Che Guevara, Dokter Revolusioner dan Intelektual Transformatif

0
297
Gambar Che sudah jadi simbol perlawanan

Didaksi.com-Di Kuba ia hadir dimana-mana; di beberapa jalan antar kota, di setiap rumah, di dinding-dinding umum, hingga spanduk-spanduk perkotaan, wajah berjenggot yang berbalut topi baret dengan satu bintang itu selalu ada. Kalau tidak dalam bentuk  gambar, kadang ia hadir dengan slogan keras yang selalu menginpirasi setiap orang untuk memberontak. Di beberapa rumah petani yang ada di Kuba,  poster-posternya terpajang. Gambarnya juga mudah di temuai di bak truk dan mikrolet. Terlepas dari banyak motif yang ingin ditampilkan, wajahnya seakan menjadi ikon pada masanya yang selalu mengisi kekosongoan pemikiran setiap generasi untuk melawan terhadap imprealisme, kapitalisme dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

.

Itulah Che Guevara—nama asli Ernasto Guevara de la sarna, 14 Mei 1928 lahir di Argentina, Rosario. Spiritnya menimbulkan kerinduan yang mendalam di tengah hingar bingar penindasan yang kian kejam. Che adalah sosok pejuang otentik. Antara teori dan praktik seakan tak ada jarak. Ia berjuang dengan hati dan tampa pamrih. Che jauh dari sikap aktivis yang oportunis dan pragmatis.

Pejuang tanpa Sekat

Che adalah pejuang kemanusiaan yang sangat revolusioner. Kalau saja Che berjuang atas nama segelintir golongan, kelompok agama, etnik dan budaya, maka nasibnya sungguh berbeda; Che tidak akan repot-repot berkeliling negara di bagian Amerika Latin, Che akan merasa jenuh untuk pergi ke Afrika dan Che tentu tak akan rela mengorbankan seluruh hidupnya untuk Kuba dan tentu pula kematiannya tidak akan pernah terjadi di Bolivia.

Che mampu melampaui sekat-sekat pembatas itu semua. Che selalu berjuang bersama untuk menentang penindasan tanpa membedakan dari golongan apa mereka. Che hanya komitmen pada perjuangan melawan ketidakadilan. “Jangan hiraukan bendera, karena kita berjuang menegakkan masalah syci penyelamatan kemanusiaan, sehingga mati di bawah bendera Vietnam, Venezuela, Guetamala, Laos, Ghana, Kolombia, Bolivia, Brazil—sekedar nama-medan perjuangan bersenjata –sekarang adalah sama muliadan sama pentingnya bagi seorang Amerika, Asia, Afrika, atau bahkan seorang Eropa.”

Semua orang yang berjuang melawan ketidakadailan adalah teman Che. Darimana asalnya, dimana tempat tinggalnya serta bagaimana latar belakanganya, itu semua tidak penting. Teman setia Che adalah mereka yang selalu peduli, perhatian dan menolong orang lain. “Siapapun yang menentang kedzoliman adalah sahabatku,”

Intelektual Transformatif

Sejarah hidup Che penuh dengan perlawanan. Tapi perlawanan yang ia lakukan bukanlah tanpa sebab atau bahkan tanpa teori. Sejak kecil Che sudah berkenalan dengan pemikiran-pemikiran kiri seperti literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud. Che adalah penggila buku mulai masih berumur belasan tahun hingga ia dewasa. Che tentu bukan hanya kutu buku yang buta akan realitas sosial. Pengembaraannya ke pelbagai negara dan perjumpaannya dengan kaum petani yang dimiskinkan menjadi buku kehidupan yang membentuk sikap dan kepribadiannya sebagai sosok intelektual yang tak hanya berkutat dalam buku, tapi juga mentransformasikan dalam realitas sosial.

Che adalah kaum intelektual transformatif. Che memang menyukai sastra,filsafat dan bahkan matematika. Tapi bagi Che cermin tidak cukup puas dengan pelabelan intektual yang hanya berangkan dari cara berfikir intrinsik dari setiap orang. Sepertinya Che sepakat dengan apa yang dikatakan Gramsci bahwa semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual. Intelektual bagi Gramsci bukan hanya pemikir, penulis, filsuf atau bahkan sastrawan, tapi mereka yang memerankan diri untuk mengorganisir masyarakat dalam kontek politik dan kebudayaan. Che melakukan itu semua; ia menulis, aktivis, organisator politik dan pemimpin gerakan revolusioner di pelbagai negara.

Che kerapkali disebut-sebut sebagai sosok marxis. Dalam beberapa hal, terutama tentang ekonomi dan cita-cita manusia sosialis di Kuba Che banyak terinsiparsi dari dasar Mark. Tapi dalam beberapa hal Che sungguh berbeda. Menurut Mike Gonzales, apa yang tidak ada adalah materialisme dialektis, pemahaman mengenai proses sejarah dimana aktor-aktor utama adalah kelas-kelas yang terkunci dalam perjuangan. Marxisme bukan hanya koleksi ilmiah dan alat analisis, tapi marxisme merupakan sebuah teori dan praktk revolusi, yang akan memandu kelas revolusioner dengan pemahaman ilmiahnya.[1]

Che tentu tak ingin menjadikan marxisme sebagai sebuah pisau analitis apalagi hanya sebagai bahan koleksi ilmiah, tapi semua teori yang telah dipahami terejawantahkan dalalm konteks realitas kehidupan sosial. Inilah mungkin yang menjadikan Che berbeda dengan banyak tokoh-tokoh intelektual lain yang hanya berada dibalik kursi. Che turun ke jalan, memimpin langsung gerakan gerilya dan bahkan sanggup mempertaruhkan seluruh hidupnya demi sebuah perlawanan melawan penindasan. Che bukan intelektual yang hanya pintar berbicara, tapi juga bukan aktivis yang kosong otaknya. Che bergerak mengangkat senjata sembari berfikir otaknya dan sesekali Che menulis catatan harian.

Che adalah manusia yang kompleks. Dalam catatanya Che menegaskan ihwal posisi dirinya:

“Jasa Mark adalah ia secara tiba-tiba menghasilkan sebuah perubahan kualitatif dalam sejarah pemikiran sosial. Dia menginterpretasikan sejarah, memahami pelbagai dinamikanya, memprediksikan masa depan, tapi dalam tambahan memprediksinya (yang akan mewajibkan kewajiban ilmiahnya), dia mengekspresikan sebuah konsep revolusioner. Dunia tidakharus diinterpretasikan, tapi juga harus ditransformasikan. Manusia berhenti untuk menjadi budak dan alat lingkungannya sendiri dan mengubah dirinya menjadi arsitek  dari nasibnya sendiri. Pada saat itu Mark menempatkan dirinya dalam posisi dimana dia menjadi target penting dari semua yang memiliki perhatian khusus dalam memperhatikan pemikiran yang kuno—sama dengan Demokritus sebelum dia, yang karyanya dibakar oleh Plato dan murid-muridnya, kaum ideolog bangsawan budak Athena. Dimulai dari Mark yang revolusioner, sebuah kelompok politik dengan ide-ide yang kongkrit memantapkan dirinya. Dengan mendasarkan dirinyapada tokoh besar, Mark dan Engels, dan membangun melalui langkah-langkah yang suksesif dengan personalitas-personalitas seperti Lenin, Stalin, Mao Tsetung, dan penguasa baru Soviet dan Cina, ia memantapkan sekumpulan doktrin, dan contoh-contoh untuk diikuti.”[2]

Meskipun gagasan-gagasan Che tidak secara langsung mengoreksi beberapa tokoh, baik itu kaum intelektual atau aktivis revolusioner, tapi secara jelas Che ingin melampaui itu semua dengan pelbagai tindakan-tindakan revolusionernya. Che ingin menggabungkan mereka kaum intelektual yang hanya duduk manis dibalik meja dan mereka kalangan revolusioner yang pada akhirnya berbuah kediktatoran. Che ingin menjadi sosok revolusioner yang kompleks meskipun pada akhirnya pelbagai tindakannya ketika menyerbu Bolivia banyak mendapat kritik karena dianggap terlalu gegabah.

Tapi bagaimana pun kekuarangan yang telah dilalui Che tetap menjadi teladan revolusioner inspiratif bagi setiap generasi. Che adalah anak orang berjuis yang menegasikan itu dan memilih untuk terjun memberontak kelas yang telah dimiliki itu. Che juga tidak hanya menjadi kaum intelektual yang hanya pintar bersilat ludah. Che berfikir, menulis dan bergerak mentransformasikan gagasan-gagasannya menjadi sebuah aksi nyata. Karena hanya dengan itu seorang budak yang pada mulanya hanya menjadi hamba dari tuannya bisa merdeka dengan perlawanan dan seorang petaini yang nasibnya selalu disetir bisa menja arsitek bagi dirinya. Semua itu hanya bisa dirubah dengan perlawanan.

Che mengatakan, “…adalah jelas bahwa jika para pemimpin memiliki sebuah pengetahuan teoritis yang memadai untuk melakukan suatu tindakan, mereka dapat menghindari tindakan coba-coba kapan saja jika teori yang diadopsi sesua dengan realitas. Pelaku utama dari revolusi itu tidak memiliki kreteria teoritk yang koheran; tetapi tidak bisa dikatakan bahwa mereka tiak mengetahui berbagai konsep mengenai sejarah, masyarakat, ekonomi, dan revolusi yang tengah dibicarakan di dunia ini. Pengetahuan yang mendalam tentang realitas, sebuah hubungan yang dekat dengan masyarakat, keteguhan tujuan penbebas, dan pengalaman revolusioner praktis memberikan kesempatan kepada para pemimpin untuk membentuk sebuah konsep teoritik yang lebih lengkap.”[3]

Ungkapan Che tersebut sebenarnya ingin menepis bahwa untuk melakukan revolusi seseorang harus memahami konsep teoritik yang koheran atau tidak bisa pula disimpulkan bahwa pelaku utama dari revolusi itu tidak memiliki konsep yang koheran. Mereka juga mempunyai konsep mengenai ekonomi, sejarah revolusi di dunia yang telah terjadi. Che sebenarnya tak ingin memposisikan lebih penting mana antara teori dan tindakan praktis revolusioner. Bagi Che semua itu dianggap sangat penting untuk mencapai tujuan-tujuan revolusioner.

Para Penghianat Revolusi

“Prilaku revolusioner merupakan cermin dari keyakinan revolusioner, dan ketika seseorang menyebut dirinya seorang revolusioner dan tidak melakukan tindakan sebagai seorang revolusioner, dia tak lebih dari seorang heretik. Biarkanlah mereka digantung bersama orang-orang Ventura dan Tony Varona, yang bertengkar diantara mereka sendiri, orang-orang Prio dan Batista, orang-orang  Guitirrez dan Sanchez Mosquera—para pembunuh yang membunuh dengan tujuan memuaskan ketamakan mereka, dan yang melakukan itu atas nama kemerdekaan.” (­Che Guevara)

Berkata bohong dan berkhianat adalah dosa revolusi yang tak semestinya terjadi lagi dalam masa depan revolusioner. Che menganggap itu adalah ‘dosa revolusi’. Sebuah perkataan dan tindakan yang hanya akan membuat perjuangan revolusioner tersendat atau bahkan mati suri. Che mengalami bagaimana pahitnya dibohongi bagaimana dirinya ditipu oleh rekanya demi mendapat kenikmatan pribadi yang itu sungguh tak pernah disangka oleh Che sebelumnya. Che marah dan murka pada orang seperti Felipe Pazos—yang menjual kehormatan mereka pada penawar yang lebih tinggi dengan maksud untuk ditempatkan sebagai pemimpin lembaga-lembaga yang serius—orang seperti Rufo Lopez atau Justo Carillos yang menari untuk menemukan jalan pintas serta seperti Miro Cardonas, para pencuri yang tak dapat diperbaiki karena terlibat dalam pembunuhan rakyat yang.

“Betapa banyak mereka telah mengajari kami ! terima kasih banyak.” Itulah ungkapan bijak Che setelah melalaui pelbagai perjalanan yang penuh dengan kebohongan. Ungkapan itu mengandung makna bagi setiap generasi revolusioner untuk tidak lagi mengulangai ‘dosa revolusi’ seperti apa yang dulu pada zaman Che telah terjadi. ‘dosa revolusi’ cukuplah terjadi pada saat itu. mereak para pencuri, pembohong dan penghianat tidak lagi muncul di masa-masa yang akan datang.

Tapi apa yang dulu dsebut sebagai ‘dosa revolusi’ itu kini terus berkembang biak dan bahkan mengakar kuat dalam setiap organisasi yang mengatasnamakan revolusi. Jbahkan bisa dikatakan ‘dosa revolusi’ itu kini lebih para dari zaman-zaman sebelumnya. Kalau kaum revolusioner dulu datang dengan kesadaran untuk menghapus penindasan yang mempersatukan sekat-sekat kedaerahan, mendobrak kungkungan penjajahan hingga berhasil menggulingkan kekuasaan. Dan mereka juga mengisi kekosongan kekuasaan dengan semangat kemandiran. Dan Che yang pergi tanpa pamrih meski sebelumnya ia telah mengorbankan seluruh hidupnya. Kaum revolusioner dulu dulu datang dengan penuh kesadaran dan pergi tanpa pamrih.

Kini, pemuda, yang mengatsnamakan dirinya kaum revolusioner berteriak atas nama nasionalisme, bendera perjuangan dikibarkan dijalankan dengan teriakan yel-yel menuntut kekuasaan yang korup, seluruh organisasi intra atau pun ekstra dikonsolidasikan atas nama membela kebangsaan, tapi dibelakang layar merka menuntut kursi dan berkongsi dengan kekuasaan yang sudah bebal dengan mental korupsinya itu. Setelah berteriak dan kehausan mereka minum kopi dan Es Juss di rumah politisi yang didemo.

Siapa yang menyangka bahwa setiap ada perlawanan dan aksi jalanan; baik itu di anggota DPR atau instansi-instansi kepemerintahan lainnya itu benar-benar murni bergerak atas nama rakyat atau demi kepentingan publik. Dan siapa pula yang menyangka kalau dibelakang layar pemuda justru menjadi boneka kekuasaan. Nyaris dari semea aksi jalanan yang mengatasnamakan rakyat atau kepentingan publik tak lebih hanyalah label, sedangkan isi yang sebenarnya hanyalah segerompolan pemuda yang digerakkan oleh kepentingan kelompok atau tokoh politisi tertentu.

Sebagian kita mungkin tak percaya karena itu sungguh telah menginjak-injak harkat dan martabat pemuda itu sendiri. Tapi sebagian besar kita yang telah mengetahuai bagaimana drama  kebangsaan ini dipertontonkan dengan penuh heroik dengan disutradarai oleh mereka para pemilik modal atau penguasa justru akan menangis meratapi nasib pemuda yang kehilangan peta perjuangan sehingga musuh yang semestinya dilawan justru malah menjadi teman dan bahkan sutradara yang menyetir arah gerakan pemuda. Itulah penghianat revolusi.

Jauh-jauh hari Bung Karno, teman ideologis Che, telah mewanti-wanti pada setiap elemen pemuda dengan sebuah pernyataan bahwa perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri. Pernyataan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai gambaran bagi pemuda agar bisa mengidentifikasi yang sebenarnya siapa lawan dan siapa kawan yang sebenarnya agar tak terjebak. Tapi melihat kenyataan saat ini sungguh sangat sulit untuk mengatakan bahwa pemuda tidak terjebak dalam mewarisi ‘dosa revolusi’ yang oleh Che dilarang untuk dilanjutkan.

Itulah gambaran generasi revolusioner yang tidak mempunyai keyakinan revolusioner sehingga tidak mempunyai tindakan-tindakan revolusioner. Yang ada hanyalah kemasan-kemasan lidah penuh lipstik revolusioner yang ketika ada siraman air, listik itu lontor dan berubah menjadi orang yang oprtunis dan pragmatis. Para penghianat revolusi atau pembuat’dosa revolusi’ itu yang dulu telah dibumi hanguskan oleh Che ternyata kian hari-kian menggerita. Seandainya Che bangkit dari kuburnya dan melihat hikayat generasi revolusioner, maka ia akan meneteskan air mata kesedihan, karena telah bangay generasi revolusioner yang tidak sesua dengan apa yang diimpikan Che.

Seperti apa generasi revolusioner yang diimpikan oleh Che? Dalam artikelnya yang diimuat dalam Jurnal bulanan Cuba Socialista (edisi September 1962), Che menegaskan ihwal generasi revolusioner yang bisa menjadi tulang punggung revolusi. Che menulis:

“…apakah itu kader ? kita harusmenyatakan bahwa seorang kader adalah seorang individu yang telah mencapai perkembangan politik yang cukup mampu menafsirkan petunjuk-petunjuk yang lebih besar berasal dari kekuasaan pusat menjadikanya sebagai miliknyadan memegangnya sebagai suatu orientasi ke massa ; seseorang yang pada saat yang sama harus juga mampu menafsirkan isyarat-isyarat yang dimunculkan oleh massa mengenai keinginan-keinginan dan motivasi mereka yang paling dalam.

Seorang kader adalah seorang yang memiliki disiplin ideologis dan administratif, yang mengetahui dan mempraktekkan sentralisme-demokrasi dan yang mengetahui bagaimana mempraktekkan azas diskusi kolektif dan pengambilan keputusan serta tanggung jawabnya masing-masing. Ia adalah seorang individu yang telah terbukti kesetiaannya, yang keberanian lahiriah dan moralnya telah berkembang seiring dengan perkembangan ideologisnya, yang dengan  demikian ia selalu berkeinginan untuk menghadapi setiap perdebatan dan bahkan menyerahkan seluruh hidupnya untuk kejayaan revolusi. Sebagai tambahan, ia juga seorang individu yang dapat berfikir berdikari, yang mampu membuat keputusan-keputusan yang diperlukan dan melakukap prakarsa kreatif yang tidak bertentangan dengan disiplin.

Karenanya, kader adalah seorang pencipta,  seorang pemimpin yang berpendirian kukuh,  seorang teknisi dengan tingkat politik yang baik,  yang memegang prinsip dialektika untuk memajukan sektor produksinya, atau mengembangkan massa dari posisi kepemimpinan politiknya.

Manusia teladan ini, yang dari luar nampak seolah-olah tingkat kebajikannya itu sulit dicapai, ternyata hadir diantara rakyat Kuba, dan kita menemuinya tiap hari. Hal yang pokok sebetulnya adalah mengambil manfaat dari setiap peluang yang ada guna mengembangkan mereka semaksimal mungkin, untuk mendidiknya, untuk menarik manfaat yang paling besar dari setiap kader dan mengalihkannya menjadi nilai tertinggi bagi kepentingan bangsa.

Pengembangan saorang kader dicapai melalui pelaksanaan tugas-tugas setiap hari. Selain itu, tugas-tugas itu harus dijalankan secara sistematik, di dalam sekolah-sekolah khusus, diajar oleh pengajar yang kompeten–yang memberikan teladan bagi murid-muridnya–akan mendorong kemajuan ideologis yang paling pesat .

Dalam sebuah sistem yang sedang mulai membangun sosialisme, jelas kader harus maju secara politik. Selain itu, bila kita mempertimbangkan perkembangan politiknya, kita tidak hanya memperhitungkan teori Marxist. Kita harus juga menuntut tanggungjawab dari individu terhadap tindakan-tindakannya, sebuah disiplin yang mengendalikan setiap kelemahan dan yang tidak menghambat lahirnya prakarsa Dan kita harus mgnuntut kekhusukkannya yang terus-menerus terhadap semua masalah-masalah revolusi. Untuk dapat mengembangkan seorang kader, kita harus memulai dengan menegakkan prinsip seleksi diantara massa. Di sana lah kita menemukan individu-individu yang berkembang, yang diuji oleh pengorbanan  atau yang baru mulai menunjukkan kepeduliannya dan menugaskan mereka ke tempat-tempat belajar khusus ; atau bila belum ada sekolah-sekolah sedemikian, berikan mereka tanggung jawab yang lebih sehingga mereka teruji dalam kerja praktek.[4]

Itulah generasi revolusioner yang diimpikan oleh Che. Kalau setiap generasi mampu melahirkan kader seperti apa yang diimpikan Che, maka revolusi itu akan bisa berkobar. Tapi kalau generasi hanya mempunyai mental penjilat, penghianat yang oportunis dan pragmatis, maka revolusi itu akan mati suri. Revolusi itu tak akan pernah bertahan dan hadir karena generasi yang mestinya menjadi tulang punggung revolusi telah menjadi kapitalis-kapitalis kecil yang hanya menuruti keserakahan pribadi dan kelompoknya.

Air Mata untuk Che

“Dokter kelahiran Argentina yang menjadi gerilyawan itu bagaikan setangkai bunga yang dicabut dari akarnya secara dini. Saya menundukkan kepala memberi penghormatan—dengan rasa hormat dan rasa terima kasih—kepada pejuang yang luar biasa itu” kenang Fidel dalam sebuah tuliasan yang ia buat untuk mengenang 40 tahun kematian Che. Fidel yang dalam kondisi penyembuhannya, tidak sempat hadir dalam acara peringatan teman seperjuangan itu, tidak akan pernah lupa untuk selalu mengingatkan pada dunai bahwa Che adalah sosok pejuang revolusioner yang mampu menjadi inspirasi bagi dunia.

Kematian Che membuat mereka kaum penindas tertawa lebar dan mereka; kaum buruh, rakyat kecil yang tertindas, filsuf dan para sastrawan serta kalangan lain yang komitmen dengan cinta dan kemanusiaan melalui pelbagai bidang yang ditekuninya merasa kehilangan yang mendalam. Kepergian Che menyisakan luka yang mendalam dalam setiap hati manusia. Mereka merasa kehilangan karena Che berlabuh dalam setiap hati manusia. Che tidak ada untuk dirinya sendiri, tipi ia hadir untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Penyair Chile, Pablo Neruda mempersembahkan kepada Che sebuah puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya Fin del mundo (Akhir dunia) pada 1969. Mario Benedetti, salah satu pengarang terkenal Uruguay, menerbitkan beberapa puisi dengan judul  A Ras del Sueño (Pada tingkat impian) yang dipersembahkan pada Che. Begitu juga dengan penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara).

Aquí se queda la clara, la entrañable transparencia,

De tu querida presencia, comadante Che Guevara

(Anda meninggalkan wajah jelas, memikat hati

Kehadiran suci, komadante Che Guevara)

Persembahan lagu Carlos Puebla untuk Che hanyalah sebagian dari sekian banyak persembahan lagu dan syair yang diperuntukkan untuk Che. Ketulusan pengabdian Che terhadap kemanusian dengan penuh cinta dan tanpa pamrih itu telah mengundang decak kagum yang mendalam pula dari kalangan penyair dan penyanyi. Tak heran, kepergian Che seakan menjadi kehilangan mereka yang mendalam. Meski pun diantara mereka belum pernah bertemu dengan Che secara langsung, tapi perjumpaan ihwal pengabdian pada jalur kemanusiaan menjadi tali penghubung emosional yang sangat sublim.

Di kalangan buruh Che seakan menjadi figur yang sulit terlupakan. Tiap tanggal 9 Oktober selalu ada peringana khusus bagi para pekera internasional untuk mengenang Che. Mereka semua berdiri dan berkumpul di tempat kematian Che sembari mengatakan, “Che hilang secara fisik di tempat yang sederhana ini. Hanya saja dari kampung di pegunungan Andina, muncul ide dan nilai-nilai mistik revolusi yang menyebar di seluruh muka bumi.”  Mereka semua berdatangan tak hanya merayakan serimoni belaka, tapi juga ingin meneruskan cita-cita Che yang selalu megabdikan diri dalam bidang pendidikan, kesehatan dan aksi-aksi sosial.

Che begitu dengan dengan kaum buruh. Semangat revolusinya adalah untuk menghapus perbudakan dan membawa manusia pada jalur kemerdekaan. Perbudakan bagi Che hanya akan terus melahirkan penderitaan yang tiada akhir. Revolusi adalah jalan yang harus ditempuh. Semangat persahabatannya terhadap kaum buruh inilah yang seakan antara Che dan mereka menjadi suatu kesatuan yang sulit terpisahkan. Che sekan merasakan bagaimana rasanya diperbudak oleh imprealisme, sehingga semanagat untuk melawan bersama seakan tak berjarak dengan mereka kaum buruh. Che tidak ingin menjadi subjek yang menggerakkkan, tapi menjadi subjek yang ingin bergerak bersama.

Di lingkungan akademik, nama Che juga menyita banyak perhatian. Mahasiswa di Perancis mengganti nama Institut Kajian Amerika Latin menjadi Institut Che Guevara saat ada gejolak di Sorborne pada tahun 1968. Di Australia, sekelompok kecil mahasiswa radikal di Sidney University pada tahun 1968 menyatakan bahwa Che adalah sebagai pahlawan saat mereka mulau membangun sebuah perlawanan. Di Amerika Serikat, mahasiswa memasang wajah Che sebagai plakat-plakat unjuk rasa. Begitu juga di Indonesia, Che menjadi simbol pemberontakan yang menginspirasi anak muda untuk turun ke jalan dan melakukan perlawanan.

Che pergi, air mata untuk Che pun berceceran terus mengalir. Air mata tak hanya berhenti sesaat dan dihusap hilang. Air mata untuk Che itu terus mengalir berupa bentuk semangat revolusi yang tak pernah mati, pengabdian pada kemanusiaan yang terus dipelihara dan aksi-aksi sosial yang terus terjaga. Tentu kalau air mata itu mengalir tanpa spirit yang nyata untuk merubah keadaan atau hanya meratapi kehilangan, Che tidak akan terima. “Anda hanya membunuh seorang manusia” Itulah kata-kata Che yang menjadi refleksi bersama. Tentara Bolivia pada saat itu hanya membuh seorang manusia, tapi semangat Che tidak akan pernah mati. Semangat itu akan terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Generasi yang selalu mengealirkan air mata untuk Che adalah mereka yang selalu memelihara api semangat perjuangan Che

[1] Mike Gonzales Dkk, Bangkitnya Hantu Che Guevara, penerjemah Kang Fuad, (Jogjakarta: Prismasophie, 2004), hlm. 38

[2] Salah satu cuplikan dari Varde Olivo, 8 Oktober 1960. Diterjemahkan oleh Saul Landau dan John Garassi. Baca John Garassi, Op Cit, hlm 278.

[3] John Garassi, Che Guevara Revolusi Rakyat, penerjemah Ruslani (Jakarta: Teplok PRESS, 2000),  hlm 276

[4]http://www.marxists.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here