Mengenal Hakikat Anak Usia Dini

2
659

Didaksi.com−Cara berpikir tentang anak-anak itu sangat menentukan cara kita mengasuh dan mendidik anak-anak serta bagaimana masyarakat merespon dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. Pandangan tentang hakikat anak itu berkelindan dalam konteks agama, lingkungan sosial masyarakat, yuridis, ekonomi, politik dan filsafat yang mendasari dari lembaga pendidikan itu sendiri. Cara pandang tentang pendidikan anak usia din (PAUD) itu kadang saling mengisi antara yang satu dengan yang lainnya tapi tak jarang juga saling tumpang tindih dan penuh kontradiksi.

.

Kalau ditanya tentang siapa anak usia dini itu, jawaban sederhana, anak yang berusia lahir – 6 tahun  (UU Sidiknas No.20 /2003/pasal 28 ayat 1), kalau berdasarkan UNESCO, usia lahir – 8 tahun. Tapi pemahaman anak usia dini tidak hanya berhenti pada perbedaan umur, tapi juga mencakup segala aspek pekembangan secara utuh. Anak-anak mempunyai fase kehidupan yang berbeda dengan orang dewasa dalam segala hal sehingga juga menuntut perlakukan yang juga berbeda pada anak-anak.

Baca juga:

Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini dan Pemikirannya

12 Prinsip Pembelajaran Anak Usia Dini

Kalau kita hanya memahami anak usia dini berdasarkan umur, maka kita tak ubahnya seperti masyarakat Eropa di abad pertengahan, menjadikan anak sebagai miniatur orang dewasa. Pada saat itu anak-anak dan orang dewasa perbedaannya sangat kecil dan tipis, yakni berdasarkan usia an sich. Sementara perlakuan orang dewasa terhadap anak-anak nyaris sama seperti perlakuan orang dewasa pada umumnya, seperti berpakaian mirip orang dewasa, tontonan anak dan orang dewasa sama, cara kerja anak dan orang dewasa juga sama dan buku-buku pun antara anak-anak dan orang dewasa saam bacaannya serta persamaaan lainnya. Anak-anak dipaksa masuk lebih cepat dalam dunia orang dewasa sehingga ketika dewasa mereka akan menjadi sosok yang kekanak-kanakan. Itu akibat dari pandangan orang dewasa yang menganggap anak sebagai miniatur orang dewasa.

Apakah orang yang mengganggap anak sebagai miniatur orang dewasa masih ada di sekitar kita? Jawabannya masih cukup banyak. Anak-anak tampil di televisi dengan atribut dan acara orang-prang dewasa, mulai dari menjadi bintang iklan hingga pemain sinetron, anak-anak harus sudah dipaksa baca tulis sejak dini, anak-anak yang dewasa lebih awal seakan menjadi keajaiban di negeri ini. Dunia anak-anak seakan ingin cepat terlewati dan masuk dalam dunia orang dewasa.

Menjadikan anak sebagai sapi perah untuk keinginan-keinginan orang dewasa itu adalah bagian dari cara pandang abad pertengahan. Itu semua karena bermula dari cara pandang terhadap hakikat anak-anak sebagai miniatur orang dewasa. Maka para guru dan calon guru pendidikan anak usia dini harus bisa membantu untuk menjadikan anak sebagai seorang anak, bukan sebagai orang dewasa mini.

John Locke dengan teori tabula rasa, memandang anak sebagai lembaran kosong, muncul dengan nasib yang tak terlalu beda dengan anggapan anak sebagai orang dewasa mini. Teori Locke mengasumsikan anak sebagai lembaran kosong yang tak mempunyai watak bawaan. Implikasi pandangan ini, orang dewasa dan lingkungan secara umum yang akan mengisi kertas kosong itu tanpa memperhatikan kebutuhan, bakat dan minat anak, karena anak sudah dipandang sama semuanya dari lahir. Teori ini masih menjadikan anak sebagai objek keinginan-keinginan orang dewasa.

Setelah itu, lahirlah pandangan yang mulai menghargai dunia anak-anak, yakni anak sebagai tanaman yang tumbuh. Rousseau dan Frobel ini memandang anak sebagai tumbuhan sedangkan orang dewasa lainnya sebagai tukang kebun. Frobel menamakan programnya kindergarten yang berarti garden of children atau taman kanak-kanak. Pandangan ini mengakui bakat inheren anak-anak secara alami. Frobel mengasumsikan anak-anak itu sebagai benih tanaman yang ada di kebun, maka kalau benihnya jagung, tukang kebun tak akan mungkin bisa merubah menjadi benih kacang hijau. Tukang kebun harus tunduk pada kodrat alami bakat anak-anak. Tugas tukang kebun atau guru bagi Froebel adalah menyiram dan memupuk benih agar tanaman tumbuh subur, memberi obat serta merawat sehingga nanti bibitnya tumbuh dan menjadi kebun yang indah.

Pandangan Froebel ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan anak usia dini karena telah mencoba menempatkan anak sebagai manusia otonom yang mempunyai potensi yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lainnya. Pandangan itu juga memberikan pelajaran bagi orangtua dan guru bahwa ada batas-batas khusus dalam mendidik anak, yakni mereka tak bisa mengubah kodrat potensi anak, sebagaimana mereka tak bisa mengubah bibit pohon jagung tumbuh menjadi kacang hijau.

Anak mulai diakui sebagai makhluk yang unik, khas dan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu. Dalam perspektif psikologi perkembangan hingga kajian neorosain, anak usia dini mengalami tahap perkembangan yang pesat dan sangat fundamental. Otak anak berkembang pesat:  perkembangan otak anak usia 4 tahun telah mencapai 50% dan usia 8 tahun mencapai 80% hingga mencapai titik kulminasi pada usia 18 tahun.

Usia dini menjadi sangat fundamental karena pada tahun pertama ada 100-hingga 200 sel saraf yang siap melakukan sambungan baru. Saat lahir otak bayi memiliki seratus miliar neuron, atau sel saraf. Miliaran neuron ini telah membentuk lebih dari triliun koneksi atau sinepsis lewat proses perkembangbiakan koneksi saraf, synaptoganesis.

Sambungan-sambungan itulah yang nantinya akan menjadi pondasi bagi aspek perkembangan anak di kemudian hari, mulai dari aspek perkembangan kognitif, fisik-motorik, sosial emosional, agama moral hingga seni. Bagaimana sambungan itu bekerja baik dan lancar sangat tergantung juga dengan rangsangan psikososial.

Anak dalam Perspektif Agama

Menurut Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dalam Abdul Mustaqim (2014), di dalam Alquran term anak, dengan sebutan walad, terulang sampai 65 kali dan term ibn terulang sebanyak 161 kali  yang mengacu pada pengertian anak secara biologis dan juga bisa berarti anak secara majazi. Ada lima pandangan dasar Al-Quran tentang anak: Pertama, Wahbah berarti pemberian atau anugerah, tanpa ada pengganti, pemberian cuma-cuma, gratis dari Allah. (QS Al-Anam [6]: 84) (QS Al-Anbiya [21]: 72) (QS Al-Ankabut [29]: 27).

Sebagai anugrah, kita sebagai manusia tak mempunyai otoritas apapun untuk menentukan apakah mendapat anugerah alias anak atau tidak. Kita bisa berusaha tapi tetap Allah Swt yang menentukan. Kita banyak menjumpai orang yang sudah lama menikah tetapi belum juga dianugrahi anak dan tak sedikit orang yang menunda punya anak justru cepat hamil. Anugerah itu murni otoritas Allah Swt dan setiap manusia mempunyai jalannya sendiri-sendiri.

Kedua, amanah. Menurut Ibnu Faris kata amanah secara sematik berarti sukun al-qalb (tenangnya hati). Amanah juga bisa berarti lawan kata dari khiyanat, sebagai sesuatu yang dipercaya atau titipan, maka ia tak boleh dikhianati. (QS Al-Anfal [8]: 27). Nabi Muhammad Saw berpesan: “Jika Amanah itu disia-siakan, tunggulah saat kehancuran” (Shahih al-Bukhari : 57).

Ketika anak menjadi amanah, maka itu seperti pisau yang bermata dua: Apabila orangtuanya mampu menjaga anak dengan baik dan benar, maka anak itu akan menjadi penerang orangtua di tengah kegelapan, baik di dunia atau akhirat. Kalau orangtua menyia-nyiakan amanah yang telah diberikan oleh Allah Swt, maka anak itu bisa menjadi perantara untuk membuat orangtua malu atau bahkan kehancuran. Bukankah sudah banyak contoh tentang prestasi anak yang membawa berkah bagi orangtuanya dan tak sedikit juga karena pendidikan yang kurang baik dari orangtua, anak tumbuh besar justru berbuat sesuatu yang tak diinginkan orangtua dan menghancurkan nama baik orangtua.

Ketiga, anak sebagai hiasan (zinah). (QS Al-Ali Imran [3]: 14). Allah Swt juga pernah menyandingkan anak sebagai sebuah hiasan duniawi, seperti wanita dan harta yang banyak. Tentu hiasan dalam kontek ini merujuk pada tertujunya orangtua pada hiasan-hiasan beleka yang justru melupakan Allah Swt yang mestinya menjadi tujuan dari segala tujuan.

Keempat, anak sebagai fitnah. Kata fitnah bersala dari kata fatana-yaftinu yang berarti memanasi emas untuk menguji kadar keasliannya. Kata fitnah juga seringkali diartikan dengan ujian. (QS Al-taghabun[64]: 15) (QS. Al-A’raf [7]: 155). Anak itu bisa menjadi ujian bagi setiap orangtua. Kalau orangtua mampu mendidik anak secara benar, maka orangtua berarti lolos dari ujia itu.

Kelima, anak sebagai musuh (Aduww). Kata Aduww yang terdiri dari tiga huruf ain-dal-waw menurut ibnu Faris berarti melewati sesuatu yang semestinya tak dilewati. Kata ‘Aduww  juga berarti zhalim atau aniaya. Musuh dalam alquran bisa dinisbatkan pada syaitan, iblis, orang kafir dan juga anak. (QS Al-taghabun[64]: 14).

Putra Nabi Nuh AS yang membangkang adalah salah satu contoh bahwa terkadang anak itu menjadi musuh. Meskipun orangtuanya telah melakukan proses bimbingan secara benar, tapi kadang anak tak bisa mengikuti, sebagaimana Kan’an yang lebih memilih bersama kaum Luth daripada bersama ayahnya sendiri.

Dalam perspektif agama, hakikat anak yang lahir ke bumi dalam keadaan fitrah adalah anugrah yang melekat pada anak. Untuk itulah bagi saya, anak itu membutuhkan orangtua pedagogis, tak hanya orangtua biologis. Tapi lagi-lagi perlu kita ketahui, Allah swt kembali menunjukkan otoritasnya ketika kita melihat anak itu sebagai sebuah musuh. Bagaimana kita melihat Putra Nabi Nuh as dengan segala sifat amanahnya ternyata justru Kan’an, anak beliau, membangkang, melawan dan tak mengikuti seruannya.

Hakikat anak sebagai musuh membuka cakrawala pedagogis kita, bahwa  usaha yang gigih untuk menjaga amanah anak sebagai fitrah tak ada apa-apanya dibanding dengan kuasa Allah Swt. Kan’an adalah salah satu contohnya anak itu bisa menjadi musuh orangtuanya sendiri.

Pentingnya PAUD dan Ruang Lingkupnya

Kita menjadi sadar dan tersadarkan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini setelah mengetahui bahwa aspek fundamental dalam setiap kehidupan anak di masa depan pondasinya ada di usia dini. Bahkan di beberapa negara, perhatian pada anak tak hanya pasca lahir, tapi sebelum lahir negara sudah melakukan intervensi sebagai bukti pentingnya proses edukasi sejak dini.

Di Jepang pendidikan Anak usia dini mendapat porsi yang cukup penting (1) Sekitar 99% wanita hamil di Jepang memilih berhenti bekerja untuk konsentrasi pada janin dalam kandungannya. (2) Wanita Jepang diwajibkan oleh undang-undang kesehatan anak ibu untuk mendaftarkan kehamilan mereka pada pemerintah. (3) Lebih dari 90% kehamilan yang terdaftar sebelum usia 20 minggu menunjukkan bahwa kebanyakan wanita mengunjungi dokter, minimal 14 kali hingga usia kehamilan 36 minggu.

Di Finlandia sebagai negara yang tersohor kualitas pendidikannya juga mempunyai perhatian lebih terhadap anak usia dini. Pemerintah Finlandia memberikan hadiah kelahiran kepada setiap bayi yang baru lahir berupa baby box secara cuma-cuma. Bingkisan itu berupa pakaian untuk bayi berbagai musim, selimut, handuk dan peralatan lain serta beberapa mainan bayi yang dapat digunakan hingga usia dua tahun.

Beberapa negara menyadari bahwa tujuan pendidikan anak usia dini itu itu cukup kompleks; mulai dari meningkatkan indeks pembangunan manusia, mengurangi angka mengulang kelas, mengurangi angka putus sekolah, memperbaiki derajat kesehatan dan gizi anak, mengurangi angka buta huruf hingga meningkatkan mutu pendidikan. Dengan alasan yang cukup penting itulah mereka melakukan intervensi sejak awal agar proses pendidikan anak usia dini berjalan secara optimal.

Di Indonesia pendidikan anak usia dini mulai digalakkan. Semua elemen saling membahu membahu untuk membangun pendidikan anak usia dini. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 28, dinyatakan bahwa penyelenggaraan PAUD bisa melalui jalur pendidkan formal, non formal, dan / atau informal. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal: TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat dengan rentang usia 4-6 tahun. Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan non formal berupa KB, TPA dan sejenis dengan rentang usia khusus TPA 3 bulan-2 tahun dan KB 2-4 tahun. Sedangkan jalur pendidikan informal melalui keluarga atau yang diselenggarakan oleh lingkungan usia 0-6 tahun.

Untuk terus meningkatkan kualitas PAUD, kita perlu belajar mengenal dan memahami tentang anak-anak secara lebih utuh, baik itu melalui literatur dan berintraksi langsung dengan mereka. Bagi saya, anak usia dini itu seperti laut, kalau kita hanya berdiri bibir pantai, maka yang akan didapati adalah kerikil yang kadang batu cadas, seperti egois, ingin menang sendiri dan marah kalau dilarang. Kalau kita mencoba untuk menyelam, maka kita akan mendapat ikan dan bahkan mutiara yang terkandung di dalamnya. Sifat anak-anak yang lucu, jujur, berbicara apa adanya, mudah memaafkan dan tak dendam, terkadang membuat anak-anak lebih dewasa ketimbang orang dewasa itu sendiri.

DAFTAR BACAAN
Abdul Mustaqim, 2014, Qur’anik parenting; Paradigma Integarsi Interkoneksi, (Jogjakarta: Bunga Rampai buku pengarusutamaan Paradigma Integarsi Interkoneksi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Yuliani Nurani Sujiono, 2013, Konsep Dasar PAUD. Jakarta: Indeks
George S. Morison, 2012, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta : Indeks.
Anita Yus, M. Pd. 2011. Model Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Kencana
Jaipul L.Roopnarine dan James  E. Johnson, 2011, Pendidikan Anak Usia dini dalam Pelbagai Pendekatan, penerjemah Sari Narulita, Jakarta: KencanaKathy Hirsh  Pasek,  Roberta M. Golinkoff, 2006,  Einstein Never Used Flash Cards, Bagaimana Sesungguhnya anak-anak belajar-dan mengapa mereka  harus banyak bermain dan sedikit menghafal , Bandung: Kaifa

gambar pixabay

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here