Memahami Struktur Otak dan Cara Kerjanya

0
3157

Didaksi.com−Struktur otak memang cukup kompleks. Mulai dari cara kerjanya hingga jumlahnya pun masih banyak yang berbeda pendapat. Apakah struktur otak manusia ada tiga, dua otak atau empat kuadran. Tiga pendapat ihwal jumlah otak itu sama-sama mempunyai dasar. Ini merupakan salah satu bentuk keajaiban dari otak. Dari saking kompleksnya cara kerja otak manusia, banyak para ilmuwan yang berbeda pendapat dan sulit menemukan titik temu.

.

Sir Jons Eccles, pemenang hadiah Nobel 1963 dalam bidang kedokteran, mengatakan bahwa sensivitas pemicu hubungan sebesar rambut dibelah tujuh antar sel otak mengisyaratkan  sebuah mesin yang dirancang untuk dapat dioperasikan oleh hantu. Ini pernyataan hiperbola yang ingin menggambarkan bahwa otak dan cara kerjanya itu adalah misterius. Untuk itulah pada bagian ini, didaksi akan menjelaskan secara lebih rinci ihwal bagian-bagian otak secara keseluruhan yang dihimpun dari pelbagai hasil penelitian. Tulisan  ini adalah penggalan dari buku Memahami Cara Kerja Gelombang Otak Manusia (2011) yang ditulis oleh pengelola didaksi sendiri.

Otak Reptil, Otak Mamalia dan Neokorteks

Salah satu tokoh yang membagi otak menjadi tiga lapis adalah Paul Mclean, salah satu ahli biologi evolusi. Beliau membagi otak menjadi tiga lapis, yakni otak reptil, otak mamalia dan neokorteks.

Otak reptil atau kerapkali juga disebut dengan batang otak terletak di tengkorak atau rongga kepala bagian dasar yang muncul dari tulang punggung. Di situlah terletak elemen otak reptil yang sama persis dengan bagian otak yang dimiliki reptil, layaknya kedal atau buaya. Otak ini disebut sebagai otak reptil karena bentuk dan fungsinya mirip dengan reptil.

Baca juga:

Cara Meningkatkan Kecerdasan Otak dengan Bergerak

Otak Tua Ternyata Lebih Baik dari Otak Muda

Cara Menjaga Otak Anak Agar Cerdas

Fungsi otak reptil berkaitan dengan hal yang mendasar dalam kehidupan ini, mulai dari pernapasan, detak jantung serta fungsi motor sensoris untuk mengetahui rangsangan yang berasal dari panca indra. Ketika kita sedang berada dalam kondisi yang terancam, maka secara otomatis kita akan lari. Di sinilah otak reptile sedang bekerja.

Otak reptil juga mengontrol instink-instink primitif lainnya. Kita semua pasti akan marah ketika sesuatu yang kita punya, salah satunya adalah teritorial, diambil oleh orang lain. Otak reptil merespons dan memberikan perlindungan pada wilayah teritorial ini.  Secara sederhana fungsi otak reptil adalah mempertahankan hidup secara naluriah yang terkonsentrasi pada makanan, pengembangbiakan, tempat tinggal serta perlindungan diri dari ancaman yang membahayakan.

Otak mamalia atau lebih akrab dengan sistem limbik berada di sekitar otak reptil atau bagian paling tengah otak kita. Disebut otak mamalia karena semua jenis mamalia memiliki otak ini. Komponen yang cukup penting dan menjadi kunci dalam sistem limbik ini adalah amigdala.

Di dalam otak mamalia ini terdapat sistem limbik yang terdiri dari amygdala, hippocampus, thalamus, dan hypotalamus.  Otak ini berperan dalam dalam mengatur kebutuhan akan keluarga, strata sosial, serta rasa untuk memiliki (Adi W Gunawan: 2004). Dan fungsi sistem limbik adalah mengendalikan emosi, membantu memelihara homeostatis, mengendalikan hormon, rasa haus, rasa lapar, seksualitas, pusat-pusat rasa senang, metabolisme, fungsi kekebalan, dan suatu bagian penting dari memori jangka panjang. Otak ini mempunyai peran dalam mengendalikan perilaku emosional dan menyimpan memori jangka panjang.

Setiap sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini yang melibatkan emosi yang kuat pastinya akan dapat terekam dengan baik oleh memori otak kita. Siapa yang akan melupakan kekejaman Nazi dalam pembantaian ummat Yahudi. Cukup sulit untuk dilepaskan dalam ingatan banyak orang, terutama ummat Yahudi karena itu melibatkan emosi yang cukup dalam sehingga akan tetap terpaku di dalamnya. Di sinilah sistem limbik itu bekerja.

Dalam beberapa penelitian juga ditemukan bahwa bagian otak yang mampu mengendalikan emosi ternyata juga dapat mengendalikan kesehatan. Orang yang tak bisa mengontrol emosi kerapkali stres. Dan sudah tak asing lagi bahwa orang yang kerapkali stres dan merasa buntu dalam menghadapi pelbagai masalah lebih potensial untuk diserang penyakit. Jadi antara emosi dan kesehatan mempunyai kaitan yang cukup erat. Inilah penjelasan Colin Rose (2002) ihwal kerja sistem limbik.

“Sistem limbik mengontrol rasa senang, permainan peran, kerja sama, dan permainan lainnya yang merupakan elemen penting dalam proses belajar karena melibatkan emosi positif. Kita ingin setiap pelajar mengungkapkan tentang proses belajarnya, “saya menyukainya, saya ingin melakukannya lagi.

Para peneliti mencatat bahwa ketika emosi positif dalam keadaan terbangkitkan, “zat-zat keceriaan” mirip opium yang disebut endorfin terbentuk. Pada gilirannya, ini memicu peningkatan aliran neurotransmiter yang disebut asetikolin. Ini penting karena neurotransmiter merupakan pelumas yang memungkinkan terjadinya sambungan antar sel otak.

Tetapi bagaimana halnya dengan emosi negatif? Peneliti Mortimer Miskhin dan Tim Appeneller yang menulis dalam scientific Amirican, menyarankan bahwa sistem limbik dan khususnya telamus, bekerja seperti sejenis ‘saklar’ antara “pancaindra” dan “otak” kita, yang menganalisis setiap informasi yang masuk untuk kepentingan emosi kita. Jika kita merasa stres atau takut, informasi itu mungkin tak sepenuhnya disampaikan ke neokorteks.”

Dari keterangan tersebut sudah nampak jelas bahwa sistem limbik ini adalah pusat dan sentral pengendali dari keseluruhan otak. Segala hal ihwal yang datang dari indra penglihatan, pendengaran, serta peraba masuk ke otak ini yang kemudian didistribusikan ke neokorteks untuk dipikirkan. Itulah cara kerja dari sistem limbik atau otak mamalia.

Inti dari cara kerja otak ini lebih pada wilayah pengendali emosional. Hanya saja kalau tak mampu bekerja dengan baik, maka itu membawa efek tak hanya pada wilayah ucapan dan tindakan, tapi juga bisa berefek pada kesehatan, layaknya stres, sering marah-marah dan selalu merasa takut. Emosi yang tak mampu bekerja dengan baik menjadikan hidup seseorang berantakan.

Daniel Goleman (1996) pernah mengisahkan ihwal seseorang yang emosinya terbajak. Pada suatu hari yang panas di bulan Agustus tahun 1963 dan pada saat yang bersamaan pendeta Martin Luther King, jr menyampaikan pidato “I Have a Dream” di hadapan pawai hak-hak asasi. Hari itu, Richard Robles seorang pencuri kawakan yang telah dibebaskan dari hukuman karena sebelumnya terlibat dalam kasus perampokan memutuskan dirinya untuk mencuri satu kali lagi. Richard Robles sebenarnya ingin menjadi orang baik. Tapi karena pada saat itu ia sangat membutuhkan uang, maka ia berjanji pada dirinya untuk mencuri satu kali lagi dan tak akan mengulangi kejahatan lagi.

Richard Robles mengincar sebuah Apartemen milik dua wanita muda, Janice Wylie yang berusia dua puluh satu tahun, seorang peneliti di majalah Newsweek dan Emily Hoffert yang berusia dua puluh tiga tahun, seorang guru sekolah dasar. Richard Robles pada mulanya ingin merampok di apartemen, tapi wanita itu ternyata ada di rumah sehingga Richard Robles langsung menuju rumahnya.

Richard Robles mengancamnya dengan sebilah pisau dan mengancamnya. Setelah itu Richard Robles keluar rumah dan berniat akan lari, tapi seketika itu pula ia melihat Emily Hoffert pulang. Demi mengamankan pelariannya Richard Robles mengikat Hoffert juga. Ketika Richard Robles mengikat Hoffer, Janice Wylie mengingatkan bahwa dirinya tak akan pernah melupakan Richard Robles dan tak akan dibiarkan dirinya lolos. Ia berjanji akan melaporkan pada polisi.

Mendengar itu Richard Robles langsung kehilangan kendali. Ia panik. Dengan pikiran yang tak terkendali ia mengambil botol soda dan memukul gadis itu berkali-kali. Di samping itu juga ia langsung menikam gadis itu dengan pisau. Richard Robles sudah kehilangan kendali dan tak sadar bahwa dirinya tak akan melakukan kejahatan lagi. Tapi di tengah situasi yang kalang kabut ia bisa kehilangan kendali.

Dari kasus tersebut, kenapa Richard Robles tiba-tiba langsung emosional dan kehilangan kendali? Kenapa Richard Robles lupa akan janji bahwa dirinya akan berhenti melakukan kejahatan. Andai saja Richard Robles bisa mengendalikan emosinya yang meledak-ledak dan mampu berpikir secara logis, tentu nasibnya akan berbeda. Tapi karena Richard Robles lebih didominasi oleh emosi negatif, maka ia melakukan tindakan yang ceroboh dan sangat merugikan dirinya.

Dalam kasus tersebut sistem limbik tak berfungsi sebagaimana mestinya, yakni mengendalikan emosi agar tak meluap-luap. Kalau diberatkan listrik, sistem limbik adalah pengatur arus listrik. Segala informasi yang datang dari panca indra akan diantarkan oleh sistem limbik ke neokorteks untuk dipikirkan sehingga mampu menghasilkan tindakan yang rasional. Kalau ada kasus yang kurang rasional layaknya Richard Robles diatas, sistem limbiknya tak mampu bekerja secara dan lebih banyak dikendalikan oleh otak primitif yang lebih mengandalkan insting kebinatangan.

Neokorteks atau disebut juga dengan otak berpikir berada di atas dan sisi otak mamalia. Otak ini terdiri dari sel-sel saraf yang disebut neuron. Bentuknya seperti selimut setebal 3 mm dan memiliki 6 lapisan yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda. Lapisan-lapisan itu merupakan inti dari seluruh otak kita. Kalau lapisan ini rusak, maka kita kehilangan kemampuan berfikir tingkat tinggi, lebih-lebih dalam aspek matematika dan penalaran lainnya. Lihatlah gambar di bawah ini.

Neokorteks berhubungan dengan melihat, mendengar, mencipta, berfikir, berbicara. Dalam Neokorteks-lah keputusan-keputusan diambil, dunia diorganisasi, pengalaman disimpan dalam memori, pembicaraan diproduksi dan dipahami, lukisan dilihat dan di apresiasi serta musik yang didengar dan dinikmati. Peran neokorteks sangat vital bagi kita. Neokorteks seakan menjadi bagian yang paling inti dari otak manusia. Neokorteks lah yang kemudian lebih menjadikan manusia lebih manusiawi.

Perbedaan yang cukup mendasar antara lapisan Neokorteks dengan otak reptil atau mamalia terletak pada kemampuannya dalam memilah dan memilih respons yang bijaksana. Kalau otak reptil atau mamalia merespons stimulus yang datang lebih bersifat reaktif. Mungkin kita semua pernah merespons sesuatu dengan sangat reaktif tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu secara arif dan bijaksana. Respon reaktif yang tanpa pertimbangan inilah merupakan hasil kerja otak binatang atai otak reptil.

Neokorteks atau ”otak berpikir” merespons sesuatu tak secara reaktif, tapi memunculkan banyak pilihan-pilihan yang bijaksana. Ciri khas apabila Neokorteks yang lebih dominan dibanding otak binatang adalah kebebasan untuk memilih respons atas setiap stimulus yang masuk. Seumpama ada orang yang mencela si A, maka apabila Neokorteks si A berfungsi dengan bagus akan memandu memilih respons; si A bisa marah lalu memukulnya, si A bisa tertawa karena menganggap hinaan itu sebagai sesuatu yang lucu, dan si A jug bisa berdiam diri karena kalau merespon dianggap membuang-buang waktu. Itulah ciri orang yang lebih menggunakan Neokorteks dibanding otak mamalia atau reptil.

Neokorteks yang berfungsi dengan benar juga akan membuat manusia lebih dewasa. Mungkin banyak kita jumpai orang yang sudah tua tetapi perkataan selalu berbohong, perilakunya rakus. Orang seperti ini biasanya yang berfungsi adalah otak reptil atau mamalia dan hilangnya fungsi Neokorteks. Hilangnya fungsi neokorteks juga dicirikan dengan nafsu yang tak terkendali, baik itu dalam kontak kepemilikan atau wilayah seksualitas. Jadi neokorteks merupakan otak inti yang menjadikan menusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Mamalia yang lain bukan tak mempunyai neokorteks, tapi cukup sedikit dan sebanding yang dimiliki oleh manusia. Bisa dikatakan seluruh ciptaan tuhan di muka bumi ini yang paling banyak neokorteks adalah manusia. Neokorteks pada manusia berlipat-lipat. Itulah salah satu keajaiban neokorteks pada manusia sehingga ia menjadi makhluk yang paling istimewa dan unik diantara makhluk ciptaan lainnya..

Pada otak neokorteks ini terdapat empat lobus yang mempunyai peran berbeda-beda. Pertama, lobus frontal yang berada di belakang kening dan mempunyai peran untuk melakukan proses penilaian, berfikir, kreativitas, merencanakan, serta dapat memecahkan masalah. Biasanya lobus frontal ini akan matang ketika usia seseorang sudah 35 tahun. Tapi ini bukanlah patokan yang mutlak, karena apabila kita kerapkali menggunakan bagian otak ini maka itu juga berpengaruh besar terhadap tingkat kematangan dan kedewasaan seseorang.

Kedua, lobus accipital yang berada di bagian atas dan agak ke belakang dari otak kita. Lobus ini mempunyai peran untuk memproses seluruh sensasi serta makna dan fungsi dari bahasa. Ketiga, lobus temporal, yang berada di sebelah kiri dan kanan. Lobus ini berfungsi untuk memproses bahasa, arti, mendengarkan dan memori. Keempat, lobus occipital yang ada di bagian belakang .lobus ini mempunyai fungsi untuk penglihatan an sich.

Otak Kanan dan Otak Kiri

Otak yang penuh misteri ini juga kerapkali disebut dengan belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Pembagian ini bukan hal yang baru, tapi pada masa Mesir kuno sudah dikenal istilah otak kiri yang berfungsi sebagai pengendali sensasi yang datang dari otak kanan dan juga otak kanan sebagai alat meresponnya. Pada saat itu otak kanan dan otak kiri telah diakui mengandung fungsi yang kompleks dan hubungan yang cukup erat.

Beberapa periode berikutnya perhatian ahli otak mulai menekuni untuk meneliti hubungan dan fungsi belahan otak kanan dan otak kiri. Juhn Weda pada tahun 1950-an melakukan penelitian yang cukup lama dengan menggunakan tes yang diberi nama tes Weda. Upaya ini bertujuan untuk mencari tahu fungsi otak kanan dan otak kiri serta hubungan diantara keduanya.

Dalam percobaan itu Juhn Weda mencoba menyuntikkan semacam zat bernama amobarbital ke darah leher (Arteri Carotis) seseorang. Zat ini berfungsi untuk menonaktifkan sel yang terdapat pada belahan otak. Jadi, kalau zat itu disuntikkan pada belahan otak kanan maka yang aktif hanya otak kiri. Begitu juga sebaliknya, jika disuntikkan pada otak kiri, maka yang aktif hanya otak kanan. Juhn Weda pertama kali menyuntik di leher kiri. Otak kiri pun non aktif. Ketika pasien sudah disuntik leher kirinya, maka Juhn Weda memberikan beberapa peralatan dapur. Pasien yang bersangkutan ternyata dapat memilih dan memilah di antara alat dapur itu tapi tak bisa membahasakannya. Ini menunjukkan bahwa ketika otak kiri seseorang non aktif, maka ia tak mempunyai kemampuan untuk berbahasa. Dia mengerti apa yang dibicarakan orang, tapi tak mampu untuk berbahasa.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa otak kiri mempunyai fungsi untuk berbahasa dan otak kanan berhubungan dengan hal yang bersifat kreatifitas. Dalam penelitian lebih lanjut Profesor Roger Sperry dari universitas California menegaskan bahwa otak kiri berfungsi dalam aspek “akademik”, seperti bahasa, matematika, pemikiran logis, runtut dan analisi. Sedangkan otak kanan akan selalu berhubungan dengan aktivitas “kreatif”, seperti musik, kesan visual, warna  gambar dan wilayah imajinasi lainnya. Itulah fungsi belahan otak kanan dan otak kiri.

Meskipun antara otak kanan dan otak kiri memiliki fungsi yang cukup dominan perbedaannya, tapi keduanya mempunyai hubungan yang saling terkait ketika sedang melakukan aktivitas. Antara otak kanan dan otak kiri secara bersamaan saling kait mengait dan saling melengkapi. Tak mungkin aktivitas yang kompleks dalam keseharian kita hanya mengandalkan salah satu bagian otak saja, kecuali akan melahirkan tindakan-tindakan yang ganjil. Semuanya secara bersamaan saling berkomunikasi secara cepat sehingga menghasilkan bentuk yang kompleks. Dan kalau otak kanan tidak aktif maka sudah jelas akan ada yang ganjil dari hasil kerja otak dan keputusan kita.

Salah satu contohnya adalah ketika kita mendengarkan sebuah musik. Otak kiri akan bertugas untuk mendalami kata-katanya sedangkan otak kanan akan lebih memperhatikan melodinya. Ini terjadi secara bersamaan. Setelah mendengar musik itu kita akan bisa menilai secara bersamaan baik dalam bentuk analisis teks atau bahasanya atau pun dalam aspek melodinya. Inilah keajaiban otak yang mampu bekerja secara cepat dan bersamaan.

Kalau kita kerapkali melihat seseorang yang bekerja menata meja, membuat pagar rumah atau dinding maka itu yang bekerja adalah otak kanan. Berbeda kalau tiba-tiba kita mengingat sesuatu dengan spontan, maka yang bekerja adalah otak kiri. Dan sudah menjadi suatu hal yang lazim bagi kita dalam menyelesaikan sebuah masalah kadang selalu mengombinasikan antara ide, imajinasi, dan fakta-fakta di lapangan. Pada saat seperti inilah otak kanan dan otak kiru juga akan berkerja secara bersamaan.

Ketika kita sudah mengetahui fungsi otak kanan dan otak kiri, maka kita bisa mengamati dalam realitas kehidupan ini; lebih dominan manakan antara otak kanan dan otak kiri. Ada orang yang lebih dominan otak kiri dalam aktivitas kesehariannya dan tak sedikit pula orang yang lebih dominan otak kanannya. Ketika kita sudah bisa membaca kecenderungan antara otak kanan dan otak kiri secara tak langsung kita juga bisa membaca kecenderungan pribadi orang yang bersangkutan.

Pada prinsipnya otak kanan dan otak kiri juga berpengaruh terhadap kepribadian. Kita bisa membaca kecenderungan otak orang lain dari aspek sifat dan kepribadinnya. Orang yang lebih didominasi otak kiri jelas akan mempunyai sifat dan keribadian yang berbeda dengan orang yang lebih didominasi otak kanan. Inilah hasil riset Dough Hall yang menunjukkan bahwa otak kiri dan otak kanan juga berpengaruh terhadap kepribadian.

Otak kiri Otak Kanan
Serius Humoris
Sederhana Rumit
Membosankan Menyenangkan
Hemat Boros
Mempercayai fakta Mempercayai intuisi
Rapi dan terorganisasi Berantakan dan Kacau
Tujuan ide adalah keuntungan Tujuan ide adalah ekspresi diri
Lebih memilih keilmuan Lebih
Hati-hati Suka bertualang
Berpengetahuan umum Bermimpi besar
Pendukung diam Tukang sorak
Pembuat aturan Pelanggar aturan
Konservatif Bebas dan liberal
Mudah ditebak Spontan

 

Itulah beberapa karakter dan sifat dari otak kanan dan otak kiri. Andai saja antara otak kanan dan otak kiri dapat bekerja secara seimbang, maka aktivitas manusia yang bersangkutan jauh lebih produktif.

Otak Tengah

Di antara otak kanan dan otak kiri terletak Corpus Collosum atau yang lebih akrab disebut dengan otak tengah. Otak ini adalah penghubung antara otak kanan dan otak kiri. Otak tengah jauh lebih kecil dari otak kanan dan otak kiri. Kalau kita ibaratkan dua kota, maka otak tengah bisa diberatkan jembatan yang dapat menghubungkan dua kota tersebut. Kalau jembatan penghubung itu mengalami masalah, tentu akan berakibat terhadap kelancaran hubungan antara otak kanan dan otak kiri. Dan sebaliknya, apabila penghubung itu bagus, akan mendukung kelancaran hubungan antara otak kanan dan otak kiri.

Otak kanan dan otak kiri dikenal sebagai otak yang mempunyai tingkat kerumitan yang cukup tinggi sedangkan otak tengah lebih pada proses penyediaan sarana atau penghantar untuk menghubungkan keduanya. Salah satu sarana komunikasi itu adalah lebar pita yang cukup tinggi, yakni 200-250 serat. Jika dianggap satu serat satu bit, maka penghubung ini terdiri dari 250 bit. Kalau dibandingkan dengan komputer, sungguh ini berlipat-lipat kali lebih tinggi dan cepat darinya. Proses penghubung antara otak kiri dan otak kanan ini mempunyai daya kecepatan yang tak terhingga.

Otak tengah ini juga ibarat pupuk di tengah ladang yang tandus. Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa setiap sel otak atau neuron mempunyai cabang yang disebut dengan dendrif. Setiap dendrif mengandung banyak fungsi dan bisa berhubungan dengan yang lain, baik itu berhubungan dengan memori atau persepsi. Kian banyak dendrif yang tumbuh dalam neuron ini, maka otak kita berarti kian hari kian berkembang. Dan salah satu yang dapat menumbuhkan banyak dendrif dalam neuron itu adalah dengan mengaktifkan otak tengah. Orang yang otak tengahnya aktif cabang-cabang neuron itu akan tumbuh lebih banyak dibanding dengan orang yang otak tengahnya tidak aktif.

Otak tengah ini sangat dominan perkembangannya ketika dalam proses pembentukan janin dalam kandungan ibu. Hanya saja dalam perjalanannya ketika anak sudah dewasa yang lebih dominant dan aktif adalah otak kanan dan otak kiri sehingga akan berakibat terhadap menurunnya proses pertukaran dan kerja sama antara otak kanan dan otak kiri. Kalau otak tengah ini aktif pada saat bayi, maka itu akan cukup membantu untuk kemajuan otak secara keseluruhan. Salah satu indikasi apabila otak tengah anak-anak aktif adalah kemampuan untuk melihat sesuatu dengan mata tertutup.

Inilah sebuah kisah dari Hartono Sangkanparan (2010) ihwal keajaiban anak yang otak tengahnya aktif.

“Ini kisah kaka beradik dari Cirebon. Sang Kakak bernama M.Irfan (15 Tahun) siswi kelasa 1 SMA, Aulia (12 Tahun) siswi kelas 1 SMP, dan adiknya, Rizky (6 Tahun) siswi kelas 1 SD. Irfan yang sekolah di salah satu SMA Negeri favorit di Bandung memiliki nilai harian yang lumayan jeblok, 5-6. tiba-tiba setelah semesteran nilai rapor-nya tidak ada tujuh, apalagi 5 atau 6. Semuanya menjadi 9 dan 9. ini sesuatu dahsyat.

Pada sisi lain secara tiba-tiba kunci yang d ipeganmg Aulia patah. Dengan sedih Aulia mengabarkan pada ibunya bahwa dirinya mendapat kalau temannya akan jatuh dan lengannya mengalami patah tulang! Astaga. Ternyata firasat Aulia benar. Salah satu sahabat karibnya kecelakaan dan tulangnya patah.

Dan pada hari yang lain Ibu Aulia kehilangan Handpone. Setelah mencari ke sana ke mari tidak menemukannya, Ibu Aulia pun meminta Tolong kepada anak gadisnya itu. Aulia langsung menuju sebuah sudut ruang yang gelap dan tak lama kemudian berkata, ‘Mama, ambil senter, HP Mama ada di bawah sini dan harus dilihat dengan senter” dan ternyata benar HP ibu Aulia yang dalam keadaan off tersebut berada di antara tumpukan benda yang berada di sudut ruang gelap itu.

Pada saat yang lain, seseorang menulis nomor HP-nya di selembar kertas, lalu melipat kertas tersebut. Aulia yang belum mengenal sama sekali nomor HP tersebut diminta untuk menebaknya dengan menelponnya. Aulia segera melakukannya. Dan HP- orang tersebut berdering mendapat panggilan dari Aulia.

Cukup berbeda dengan Rizki yang mempunyai kemampuan untuk mengobati penyakit. Saat kami ajak ngobrol, dengan lugas dia bercerita kalau dirinya membayangkan dirinya menjadi kecil masuk ke dalam tubuh kakek, ibu, dan juga saudaranya untuk menumbuhkan penyakit. Menurut Risky tubuh kakeknya banyak mengandung gula dan itu harus dibuang agar bias sembuh. Dan Rizki pun mampu membuang kelebihan kadar gula tersebut dengan cara masuk ke tubuh kakeknya melalui lubang hidung dan membuang tumpukan gula yang ada dalam tubuh kakeknya kemudian membuangnya”.

Beberapa cerita tersebut kedengarannya cukup tidak rasional. Tapi itu adalah fakta yang kerapkali terjadi dalam lingkungan sekitar kita. Beberapa anak-anak tersebut adalah mereka yang otak tengahnya aktif sehingga mereka mampu memberikan sesuatu yang kelihatannya konyol dan tak masuk akal bagi orang yang tak memahami struktur dan fungsi otak tengah. Jadi otak tengah dapat berfungsi melihat sesuatu dengan mata tertutup.

Di samping itu juga otak tengah dapat meningkatkan daya ingat. Banyak di sekitar kita orang yang mempunyai jam belajar yang sama tetapi mampu menyerap informasi lebih banyak dan dapat menguraikan secara lebih rinci dan mampu memberikan inovasi baru dalam proses pembelajarannya. Hal ini berkaitan dengan kian luasnya jaringan pada sel otak mereka yang itu bisa dibantu dengan aktivasi otak tengah.

Ketika kita melihat sesuatu yang baru dalam lingkungan kita, maka itu akan diserap dan diolah oleh otak kita. Ada sebagian orang yang langsung memahami dan menganalisis penemuan baru tersebut dan langsung memberikan pengetahuan baru dan tak jarang orang yang hanya menangkapnya tanpa membuat asosiasi baru sehingga tidak dapat memahami. Semua itu berkaitan dengan hubungan antar neurons yang satu dengan yang lainya. Jadi, sering kita melihat dua hal yang tak ada hubungannya, namun ketika dijelaskan maka baru kita paham bahwa itu ada hubungan yang erat.

Itulah juga salah satu fungsi penting dari otak tengah. Otak tengah secara dahsyat dapat menjadi penghubung antara logika dan seni. Otak yang berkaitan dengan logika dan otak yang berkaitan dengan sumber seni ada pada wilayah yang berbeda. Dua wilayah ini banyak orang yang kadang saling membenturkan dan berlawanan. Ini bukti bahwa otak tengahnya tidak aktif. Maka otak tengah berfungsi untuk menjembatani dan menjadi penghubung antara wilayah seni dan logika sehingga menjadi sesuatu yang saling terkait dan mengikat.

Orang yang mengaktifkan otak tengah hormonya juga akan lebih seimbang. Area yang cukup berpengaruh terhadap hormon adalah emosi. Secara tak langsung orang yang otak tengahnya aktif jauh lebih bisa mengendalikan dan mengatur emosi. Apabila mulai anak-anak otak tengah sudah aktif, maka mereka mengasihi sesama dan mampu menghormati orangtua secara lebih baik. Emosi anak akan lebih aktif dan terkontrol.

Di antara kita mungkin pernah dicaci atau dihujat orang. Ada sebagian yang langsung kehilangan kontrol sehingga langsung membalasnya dengan cacian yang lebih pedas dan ada pula orang yang dengan hati dingin meresponnya secara bijaksana. Orang yang merespons dengan bijaksana adalah mereka yang otak tengahnya aktif. Mereka mampu mengendalikan dan mengatur emosi. Itulah fungsi kedahsyatan otak tengah.

Daftar Bacaan

Adi W Gunawan, Born to Be a Genius, (Jakarta: Gramedia, 2004)
Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad 21, (Bandung: Nuansa, 2002)
Lihat Daniel Golemen, Kecerdasan Emosional, terj, T Hermaya, (Jakarta: Gramedia, 1996)
Hartono Sangkaparan, Dahsyatnya Otak Tengah, (Jakarta: Visimerdia, 2010)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here