Membangun Mental Juara Anak

Tips

Didaksi.com−Membangun mental juara dalam diri anak menjadi sangat penting dilakukan oleh orang tua mulai sejak awal. Motivasi mental berkaitan dengan sesuatu yang sangat inheren dalam diri anak. Yang dapat membangun mental juara dalam diri anak tidak lain adalah orang tua. Membangun mental juara dalam diri anak tidak seperti kita mengajari anak untuk menghitung dan menghafal, tapi ini berkaitan dengan cara melatih mental juara melalui kebiasaan yang tiap hari selalu ditempa dalam kehidupan keluarga.

Anak yang sudah terbangun mental juaranya, maka anak menjadi sukses dalam kehidupan. Karena dengan membentuk mental juara adalah mendidik mental anak agar selalu tangguh dalam belajar, baik itu di dalam kelas atau pun diluar keas. Dra. Puji Lestari Prianto,  dosen psikologi Pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menegaskan bahwa membentuk mental juara berarti melatih anak untuk lebih tangguh menghadapi segala tantangan hidup dan menjadi anak yang mandiri. Manfaat pembentukan mental juara anak antara lain anak menjadi siap, tidak bergantung pada orang lain, percaya diri, tidak cepat putus asa, dan menjadi sosok pribadi yang terbiasa memecahkan masalah.

Mental juara, membangun

Melatih Mental Juara

Rasa percaya diri dalam diri anak menjadi mental yang sangat mendukung terhadap kesuksesan anak di sekolah. Anak yang percaya diri cenderung mendukung terhadap lancarnya proses belajar di dalam kelas dari pada dengan anak yang pasif dan merasa tersisihkan dari lingkungan belajar. Anak pasif biasanya menjadi bagian dari orang yang tidak percaya diri. Meski tidak semuanya anak yang pasif berarti tidak percaya diri. Pada awalnya mendidik anak mempunyai mental juara adalah membangun rasa kepercayaan diri dalam diri anak.

Baca juga: 7 Keterampilan dasar yang Membuat Anak Sukses

Rasa optimis ini bisa dimulai dari persoalan yang paling mendasar dalam diri keluarga. Berikanlah selalu kepercayaan dalam diri anak untuk melakukan sesuatu yang bersifat positif. Dan yang terpenting, kalau anak melakukan tindakan kesalahan, janganlah dimarahi sampai berlebihan, apalagi sampai anak dibentak-bentak. Sikap orang tua yang membentak-bentak anak justru hanya memberikan pengaruh mental yang kurang baik dalam diri anak. Lebih baik, kalau anak melakukan tindakan kesalahan, perbaikilah sesuai dengan kesadaran kesalahan dan berilah solusi dengan tetap membangun kepercayaan diri anak.

Menurut Syafinuddin al Mandari, anak-anak Amerika Serikat tidak dipaksakan mengejar prioritas pelajaran Matematika atau pun IPA. Anak-anak yang baru menumbuhkan pencarian identitas dirinya, maka sangat gencar penanaman mental percaya diri terlebih dahulu. Anak-anak ditanamkan dalam dirinya untuk mempunyai orientasi jangka panjang dengan ditopang oleh kepercayaan diri yang tinggi untuk menjadi mental pemenang.

Mental juara itu juga terkandung sikap untuk mandiri dalam belajar. Makna mandiri ini bukan berarti hanya belajar sendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain, tapi secara luas mandiri ini berarti tidak mempunyai sifat ketergantungan yang berlebihan terhadap teman yang lain. Tak sedikit kita menjumpai anak-anak yang tidak belajar karena teman kelompoknya tidak belajar. Sifat ketergantungan seperti ini tentu menghambat proses perkembangan anak secara lebih cepat. Maka kalau anak mampu mandiri dalam belajar juga berdampak baik bagi kesuksesan anak di sekolah.

Membangun mental juara itu juga terkandung dalam diri anak untuk tidak mudah putus asa dalam memecahkan masalah. Tentu setiap orang mempunyai masalah tergantung pada kapasitasnya. Tak terkecuali juga anak dalam belajar. Kalau mental anak rapuh alias mudah putus asa dan menyerah, maka itu sungguh menjadi kebiasaan kurang baik yang terus membentuk anak selalu merasa takut dalam setiap menerima tantangan. Dan sebaliknya, kalau dalam diri anak sudah tertanam mental yang tak mudah menyerah, maka ia akan selalu mempunyai energi untuk terus belajar dan berpacu menjadi orang yang terbaik di sekolah.

Patut juga diperhatikan oleh orang tua ketika ingin membangun mental juara ketika memotivasi anak. Saat ini cukup banyak ditemui orang tua yang ingin menjadikan anak mental juara, sehingga mereka selalu memberikan motivasi pada diri anak. Motivasi tentu sangat baik, tapi menjadi kurang baik apabila motivasi itu sendiri sedikit memaksa. Antara memotivasi dan ambisi itu cukup dekat. Ambisi yang melahirkan pemaksaan hanya melahirkan mental anak yang ambisius pula dibanding anak yang menghargai sebuah proses.

Anak yang ambisius lebih mengedepankan hasil dari pada proses. Bisa saja anak itu ringking kelas atau bahkan bintang pelajar, tapi setelah itu anak tak mempunyai gairah lagi untuk belajar. Anak yang ambisius biasanya cukup antusias untuk menggapai ambisinya, tapi itu tak berlangsung cukup lama. Berbeda dengan orang tua yang memotivasi dan menginspirasi anaknya. Ini sifatnya lebih lama. Anak yang merasa termotivasi dan terinspirasi akan menghargai proses dibanding dengan hasil akhir.

Anak yang mempunyai mental juara sudah siap segalanya untuk menghadapi hasil akhir. Mereka siap menghadapi apapun yang terjadi karena mereka menikmati proses yang telah berlangsung dengan sungguh-sungguh. Kalau ada kemungkinan terpuruk, maka anak itu tak menganggapnya sebagai sesuatu yang fatal. Dan kalau hasil akhir sesuai dengan harapan alias menjadi juara atau bintang pelajar, mereka pun tidak akan bergembira dengan berlebihan. Itulah kelebihan ketika anak sudah tertanam mental juara.

Cara membentuk mental juara pada anak ini bisa dimulai dari kecil. Ada sebuah teori Erickson yang membahas tentang perkembangan psikososial anak. Menurut teori Erickson tahun awal anak dilahirkan adalah masa pembentukan kepribadian. Proses pembentukan ini banyak dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan sekitar. Tahap perkembangan pertama bagi Erikson adalah rasa kepercayaan atau tidak kepercayaan. Rasa kepercayaan ini terbangun apabila anak merasa nyaman tinggal di dunia ini. Orang tua mestinya membangun kenyamanan dalam diri anak agar tercipta sebuah iklim yang menyenangkan bagi anak.

Tahap selanjutnya berlangsung pada usia 1-3 tahun yang ditandai dengan autonomy versus shame and doubt. Ketika anak mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah atas kehendaknya. Mereka menyadari kemauan mereka dengan rasa mandiri dan otonomi mereka. Pada saat ini anak perlu dibiarkan untuk terus melakukan eksperimen, karena apabila bayi cenderung dibatasi maka mereka cenderung mengembangkan rasa malu dan keragu-raguan sehingga dalam diri anak tertanam sikap pesimisme.

Orang tua mesti memahami beberapa perkembangan kepribadian yang terjadi pada masa anak-anak. Kapan orang tua mesti memberikan kebebasan pada anak dan kapan pula orang tua memberikan batas mestinya dilakukan mulai dari awal pertumbuhan anak agar mental yang terbangun dalam diri anak selalu optimis, percaya diri, mandiri dan tiada mudah putus asa.

Sumber
Syafinuddin al Mandari, Rumahku Sekolahku; panduan Islami untuk mencerdaskan anak dalam lingkungan keluarga, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2004)
http://e-smartschool.co.id
Pixabay.com