Komposisi dan Psikologi Warna serta Penerapannya pada Ruang Belajar Anak

Kreativitas

psikologi warna, ruang belajar anak, desain interior, komposisi warna

Didaksi.com−Apa itu warna dan bagaimana sifat dasar warna adalah pertanyaan yang sudah berabad-abad lalu muncul. Banyak filsuf dan ilmuwan tertarik untuk memikirkan serta merenungkan secara serius perihal warna.

Studi warna dimulai dengan intraksi cahaya dan warna, karena tanpa cahaya kita tidak akan mengamati warna. Ada Phytagoras (sekitar tahun 580-500 SM) yang meyakini bahwa suatu benda memancarkan partikel-partikel yang membuat kita bisa melihatnya. Aristoteles (384-322 SM) yang sedikit lebih maju dengan mengatakan bahwa cahaya berjalan dalam bentuk gelombang dan berteori bahwa warna-warna yang kita lihat berkaitan dengan empat elemen, seperti api, tanah, udara dan air. Aristoteles membedakan warna menjadi 2 golongan: berasal dari cahaya terang dan berasal dari kegelapan.

Pemikiran tentang warna selalu berjalan dengan tingkat subyektifitsanya. Ilmuwan Inggris, Sir Isaac Newton (1642-1727) mengidentifikasi warna secara lebih ilmiah. Dalam buku “Optics” (1704), ia menyatakan warna ada dalam cahaya. Hanya cahaya satu-satunya sumber warna bagi setiap benda. Dari pencobaannya, Newton menyimpulkan bahwa apabila dilakukan pemecahan warna spektrum dari sinar matahari, akan ditemukan warna-warna yang beraneka ragam seperti merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Namun ada yang mengatakan sebenarnya Newton tidak melihat tujuh, tetapi enam, Ia menggenapi tujuh karena tujuh adalah angka mistis dan ini cocok dengan pandangannya tentang kosmos. Sir Isaac Newton cukup banyak membantu pemahaman kita tentang cahaya dan warna. Ia menemukan bahwa cahaya putih mengandung semua warna terlihat. Kita melihat warna karena panjang gelombang cahaya yang bervariasi

Dari ragam banyak pendapat, maka ada dua makna tentang warna. Warna didefinisikan secara Fisik/ obyektif bermakna sebagai sifat cahaya yang dipancarkan (panjang gelombang cahaya yang berbeda akan ditangkap oleh indera penglihatan sebagai warna yang berbeda). Tanpa cahaya warna tidak akan muncul. Secara Subyektif/psikologis warna adalah bagian dari pandangan manusia.

Teori Komposisi Warna

www.slideshare.net

Para ahli warna menganggap ada delapan warna—dengan menambahkan turquoise dan magenta ke dalam enam warna Goethe. Tapi dari sekian banyak warna itu ada istileh warna primer dan sekunder. Warna primer adalah warna yang tak dapat dibuat melalui pencampuran warna-warna lain. Untuk zar warna, warna primer adalah merah, kuning dan biru. Untuk cahaya warna primer adalah merah, hijau dan biru. Jika kita mencampu warna-warna itu dalam proporsi yang sama, hasilnya adalah cahaya putih.

Warna sekunder dibuat dengan mencampur dua warna primer dalam proporsi yang sama. Untuk zat warna, merah dan kuning membentuk jingga; kuning dan biru menciptakan hijau; serta biru dan merah menghasilkan ungu. Untuk cahaya, merah dan hijau membentuk kuning; hijau dan biru menghasilkan turquoise; serta merah dan biru membentuk magenta.

Warna Tersier atau warna ketiga adalah warna hasil percampuran dari dua warna sekunder. Berikut adalah jenis warna tersier: Coklat kuning, disebut juga siena mentah, kuning tersier, yellow ochre, atau olive, yaitu percampuran warna jinggga dan hijau. Coklat merah, disebut juga siena bakar, merah tersier, burnt siena, atau red brown, yaitu percampuran warna jingga dan ungu. Coklat biru, disebut juga siena sepia, biru tersier, zaitun, atau navy blue, yaitu percampuran warna hijau dan ungu.

Warna Kuarter, atau warna keempat, yaitu warna hasil percampuran dari dua warna tersier. Berikut adalah jenis warna kuarter: Coklat jingga, atau jingga kuarter, atau semacam brown, adalah hasil percampuran kuning tersier dan merah tersier. Coklat hijau, atau hijau kuarter, atau semacam moss green, adalah hasil percampuran biru tersier dan kuning tersier. Coklat ungu, atau ungu kuarter, atau semacam deep purple, adalah hasil percampuran merah tersier dan biru tersier.

Psikologi Warna

www.indonesia-tourism.com

Setiap warna mempunyai pengaruh terhadap kita. Warna-warna yang mengitari kita setiap saat, kadang tanpa kita sadari, ternyata mempunyai pengaruh yang besar. Inilah beberapa bentuk warna dan pengaruhnya. Pertama, merah. Warna merah adalah warna kehidupan, warna yang dinamis, hidup dan bersemangat, serta membuat kita lebih berenergi dan semangat. Merah menambah keberanian, kepercayaan, ketekunan, kecepatan, kewaspadaan, ketegasan dan dinamika. Tetapi juga hati-hati dengan warna merah, karena apabila berlebihan akan menciptakan kegelisahan, agresi, kekerasan dan kasus-kasus yang ekstrem.

www.indonesia-tourism.com

Kedua, jingga. Warna jingga hangat seperti merah, namun lebih tidak ramai dan berapi-api. Warna ini menumbuhkan antusiasme, kebersamaan, kebahagiaan, kehangatan, optimism vitalitas, rasa suka berteman. Warna ini penuh hangat dan kegembiraan. Tetapi kalau berlebihan warna ini, akan menciptakan ketergantungan emosional kepada orang lain dan tidak senang sendirian, terlalu sabar dan bisa menimbulkan kemalasan.

www.indonesia-tourism.com

Ketiga, kuning. Warna ini bersifat gembira dan bersinar. Warna ini mampu meningkatkan kemampuan otak, membangkitkan ketajaman mental, konsentrasi, daya ingat, kejernihan pikiran dan keserdasan secara keseluruhan. Tetapi kalau terlalu banyak warna kuning bisa menciptakan kekacaauan, kebingungan, dan pikiran yang resah.

www.indonesia-tourism.com

Keempat, hijau. Warna hijau adalah warna yang paling dekat dengan alam. Warna ini bisa memupuk cinta tak bersyarat, empati, kemurahan hati, dan kesetiaan pada orang lain. Warna ini membantu kita untuk menjadi lebih seimbang dan tenang dan menciptakan hubungan yang lebih kuat dengan lingkungan alami. Terlalu banyak warna ini akan menciptakan posesif, iri hati, dan hasrat untuk mengatur kehidupan orang lain.

www.indonesia-tourism.com

Kelima, biru. Warna ini membantu kita untuk lebih terpisah dari sekeliling kita sehingga bisa melihat dengan lebih jelas. Biru mendorong kejujuran, kebijaksanaan, stabilitas dan tahan uji. Biru berhubungan dengan idealism, loyalitas dan ketulusan hati. Terlalu banyak warna biru bisa menyebabkan perasaan terisolasi secara emosional dan terputus dengan sekeliling dan lebih suka berada dibalik layar daripada berdiri di depan.

Keenam, nila. Kalau biru adalah warna langit siang, maka nila warna langit malam. Warna ini mampu meningkatkan talenta psikis dan kemampuan intuitif, meningkatkan kemampuan spiritual, mendapatkan hubungan yang baik dengan yang ilahi. Nila juag menuatkan kebijaksanaan. Terlalu banyak warna ini akan menimulkan rasa terpencil secara emosional dan mental.

cakrawanita.blogspot.com
cakrawanita.blogspot.com

Ketujuh, ungu. Warna ini membantu kita untuk berhubungan dengan yang ilahi sehingga dapat menyeimbangkan sisi kemanusiaan dan spiritual. Warna ini memberikan penghubung antara dunia nyata dan alam maya sehingga menjadi warna yang esensial dalam karya psikis dan spiritual. Terlalu banyak warna ini akan menimbulkan perasaan superior dalam hal moral dan spiritual.

Kedelapan, magenta. Magenta adalah campuran warna merah dan lembayung. Warna ini membantu kita mencapai cita-cita dan keinginan. Warna ini memberi dorongan lembut dalam arah yang benar dan membantu agar kita mampu menjadi lebih matang dan seimbang secara emosional. Terlalu banyak warna ini menimbulkan perasaan superioritas dan keyakinan yang tak beralasan bahwa kita sudah mengetahui.

Kesembilan, putih. Meskipun ini bukan warna—namun berisis semua warna spectrum. Ketika melihat putih, kita melihat energy semua spectrum warna tanpak—tetapi putih berkaian dengan kemurnian, spritualitas dan kebersihan. Sisi negatifnya melipui superioritas, tidak mau berkompromi dan perfeksiones.

Kebalikan dari putih adalah hitam gelap yang menelan cahaya. Warna ini memberi kesan tak terbatas dan mesterius. Sifat-sifat positif hitam meliputi tenaga dan perubahan. Sifat-sifat negatifnya termasuk depresi, keputusasaan, nihilism dan hasrat untuk menyalahgunakan kekuatan.

Penerapannya pada ruang belajar anak

Warna bisa membentuk suasana ruang belajar anak, membuat ruang berkesan aktif atau pasif, ceria atau tenang, monoton atau kontras. Berikut adalah petunjuk praktis penggunaan warna pada dekorasi kamar. Pertama, kebanyakan anak menyukai warna-warna cerah. Bila ada sekumpulan benda,maka mata anak akan tertuju pada benda yang berwarna terang, jenis warna ini pula yang lebih mampu menggali kreatifitas anak.

Kedua, selain pada dinding, detail aksesori pun sebaiknya berwarna, misalnya calendar berwarna, poster bergambar huruf dan angka. Kita juga bisa menggunakan karpet warna-warni.

Ketiga, menerapkan warna bisa ditujukan pada elemen interior kamar anak, seperti buku-buku, mainan, tempat tidur, tempat simpan dan berbagai kebutuhan anak.

Keempat, warna pada rak atau lemari penyimpanan dapat berfungsi sebagai kode yang membantu anak untuk mengembalikan benda-benda di tematnya.

Kelima, menghindari dominasi warna putih yang membuat ruangan terasa steril dan monoton, atau warna-warna gelap yang terkesan menekan, khususnya untuk anak-anak dibawah usia sepuluh tahun.

Keenam, warna hitam, putih dan abu-abu bisa diterapkan pada anak-anak yang sudah remaja.

Di samping kecenderungan umum beberapa warna yang mendorong kreatifitas anak tersebut, ada juga kebutuan-kebutahn warna berdasarkan tingkat usia. Untuk usia 0-18 bulan anak lebih suka warna yang lembut, seperti biru muda, merah muda, hijau muda dan kuning lembut. Untuk usia 2-5 tahun anak-anak cenderung lebih menyukai warna-warna menyala dengan corak mencolok.

Warna yang disukai usia 6-8 tahun tidak jauh beda dengan warna sebelumnya. pada usia 9-12 tahun ini—usia menjelang remaja—sebaiknya anak dilibatkan untuk memilih sendiri warna. Melibatkan dan membantu anak dalam memilih warna dapat dengan cara menetapkan warna yang ada dalam pelangi, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu. Bila anak sudah memilih salah satu warna, maka perbanyak pilihan untuk perpaduannya, misalnya dari warna muda sampai warna tua.

Sumber Bacaan
Jane Struthers, Terapi Warna, Cara Praktis Menggunakan Warna untuk Menyembuhkan dan Meningkatkan Kualitas Hidup, (2008), Yogyakarta, Kanisius.
Imelda Sanjaya, Kamar Anak dan Remaja, (2000), Jakarta, Gramedia
Drs. Sadjiman Ebdi Sanyoto, NIRMANA Dasar-dasar Seni dan Desain,(2009) Jalasutra, Yogyakarta.
Imelda Sanjaya, Menata Rumah Mungil, (2000), Jakarta, Gramedia

pixabay image