Lingkungan yang Merangsang Kreativitas

Kreativitas

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, yang disusun oleh tim penyusun kamus pusat pembinaan dan pengembangan bahasa, lingkungan diartikan sebagai bulatan yang melingkungi (melingkari), lingkaran, sekalian yang terlingkung dalam suatu daerah atau alam sekitarnya, bekerja sebagaimana mestinya yang dapat mempengaruhi penghidupan dan kehidupan manusia , binatang, dan tumbuh-tumbuhan ataupun makhluk lainnya.

Lingkungan—apakah itu lingkungan manusia yang dalam hal ini dilingkupi oleh keluarga, masyarakat dan sekolah, lingkungan non manusia atau yang biasa disebut dengan lingkungan alam—mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap anak.

Teori ekologi Urie Bronfenbrenner (1917-2005) melihat perkembangan anak-anak dalam konteks system hubungan yang membentuk lingkungan mereka. Ada lima system lingkungan yang salaing berkaitan; mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem. Tiap-tiap system itu mempengaruhi dan oleh yang lain.

Pertama, mikrosistem meliputi lingkungan orang tua, keluarga, teman sebaya, pengasuh anak. sekolah dan para tetangga serta kelompok kegamaan. Lingkungan itu sangat memberi pengaruh terhadap tumbuh kembang anak.

Kedua, mesosistem satu relasi yang positif dan saling mengisi dalam mikrosistem. Kalau ada anak yang mempunyai perbedaan kemampuan, maka sekolah juga terut memfasilitasi dan kalau ada anak yang kekurangan gizi atau atau butuh perlindungan hukum, maka pemerintah juga harus membantu. Begitu juga dengan program sekolah dan pemerintah setempat, keluarga mampu menjalin kerja sama dan saling mengisi.

Ketiga, ekosistem adalah sebuh pengaruh yang tidak secara langsung berkaitan dengan anak. Sebuah kota yang menerapkan kebijakan jam kerja sampek 9 jam tentu akan berbeda dengan kota lain yang menerapkan jam kerja buruh selama 7 jam. Kebijakan itu akan mereduksi pola intraksi orangtua dan anak. Anak-anak yang intraksinya berkurang maka kasih sayang dan belaian lembut juga akan berkurang.

Keempat, makrosistem berkaitan dengan budaya, tradisi dan nilai-nilai masyarakat setempat. Masyarakat pedesaan yang mempunyai tradisi memberangkatkan anaknya, selepas menjelang maghrib ke masjid masjid hingga habis isyak, untuk mengaji ke masjid tentu berbeda dengan kultur perkotaan yang menghabiskan anak menonton televisi. Contoh lain adalah kekerasan social, kekerasan media berpengaruh terhadap pola perkembangan anak. Banyak anak yang lebih kasar dan banyak anak yang takut terancam.

Kelima, kronosistem adalah lingkungan yang dinamis. Anak-anak saat ini sudah menjadikan gadget dengan beragam aplikasi game sebagai teman utama. Lingkungan yang berinovasi dengan pelbagai ragam kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi ini turut mempengaruhi pola berkembang anak, pola intraksi antara orang tua dan anak serta dalam bermasyarakat.

Lihatlah gambar di bawah ini.

Lingkungan Merangsang Kreativitas

Kelima system itu saling terkait mempengaruhi perkembangan anak. Prilaku anak itu tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkelindan dan saling memberikan dampak, apakah itu dengan agen-agen langsung yang bersentuhan atau konteks social budaya dalam sebuah masyarakat.

Menciptakan Lingkungan yang Kondusif

Menciptakan lingkungan yang kondusif harus sesua dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan kondusif bagi bayi dan belita (1-3 tahun) tentu berbeda dengan menciptakan lingkungan kondusif bagi masa prasekolah (3-5 tahun). Penulis dalam hal ini lebih focus bagaimana cara menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bayi dan belita serta anak prasekolah.

Lingkungan bayi dan belita yang baik harus menyediakan lingkungan yang sehat dan aman, memenuhi kebutuhan perkembangan, memberi lingkungan yang menantang, meningkatkan intraksi dan perkembangan social yang saling menghargai dan mendukung keikutsertaan aktif. Semua poin tersebut cukup berpengaruh terhadap proses perkembangan anak.

Lihatlah rancangan ruang bayi di bawah ini.

Lingkungan Merangsang Kreativitas
(George S. Morrison, 2012)

Selanjutnya adalah lingkungan prasekolah. Lingkungan prasekolah tidak hanya berkaitan dengan dimensi fisik, perabotan, materi, dan ruang, tetapi juga mencakup intraksi dan prilaku anak-staf, kebutuhan budaya anak dan cara memenuhinya, waktu makan dan aktivitas lainnya. Ada beberapa indicator lingkungan prasekolah yang berkualitas.

– Lingkungan dan situasi prasekolah
– Staf berkualitas tinggi
– Keadaan emosi anak
– Tipe materi
– Keseimbangan aktivitas
– Kesehatan dan keamanan
– Filosofi dan sasaran
– Perkembangan kemampuan baca tulis.
– Kurikulum tertulis.
– Rencana harian.
– Rasio orang dewasa; anak-anak
– Intraksi staf.
– Panduan prilaku
– Kebutuhan gender dan budaya
– Aktivitas diluar ruangan
– Waktu makan
– Keberlanjutan staf.
– Kualifikasi direktur
– Hubungan staf-orangtua
– Biaya dan keterjangkauan.
– Kepuasan orangtua.
– Jam dan layanan.
– Layanan darurat
– Siswa yang sakit.

Dalam layout ruangan anak prasekolah ada tiga klasifikasi. Pertama, tata letak tradisional. Sebuah layout ruang tradisional dapat diwujudkan dengan mengisi zona antar dinding. Dalam pengaturannya, empat daerah kelas untuk 20 siswa masing-masing dapat dilaksanakan secara langsung. Ada juga sebuah ruang kegiatan bersama, ruang untuk kelompok kecil dan ruang perencanaan guru.

Lingkungan Merangsang Kreativitas
(Intania Kusumawardhani 2010)

Kedua, tata letak koperatif. Sebuah tata letak yang berdasarkan pada wilayah kerjanya masing-masing. Setiap siswa memiliki wilayah kerjanya sendiri-sendiri. Fungsi ruang umum adalah untuk kelompok besar melakkan kegiatan bersama. Work zona pada gambar dibawah adalah untuk pekerjaan proyek. Seperti halnya dalam tata letak tradisional terdapat ruang untuk kelompok kecil dan ruang perencanaan guru.
Lingkungan Merangsang Kreativitas
(Intania Kusumawardhani 2010)

Ketiga, tata letak kreatif. Tata letak ini didasarkan bahwa apa yang terbaik bagi anak yang terbaik ditentukan oleh anak dan guru. Tata letak ini menekankan pada kebebasan dan kreatifitas pengguna ditingkatkan (tidak dibatasi) oleh lingkungan yang dibangun. Beberapa kelompok anak dapat mengerjakan tugas yang diberikan saat itu. Anak juga bisa fleksibel. Garis tebal yang putus-putus menunjukkan bahwa anak bisa fleksibel dan pembatas ruang juga bisadapat diindahkan untuk menjadi partisi tetap.

Lingkungan Merangsang Kreativitas
((Intania Kusumawardhani 2010)

Di samping beberapa hal yang telah penulis sebutkan di atas, ada juga beberapa poin yang sangat berpengaruh pada terciptanya lingkungan yang kondusif, baik itu bagi bagi belita atau anak prasekolah. Pertama, warna. Warna mempunyai pengaruh terhadap otak. Jika manusia dirancang untuk berbicara dengan alam, bukankan akan masuk akal bahwa warna alam akan menjadi warna yang paling menenangkan bagi otak. Ada beberapa warna yang bisa menenagkan; biru (seperti langit), hijau (seperti rumput) dan coklat (seperti tanah dan pasir). Pertimbangkan ragam warna itu ketika kita ingin mengecat kamar untuk bayi yang baru lahir atau remaja.

Kedua, Penerangan. Cahaya yang terbaik bagi otak anak bersifat alami, seperti sinar matahari atau vahaya alami lainnya. Ada tempat-tempat di dunia yang memiliki masa 6 bulan diliputi cahaya dan 6 bulan diliputi kegelapan. Selama enam bulan dalam kegelapan itu ada insiden-insiden depresi, alkoholisme, serta bunuh diri yang meningkat. Ada bahan kimia dalam tubuh yang memerlukan matahari untuk memproduksinya secara alami yang penting bagi kesejahteraan mentaldan fisik kita. Cahaya lampu di malam hari, cahaya lilin, dan cahaya yang memikat dari perapian juga memiliki kemampuan untuk menenagkan dan menciptakan kondisi yang positif di dalam otak kita.

Ketiga, aroma. Aroma mempunyai pengaruh terhadap terciptanya lingkungan yang kondusif. Aroma yang menenangkan termasuk lavender, vanilla, kayu putih, dan chamomile—meskipun ada sebagia orang yang alergi. Aroma itu cendrung membuat rileks otak dan membuat kondisi nyaman. Aroma-aroma yang berenergi tinggi, termasuk jeruk, kayu manis, bisa menyebabkan otak menjadi lebih waspada. Dalam sebuah penelitian, pasien dengan cedera otak menampilkan kewaspadaan yang sama dengan pasien yang sehat saat di tes dengan aroma peppermint yang disemprotkan dari selang (Sullivan, Scheff, hangat dan Dember, 1998).

Mewujudkan lingkungan yang pengaruh positif dan konstruktif terhadap pengembangan kreativitas anak menjadi tantangan tersendiri. Memberi warna yang positif bagi tumbuh kembang anak tergantung pada sejauh mana control orang tua, pendidik, dan instansi pemerintah saling bekerja sama untuk memberikan solusi holistic bagi terciptanya lingungan yang konstruktif bagi anak-anak.

Catatan:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), hlm.595.
George S. Morrison, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, penerjemah Suci Romadhona dan Apri Widiastuti (Jakarta: Indeks, 2012)
Intania Kusumawardhani, Pengaruh Warna terhadap Pemenuhan Kebutuhan Ruang Belajar Anak Usia Dini, (Skripsi Fakultas Tekhnik Departemen Arsitektur Universitas Indonesia, 2010), hal. 20
Marcia L. Tate, Menyiapkan Anak untuk Sukses di Sekolah dan Kehidupan, penerjemah Dyah Widya (Jakarta: PT Indeks, 2013)