Nabi Muhammad adalah anak muda yang mandiri, tak ingin membebani orang lain, meski pun itu masih ada ikatan kekeluargaan. Prinsip inilah yang membuat Muhammad memberanikan diri untuk menjadi pedagang yang mandiri, alias lepas dari pamannya dalam berbisnis. Muhammad menyadari bahwa pamanya pada saat itu mempunyai tangggung jawab keluarga. Atas dasar itulah kemudian Rasulullah memulai perdagangan secara mandiri, tanpa harus menggantungkan diri pada orang lain dan pamannya.

.

Mula-mula Muhammad Saw melakukan perdagangan dengan amat sangat sederhana. Beliau mengambil barang di pasar kemudian dijual dengan harga eceran ke beberapa masyarakat Mekkah. Sedikit demi sedikit usaha yang sederhana untuk mulai berkembang. Masyarakat pada saat itu percaya terhadap Rasulullah. Meski pun usahanya kecil, tapi dengan konsisitensi penjualan, Rasulullah lambat laun mulai mendapat banyak pelanggan. Hal ini menjadi wajar mengingat pada saat itu Rasulullah tak terlalu mengejar keuntungan finansial, tapi membangun kepercayaan dan citra yang positif di depan konsumen, agen dan kaum pemodal menjadi target paling utama.

Di antara mitra Rasulullah yang sangat terkenal adalah Saib ibn Ali Saib dan Qais ibn Saib. Bersama dua rekan ini dalam catatan sejarah Rasulullah berkali-kali mengunjungi Yaman dan beberapa kota lainnya. Ini dilakukan ketika Rasulullah belum bekerja sama dengan Khadijah. Beberapa karir bisnis yang telah dibangun dengan jerih payah dan penuh prinsip inilah yang pada akhirnay mengantarkan Rasulullah dipercaya Khadijah untuk memimpin perdagangan ke pelbagai wilayah.

Ada masa-masa sulit yang dialami oleh Rasulullah, dimana beliau harus banyak bersaing dengan para pedagang-pedagang yang profesional. Ketika bersaing dengan pedagang-pedagang ini Rasulullah benar-benar diuji ketangguhanya dalam menjaga prinsip dan komitmen yang mulai dari awal sudah dibangun. Masa-masa sulit yang penuh dengan kompetisi ini berlangsung ketika Rasulullah berusia 17-hingga 20 Tahun. Dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya, Beliau mampu melawati semua itu dengan penuh kesabaran.

Menurut Ibnu Sa’d, suatu waktu Rasulullah pernah melakukan transaksi dengan seseorang dan terlibat perselisihan diantara mereka. Orang-orang lain memerintah agar Rasulullah bersumpah atas nama Tuhan mereka dalam rangka memperkuat pernyataannya. Rasulullah segara menjawab, “Aku tidak pernah melakukan itu. Kapan saja jika aku kebetulan lewat dekat berhala, aku sengaja menjauhinya dan mengambil arah lain.” Orang itu terkesan dan berkata, “Engkau jujur dan apapun yang engkau utarakan adalah mutlak benar. Demi Allah, inilah ia seorang laki-laki yang keagunganya selalu di alun-alunkan oleh para sarjana kami dan telah diramalkan oleh kitab suci kami.

Setelah Rasulullah mampu melewati masa yang cukup sulit itu dan keluar menjadi sosok pemenang, maka banyak pedagang-pedagang profesional pada saat itu yang mengagumi dan mengakui ihwal sifat kejujuran Rasulullah dalam berdagang. Kejujuran itulah yang membuat banyak orang menaruh kepercayaan terhadap Rasulullah begitu tinggi. Tentu dalam berdagang tak hanya berbekal kejujuran, tapi juga harus diimbangi dengan perhitungan-perhitungan yang tajam dalam menganalisis pasar. Itu juga ada pada diri Rasulullah.

Dengan bekal kejujuran dan profesionalitas dan ketajaman dalam menganalisis pasar itulah banyak orang yang kepncut untuk menjadi rekan bisnisnya, salah satunya adalah Khadijah, salah satu wanita yang cukup kaya di Mekkah. Khadijah adalah sosok saudagar yang cukup kaya yang bisa melanglang buana ke beberapa negara. Sebagaimana lazimnya saudagar pada umumnya, Khadijah membutuhkan seorang menejer yang profesional untuk memimpin bisnisnya.

Pada saat itu Khadijah mencari seorang pemimpin yang profesional, jujur dan mampu membaca pasar secara tajam. Khadijah berjanji bahwa kalau ada seseorang yang sesua dengan kreteria, maka ia akan di bayar  dengan dua ekor unta. Ada beberapa orang yang melamar tapi tak cocok dengan apa yang diinginkan oleh Khadijah. Khadijah pernah merasa kebingungan mencari orang yang tepat dalam posisi ini.

Di tengah situasi inilah Abu Thalib dengan kecerdasan bernegosiasi pergi ke Khadijah dan menawarkan Rasulullah berada dalam posisi itu. Dengan kecerdikannya Abu Thalib, akhirnya Rasulullah dipromosikan sebagai menejer bisnis dengan gaji dua kali lipat dari yang sebelumnya telah ditentukan oleh Khadijah. Pada saat inilah Rasulullah menjadi seorang menejer yang memimpin ekspansi bisnis secara lebuh meluas. Beliau melakukan banyak perdagangan dengan dibantu oleh seorang budak perempuan Khadijah, yakni Maysarah.

Tempat pertama yang menjadi objek perdaganagan Rasulullah adalah Yaman-Syam dengan melewati Madyan, Wadil Qura. Dalam perjalanan yang cukup jauh ini Rasulullah mendapat keuntungan yang cukup besar. Dengan ditemani oleh seorang pembatu Khadijah, Maysarah, Rasulullah melakukan perdagangan dengan penuh kesabaran dan kejujuran serta analisa pasar yang tepat. Kalau dibandingkan dengan pedagang-pedagang lain saat itu, maka keuntungan yang paling besar diraih adalah dari Rasulullah.

Dalam setiap perjalanan itu, Rasulullah selalu diteani oleh Maysarah. Rasulullah pernah melakukan perdagangan ke Habasyah. Pasar ini biasanya diadakan tiap tahun selam tiga hari pada bulan Rajab. Nabi yang datang bersama Maysarah itu datang untuk membeli bahan pakaian untuk dibawa ke Mekkah yang darinya lah nabi dapat memperoleh keuntungan yang besar. Sekali lagi nabi pergi ke Yaman ini atas nama Khadijah. Dalam riwayat Jarir ditegaskan bahwa Khadijah telah dua kali mengirim Rasulullah untuk berdagang ke Jorasy di Yaman dengan imbalan unta betina dewasa. Dengan itu rasulullah telah melakukan empat kali perdagamgan ke Yaman untuk Khadijah, dua kali ke Habsyah dan dua kali lagi ke Jorasy. Dan perjalanan nabi ke Syria adaah perjalanan Rasulullah yang kelima atas nama Khadijah, dismping perjalannya sendiri-yang keeanm, termasuk perjalanan yang berasam pamanhya disaat rasulullah masih berusia 12 tahun[1]. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah mempunyai pengalaman yang luar biasa dalam melakukan proses perdagangan.

Pasca Rasulullah menikah dengan Khadijah, saat itu berusia 25 tahun, beliau tetap melakukan perdaganganya seperti hari-hari biasanya. Hanya saja pada saat itu pula disamping nabi bertindak sebagai minejer, mitra bisnis, tapi juga sebagai suaminya. Sejak perkawian hingga proses keabiannya Rasulullah tetap melakukan perdagangan dengan rajin dan gigih. Khadijah selaku istri Rasulullah pada saat itu sudah menjadi sosok yang kaya raya. Andai saja Rasulullah tidak bekerja tentu hidupnya sudah lebih dari sekedar cukup. Tapi megekor dan menebeng bukanlah kepribadian Rasulullah. Meski Khadijah kaya, Rasulullah tetap terus rajin melakukan perdagangan ke pelbagai wilayah. Kian hari beliau kian sukses dalam bidang perdagangan.

Keberhasilan perdagangan itu tak membuat Rasulullah terlena begitu saja, beliau terus melakukan perdagangan ke pelbagai negara dan wilayah dengan tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Begitu banyak Rasulullah melanglang buana maka begitu banyak pula ilmu dagang yang didapat. Ketika Rasulullah melakukan ekpedisi perdagangan ke pelbagai wilayah, maka disitu pula beliu mempelajari bahasa dan budayanya. Dan pada saat itu pula beliau menganalisis keinginan pasar yang tentu berbeda antara wilayah yang satunya dengan wilayah yang lain.

Ada beberapa tempat dan wilayah yang menjadi pusat perdagangan dan pernah dikunjungi oleh Rasulullah[2].

  • Furnatul Jandal, salah satu pusat bisnis yang berada di di ujung Hijaz, dekat perbatasan Syiria. Setiap tahun pada awal bulan Eabiul Awal ini dijadikan sebagai tempat pekan bisnis. Pasar disini berlangsung hingga akhir pekan. Pekan bisnis yang berada di tempat ini membuat orang banyak tertarik. Mereka datang berbondong-bondong untuk hadir dan melakukan prosese perdagangan. Rasulullah juga menghadiri pekan bisnis ini secara rutin.
  • Mushaqqa, sebuah tempat di Jazirah Arab yang terletak di sebuah kota yang sanagat terkenal di Hijar (Bahrain). Tempat ib I menjadi ajang pertemuan para pebisnis-pebisnis handal. Pertemuan itu biasanya berlangsung selama satu bulan penuh. Rasulullah juga pernah menghadiri pertemuan ini.
  • Dabba, salah satu tempat yang ada di antara dua kota pelauhan oman. Tempat in banyak di datangi oleh pebisnis handal dari pelbagai negara, layaknya dari India, Cina serta beberapa negara timur lainnya. Rasulullah juga hadir dalam pertemuan ini.
  • Shihr tau Maharah, sebuah kota yang terletak di sebelah pantai laut Arabia, antara aden dan Oman. Ini dalah kota yang sangat terkenal dengan perfum yang mempunyai aroma khas ‘amber’ . Pekan bisni ini dimulai dari awal hingga pertengahan bulan Sya’ban.
  • Aden, pekan bisnis aden ini diadakan mulai tanggal 1-10 Ramadhan. Para pebisnis dari timur atau pun dari selatan datang berbondong-bondong dalam even ini. ]
  • San’a, sebuah ibu kota Yaman. Pekan ini dimulai dari tanggal 10 hingga akhir Ramadhan.
  • Rabiyah, sebuah nama di kota di Hadramaut. Pekan bisnis ini diadakan mulai tanggal 15 Dzulqa’dah selama satu bulan.
  • Ukaz, adalah sebuah tempat di ujung Najd (dekat Thaif). Pekan bisnis diadakan diadakan bersamaan dengan pasar yang berada di Hadramaut. Ini melebihi ajang-ajang pasar lain dalam hal fasilitas kemegahan, besarnya transaksi bisnis, dan peserta yang hadir pun juga lebih bayak dibanding dengan yang lainnya. Lazimnya, pasar ini dikunjungi oleh pebisnis yang datang dari sukuy Hawazin, Ghatafan, Asiam, Ahabish, Quraisy dan beberapa suku lainnya.
  • Dzul Majaz, terletak di dekat Ukaz (antara Ukaz dan Mekkah). Tempat ini diadakah pekan bisnis setiap tanggal 1-7 Dzulhijjah.
  • Mina, sebuah tempat dekat Mekkah. Pean bisnis diadakan setiap musim haji.
  • Nazat, sebuah tempat yang terletak di wilayah Khaibar. Pekan bisnis ini berlangsung mulai tanggal 10 sampai akhir bulan Muharrtam.
  • Buzra, sebuah pasar yang terletak di semenanjung Arabi. Tempat ini kerapkali didatangi rasulullah.

Itulah beberapa wilayah yang pernah dikunjungi oleh Rasulullah. Beberapa perjalanan yang bisnis itu tentu kian hari kian memberikan banyak pelajaran pada Rasulullah untuk terus meningkatkan kualitas dagangnya. Tentu keuntungan perdagangan secara finansial pada saat itu cukup banyak, karena konon Rasulullah ketika melakukan proses perdagangan selalu melebihi di banding dengan pedagang-pedagang handal lainnya.

Ketika pergi ke beberapa wilayah Rasulullah juga berntraksi dengan pelbagai orang yang berbeda budaya dan agama. Beliau belajar memahami pelbagai perbedaan ragam budaya dan agama yang dijumpai di tiap-tiap daerah. Beliau juga kian mengetahui peta politik global pada saat itu, dimana Romawi begitu sangat dominan dan Persia dengan sangat getol selalu melakukan perlawanan. Pengalaman semacam inilah yang juga membantu Rasulullah menjadi sosok pedagang yang sangat handal dan disegani oleh pedagang-pedagang lain.

[1] Afzalurrahman, Muhammad sebagai seorang Pedagang, (Jakarta: Yayasan Swarna Bhumi, 1995). Hlm 11

[2] Malahayati, S.Psi Rahasia Sukses Bisnis rasulullah, (Jogjakarta: Jogja Greati Publiser, 2010), Hlm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here