Kota Layak Anak yang Setengah Hati

Isu Pendidikan

kriteria kota layak anak, kabupaten kota layak anak, kota layak anak di Indonesia

Didaksi.com−Bentuk sebuah kota dan atribut social mempunyai pengaruh signifikan terhadap pola pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebuah kota dengan ekologikal yang baik akan membuat tunas bangsa itu tumbuh-berkembang kuat, kekar dan tak mudah terhampas angin.

Sebagai sebuah negeri yang ingin melahirkan generasi emas pada 2025, harapan itu ditranmisikan dalam pelbagai program, salah satunya adalah konsep kota layak anak yang sudah terakomodasi dalam Peraturan Mentri Negara pemberdayaan Perempuan Nomor 2 tahun 2009 tentang kebijakan kota layak anak.

Kebijakan yang ingin membangun sistem ekologikal yang baik untuk anak-anak cukup beralasan. Anak yang dibesarkan dan diasuh dalam lingkungan yang ‘diperkaya’ dan menantang ternyata lebih berprestasi dibanding dengan anak yang tidak dibesarkan dengan lingkungan yang tidak diperkaya (George S. Morrison: 2012). Kebijakan kota layak anak ingin merangsang, menumbuhkan dan mengembangkan semua potensi anak melalui lingkungan dan atribut social edukatif.

Indikator Kota Layak Anak

Ada ragam indikator untuk kota layak anak; kesehatan, pendidikan, perlindungan, infrastruktur, lingkungan hidup dan parawisata. Hanya saja hingga kini masih menyisakan pekerjaan yang banyak. Kasus-kasus pelecehan seksual, anak yang kekurangan gizi, lingkungan yang tak ramah anak dan infrastruktur yang tidak akomodatif terhadap anak menjadi persoalan akut yang belum bisa dipecahkan.

Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dalam laporan publik semester I (Januari-Juni 2013) menerima pengaduan kasus kekerasan pada anak sebanyak 1032 kasus, dengan rincian: kekerasan fisik 294 kasus (28 persen), kekerasan psikis 203 kasus (20 persen), kekerasan seksual 535 kasus (52 persen).

Begitu juga dengan belita yang kekurangan gizi lantaran kemiskinan mendera. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional pada tahun 2013 mencatat lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami kekurangan gizi dan saat ini Indonesia masih menjadi penyumbang angka anak pendek dan kurang gizi di dunia, yang jumlah totalnya mencapai 165 juta. (Tempo/16/ Juli/ 2013)

Menjalin kerjasama secara integral atas pelbagai institusi, baik itu formal atau cultural, masih belum berjalan dengan baik. Saling tegur-sapa dan saling mengisi untuk terpenuhinya sistem ekologikal yang baik untuk anak belum terjadi. Pemecahan yang parsial ini berakibat pada sulitnya untuk mewujudkan kota layak anak sehingga masalah kekerasan anak—verbal atau non verbal, orang tua dan lingkungan masyarakat—dan kekurangan gizi terus menjadi penyakit akut. Lingkungan masih menjadi ancaman bagi tumbuh-kembang potensi anak.

Dalam teori ekologi Urie Bronfenbrenner (2005), perkembangan anak-anak dalam konteks sistem hubungan, membentuk relasi saling terkait yang tidak bisa dipisahkan. Pertama, mikrosistem meliputi lingkungan orang tua, keluarga, teman sebaya, pengasuh anak. sekolah dan para tetangga serta kelompok kegamaan. Lingkungan itu sangat memberi pengaruh terhadap tumbuh kembang anak. Maka butuh pengertian dan partisipasi aktif yang saling bekerja sama untuk mencitakan lingkungan ramah anak sesua standrat yang telah ditetapkan pemerintah.

Kedua, mesosistem satu relasi yang positif dan saling mengisi dalam mikrosistem. Kalau ada anak yang mempunyai perbedaan kemampuan, maka sekolah juga terut memfasilitasi dan kalau ada aak yang kekurangan gizi atau atau butuh perlindungan hukum, maka pemerintah juga harus membantu. Begiu juga dengan program sekolah dan pemerintah setempat, keluarga mampu menjalin kerja sama dan saling mengisi.

Ketiga, ekosistem adalah sebuh pengaruh yang tidak secara langsung berkaitan dengan anak. Sebuah kota yang menerapkan kebijakan jam kerja sampek 9 jam tentu akan berbeda dengan kota lain yang menerapkan jam kerja buruh selama 7 jam. Kebijakan itu akan mereduksi pola intraksi orangtua dan anak. Anak-anak yang intraksinya berkurang maka kasih sayang dan belaian lembut juga akan berkurang.

Keempat, makrosistem berkaitan dengan budaya, tradisi dan nilai-nilai masyarakat setempat. Masyarakat pedesaan yang mempunyai tradisi memberangkatkan anaknya, selepas menjelang masjid hingga habis isyak, untuk mnegaji ke masjid tentu berbeda dengan kultur perkotaan yang menghabiskan anak menonton televisi. Butuh control orangtua untuk membatasi dan menyeleksi wakto dan rontonan televise.

Kelima, kronosistem adalah lingkungan yang dinamis. Anak-anak saat ini sudah menjadikan gadget dengan beragam aplikasi game sebagai teman utama. Lingkungan yang berinovasi dengan pelbagai ragam kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi ini turut mempengaruhi pola berkembang anak, pola intraksi antara orang tua dan anak serta dalam bermasyarakat.

Mewujudkan sebuah kota yang layak anak adalah membangun pengaruh positif diantara lingkungan itu. Memberi warna yang positif bagi tumbuh kembang anak tergantung pada sejauh mana control orang tua, pendidik, dan instsnsi pemerintah saling bekerja sama untuk memberikan solusi holistic bagi anak-anak. Mewujudkan system elogikal yang baik tanpa partisipasi aktif dari semua elemen hanya akan berjalan parsial.

Kita perlu belajar pada Filipina yang mampu mengintegrasikan ragam intansi dan pendukung utama untuk mewujudkan kota layak anak; mulai dari membangun komunikasi yang sejalan antara kebijakan pemerintah dan proses pembangunan, mengganding intansi-instsnsi pendukung, seperti bidang perlindungan anak, instansi pendidikan dan intasnsi kesehatan yang mengurusi persoalan gizi. Negara-negara lain yang maju, semua mampu mewujudkan kota layak anak karena mampu mengintegrasikan semua elemen untuk terciptanya sebuah kota yang layak anak.