Mendidik Anak Mencintai Al Quran Sejak Dini

Tips

Didaksi.com−Mempunyai anak yang mencintai Al Quran adalah dambaan setiap orangtua. Tapi mendidik anak mencintai Al Quran sejak dini tak semudah dengan membalikkan telapak tangan. Di tengah gencarnya dunia digital, minat untuk belajar membaca Al Quran bisa kalah pamor dengan tayangan-tayangan televisi dan serbuan gadget. Untuk itu, orangtua butuh cara mendidik anak agar anak mencintai Al Quran mulai dini.

Menumbuhkan minat belajar anak pada Al Quran semestinya dilakukan mulai kecil. Rasulullah saw bersabda, ‘Didiklah anakmu dengan tiga perkara (diluar ilmu untuk penguasaan dunia) mencintai Nabinya, mencintai keluarga dan sahabat beliau Saw. dan mencintai Al Qur’an”. Itulah sebuah hadis yang memerintahkan pada setiap orang tua untuk mengajari anak-anak mereka mencintai Al Quran.

Mendidik anak , Cara mendidik anak , Mendidik anak dalam islam ,

Al Quran perlu didekatkan ke anak-anak mulai dini mengingat itu adalah sebuah kitab suci yang menjadi pegangan utama bagi segenap umat Islam. Semua orang meyakini bahwa dengan membaca Al Quran, maka pahala mengalir padanya. Al Quran adalah sebaik-baik bacaan dibanding dengan bacaan-bacaan yang lain. Al Quran juga bisa menjadi obat penawar susah dan duka.

Kalau kita melihat sahabat Nabi tempo dulu, mereka  benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berupaya dengan maksimal untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pengejawantahan dari saran Rasulullah Saw dalam sebuah hadits, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Pemberantasan buta huruf Al Quran menjadi tanggung jawab semua orang tua untuk mengajari anak-anaknya mulai dari usia dini. Orang tua memikul tanggung jawab untuk membuat anaknya agar terbebas dari buta huruf. Dalam sebuah hadits disebutkan ihwal tanggung jawab orang tua untuk mendidik anaknya dalam belajar Al Quran. Rasulullah Saw bersabda,

“Setiap kamu adalah pengembala (pemimpin) dan setiap kamu pasti akan diminta pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpin…seorang laki-laki (ayah) adalah pengembala keluarganya dan akan diminta pertanggung jawabannya dari gembalanya”

Salah satu tanggung jawab penting dalam sebuah keluarga tersebut adalah mengajari anak untuk belajar membaca Al Quran. Islam menjadikan pelajaran Alquran sebagai materi utama dalam proses pendidikan anak. Ibnu Sina pernah mengatakan bahwa pendidikan anak dimulai dengan pengajaran Al Quran setelah ada kesesuaian secara fisik dan mental. Ketika anak secara mental dan fisik sudah dianggap mampu untuk belajar membaca, maka orang tua sudah bisa memulai mengajari anak belajar Al Quran. Inilah beberapa langkah praktis bagi orang tua agar anak bisa membaca Al Quran mulai usia dini.

Munculkan Rasa Cinta Dalam diri Anak

Sebelum melangkah lebih jauh praktis untuk mengajari anak membaca dan menghafal Al Quran, maka rasa cinta anak terhadap Al Quran harus dimunculkan. Mengajari anak membaca hingga menghafal Al Quran tanpa dasar cinta tak akan banyak berguna, justru akan menimbulkan efek kurang baik bagi perkembangan anak. Dan menumbuhkan rasa cinta terlebih dahulu dalam diri anak membuat proses pembelajaran lebih berlangsung cepat. Anak akan mengalami proses belajar secara lebih cepat karena ia belajar dengan menyenangkan tanpa tekanan apapun.

Untuk menumbuhkan rasa cinta itu tidak boleh tidak harus dimulai dari internal keluarga. Keluarga menjadi fondasi utama menumbuhkan minat dan cinta anak terhadap Al Quran. Jika ingin menjadikan anak cinta Al Quran, maka jadilah keluarga yang penuh dengan keteladanan. Keteladanan ini harus dimunculkan oleh orang tua itu ketika ingin berinteraksi dengan Al Quran. Keteladanan ini bisa dimunculkan dengan memuliakan Al Quran, seperti meletakkan Al Quran di tempat yang mulia, tidak meletakan sesuatu di atas Al Quran. Kalau ingin membawa Al Quran, maka bawalah dengan penuh rasa hormat dan mulia.

Perilaku orang tua yang penuh dengan kehati-hatian tersebut secara tak langsung telah memberikan teladan terhadap anak bahwa Al Quran adalah kitab yang agung, mulia dan suci. Ketika dalam diri anak Al Quran sudah menjadi suatu perkara yang sakral, maka secara tak langsung dalam diri anak tak akan pernah timbul untuk mengabaikan pendidikan Al Quran. Yang timbul justru rasa respek, cinta dan tentunya adalah keinginan untuk mempelajari secara lebih lanjut.

Selalu Memperdengarkan Bacaan Al Quran pada Anak

Memperdengarkan Al Quran adalah salah satu cara untuk merangsang jiwa anak. Bagi orang tua yang sangat peduli terhadap perkembangan kejiwaan anak, maka mereka memperdengarkan anak Al Quran sejak masih dalam bentuk janin. Dalam banyak penelitian ini bermanfaat secara positif bagi proses pertumbuhan embrio. Kita semua mengetahui bahwa Al Quran bisa menjadi obat penyejuk bagi jiwa dan membuat kenyamanan psikologis. Kenyamanan inilah yang berefek positif bagi perkembangan janin anak.

Ketika anak sudah dilahirkan, maka sering-seringlah memperdengarkan Al Quran. Paling tidak anak di masa-masa menyusui selama satu hari kurang lebih 1-10 menit. Ini menambahkan kosa kata dalam diri anak. Anak merekam dengan baik apa yang didengar dari lingkungan sekitar. Kalau anak dalam tiap hari sudah memperdengarkan Al Quran dan kosa kata itu terus kian bertambah, maka bisa dibayangkan terekam beberapa ribu dan miliaran kata apabila diakumulasi.

Manfaat lain dari memperdengarkan Al Quran adalah dapat meningkatkan kecerdasan anak. Dalam beberapa penelitian sudah disebutkan bahwa anak yang selalu diperdengarkan dengan lantunan-lantunan indah ayat Al Quran mempunyai tingkat intelegensi yang lebih unggul dibanding dengan anak yang tak pernah diperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran, baik itu ketika anak ada di dalam kandungan ibunya atau pun anak yang sudah dilahirkan.

Kalau dalam musik terdapat beberapa komposisi yang kompleks, harmonis dan bertautan antara yang satu dengan yang lainnya dan secara psikologis itu menjadi jembatan otak kiri dan otak kanan. Output dari semua itu berupa peningkatan daya tangkap kian cekatan, dan konsentrasi kian tajam. Sesuatu yang terdapat dalam musik itu ternyata Al Qur’an juga memilikinya. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar; selaras dengan tajwid dan makraj, maka Al Qur’an bisa  merangsang syaraf-syaraf otak pada anak untuk berkembang lebih cepat.

Dengan demikian, orang tua selayaknya menyempatkan diri untuk memperdengarkan lantunan surat suci Al Quran dalam diri anak baik itu ketika anak masih ada di dalam kandungan atau pun ketika anak-anak sedang dalam masa menyusui.  Memperdengarkan lantunan ayat suci Al Quran pada anak di samping akan memperkaya perbendaharaan kosa kata sehingga akan lebih cepat dalam menghafal, membuat anak lebih cerdas, juga akan belajar mendekatkan diri pada Allah sejak dini.

Menjadikan Al Quran Sebagai Teman Dimana Saja

Perkembangan teknologi telah banyak menggeser pola kehidupan, lebih-lebih kebiasaan anak. Saat ini anak lebih suka bawa HP dibanding dengan bawa buku cerita dan mainan game dibanding dengan membaca Al Quran. Bagaimana mungkin anak akan menjadikan Al Quran sebagai teman yang tak pernah lepas kalau dalam aktivitas sehari-hari jauh dari Al Quran. Kebiasaan anak seperti ini perlu diganti apabila ingin menjadikan anak rajin membaca Al Quran.

Mulai saat ini, alangkah lebih baik jika orang tua selalu menjadikan Al Quran sebagai sahabat anak yang tak bisa dilepas dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa dilakukan dengan cara-cara yang cukup sederhana, seperti meletakkan Jus Amma di dalam tasnya. Tak harus Al Quran utuh yang diletakkan dalam tas, di samping itu terlalu besar, anak-anak juga tasnya kadang diletakkan di sembarang tempat. Dengan meletakkan sesuatu yang itu berkaitan dengan Alquran, maka dalam diri anak mulai kecil sudah terbiasa untuk setiap saat paling tidak melihat dalam setiap aktivitasnya terhadap ayat-ayat Suci Al Quran.

Bercerita dengan Kisah-kisah yang diambil Dari Al Quran

Sebagai kitab suci yang menjadi pedoman umat manusia, Al Quran mengandung banyak kisah ihwal para nabi, rasul dan beberapa kejadian luar biasa yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Kisah yang termuat dalam Al Quran seperti harta karun yang tersimpan banyak rahasia dan misteri untuk memecahkannya. Kisah-kisah dalam Al Quran itu juga banyak mengandung keagungan Allah Swt apabila kita bisa mengambil hikmah darinya. Sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Itu semua karena Kebesaran Allah Swt.

Bagi orang tua yang menginginkan anaknya mempunyai daya cinta yang luar biasa terhadap Al Quran, maka siapkanlah cerita-cerita yang itu diambil dari dalam Al Quran. Banyak keajaiban keharuan dan petunjuk yang terkandung dalam Alquran, seperti kisah Ashabul Kahfi. Musa dan Khidir, kisah Ya’juj dan Ma’juj dan beberapa kisah yang lainnya. Kisah-kisah tersebut bisa digunakan oleh orang tua untuk menggugah spirit anak agar mempuyai daya kagum. Dari kekaguman inilah rasa cinta terhadap Al Quran bisa muncul secara lebih besar.

Untuk itulah, orang tua bisa memberikan kisah-kisah tersebut di saat waktu yang tepat, bahasa yang dapat dimengerti, membuat anak tertarik serta mempunyai pengaruh yang kuat dalam jiwa anak. Kalau anak lagi asyik-asyiknya bermain, jangan tiba-tiba orangtua mengajak untuk mendengarkan kisahnya. Carilah waktu dimana anak benar-benar siap secara mental dan kondisinya benar-benar enjoy. Tak jauh beda dengan bahasa yang dipakai, janganlah memakai bahasa yang terlalu melambung yang sulit dipahami oleh anak. Pakailah bahasa yang sederhana tapi bisa membuat anak dapat tertarik. Yang terpenting bagi orangtua dalam bercerita adalah membuat anak meresapi dan memberikan nilai-nilai intisari dari cerita itu.

 Membuat Semboyan Agar Anak Mencintai Al Quran

Memberikan semboyan pada anak adalah salah satu cara untuk terus menumbuhkan rasa cinta anak terhadap Al Quran. Anak pada saat-saat tertentu kadang suka terhadap bahasa yang simpel dan sederhana dan itu tidak terlalu serius alias bernuansa lucu. Semboyan dalam hal ini bisa diberikan oleh orangtua terhadap anaknya agar dalam alam bawah sadar anak bisa direkam dengan baik hingga bisa menjadi sifat dan karakter anak yang benar-benar mencintai Al Quran dan mampu mengamalkannya. Semboyan itu bebas yang terpenting mengarah untuk mengagungkan Alquran, seperti,

“Aku mencintai Al-Qur’an.

Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.

Saya suka menghafal Al-Qur’an.”

Itulah contoh semboyan yang dapat diajarkan oleh orangtua terhadap anaknya. Semboyan itu bisa dikatakan di saat akan memulai membaca Al Quran. Dan bisa pula orang tua mengatakan sesuatu perkataan yang simple tapi padat dan mengandung pesan yang menukik , seperti

 “Salah satu Kitabullah yang paling Agung adalah Al-Qur’an. Kalau ada orang yang menjaganya, maka Allah Swt akan menjaga orang itu. Dan siapapun yang bersandar dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman, maka Allah Swt akan senantiasa memberikan pertologan. Itulah beberapa semboyan yang bisa orangtua barikan pada anak untuk menumbuhkan rasa cintanya terhadap Alquran.

Pemberian Pengharapan untuk Motivasi Anak

Tidak sedikit di antara orang tua yang memberikan patokan standar yang tinggi dalam mendidik anaknya tanpa melihat situasi dan kondisi perkembangan psikologisnya, seperti anak yang baru berusia tiga tahun yang dituntut untuk menghafal Al Quran tiap hari satu surat. Ini tentu target yang terlalu tinggi dan kurang tepat. Meski itu hanya target tapi apabila anak tidak benar-benar berhasil akan membuat beban psikologis.

Agar anak belajar membaca dan menghafalkan Al Quran dengan menyenangkan, berilah suatu pengharapan yang itu dapat melecut motivasi anak secara lebih baik, seperti, “Apabila kau mampu membaca dengan baik dalam bulan ini, maka bapak akan ajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat yang menyenangkan”. Pernyataan-pernyataan seperti itu tentu akan memacu motivasi anak untuk meningkatkan intensitas belajar membaca Al Quran. Orang tua tak memberikan target yang terlampau tinggi dan juga tak abai terhadap perkembangan anak dalam mendalami Al Quran.

Ketika orangtua sudah memberikan pengharapan dan anak benar-benar berhasil, maka janganlah orangtua ingkar janji, karena itu berakibat kurang baik bagi anak-anak.  Anak-anak akan menganggap orang tua dengan anggapan yang kurang baik dan dalam diri anak juga akan timbul bahwa apa yang selama ini diperintahkan oleh orangtua tidak terlalu penting.

Itulah dampak negatif apabila orang tua tak tepat janji. Agar pengharapan dan motivasi itu tetap muncul dalam diri anak, maka jadilah orangtua yang benar-benar konsisten dalam menjaga perkataan dan perbuatan. Jadilah sosok orangtua yang mampu menginspirasi dan memberikan pengharapan yang baik agar anak tetap termotivasi.

Daftar Bacaan
Bunda Fathi, Mendidik anak dengan Alquran (Jakarta: Gema Insani, 2008)
Fuad Abdurrahman, Kehebatan Sedekah, (Bandung: Mizan Pustaka, 2009)
Dr. Sa’ad Riyadh, Tips praktis Menjadikan anak cinta Alquran, (Jakarta, Khatulistiwa Press, 2010)
Abi Abdurrahman, Panduan Praktis Belajar Shalat untuk Anak, (Jakarta: Agro media pustaka, 2009)
Sumber gambar pixabay image