Kisah Perjalanan Dagang Nabi Muhammad

0
238

Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat kompleks yang tak habis-habis kehidupannya dikupas dalam pelbagai sisi, baik oleh orang islam itu sendiri atau pun dari kalangan non muslim. Nyaris dari semua aspek kehidupan Rasulullah dikupas secara mendalam. Tapi masih tak begitu banyak siklus kehidupan Rasulullah dalam aspek kehidupan mudanya yang terjun dalam bidang perdagangan dan bahkan meletakkan pondasi perdagangan yang islami. Rasulullah telah meletakkan sebuah pondasi utama dunia perdagangan; baik itu dalam aspek etika perdagangan, cara mengemas produk, hingga pada cara memasarkan sebuah produk.

.

Rasulullah adalah pedagang ulung. Beliau memulai karir itu di usia yang cukup belia. Dunia perdagangan dipilih oleh Rasulullah tak lepas dari situasi sosial dan kondisi internal keluarga pada saat itu, dimana kedua orang tua yang sudah tiada telah membuat beliau berusaha keras untuk menghidupi diri sendiri mulai dari kecil. Sebenarnya banyak keluarga yang ingin mengasuh Rasulullah tanpa harus bekerja keras, tapi sebagai pemuda yang ingin mandiri dan tak ingin menggantungkan hidupnya pada orang lain beliau memilih menjadi manusia merdeka.

Dari waktu ke waktu beliau terus tekun dan tak mengenal lelah untuk bekerja mengembangkan bisnis dan dagangannya. Hasil dari kerja keras membanting keringat itu tak hanya untuk kepentingan diri beliau, tapi juga demi menghidupi keluarga dan yang terpenting beliau mempunyai tanggung jawab untuk membantu kemaslahatan seluruh ummat islam dan mereka yang membutuhkan. Hasil dari perdagangan ini pulalah yang disumbangkan dalam kepentigan penegakan agama Islam.

Dengan kejujuran, keuletan dan kegigihannya beliau mampu menjadi pedagang handal yang sukses dan kaya raya. Sebagai pemimpin kaum muslimin di seluruh dunia, beliau adalah sosok yang inspiratif dalam segala bidang, tak terkecuali juga dalam konteks perdagangan. Pada bagian ini akan dijelaskan sekelumit ihwal perjalanan Rasulullah dari awal merintis hingga beliau mampu menjadi pedagang yang sukses.

Muhammad Muda yang Miskin dan Yatim Piatu

Rabi’ul Awwal merupakan bulan paling istimewa bagi ummat islam. Pada bulan inilah seorang bayi laki-laki dari pasangan suami istri Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab dilahirkan, tepatnya pada 12 rabiul awal tahun gajah. Anak itu adalah Muhammad. Sejak usia kecil, Muhammad sudah menjadi yatim piatu. Ayah beliau, Abdullah, meninggal dunia saat beliu dilahirkan. Beliau pun tak begitu banyak menikmati rasa kasih sayang dari sang ibu, Aminah. Saat Muhammad berusia 6 tahun Aminah juga meninggal dunia.

Rasulullah kecil tinggal bersama kakeknya, Abdul Mutahlib. Hingga berusia 8 tahun, beliau tetap mendapat kehangatan dari kasih sayang sang kakek. Setelah itu, ayah dari Abdullah ini pun meninggal dunia. Pengasuhan itu dilanjutkan oleh seorang pamannya, Abu Thalib yang mempunyai pekerjaan mengembala kambing dan hidupnya penuh dengan kesederhanaan. Mulai saat inilah Rasulullah berkenalan dengan dunia baru, niaga. Beliau mulai belajar mengembala kambing dari pamannya dengan penuh kerajinan dan ketulusan.

Rasulullah pada saat itu terus rajin mengembangkan bakat bisnis itu secara terus menerus. Beliau tak melulu berpangku tangan dan menumpang pada pamannya. Beliau mulai mengembala kambing dari beberapa penduduk Mekkah dengan mendapatkan beberapa qiraat. Upah inilah yang menopang hidup beliau sehingga hidupnya bisa mandiri, alias tak tergantung pada pamannya dan orang lain. Lambat laun mental wirausaha Rasulullah mulai terbentuk. Keinginan untuk terus menekuni dunia perdagagan kian matang.

Dalam salah satu riwayat beliu menjelaskan, “Semua Nabi yang diutus Allah Swt pernah mengembala kambing. Maka sahabat baginda bertanya kepadanya, ‘Engkau juga wahai Rasulullah Saw?’Lantas baginda menjawab: ‘Aku juga begitu’. Aku pernah mengembala kambing”

Pernyataan tersebut menandakan bahwa Rasulullah mulai kecil sudah mulai mengembala kambing. Mengembala kambing di usia yang muda tentu bukanlah parkara yang mudah, kecuali bagi mereka yang mempunyai komitmen untuk hidup mandiri dan melepas segala rasa gengsi. Dan ini telah terbangun dalam diri Rasulullah. Mulai saat itu beliau tak ingin terus berpangku tangan terhadap pamannya. Beliau mencari jalan sendiri untuk dapat menghidupi dirinya, salah satu yang cukup ditekuni adalah dunia enterpreunersip yang kelak akan mengantarkan pada puncak kejayaan.  

Berkenalan Dengan Dunia Dagang

Dari awal Rasulullah sudah tumbuh minat  berdagang. Minat itu benar-benar terwujud ketika beliau berusia 12 tahun. Sang pamanya mengajari Rasulullah berdagang layaknya anaknya sendiri. Beliau diajak sang paman untuk hijrah dari Mekkah ke Negeri Syam untuk berdagang. Pada saat inilah jiwa dagang Rasulullah mulai dididik dan diasah. Banyak pelajaran dan hikmah di negeri ini yang membentuk mental dan karakter Rasululah. Setelah itu Rasulullah mulai diajak untuk melanglang buana ke beberapa negara, seperti, Syiria, Jordan dan Libanon. Rasulullah benar-benar mengambil hikmah dan pelajaran dari semua bentuk perjalanan itu.

Rasulullah melakukan perjalanan dagang ke Syria. Pamanya sudah merencanakan melakuakn perjalanan dengan bersama kelompok lain ke Syiria. Saat semua perbekalan telah siap dan semua kelompok telah berkumpul untuk meninggalkan Mekkah, Rasulullah yang pada saat itu masih sangat kecil merangkul pamanya dan memperlihatkan kasih sayangnya dengan sangat besar sehingga Abu Thalib merasa iba. Beliau pun berkata: “Aku akan membawanya bersamaku dan kami tidak akan pernah berpisah.” Rasulullah pun diajak dalam perjalanan ini.

Ketika tiba Di Busra (Syiria) ada seorang pendeta bernama Bahira yang tinggal di sebuah biara. Pendata ini mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup luas ihwal kisah-kisah orang kristen. Sudah mulai dulu biara itu ditempati oleh seorang pendeta. Di biara itu, tersimpan sebuah manuskrip kuno yang tersimpan sebagai kepercayaan yang telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika rombongan Abu Thalib berkemah di dekat biara, pendeta itu keluar dan mengundang para pedagang untuk menghadiri jamuan yang sudah dipersiapkan bagi mereka. Pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, para pedagang juga melewati biara ini, tapi mereka belum pernah diundang makan malam bersama pendeta tersebut.

Bahira yang sangat baik itu telah mengatur sebuah perhelatan akbar untuk para pedagang-pedagang itu. Sebab, dari dalam biara, Bahira melihat segeromboan kafilah yang singgah bersama seorang anak muda yang dilindungi oleh sekumpulan awan putih. Ia juga melihat cabang-cabang pohon tempat anak muda itu beristirahat; seluruhnya merunduk, sehingga anak muda itu dapat berlindung. Ketika melihat ini, Bahira keluar dari biaranya dan berkata: “Saya telah menyediakan makanan untuk kalian semua wahai kaum Quraisy, dan saya ingin kalian semua datang, baik yang besar maupun yang kecil, termasuk para budak.”

Mereka terkejut dan berkata: “Wahai Bahira, apa yang telah terjadi padamu hari ini? engkau tidak biasa melayani kami seperti ini, meski pun kami telah berkali-kali melewati biaramu.” Dengan sopan Bahira menjawab: “Kalian adalah tamuku hari ini, dan aku senang sekali dapat memuliakan kalian.”

Beberapa waktu kemudian, semua memenuhi undangan Bahira, tetapi Rasulullah, tetap duduk di belakang untuk menjaga barang dagangan. Bahira meneliti setiap orang dan berseru: “Wahai kuam Quraisy, tak satupun diantara kalian yang tidak memenuhi undanganku. “Ya, “jawab mereka, “kecuali seorang anak laki-laki yang tinggal di belakang bersama barang-barang bawaannya.” Bahira pun merasa bingung dan berkata: “Itu tidak adil. Suruh ia masuk” Ketika Bahira melihatnya, maka ia menatapnya dengan sangat seksama. Selesai makan dan berpencar, Bahira mendekati anak laki-laki itu serta menayakan beberapa pertanyaan. Dan Khirnya Bahira dapat melihat tanda-tanda kenabian yang terdapat diantara kedua bahunya. Tanda itu mirip sebuah kaca yang melengkung. Lalu Bhaira mendekati Abu Thalib dan berkata: “Bagaimana hubunganmu dengan anak laki-laki ini?.” “Ia adalah putraku, “ Jawab Abu Thalib. “Bukan” kata Bahira, “ia bukan putramu. Bapaknya tidak mungkin masih hidup.” “Memang,” Abu Thalib menjawab sambil meminta maaf, “Ia adalah anak saudaraku dan saudaraku sudah meninggal.”

Setelah itu Bahira menasehati Abu Thalib, “Kembalilah ke negerimu bersama keponakanmu itu dan jagalah ia dari orang-orang Yahudi. Sebab, demi Tuhan, jika mereka melihatnya serta tahu tentang ia sebagaimana aku tahu, pastilah mereka akan melakukan sebuah penganyiyaian. Suatu masa depan yang sangat besar dibentangkan baginya. Maka segeralah kembali kembali ke negaramu bersama anak muda ini” (Al-Tirmidzhi 46:3)

Rasulullah tetap bersama pamanya belajar berdagang. Perlu kita ketahuai Rasulullah memilih dunia perdagangan tentu bukan asal. Mekkah adalah negara yang gersang dan sangat tidak kondusif untuk bercocok tanam dan mengandalkan hidup dalam wilayah pertanian. Kondisi seperti inilah yang membuat Rasulullah memilih dunia perdagangan. Dunia perdagangan adalah pilihan yang tepat dan cerdas. Dunia perdagangan adalah dunia yang lebih menjanjikan dibanding dengan bercocok tanam atau pertanian pada saat itu.

Kenginnan dan minat Rasullah itu juga ditopang dengan kerabat dan silsilah keluarga Rasulullah yang dari awal sudah bergelut dalam dunia perdagangan. Jadi bukan suatu parkara baru ketika Rasulullah terjun dalam kancah bisnis, karena dari awal silsilah keluarga beliau juga terjun dan menggeluti dunia bisnis. Dalam sejaranya, empat orang putra Abdul Manaf (kakak-kakaknya) merupakan sosok pemegang izin dan jaminan keamannan para penguasa yang datang dari negara-negara, layaknya Irak, Syiria, Yaman dan beberapa negara lainnya. Di tambah juga dengan kakek dan paman Rasulullah yang sukses menjadi seorang pedagang yang handal.

Kondisi sosal pada saat itu juga sangat mendukung Rasulullah untuk terjun dalam dunia perdagangan. Kaum Qurasy pada saat itu berada pada puncak keemasan dalam bidang perdagangan. Kondisi sosial ini juga menjadi magnet bagi Rasulullah untuk juga terjun dan terlibat secara aktif dalam dunia perdagangan. Jadi dorongan dari lingkungan keluarga dan kondisi sosial membuat diri Rasulullah memilih dunia perdagangan sebagai langkah untuk menopang hidup hingga beliau menjadi sosok pedagang yang sukses dan cukup disegani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here