Kiat Anak Mencintai Shalat Mulai Dini

Tips

anak-sholat

Didaksi.com−Mempunyai anak yang sholeh dan sholehah adalah dambaan setiap orangtua. Salah satu cara agar anak menjadi sholeh dan sholehah adalah mengajari anak rajin sholat sejak dini. Hanya saja menjadikan anak rajin shalat tak datang seketika, tetapi melalui proses pendidikan anak mulai dari usia dini. Inilah beberapa kiat bagi orang tua atau guru PAUD agar mampu mengajak anak-anak mencintai shalat mulai dini hingga nantinya mampu membentuk anak yang sholeh dan sholehah.

.

Jadilah Teladan yang Baik

Ada sebuah pepatah “satu teladan lebih baik dari seribu nasihat” orang tua yang selalu menasihati anak-anaknya tanpa diikuti dengan sebuah keteladanan tak akan membuahkan apa-apa. Justru yang tertanam dalam diri anak adalah rasa jengkel dan pertanyaan-pertanyaan ganjil karena sesuatu yang telah diperintahkan oleh orang tua ternyata tak ikut memberikan contoh yang baik. Teladan dalam mengajari anak rajin shalat mulai kecil menjadi kunci yang sangat penting.

Anak usia dini belajar dari apa yang dilihat, didengar dan kemudian ditiru oleh sang anak. Orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak dalam kesehariannya akan menjadi inspirasi utama bagi anak dalam melakukan apapun. Orang tua kalau ingin melakukan shalat alangkah lebih baik jika melakukan di rumah secara berjamaah. Secara ideal shalat jamaah bisa dilakukan dalam tiap waktu shalat. Kalau sang suami dalam kondisi sibuk, shalat jamaah bisa dilakukan dalam mometum waktu yang sangat tepat, seperti shalat jamaah maghrib dan isya’. Ketika melakukan shalat jamaah, alangkah lebih baiknya jika orang tua membaca surat Al-Fatihah atau pun bacaan Alquran lainnya lebih dinyaringkan dari biasanya.

anak sholeh, anak sholehah, anak rajin sholat

Sering-seringlah Anak Diajak Shalat

Karakter dan kepribadian anak sangat dipengaruhi kebiasaanya mulai kecil. Kalau mulai kecil anak-anak sudah dibiasakan dengan aktivitas-aktivitas yang positif, maka ketika dewasa kebiasaan itu akan membentuk sifat hingga menjadi sebuah karakter. Dan kalau dari dini anak-anak sudah terbiasa untuk bermales-malesan, tak heran ketika dewasa kebiasaan kurang baik itu akan terus diwarisi.

Kebiasaan yang dimulai dari dini ini mempunyai pengaruh yang sangat positif bagi pembentukan sifat dan karakter di masa-masa perkembangan hingga dewasa atau bahkan tua. Anak usia dini ibarat bonsai. Cukup mudah untuk merawat dengan membelok-belokkan ranting-rantingnya hingga menjadi sebuah bonsai yang anggun dan akan patah ketika pohon bonsai itu sudah tua kaau ingin dibelok dengan mudah Ini bisa juga terjadi pada anak. Agar menjadi anak yang rajin shalat, maka latihlah secara kontinyu mulia dari usia dini.

Menciptakan Suasana Nyaman

Orangtua yang ingin mendidik anaknya agar rajin shalat mulai dini harus memperhatikan faktor kenyamanan dan ketenangan dalam belajar. Apapun bentuknya dalam parkara belajar, apalagi ibadah shalat, harus dalam kondisi yang menyenangkan. Belajar shalat dalam keadaan berarti anak kondisi yang sangat rileks, tak ada tekanan dan tuntutan yang berlebihan. Kondisi menyenangkan bagi anak akan membuat suasana belajar lebih efektif dalam menangkap pola gerakan dan menyerap bacaan-bacaan dalam shalat.

Mengajari anak dalam kondisi menyenangkan dan situasi yang rileks seakan menjadi suatu syarat yang paling utama. Kalau anak sudah bosan dengan metode latihan yang sudah biasa, maka orangtua harus bisa menciptakan suasana yang kurang nyaman itu menjadi lebih rileks. Jadi, kenyamanan kalau sudah tak ada agi karena rutinitasnya yang terlalu sering, maka ciptakanlah kenyamanan dengan beragam cara, salah satunya adalah melalui permainan.

Jangan Pernah Memaksa

Paksaan, apapun itu motifnya, tidaklah tepat bagi anak usia dini. Paksaan bagi anak usia dini adalah bentuk pembunuhan potensi dari dalam. Mungkin secara kasat mata anak usi adini yang dipaksa akan mengikuti, tapi kita tidak tahu bahwa paksaan itu menimbukan beban yang cukup berat untuk merespon, mengingat dan belajar darinya. Sebagaimana sudah diterangkan sebelumnya, paksaan pada anak hanya akan meciptaka kehancuran psikis anak yang jauh dari ketenangan.

Tapi hingga kini masih banyak orang tua yang memaksakan sesuatu pada anaknya. Orang tua seakan merasa orang yang paling tahu dan tepat sehingga kalau ada sesuatu yang diinginkan oleh orang tua sementara anaknya tidak mau maka dipaksakan. Mungkin semua orang mengetahui dan memahami bahwa tujuan orang tua sangat baik, tapi cara yang dipakai dengan jalan pemaksaan adalah sangat tidak tetap dan tidak diperbolehkan dalam konsep pendidikan anak usia dini.

Tidak Membanding-bandingkan

Tak sedikit orang tua yang kerapkali membanding-bandingkan kemampuan anaknya dengan orang lain atau bahkan membandingkan kakak dan adiknya. Misalnya, seorang ibu yang sangat membanggakan kakak sehingga ketika adiknya melakukan sesuatu dan itu dibawah jauh kualitas kakaknya, maka sang ibu tadi langsung mengatakan, “Kenapa kamu ini tak seperti kakaknya yang ketika dinasihati dan dikasih tahu satu kali saja tentang gerakan dan bacaan shalat langsng manut sedangkan kamu meski berkali-kali masih terdapat banyak kesalahan”. Ungkapan itu atau bahkan ungkapan lain yang membanding-bandingkan antara kakak dengan adiknya atau bahkan dengan orang lain akan membawa efek yang kurang baik bagi anak yang dibanggakan dan bagi anak yang seakan direndahkan.

Bagi anak yang dibanggakan dari perbandingan itu akan berdampak secara psikologis yang kuran baik. Anak itu seakan menjadi anak yang sempurna sehingga sangat berpotensi untuk salah arah. Ini banyak kita jumpai anak-anak belita yang selalu disanjungan atau bahkan selalu dielus-elus dari kecil ketika dewasa menjadi anak manja yang selalu membuat banyak kesalahan. Ini bagi saya sangat wajar mengingat ketika masih kecil ia selalu dibsarkan dengan sanjungan demi sanjungan sehingga perasaan bahwa dirinya orang yang sampurna dan tak mungkin berbuat kesalahan akan tertanam dalam pikiran bawah sadar.

Berilah Apresiasi yang Pantas

Memberikan apresiasi pada anak yang rajin melakukan ibadah saat usia dini cukup baik bagi anak. Ini akan memberikan motivasi tersendiri bagi anak untuk tetap mempertahankan dan bahkan bisa meningkatkan aktivitas ibadah anak menjadi lebih rajin.

Melatih secara Bertahap

Membuat anak bisa melaksanakan shalat secara benar dan baik menurut syara’ tidak mungkin dilakukan dengan instan. Mengajari anak membutuhkan proses yang sabar dari orang tua. Dan mengajari anak untuk mengenal hingga membuat anak rajin shalat juga membutuhkan tahapan-tahapan yang perlu dilalui. Tidak mungkin anak langsung belajar sekaligus gerakan shalat, bacaan shalat hinga syarat dan rukun-rukunnya, apalagi kalai anak itu masih ada di usia dini.

Sumber Gambar: pixabay Image