Masyarakat Sadar PAUD

Artikel

paud, paud dikmas, paud adalah

Didaksi −Pendidikan Anak Usia Sini (PAUD) telah menjadi perhatian seluruh dunia. Bermula dari pertemuan Jomtien, Thailand pada 1990. Forum itu melahirkan Deklarasi Jomtien yang berisi ihwal pentingnya pendidikan untuk semua dari kandungan sampai liang lahat. Ada juga Deklarasi “A World Fit For Childran”, di New York, Amirika Serikat pada tahun 2002. Pertemuan ini sangat menekankan untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.

Baca juga Enam Kebijakan Strategis PAUD

Pentingnya Muatan Kelautan dalam kurikulum PAUD 2013

HIMPAUDI Gugat Review UU Sisdiknas ke MK demi Kesetaraan Guru PAUD

BOP PAUD 2019 Naik Menjadi Rp 4,47 triliun

Dunia sangat memperhatikan akan pentingnya PAUD mengingat masa itu adalah era keemasan bagi tumbuh kembangnya potensi dan keunikan yang dimiliki oleh anak-anak. PAUD yang berlangsung dari umur 7 tahun ke bawah adalah penemuan pada masa pencerahan tantang struktur potensi yang paling subur untuk diopeni. Tak ada masa yang lebih peka selain pada masa anak-anak. Masa ini diibarakan dengan pondasi untuk membangun sesuatu. Rancangan akan masa depan anak yang baik dari orang tua tanpa memperkokoh pondasi hanya akan melahirkan ketimpangan di masa depan.

Masa Emas

Menurut Dr. Fidesrinur (2003) PAUD dari berbagai sudut pandang penelitian telah menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah masa emas “golden age” periode perkembangan kognitif, bahasa dan sosial emosional mengalami titik puncaknya. Keterlambatan stimulasi pada usia ini mempunyai efek jangka panjang dalam kehidupan seorang manusia. Begitu juga sebaliknya, maksimalisasi proram

PAUD akan berimplikasi serius baik terhadap kecerdasan, kreatifitas dan karakteranak di masa-masa yang akan datang. Kalau kita lihat para penemu-penemu dunia justru lahir bukan dari rahim pendidikan formalsaat di perguruan tinggi, kreativitas mereka banyak diasah lewat pendidikansaat masa kecil. Sebut saja Albert Einstein, menurut pengakuan Kathi Hirts Pask (Einstein Never Used Flash Card:2005) Einstein memiliki pikiran yang hebat bukan karena otaknya mengumpulkan informasi yang cukup luas saat masa kecil, tapi semua itu terkait dengan proses pendidikan pada masa kecilnya yang merangsang tumbuhnya kreaktivitas.

Pelajaranterpenting dari Einstein semasa kecilnya adalah dibirinya ruang kebebasan untuk berekspresi, bermain dan bereksprimentasi. Begitu juga dengan tokoh sekaliber Tomas Alva edison, dan Sir Isaac Nerwton. Tekoh-tokoh penemu besar tersebut pada usia kecil dikenal dengan anak yang bodoh, pemalu dan pelamun. Tapi mengapa tokoh-tokoh tersebut menjadi penemu hebat se dunia ?. Hal ini menurut Wahyudi (Maa… Aku Bisa !!!: 2006), berangkat dari

bentuk kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang dilandasi dengan pemahaman multi intelegence. Pemahaman orang tua tentang kompleksitas kecerdasan harus ditambahi dengan rasa kasih sayang yang penuh terhadap anak.Masa kecil adalah masa emas.

Hanya saja PAUD yang ada di Indonesia masih memperihatinkan. Masyarakat yang mempunyai kesadaran penuh ihwal pentinganya PAUD masih minim. Banyak yang menganggap remeh terhadap PAUD. Paradigma ini ternyata tidak berdiri sendiri. Harus diakui bahwa arah pembicaraan kita yang selama ini bergulir ihwal pedidikan masih jarang yang menyentuh PAUD. Wacana yang bergulir lebih pada persoalan-persoalan infrastruktur, kurikulum dan kualitas guru yang semuanya seakan terlepas dari persoalan PAUD. Kalau praktisi, pengamat dan pemegang kebijakan itu sendiri masih sangat minim yang respek terhadap PAUD bisa dibayangkan masyarakat yang saban harinya masih disebukkan dengan aktivitas perut muncul kesadaran yang lebih untuk pengembangan PAUD.

Padahal kalau kita ingin jujur terhadap sejarah, peletak dasar pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara (KHD) telah merintis PAUD dan telah berkembang secara maksimal. Di Jogjakarta sendiri ada taman kanak-kanak yang pada 3 Juli 1922 KHD memberi nama ‘Indria’. Nama itu diambil karenabagi KHD anak berumur 7 tahun kebawah belajarnya cendrung menggunakan indra (Indria).KHDtelah menjadikan PAUD sebagai pondasi awal untuk mendidik karakter anak.

Kalau bangsa ini menangkap pesan KHD ihwal pentingnya membangun PAUD, akan lebih banyak PAUD yang ada di bangsa ini. KHD dengan memberi palabelan ‘indra’ secara tak langsung telah respek terhadap pentingnya pendidikan anak yang cendrung imitatif lewat indra. Hanya saja kita selama berapa periode ini sulit menangkap

pesan tersirat sehingga untuk menggalakkan PAUD secara lebih erius baru dimulai satu dekade terakhir (1996) di saat Bank Dunia melalui Badan Perencanaan Pebangunan Nasional (Bapennas). Ini adalah sebuah kecelakaan sejarah yang patut kita dijadikan pelajaran bersama bagi kita untuk senantiasa menggelakkan PAUD secara lebih serius.

Dengan demikian, PAUD yang selama ini mulai digalakkan oleh pemerintah bisa direspon secara positif oleh masyarakat. Masyarakat sejatinya sadar ihwal pendidikan yang paling memungkinkan untuk mengasah keunikan anak-anaknya adalah saat-saat di usia dini. Paradigma yang selama ini hanya terpaku pada sekolah formal an sich, sejatinya dirubah pada gaya berfikir yang lebih holistik. Dalam ruang lingkup keluarga dan masyarakat anak-anak di usia dini bisa mengasah dan menemukan keunikannya dengan dunianya sendiri.