud ayat 32-49, surah al-A’raf ayat 65-72, dan surah Saba ayat 15-16, secara teologis banjir terjadi karena ada pembangkangan. Aspek ekologisnya banjir itu terjadi karena ketidakseimbangan alam. Dalam Alquran dijelaskan, “Bukanlah Kami yang menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, (disebabkan) citra (kondisi) lingkungan mereka tidak mampu menolong di saat banjir, bahkan mereka semakin terpuruk dalam kehancuran,” (QS. Hud: 101). Masih ada beberapa ayat lain yang berkaitan dengan banjir dan bencana alam secara umum.

Di dalam Al-Quran juga terdapat acuan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Firman Allah Swt yang berkaitan dengan tujuan alam semesta, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Q.S. Ali ‘Imrān: 190-191)

Firman Allah Swt yang berkaitan dengan menjaga keseimbangan alam. “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Alqashash: 77)

Di dalam Surah Saba ayat 15—17 memberi petunjuk bahwa memamfaatkan sumber energy alam (hutan, lading dan lain-lain) dengan cara-cara kufar (keserakahan, kesombongan dan lain-lain) hanya akan menimbulkan kehancuran negara di masa yang akan datang. Di dalam kasus keseharian kita bisa membaca mengenai munculnya banjir besar di daerah hutan yang sudah digunduli, yang menyebabkan terkelupanya bagian atas tanah yang subur karena erosi dan munculnya tanah-tanah marginal.[27]

Di dalam Al-Quran terdapat ayat yang menjelaskan ihwal siklus zat makanan yang apabila berjalan dengan normal akan membentuk suatu proses sirkulasi keseimbangan bagi alam. “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS 39: 21)

Tampaknya dari penelitian empiris kita dapat mengetahui apa yang dikatakan siklus dalam hidrologi bahwa air hujan yang turun dari langit akan terbagi ke dalam pelbagai bagian, yaitu yang mengalir ke permukaan bumi, yang tertahan di reservoir dalam bentuk basin di dalam tanah, mata air, dan lain-lainya sehingga semua membentuk sumber air dalam perut bumi. Air yang menguap pun akan kembali ke atmosfer melalui evapotranpirasi dan melalui proses fisika dan kimia, uap ini berkumpul menjadi awan yang selanjutnya akan sangat berpengaruh dalam geofisika dalam bentuk gurun dan angin.[28] Siklus ini terus berputar dan berkembang dengan penuh keseimbangan.

“Hujan Pulang Kemana?” Itulah salah satu pertanyaan kontemplatif (Burhani) saat melihat curah hujan yang deras datang sementara lingkungan sudah penuh dengan perusahaan-perusahaan industri, sungai-sungai sudah disesaki dengan kotoran sampah dan ruang-ruang hijau tak sebanding dengan berdiriya mal-mal yang menjulang tinggi. Seketika itu pula saya langsung matikan televise yang menyiarkan ihwal traged banjir Jakarta yang sudah berminggu-minggu belum juga reda. Bukan karena apatis dan menghindar diri, tetapi saya mencoba membandingkan antara Jakarta dan kampung saya; kalau datang musim hujan, Jakarta seakan kedatangan ‘tamu’ yang tak diharapkan, yakni banjir sementara di kampung saya, tamu yang datang itu sudah ada tempat untuk menampungnya. Air hujan pulang ke permukaan bumi ada juga yang mengalir dalam perut bumi.

Meskipun terjadi hujan yang deras dan sampai satu hari lebih, kampung dimana saya besar itu, banjirnya hanya dalam batas yang normal, beberapa saat kemudian genangan air itu menghilang dan kembali seperti semula. Kadang saya merasa miris proses industrialisasi belum berkembang di kampung saya, tetapi pada saat yang bersamaan saya juga bersyukur kehidupan alamiah menyuguhkan hal berbeda yang tak bisa di temukan dalam ruang-ruang perkotaan yang tanpa jeda—bukankah kata Paulo Coelho makanan yang bagus itu sesuatu yang ada di gunung dan laut.

Apakah saya berkesimpulan banjir itu karena proses industrialisasi? Tentu tidak. Itu adalah kesimpulan yang simplikatif. Saya hanya berpandangan sebuah kota yang kebijakannya sudah tersandran nalar korporasi,[29] maka kaidah-keidah keseimbangna alam menjadi nomor dua dibanding dengan menggeruk keuntungan sebanyak mungkin. Ruang-ruang hijau digusur demi pembangunan, polusi kian hari kian pekat dan sungai-sungai mudah tercemari. Itu adalah resiko dari industrialisasi. Resiko ini menjadi bom waktu yang menimbulkan banjir di kemudian hari apabila tidak diiringi dengan kesadaran yang kuat dari masyarakat setempat untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Mamfaat dan kegunaan (Irfani) kita belajar banjir adalah membangun kesadaran, membentuk prilaku yang sadar lingkungan dan tentu jangka panjangnya adalah menghasilkan kebijakan yang mempertimbangkan keseimbangan lingkungan. Paradigma tentang lingkungan yang selama ini masih cendrung dijadikan sebagai obyek pasif yang bebas untuk dieksplorasi dan dieksploitasi berubah menjadi seimbang, yakni, dengan menganggap bahwa untuk menciptakan keseimbangan lingkungan, menempatkannya sebagai subyek yang sama-sama mempunyai nilai dan peran besar terhadap masa depan manusia adalah syarat vital.

Nilai lain adalah membentuk pola kehidpan kita sehari-hari menjadi lebih sadar lingkungan, seperti membuang sampah secara beak, tidak mudah menebang pohon, menjaga kelestarian sungai dan tidak mencemarinya serta prilaku-prilaku yang bisa monopang keseimbangan lingkungan. Prilaku-prilkau ini adalah siasat penting dalam keseharian kita. Ketika kita telah mengetahuai fenomena banjir yang banyak diakibatkan oleh prilaku manusia yang nir kesadaran lingkungan, semoga kedepan ada pola perubahan prilaku dan kebiasaan yang sama-sama menguntungkan bagi hubungan kita dengan lingkungan (hablum minal alam), dengan tuhannya (hablum minallah), maupun dengan manusia (hablum minannas).

Mamfaat lebih jauh yang bersifat strategis adalah pada lahirnya kebijakan-kebijakan yang pro terhadap keseimbangan lingkungan, seperti tidak mudah mengeluarkan izin untuk proses pembangunan industri yang pada mulanya menjadi ruang hijau, tidak mudah member izin untuk perumahan. Semua itu harus dipetrimangkan berdasar atas mamfaat dan mudaratnya untuk keberlangsungan lingkungan. Dan juga harus ada tindakan yang tegas untuk mereka yang telah membuat kerusakan alam yang berakibat pada datangnya banjir, seperti penebangan pohon secara serapangan, penggundulan hutan dan tindakan-tindakan lainnya.

Model Pembelajaran tentang Banjir Perspektif Interelasi

Ada sembilan kecerdasan atau kemampuan belajar anak usia dini; mulai dari kecerdasan linguistik, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan visual-spesial, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan naturalis dan kecerdasan eksistensial.[30] Pengembangan pembelajarn tentang banjir berpijak terhadap kecerdasan naturalis, yakni ingin menanamkan wawasan lingkungn dan nilai-niai lingkungan hidup.

Kecerdasan naturalis adalah kemampuan yang ada pada tiap-tiap manusia untuk mencintai, memelihara dan berintraksi dengan lingkungan sekitar secara manusiawi. Manusia secara kodrati sudah mempunyai rasa cinta lingkungan ini sejak awal. Ada potensi yang terpendam dalam tiap-tiap diri kita untuk memelihara dan menjaga keseimbangan lingkungan secara etis.

Kecerdasan naturalis yang lebih mengarah pada kemampuan anak-anak mencintai keindahana alam dapat dirangsang melalui pengamatan lingkungan, bercocok tanam, memelihara binatang, termasuk proses merenung dan merefleksikan atau bercerita bersama-sama ihwal situasi dan kondisi lingkungan kita yang sudah tidak seimbang.

Inilah contoh proses pembelajaran tema alam semesta/iklim dan cuaca dengan sub tema banjir.

1. Air, bisa Jadi lawan[31]
– Tujuan
Mengerti bahaya air
– Sarana
Gambar-gambar/foto-foto lingkungan sekolah kalau ada banjir, sungai dengan air deras dan kolam yang dalam
– Kegiatan
Guru dapat membuat gambar-gambar keadaan banjir, sungai yang deras, kolam yang dalam. Guru juga menceritakan bahaya-bahayanya dan cara menghindarinya.

2. Berkebun[32]
– Tujuan
Kesadaran meanam sendiri tanaman dan cinta akan lingkungan
– Sarana

Bermacam Biji-bijian dengan kaleng atau po

pupuk alam

air
– Kegiatan

Guru bersama dengan sekelompok kecil mempersiapkan sepetak tanah/pot yang disii.
Anak menanam biji-bijian dan diberi tanda
Setiap anak dijadwal untuk menyiramnya setiap hari.
Tanama itu ada yang diberi pupuk dan ada yang tidak.

Dalam proses pembelajaran ini anak tidak kenal banjir dalam ranah pengetahuan an sich, tapi bagaimana pola sikap dan prilaku anak-anak dalam memelihara dan mencintai lingkungan yang bisa menyebabkan banjir tercermin. Dalam hal ini anak-anak tak hanya lewat cerita-cerita kejadian yang sedang dialami dari bencana yang terjadi di negeri ini, tapi harus diimbangi dengan praktik langsung, seperti dengan kunjungan-kunjungan ke pelbagai tempat-tempat lingkungan sekitar.

Dengan itu diharapkan anak-anak mulai dini sudah terlatih untuk berintraksi dengan lingkungan secara etis. Nilai utama yang diusung dalam proses pembelajaran adalah tumbuhnya rasa cinta, senang untuk memelihara lingkungan sekitar, membuang sampah dengan benar. Anak-anak yang sudah mulai dini dididik untuk senang dalam memelihara lingkungan dan membuang sampah dengan benar, mencainta dan memelihara lingkungan akan menjadi karakter pada masa masa dewasa.

Catatan:
[1] Thomas L. Friedman, Hot, Flat, and Crowded, Mengapa Dunia memrlukan Revolusi Hijau dan bagaimana kita Memperbaharui Masa depan Global kita, penerjemah Alex Tri Kantjono, (Jakarta: Gramedia, 2009)
[2] A. Eddy Kristiyanto Dkk, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi; Tinjauan Teologis Ata Lingkungan Hidup, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hal. 155
[3] Majalah TEMPO, Edisi 3-9 Desember 2007
[4] Restu Gunawan, Gagalnya Sistem Kanal, Pengendalian Jakarta dari Masa ke masa, (Jakarta: Kompas, 2010), hal.1-4
[5] Robert J. Kodoatie, Rekayasa dan Menejemen Kota, (Yogyakarta: Sndi, 2013), hal. 416
[6] Ibid, hal. 417.
[7] Robert J. Kodoatie, hal. 50.
[8] Robert J. Kodoatie, hal. 147
[9]Pandangan antroposenterisme muncul sebagai pendobrak pandangan keagamaan mitologis secara revolusioner. Pandangan ini beranggapan bahwa kehidupan tidak berpusat pada Tuhan, dewa-dewa, tetapi pada manusia. Antroposentrisme muncul dengan datangnya rasionalisme yang pada gilirannya akan melahirkan Renaisans. Manusia harus menguasai alam semesta. Kuntowijoyo, Paradigma Islam, interpretasi untuk aksi, (Bandung: Mizan, 1991), hal. 263
[10] Baca Fahruddin M. Mangunjaya, Menanam sebelum Kiamat, Islam, Ekologi, dan Gerakan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Yayasan Obor, 2007), hal. 104
[11]Paradigma Integrasi Interkoneksi menawarkan gagasan untuk mengurangi ketegangan antara ilmu agama dan ilmu social lainnya. Paradigma ini menegaskan bahwa bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama, keilmuan tidak dapat berdiri sendiri, akan tetapi menbutuhkan kersa sama, saling tegur, saling koreksi dan saling keterhubungan, akan menbantu manusia dalam menghadapi kompleksitas kehidupan manusia. Terjadi kerjasama, saling membutuhkan, saling koreksi,dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan dan memecahkan persoalan yang dihadapinya. Kalau bangunan-bangunan keilmuan itu saling bertolak belakang, maka kemunduran, dehumanisasi secara massif, baik dalam bidang keilmuan dan kehidupan keagamaan. Lihat M. Amin Abdullah, Islamic Studies: di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, (Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2006) hlm. 94
[12] Bisa dilihat dalam bukunya Pater Tompkin & Christopher, Keajaiban Tumbuhan, (Yogyakarta: Kutub, 2004), hal. VI
[13] Ibid., hal. VII
[14] Dr. H. Muhaimin, M.A, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam, (Bandung: Nuansa, 2003), hal. 14
[15] Sunarto Dkk, Aku Cinta Jakarta, (Jakarta: Ganeca exact, 2007), hal. 118.
[16] Ibid
[17] Mislan, Bencana Banjir, Pengenalan Karakteristik dan Kebijakan Penanggulangannya di Provinsi Kalimantan Timur, (Mulawarman Scientifie, Volume 10, Nomor 1, April 2011), hal. 85.
[18] Anwar Kurnia dkk, Wahana Ilmu Pengetahuan Sosial, (Jakarta: Yudhistira, 2007), hal. 30
[19] Ella Yulaelawati & Usman Syihab, Mencerdasi Bencana, Banjir, Tanah longsor, Tsunami, Gempa bumi, Gunung Api (Jakarta: Grasindo, 2008), hal. 11.
[20]Ibid, hal. 15
[21] Ibid, hal. 8-10
[22] Sunarto Dkk, hal. 119
[23] Najamuudin Muhammad, Serakah Membawa Bencana, Harian Kontan Jumat, 6 Juni 2008
[24] A. Sonny Keraf, Etika Lingkungan Hidup, (Jakarta: Kompas, 2010), hal. 47
[25] Eka Budianta, Ekskutif Bijak Lingkungan, (Jakarta: Pustaka Pembangunan Swadaya, 1997)
[26]Sukron Abdilah, Membaca Ayat-Ayat Banjir, (Artikel Ilmiah dalam http://www.citarum.org/14/08/2014)
[27] Abdul Majid Bin Aziz Al-Zindani dkk, Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang IPTEK, (Jakarta: Gema Insani Press), hal. 59
[28] Ibid, 59
[29]Asal muassal nalar korporasi adalah kepentingan ekonomi-politik. Pada mulanya nalar ekonomi punya maksud mulia. Ia lahir dari rahim monarki absolute di Eropa Barat yang tumpuannya adalah nalar kenegaraan. Nalar kenegaraan menempatkan negara di atas semua pertimbangan, termasuk agama dan moralitas. Ini bisa menjadi ancaman. Negara bisa jatuh ke petualangan otoritarianisme. Agar nalar kenegaraan tidak menjadi satu-satunya prinsip, pendit-pendit ekonomi politikmenciptakan mikanisme di dalam nalar kenegaraan. Inilah nalar ekonomi pelanpelan memangsa dan merasuki naar kenegaraan ke pelbagai elemen konstitusional. Karlina Supelli, Kebudayaan dan Kegagapan Kita, (Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Senin 11 November 2013), hal. 20
[30] George S. Morison, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, penerjemah Suci Romadhona dan Apri Widiastuti (Jakarta: PT Indeks, 2012), hal. 85-86
[31] Anggani Sudono dkk, Pengembangan Anak Usia Dini, Panduan bagi Pendidik Anak Usia Dini, (Jakarta: Grasindo, 2009), hal. 287
[32] Ibid, 327