Makna Evaluasi Kegiatan Belajar Mengajar

Artikel

Didaksi.com-Salah satu kompetensi yang mesti dikuasai oleh guru atau bahkan calon guru adalah kemampuan untuk melakukan evaluasi dalam proses kegiatan belajar mengajar. Evaluasi pembelajaran, baik evaluasi pembelajaran SD, evaluasi pembelajaran di SMP dan evalusia pembelajaran di PAUD, itu sangat penting.  Guru mempunyai tanggung jawab untuk melakukan proses evaluasi hasil belajar mengajar siswa agar perencanaan pendidikan dan proses belajar siswa dapat dipantau dengan baik oleh guru. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi kegiatan belajar mengajar menjadi instrumen penilaian kompetensi guru. tidak dikatakan guru yang baik apabila tidak mempunyai kompetensi melakukan evaluasi kegiatan belajar mengajar. Guru yang bisa dipastikan mampu melakukan proses evaluasi yang baik pula.

Makna Evaluasi

Ada beberapa istilah yang hampir sama dengan evaluasi, yakni pengukuran, penilaian dan test beberapa istilah itu mempunyai banyak perbedaan dan kesamaan. Beberapa istilah itu berbeda fokus serta ruang lingkupnya. Evaluasi tentu lebih luas ruang lingkupnya dibanding dengan penilaian dan pengukuran. Penilaian dan pengukuran hanya fokus pada satu objek saja yang menjadi ruang lingkupnya.

Sebagai sebuah contoh, kalau ada kepala sekolah yang ingin ‘menilai’ system pembelajaran, maka ruang lingkupnya adalah semua komponen pembelajaran, mulai dari domain hasil belajar, system pembelajaran, penilaian proses hasil belajar dan penilaian berbasis kelas. Istilah yang paling tepat dalam konteks ini adalah evaluasi, bukan penilaian.

Sebaliknya, jika ada guru yang ingin menilai satu komponen atau bagian saja, seperti guru yang hanya ingin mengetahui hasil belajar siswa, maka istilah yang paling tepat digunakan adalah penilaian. Perbedaan mendasar antara evaluasi dan penilaian hanya pada ruang lingkup yang ingin dikaji. Evaluasi mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dibanding dengan penilaian.

Depdikbud (1994) menegaskan, “Penilaian adalah suatu kegiatan untuk memberikan pelbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil yang telah dicapai oleh siswa. Istilah menyeluruh menunjukkan bahwa penilaian tak hanya melibatkan aspek kognitif, tapi juga afektif dan psiomotorik. Sedangkan evaluasi merupakan suatu proses untuk menggambarkan peserta didik dan menimbangnya dari segi nilai dan arti. Evaluasi selalu berkaitan dengan nilai dan arti.

Antara penilaian dan evaluasi pada dasarnya mempunyai persamaan dan perbedaan. Titik persamaannya; keduanya mempunyai arti menilai atau memberikan nilai terhadap sesuatu dan alat atau proses untuk menghimpun datanya juga sama. Perbedaan yang paling mencolok ada pada ruang lingkup serta pelaksanaannya. Kalau penilaian ruang lingkupnya terbatas pada satu komponen saja, maka evaluasi bisa mencakup seluruh komponen. Penilaian biasanya hanya melibatkan internal, layaknya guru yang menilai prestasi siswa, atau supervisor yang menilai guru. Evaluasi ruang lingkupnya lebih luas yang bisa mencakup orang internal dan eksternal, seperti mendatangkan konsultan untuk mengevaluasi program sekolah atau kurikulum.

Berbeda lagi kalau dibandingkan dengan pengukuran. Istilah ini lebih akrab dengan sesuatu yang bersifat kuantitatif (skor/angka). Kalau evaluasi dan penilaian fokus pada kualitatif, maka pengukuran lebih pada kuantitatif yang hasilnya diperoleh dari instrumen yang standar dan sesuai dengan validitas dan reliabilitas. Jadi pengukuran bisa diartikan sebagai sebuah proses atau aktivitas untuk menentukan kuantitas. Ini objeknya bisa berupa guru, siswa, sekolah atau bahkan gedung sekolah. Guru dalam melakukan pengukuran ini bisa menggunakan alat pengukur (tes atau pun non tes).

Istilah lain yang kerapkali bersandingan dengan evaluasi adalah tes. Istilah ini berasal dari bahasa Perancis“testum” yang berarti sebuah piring atau jambangan dari tanah liat. Dalam perkembangannya tes ini digunakan dalam ilmu psikologi sebagai cara untuk menyelidiki seseorang. dalam kajian ilmu pendidikan, tes merupakan suatu alat dengan serangkaian tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik dalam rangka untuk mengukur kemampuan.

Kalau dilihat dari jumlah peserta didik, tes dibagi menjadi dua, tes kelompok dan tes perorangan. Dilihat dari kajian psikologi, tes dibagi menjadi empat jenis, yani tes intelegensi umum, tes kemampuan khusus, tes prestasi belajar dan tes kepribadian. Dilihat dari cara penyusunannya, tes dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni tes buatan guru dan tes standar. Kalau dilihat dari jawaban peserta didik, tes dapat dibagi menjadi tiga jenis, yakni tes tes tertulis, tes lisan dan tes tindakan. Itulah makna evaluasi dan beberapa istilah lainnya yang selalu mengiringi istilah evaluasi.

Cakupan Evaluasi

Pada bagian kali ini kita akan mengidentifikasi cakupan evaluasi dalam tiga kerangka dasar, yakni evaluasi pembelajaran, program dan evaluasi system. Penyederhanaan cakupan evaluasi itu berlandaskan pada pasal 57 ayat 2, UURI No.20 tahun 2003, “evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan pada jalur formal dan non formal untuk semua jenjang satuan dan jenis pendidikan.

Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses kegiatan evaluasi yang hanya terbatas pada ruang lingkup kelas atau dalam konteks proses belajar mengajar. Evaluasi ini dilakukan oleh guru terhadap seorang siswa untuk mengetahui lebih jauh daya tangkap siswa terhadap pelajaran yang telah disampaikan. Guru yang baik menjadikan evaluasi pembelajaran sebagai sebuah kegiatan yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar. Dengan proses evaluasi inilah guru akan mendapatkan informasi; apakah materi yang telah disampaikan dapat diterima oleh siswa secara baik atau bahkan tidak. Dengan evaluasi pembelajaran guru akan selalu melakukan proses perbaikan demi perbaikan untuk memberikan strategi dan metode yang terbaik bagi guru.

Evaluasi program cakupannya sudah cukup luas. Ini bisa berangkat dari evaluasi kurikulum hingga pada evaluasi program secara lebih terinci yang ada pada tiap-tiap bidang studi. Evaluasi ini biasanya bertujuan untuk menyegarkan sebuah program yang telah dicanangkan oleh sekolah. Ruang evaluasi bisa mencakup evaluasi kebijakan program, evaluasi implementasi program dan evaluasi efektifitas program. Evaluasi program ini selalu berkaitan dengan proses penyegaran program.

Cakupan yang paling luas adalah evaluasi system. Evaluasi ini mempunyai cakupan yang lebih luas dari pembelajaran dan evaluasi program. Ini bisa melibatkan internal sekolah dan eksternal untuk memberikan evaluasi terhadap system kelembagaan. Evaluasi system meliputi evaluasi diri, evaluasi internal, evaluasi eksternal, serta evaluasi kelembagaan. Evaluasi system ini dilakukan untuk menilai; apakah system kelembagaan telah berlangsung dengan efektif atau tidak.

Dari penjelasan tersebut, evaluasi pada prinsipnya mempunyai cakupan yang lebih luas. Tiap-tiap cakupan mempunyai cara dan panduan tersendiri untuk melakukan proses evaluasi. Panduan itu begitu penting, baik dalam cakupan evaluasi pembelajaran, evaluasi program, evaluasi system. Penulis dalam kajian ini akan lebih focus untuk memberikan panduan bagi guru untuk proses evaluasi pembelajaran. Panduan evaluasi pembelajaran itu akan lebih fokus untuk membuat rambu-rambu ihwal bagaimana cara mengevaluasi siswa, apa saja instrument penilaian yang mesti dilakukan oleh guru untuk mengukur keberhasilan siswa dan bagaimana teknik-teknik membuat soal yang baik. Semua itu menjadi focus kajian evaluasi pembelajaran.

Tujuan Evaluasi

Evaluasi itu dilakukan tidak hanya sekadar mengisi waktu kosong atau hanya karena sebatas formalitas. Tapi keberadaan evaluasi itu wajib untuk dilakukan oleh setiap guru karena mempunyai tujuan yang luhur. Ada beberapa tujuan evaluasi yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar.

Mengetahui Pengetahuan Siswa

Kita semua mengetahui, setiap siswa itu unik dan mempunyai tingkat pengetahuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Setiap siswa itu mempunyai latar belakang kehidupan keluarga dan social yang berbeda; ada keluarga yang berangkat dari lingkungan pendidikan keluarga baik, setengah baik dan kurang baik, ada keluarga dari ekonomi pas-pasan, biasa-biasa saja dan ada pula yang berangkat dari kelas menengah ke atas. ada siswa yang berangkat dari lingkungan social yang terpelajar dan ada pula siswa yang berasal dari lingkungan masyarakatnya yang kurang mendukung terhadap daya belajar. Semua latar belakang itu bisa mempengaruhi tingkat pengetahan siswa, tingkat kecakapan siswa dan moral siswa. Ada siswa yang mempunyai kebutuhan khusus dan ada siswa yang mempunyai tingkat kecerdasannya tinggi. Semua itu membutuhkan pendekatan dan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kapasitas yang dimiliki siswa. Agar pendekatan itu berlangsung dengan baik, maka guru yang bersangkutan mesti mengetahui tingkat pengetahuan siswa. Evaluasi dengan melakukan protes menjadi salah satu cara paling efektif.

Alat Memotivasi

Evaluasi bertujuan untuk memompa semangat belajar siswa. Semangat belajar siswa merupakan senjata yang cukup ampuh untuk meningkatkan keberhasilan siswa, baik itu di dalam kelas atau pun di dalam kelas. Ketika siswa sudah sangat semangat, maka jalan terjal apapun akan dilalui. Dan evaluasi dalam perjalanannya ternyata mampu memberikan motivasi tersendiri bagi siswa. Ketika guru melakukan evaluasi, maka siswa tentu termotivasi untuk mengerjakan dengan cara yang paling baik. Ketika hasil evaluasi diketahui, bagi siswa yang mempunyai nilai tinggi tentunya akan kian termotivasi untuk menjadi yang terbaik dan bagi siswa yang mempunyai nilai rendah akan merasa tertantang untuk selalu memperbaiki diri sehingga bisa menjadi yang terbaik. Evaluasi itu akan lebih baik dalam rangka meningkatkan pelajar siswa kalau diringi dengan tehnik dan metode motivasi yang baik.

Menilai Ketercapaian Tujuan

Setiap proses pembelajaran mempunyai tujuan, salah satunya adalah untuk menambah pengetahuan, menanamkan sikap baik dan mengasah skill yang dimiliki siswa. Apakah tujuan pembelajaran itu berhasil seluruhnya atau sama sekali tidak berhasil bisa diketahui dengan instrument evaluasi. Jadi, evaluasi dalam hal ini mempunyai peran yang penting bagi proses peningkatan belajar mengajar guru agar kian hari menjadi kian baik.

Sebagai informasi untuk Guru

Guru BK membutuhkan informasi yang detail ihwal kondisi siswa. Siapa saja siswa yang mempunyai masalah dengan materi pelajaran, siapa saja siswa yang mempunyai masalah dengan kecerdasan. informasi itu bisa didapat ketika guru melakukan evaluasi terhadap siswa. Evaluasi memang tidak sepenuhnya menggabarkan ihwal perkembangan siswa, tapi paling tidak ini menjadi informasi awal bagi guru untuk ditindak lanjuti oleh guru BK. Seringkali kita menjumpai guru yang melihat siswa secara hitam putih-ketika siswa mengerjakan ujian dengan baik, maka mereka menganggap bodoh. Ini tentu pandangan yang kurang tepat karena pada dasarnya tidak ada siswa yang bodoh. Paradigma ini mesti dirubah ke arah yang lebih humanis. Kalau ada guru yang menjumpai siswanya selalu mengerjakan tugas dengan nilai dibawah rata-atas, maka carilah informasi secara lebih mendalam tentang latar belakang keluarga dan kehidupannya.  Ini bisa dibantu dengan guru BK.

Dasar Perubahan Kurikulum

Ini adalah standar tujuan evaluasi secara lebih luas. Kurikulum pendidikan itu bisa mengalami perubahan apabila ada inkonsistensi antara tujuan dengan realitas yang terjadi di lapangan. Semua ini tentu berawal dari evaluasi proses belajar mengajar, evaluasi system hingga merambah pada proses perubahan kurikulum. Jadi, terjadi proses kesinambungan yang erat antara ketiga ragam ruang lingkup evaluasi itu sehingga pada akhirnya mampu melakukan proses perubahan di ranah kurikulum.

Prinsip Evaluasi Pembelajaran

Dalam melakukan proses evaluasi pembelajaran, ada beberapa prinsip utama untuk menunjang efektivitas evaluasi. Depdiknas (2003) mengungkapkan, prinsip-prinsip umum pembelajaran adalah mengukur hasil-hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran, diantaranya adalah mengukur sampel tingkah laku yang mengacu pada bahan-bahan yang telah tercakup dalam proses pembelajaran. Secara lebih luas ada beberapa prinsip evaluasi, yakni.

Adil dan objektif

Kata adil dan objektif itu mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk direalisasikan menjadi sebuah tindakan. Dalam melakukan proses evaluasi pembelajaran, maka yang paling utama wajib dimiliki oleh guru adalah bersifat adil dan objektif terhadap siswa. Guru tidak pilih kasih terhadap siswa. Siapapun mereka kalau tidak memenuhi standar untuk mendapat nilai baik, maka harus ditulis apa adanya. Guru juga harus memandang siswa tanpa pandang bulu dan melakukan penilaian dengan menjauhkan diri dari sikap like and dislike, perasaan serta prasangka negatif lain. Guru harus menilai siswa sesuai dengan kenyataan dilapangan yang sebenarnya.

Komprehensif

Ketika guru ingin melakukan evaluasi terhadap siswa, maka harus dilihat secara utuh kepribadian siswa. Guru tidak cukup hanya dengan mengevaluasi aspek kognitif an sich dengan mengabaikan aspek lainnya, seperti afektif dan psiomotorik. Kalau guru hanya melihat bagian aspek tertentu saja terhadap siswa, maka evaluasi tidak akan sempurna atau bahkan bisa salah paham. Sebagai sebuah contoh, ada guru melihat siswanya sangat pintar dalam mengerjakan soal dan berdiskusi. Murid itu seakan sangat pintar sehingga sang guru langsung memberikan siswa itu nilai yang tinggi tanpa memperhitungkan aspek lainnya. Ini sungguh proses evaluasi yang kurang komferehensip. Bisa saja siswa itu hanya handal secara kognitif tapi lemah dalam aspek afektif dan psiomotorik. Evaluasi yang baik harus dilakukan secara menyeluruh.

Kontinuitas

Proses pembelajaran itu dilakukan secara terus menerus. Tidak jauh beda dengan evaluasi. Melihat siswa tidak hanya pada saat melakukan evaluasi sekarang, tapi hasil evaluasi sebelumnya juga menjadi komparasi. Proses perkembangan siswa bisa dipantau dengan baik apabila ada komparasi antara hasil evaluasi yang sekarang dengan evaluasi yang sebelumnya. Perkembangan peserta didik akan jelas dengan melakukan komparasi itu. Jadi, perkembangan peserta didik terus dipantau mulai dari input, proses hingga out pout. Evaluasi dengan system kontinuitas ini akan  menjadikan evaluasi lebih bermakna holistic.

Kooperatif

Dalam melakukan proses evaluasi, guru tidak bisa berdiri sendiri. Evaluasi itu akan berjalan dengan baik apabila guru mampu melakukan proses kerja sama yang baik dengan pelbagai pihak; mulai dari keluarga peserta didik, guru BK, wali kelas, kepala sekolah dan elemen-elemen lain dalam sekolah. Jalinan kerja sama itu menjadi penting karena guru bisa mempunyai pandangan yang lebih luas terhadap perkembangan peserta didik dan hasil evaluasi pun mampu membuat semua pihak merasa puas.

Praktis

Guru mesti menggunakan alat evaluasi yang mudah dicerna dan dipahami oleh peserta didik atau pun guru lain yang akan menggunakan alat tersebut. Dalam membuat soal, guru harus membuat dengan sesederhana dan sejelas mungkin, baik itu dalam aspek bahasa, petunjuk dalam mengerjakan atau pun isi soal itu sendiri. Tidak sedikit guru yang pintar dan cerdas tapi kadang belum tentu mampu memberikan penjelasan serta petunjuk pada orang lain. Kecerdasannya seakan tidak akan banyak berarti tanpa diiringi dengan metode atau cara yang jelas terhadap peserta didik. Ini juga berlaku dalam proses evaluasi belajar mengajar. Memilih instrumen yang tepat dan membuat petunjuk serta soal yang jelas menjadi prinsip dasar evaluasi pembelajaran.

 Follow-up atau tindak lanjut

Hasil evaluasi pembelajaran tidak hanya dijadikan arsip mati yang harus disimpan dalam rak. Hasil evaluasi itu mesti ditindaklanjuti dengan aksi nyata oleh guru atau pun pihak sekolah. Kalau evaluasi tidak di follow-up dengan aksi nyata, maka evaluasi tidak lebih hanyalah sebatas ritual formal yang tidak akan memberikan efek apa-apa terhadap kualitas belajar mengajar. Hasil evaluasi mesti ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata oleh guru, baik itu dalam aspek strategi pembelajaran atau pun factor siswa iu sendiri. Dengan tindak laut ini, proses belajar mengajar akan terus perkembangan menuju perbaikan demi perbaikan.

 

Daftar Bacaan

Zainal Arifin, Evaluasi Pembelajaran,Prinsip, tekhnik, prosedur (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2009)