Buku Bergizi untuk Anak

Isu Pendidikan

 

Didaksi.com−Mencintai buku itu tidak mengenal batas usia dan tempat. Berapapun usia kita dan dimanapun kita berada, buku bisa menjadi teman sejati yang senantiasa menuntun yang tak akan pernah marah. Tak terkecuali juga dengan usia anak-anak 8-14 tahun, buku bisa menjadi vitamin yang membentuk karakter dan watak anak-anak. Hanya saja saat ini buku anak-anak masih didominasi buku terjemahan. Pengarang yang konsen untuk membuat buku cerita anak-anak masih sedikit. Padahal, buku bacaan anak-anak sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakternya.

Pendidikan karakter, buku anak, buku cerita anak

Cerita dan Karakter Anak

David McClelland (2009), psikolog asal Universitas Harvard, mengatakan bahwa cerita atau bacaan yang dibaca anak-anak saat akan berpengaruh terhadap karakter anak di masa akan datang. Anak itu bisa menjadi cerdik, optimis, pantang menyerah, jujur dah bahkan licik serta kepribadian lainnya dipengaruhi oleh bacaan dan dongeng anak.

David McClelland mengambil contoh Inggris dan Spanyol. Dalam perjalananya, Inggris menjadi lebih maju dan Spayol justru sebaliknya. Dua negara itu berbeda nasib karena dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi, sikap tidak pantang menyerah serta keberanian untuk berubah dan nyali mengambil resiko. Dongeng dan cerita anak yang ada di Spanyol ternyata mengandung unsur humur yang licik, penuh manipulasi dan karakter-karakter pesimis lainnya.

Baca juga: Meningkatkan Kecerdasan Anak dengan Memperbanyak Percakapan

Buku yang bergizi untuk anak tidak hanya membentuk watak dan karakter, tetapi juga menjadi media transmisi nilai-nilai kebudayaan setempat kepada anak-anak. Melalui cerita, anak-anak bisa menjelajahi dan mempelajari negerinya mulai sejak kecil. Beberapa pengarang dunia telah banyak melahirkan karya untuk anak-anak demi mewariskan keluhuran nilai pada generasi selajutnya.

Buku Bergizi untuk Anak

Kita tahu Selma Lagerlof yang mempunyai banyak karya, salah satu yang cukup terkenal adalah buku The Wonderful Adventures of Nils, (1906). Karya yang pada mulanya berangkat dari tugas dari Asosiasi guru untuk anak-anak, dalam rangka menyusun buku pelajaran yang bersandar pada cerita rakyat Swedia, pada gilirannya mengantarkan Selma Lagerlof menjadi sosok yang fenomenal.

Pengakuan Karl Popper,

“Selama bertahun-tahun aku membaca dan membaca lagi buku ini setidaknya setahun sekali. Dan selama hidupku mungkin aku telah membaca semua karya Selma Lagerlof lebih dari sekali”

Itulah salah satu ungkapan rasa kagum Karl Popper 1902-1994, salah satu filosof Inggris, terhadap karya-karya Selma Lagerlof. Karya-karya Selma Lagerlof sarat dengan informasi ihwal negerinya; sejarah, geografi dan mitos-mitosnya. Semua itu tak lepas dari pegaruh neneknya yang selalu memberikan kisah dan dongeng untuk mengenal dan mendalami legenda tanah kelahirannya.

Begitu juga Leo Tolstoy (1828-1910), sastrawan klasik dunia dengan karya-karya besarnya, seperti: “Perang dan damai” (war and Peace/Voina I Mir), “Anna Karenia”, “kebangkitan” (Voskresenie), “Haji Murat”, “Bapa Sergey” (Otets Sergii), Kematian Ivan Ilyich (Smert Ivana Ilyicha) dan lainnya. Selain Leo Tolstoy menulis tema-tema berat bernuansa filosofis , psikologis dan relegius, ia juga mempunyai rasa cinta terhadap anak-anak. Kesederhanaan dan keluguan anak-anak telah menyeretnya untuk membuat pendidikan anak di halaman rumahnya bagi anak-anak kaum budak dan menulis buku-buku anak, seperti “Huruf Baru” (Novaya Azbuka, 1875), “Buku Rusia untuk bacaan 1” (Pervaya Russkaya Kniga Dlya Cteniya), “Buku Rusia untuk bacaan II (Vtoraya Russkaya Kniga Dlya Ctenia) (A. Fahrurodji. 2004).

Leo Tolstoy dalam beberapa karyanya telah mengabadirkan tradisi masyarakat Rusia yang penuh dengan nilai-nilai kearaifan menjadi sebuah kisah yang mampu dikonsumsi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dongeng-dongeng anak Rusia yang sarat dengan kejujuran, keberanioan, optimisme toleran, kesetiakawanan begitu kental dalam karya Leo Tolstoy. Hal ini sangat tampak dalam karyanya yang telah diterjemahkan dalam bahas Indonesia dengan judul, “Si Kecil Filip Pergi Sekolah: Enam Puluh Dongeng Anak Rusia” (Jakarta: Granit, 2004). Karya itu memberi pengaruh terhadap pembentukan karakter anak-anak Rusia.

Anak-anak itu membutuhkan buku cerita dan dongeng yang edukatif; mengajarkan kejujuran, toleransi, kerja sama dan kesetiaan. Kalau buku cerita dan dongeng hanya bersifat fantastis yang miskin nilai-nilai keutamaan dan tak rasional—seperti cerita Si Kancil Mencuri Timun—maka jangan salahkan generasi kita di masa yang akan datang hanya menjadi licik dan suka berbohong, pesimis, pemalas dan suka mengeluh. Mari kita mulai pembentukan karakter anak-anak itu dengan memberikan buku yang bergizi untuk anak, buku yang mengajari dan menanamkan nilai keutamaan serta memperkenalkan anak-anak dengan sejarah dan kondisi bangsanya.

Sumber gambar: Pixabay Image