Karakteristik Anak Usia Dini

1
1103

Didaksi.com−Pandangan terhadap anak usia dini sangat beragam antara satu tokoh dengan tokoh lain serta dari masa ke masa. Anak usia dini dengan segala keunikannya telah memunculan ragam perspektif. Tapi dari sekian perspektif itu, ada karakteristik dasar yang melekat dan menonjol pada anak usia dini, terutama dalam proses mereka belajar.

.

Memahami secara utuh ihwal karakteristik anak usia dini berpengaruh pada cara kita bersikap. Ketika orang dewasa, baik itu guru dan orangtua memahami karakteristik dasar anak usia dini dalam belajar, maka mereka akan lebih responsif dalam mendampingi anak-anak belajar. Ketika orangtua memahami bahwa anak mempunyai daya konsentrasi pendek, maka orangtua atau guru tak akan mengajar anak-anak dengan waktu lebih dari 15 menit tanpa diselingi dengan bermain dan bernyanyi.

Baca juga:

Penggagas Taman Anak

7 Larangan dalam Mendidik Anak

Inilah beberapa karakteristik anak usia dini yang patut orangtua dan guru PAUD pahami:

Egosentris

Anak usia dini mempunyai pikiran yang egosentris, alias tak bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Piaget mengatakan bahwa sikap egosentris muncul pada anak karena mereka mempunyai asumsi apa yang orang lain lihat, pikirkan dan rasakan dianggap sama dengan apa yang dipikirkan dan dialami dirinya.

Menurut Piaget, anak dalam tahap praoperasional akan sulit memandang kehidupan dari perspektif orang lain. Anak-anak akan menggunakan persepktif dirinya untuk oang lain. Kondisi inilah yang membuat anak usia dini menjadi egosentis.

Untuk itu, apabila orangtua dan guru sudah memahami karakteristik anak sebagai sosok yang egosentris, maka guru dan orangtua tidak akan pernah memaksa anak; membiarkan anak menemukan kesadarannya sendiri, bebaskan anak untuk eksplorasi, jika ingin meminjam barang milik anak, usahakan pamit sama anak serta aktivitas lain yang tak memotong sifat egosentrisnya anak.

Rasa Ingin Tahu yang Tinggi

Tidak ada momen dalam hidup ini yang mempunyai rasa ingin tahu melebihi masa anak-anak. Melihat rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak seakan ingin menjelajahi dunia. Bayi dan belita aktif seluruh panca indreanya, mulai dari menyentuh, merasakan, mencium, memanjat, membongkar, menonton, mendengar dan belajar hal-hal baru. Dunia bagi anak usia dini penuh dengan hal baru sehingga ia merasa tertarik.

Anak usia dini yang selalu memandang dunia ini penuh dengan keajaiban ternyata ternyata kalau difasilitasi berpengaruh pada kecerdasan akademis. Menurut hasil penelitian Prachi Sha, dari University of Michigan, rasa ingin tahu anak yang tinggi ternyata mempunyai pengaruh terhadap tingkat keberhasilan akademis ini di kemudian hari. Untuk itu, menumbuhkan dan menfasilitasi rasa ingin tahu anak yang tinggi sangat bermakna untuk masa depan anak.

Ketika anak merasa aman, nyaman dan suasana penuh akrab, maka rasa ingin tahu anak akan terus menjalar dengan munculnya banyak pertanyaan dan aktivitas yang bertambah. Berbeda ketika rasa ingin tahu anak ada dalam situasi yang kurang nyaman atau bahkan anak tak merasa aman, maka rasa ingin tahu itu tak terlalu tampak dalam ekspresi anak atau pelan-pelan memudar dan hilang.

Unik

Harry Pierre mengatakan, “Like flowers, every child is special and unique… that is why gardens are beautiful every day of the week.”  Setiap anak itu lahir seperti bunga-bunga yang berbeda. Setiap bunga itu aku tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat sebagai bunga mawar atau bunga dahlia. Tetapi bunga-bunga itu dipersatukan dalam sebuah taman indah, antara bunga satu dengan bunga lain akan saling mengisi dan melengkapi untuk keindahan taman.

Itulah perumpamaan bagi setiap anak. Tidak ada anak yang sama antara yang satu dengan yang lain. Anak itu unik dan mempunyai peran masing-masing dalam kehidupan kita. Tugas orangtua dan guru adalah merawat keunikan itu untuk tumbuh besar dan berkembang sesuai dengan potensinya.

Kalau anak mempunya keunikan dan potensi di bidang kinestetik alias potensi menjadi sepak bola, maka Anda jangan mengukur keberhasilan mereka dalam bidang matematika sebagaimana Anda tidak bisa mengukur tajamnya silet untuk memotong ikan dan mengukur tajamnya pisau untuk mencukur kumis. Semua mempunyai dunianya sendiri-sendiri, tak terkecuali dunia anak-anak.

Imajinatif

Einstein pernah mengatakan, “Imagination is more important than knowledge.”  Imajinasi adalah kunci untuk mencapai berbagai kemungkinan. Imajinasi akan mendorong anak untuk melakukan sesuatu di luar orang kebanyakan. Disinilah imajinasi akan mendorong kreativitas anak. Imajinasi juga mendorong perkembangan emosional dan kognitif anak.

Karakteristik anak sebagai sosok imajinatif ini perlu didukung dengan lingkungan yang kondusif. Orangtua dan guru bisa mengembangkan aspek imajinasi anak dengan permainan-permainan, seperti permainan peran, bermain dengan adonan warna, bermain di luar ruangan dengan alam terbuka, aktivitas seni, serta ragam permainan imajinatif dan kreatif lainnya.

Anak Anak dari awal sudah sangat imajinatif. Mari kita rawat imajinasi anak-anak dengan memberi pengasuhan yang demokratis serta rekayasa lingkungan yang kreatif.

Daya Konsentrasi yang Pendek

Anak usia dini mempunyai daya konsentrasi yang pendek. Ada orangtua yang cemas karena anaknya yang berusia 3-6 tahun ternyata mempunyai perhatian yang pendek, dari satu permainan pindah ke permainan berikutnya. Padahal perhatian yang pendek untuk anakusia dini masih wajar. Anak itu cepat bosan dan mudah mengalihkan perhatian, apalagi aktivitas yang diberikan monoton dan tak mandiri.

Menurut beberapa ahli, perhatian anak usia 3 tahun paling lama bisa bertahan sekitar 3-menit apabila ada kegiatan yang menarik dan melibatkan anak. Usia 4 tahun bertahan 7-9 menit dengan catatan lingkungan kondusif dan kegiatan melibatkan ativitas anak. Sementara anak usia 5 tahun perhatian mereka bia sampai 10-15 menit.

Meski perhatian anak memang pendek, tapi yang paling berperan untuk merangsang perhatian dan fokus anak lebih panjang adalah liingkungan; apakah orangtua atau guru memberikan tugas secara terstruktur atau memberi keleluasaan pada anak-anak untuk memilih sendiri? Apakah sarana dan prasarana cukup aman, nyaman dan menantang bagi anak-anak atau justru monoton dan terbatas? Semua itu sangat berpengaruh terhadap tingkat perhatian dan fokus anak-anak.

Golden Age

Usia dini disebut-sebut sebagai masa keemasan bagi tumbuh kembang anak. Perkembangan anak usia dini akan menjadi pondasi yang mempengaruhi masa depan anak-anak, mulai dari aspek sosial emosional, motorik, kesehatan, kognitif, seni dan moral keagamaan anak. Semua aspek perkembangan itu akan ditata dan dibangun pondasinya melalui usia dini.

Kajian neurosains juga telah membuktikan bahwa masa dini itu masa-masa yang sangat menetukan. Ada ratusan sel saraf yang siap untuk membangun koneksi antara yang satu dengan yang lain. sambungan itulah yang nanti akan menjadi tempat pondasi untuk aspek perkembangan anak. Sambungan-sambungan itu akan mudah terhubung dengan rangsangan dari luar, seperti pengasuhan yang penuh kasih sayang serta lingkungan yang menantang.  

Daftar Bacaan

Shah, P.E., Weeks, H.M. Richrds, B & Kaciroti, N.(2018) Early childhood curiosity and kindergarten reading and math academic achievement. Pediatric Research doi:10.1038/s41390-018-0039-3
Yuliani Nurani Sujiono, 2013, Konsep Dasar PAUD. Jakarta: Indeks
George S. Morison, 2012, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta : Indeks.
www.scholastic.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here