Mengingat Munir Menolak Lupa

0
232
Munir Melawan Lupa

Di Kota Batu yang Indah, Ketika kaki gunung Panderman sedang sunyi, terbang bidadari secantik Krisdayanti, Suaranya merdu seindah Syahrini. Kecantikan itu pudar, dan kemerduan menjadi hingar bingar, semuanya tak berarti, semuanya hanyalah kesia-saan, ketika Surat Yasin lirih dibaca di ketinggian empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania, saat dimana kekerasan dan kekejian meramu diri dalam racun kematian yang meranggut hidup saudara kami, Munir Putra Said Thalib dan Jamilah, anak kota batu yang tercinta…”

.

Didaksi.com-Itulah penggalan Puisi ‘Tugu Kematian Munir’ dari Budayawan Romo Sindhunata, yang dibacakan dalam rangka mengenang pejuang hak asasi manusia, dalam acara, “Menafsir Munir Melawan Lupa”  di Alun-alun kota Batu (2/12/2012), Malang. Munir pergi menuju alam keabadian. Ia bisa dengan tenang beristirahat disana. Hanya saja air mata dari mereka yang ditinggalkan tak kuat menahan rasa kesedihan yang menusuk begitu dalam jantung kebangsaan kita. Di tengah ringkih dan rapuhnya hukum di negeri ini, saat-saat negeri ini memburuhkan pejuang kemanusiaan yang tanpa pamrih, Munir yang mampu mewakili itu semua tiba-tiba ‘dibunuh’ dengan racun yang mematikan. Keberanian, kejujuran dan kepolosannya dalam menantang selubung kedzaliman yang tertutup rapat melekat dalam diri Munir.

Jalan yang ditempuh munir bukan jalan lurus dan tegak sebagaimana pengacara dan aktivis kemanusiaan gadungan yang mudah berbelok dengan umpan uang. Ia ingin melalui dan menerobos jalan berliku penuh asap kekuasaan, penuh tanjakan yang ditutup-tutupi dan berkerikil cadas yang sesekali mengancam keselamatan. Munir ingin menerobos selubung kejahatan kemanusiaan yang berada di rimba ketidakpastian itu menuju titik terang keadailan atas nama kemanusiaan. Jalan yang tidak semua orang berani melakukannya. Aktivis kelahiran kota Apel, malang, itu berani memilih jalan terjal untuk berjuang atas nama kemanusiaan. Munir memang sudah terbunuh oleh kerikil-kerikil kekuasaan yang cadas itu, tapi warisan tekad dan cita-cita luhur kemanusiaan akan tetap selalu menyala.

Lebih lanjut Sindhunata mengenang dalam puisinya, “…Munir, Kau anak kota batu, maka tekadmu sekeras batu. Kau pemberani tiada tara. Kematianmu adalah saksi yang berkata: Pelaku kekerasan yang kau lawan bukanlah pejantan yang gagah, tetapi cecunguk yang pengecut, penakut yang berhati busuk. Munir, kematianmu adalah tugu kota Batu yang akan selalu pandang dan kenang, agar kami berani terus melawan lupa, agar kami ingat senantiasa akan cita-cita yang kau perjuangkan sampai akhir hayatmu yang mengenaskan”.

Munir Kecil

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.[1]

Kalau kita melihat iklim pendidikan yang dibangun dalam keluarga, maka kita tak akan heran melihat sosok munir yang idealis, pemberani dan prinsipil dalam menjalani hidup. Ibu Munir, Jamilah yang kerapkali disapa dengan Umi oleh anak-anaknya, mempunyai peranan yang cukup penting dalam hidup Munir. Ayahnya yang biasa dipanggail Abah adaah sosok yang sangat berperan dalam menanamkan nilai-nilai hidup dalam diri Munir. Inilah kisah lengkap kehidupan Munir di dalam keluarganya:

“Keluargaku banyak yang pedagang, bukan aktivis. Ibuku juga bukan aktivis. Latar belakang ibuku itu adalah seorang perempuan Arab tradisional yang hidup di sektor domestik, yang banyak menghabiskan waktu untuk anak. Dengan tingkat pendidikan yang terbatas. Dia punya interpretasi terhadap semua hal yang terjadi di luar rumah. Interpretasi beliau itu mengacu pada satu velue, dengan satu nilai dan itu sangat mempengaruhiku. Misal, kejengkelan dia atas penyerangan terhadap etnis Cina. Waktu itu tahun 77 dan saya kelas empat SD, ada kerusuhan anti etnis China di Jawa, termasuk di Malang. Nah, protes-protes di dalam dirinya itu, kan diomongin. Nah itu sangat berpengaruh terhadap anaknya, terhadap pemikiran mengenai apa itu rasisme, misalnya, kenapa kon Cina diserang orang…”.[2]

Munir sangat dipengaruhi oleh ibunya. Apalagi pada tahun 78 ayah Munir meninggal dunia, saat munir baru duduk di bangku kelas lima. Semenjak itulah Ibunya dari semula yang hanya berkutat dalam bidang domestik muncul memimpin keluarga. Munir sejak saat itu kerapkali diajak ibunya pergi ke pasar. Saudara Munir yang ada 7 kerap diajak ke pasar untuk berjualan. Munir yang sejak TK sudah sering diajak ke pasar banyak belajar dari nilai-nilai intarakasi yang dibangun disana. Bagaimana cara menghargai orang lain, berhubungan, berkomunikasi dan nilai-nilai egaliter lainnya.

Ibu Munir pada saat itu mempunyai pembantu. Lazimnya pembantu pada saat itu masih sangat dipengaruhi oleh budaya feodal, seperti harus membungkuk, tidak makan bersama tuan rumah, tidak boleh nonton televisi dan pelbagai sekat lainnya yang membuat jarak yang sangat renggang antara kehidupan pembantu dan tuan rumah. Sungguh berbeda dengan iklim yang dibangun dalam keluarga Munir. Semuanya yang ada di rumah berintraksi dengan sangat egaliter. Keseimbangan dalam intraksi dengan tetangga pun sangat egaliter. Rumah Munir yang dulu menjadi rumah pertama yang memiliki televisi di antara tetangganya, menjadi tempat anak-anak untuk nonon bersama dan Ibu Munir kerapkali memberikan mereka makan.

Ibu Munir sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadiannya. Bapak Munir sebagai sosok teladan juga mempunyai peran yang penting dalam diri Munir. Kesederhanaan Munir dalam hidup dan keengganannya dalam mengagumi segala bentuk kemewahan Munir dapat dari bapaknya. Munir berkata:

“…ini terjadi tahun 78. Bapakku itu gengsinya kegedean. Pedagang toko kecil, tapi gengsinya gede. Dia tidak mau anak-anaknya kehilangan kebanggan terhadap bapaknya. Jadi, kalau anak-anaknya mengagumi barang orang lain, bapakku itu marahnya minta ampun, tersinggung. Nah, hal itu juga masuk dalam diriku. Misalnya, sekitar kelas 3 atau 4 SD. Aku berangkat mengajdi dari rumah ke sebuah mushalla yang jaraknay sekitar 1, 5 Kilometer. Nah, sepanjang jalan itu, kan ada restoran, de depannya ada Mobil, terus ku pegang badan mobilnya. Aku gak tau kalau ternyata di seberang jalan ada bapakku, dia ngamuknya minta ampun. Aku dianggap mengagumi kemewahan dan telah menghina bapakku. ‘Kau sudah tidak menghargai aku sebagai orang tua, tapi kau lebih menghargai orang lain karena kepemilikannya !!! Nah itu pengaruhnya gede di hidupku ! Anak Kecil diperlakukan seperti itu, wah itu marahnya keras dan itu mempengauhi cara berfikir. nilai itu masuk ke dalam diri saya…ngak berani saya mengagumi kemewahan…Waduh…ngak berani, ngomong, memegang, saya gak berani”.[3]

Lingkungan pendidikan kehidupan cukup berpengaruh terhadap kisah perjalanan Munir sampai remaja, menjadi mahasiswa hingga aktivis pejuang hak asasi manusia. Kelas satu SMP Munir sudah berurusan dengan hukum. Munir melaporkan kematian tetanggnya kepada polisi. Munir kecil mengambil pelajaran dari peristiwa pelaporan pembunuhan itu, “Nilai yang saya pelajari, kita tidak bisa membiarkan ada peristiwa pembunuhan dan menyetujui orang mengambil keputusan nguburbegitu saja”. Munir terus tumbuh remaja dengan nilai-nilai idealisme yang terus melekat dalam dirinya hingga ia memasuki bangku kuliah. Munir sudah tedak respek terhadap semua penindas sejak dari kecil. Ketika kuliah menginjak semester lima, munir mulai tertarik dengan HAM (Hak Asasi Manusia).

Munir Aktivis

Ketika mahasiswa, Munir bergabung dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). perjalannya di HMI membuat Munir mengalami banyak intraksi dan aksi. Meskipun Munir menjadi senior yang kerapkali mengisi pelatihan, tetapi gagasan-gagasannya tidak melulu sama. Apalagi aktivitas Munir tak hanya menongkrong dengan mahasiswa, tetapi secara lebih melebar juga dengan buruh. Wacana dan keterlibatan dengan buruh tak lepas dari intraksi dan diskusi munir dengan teman karibnya, yakni Banbang Sugianto.

Pada mulanya ada banyak senior yang menuduh kiri karena persepektifnya yang berbeda. “Ada yang bilang HMI itu Fundamentalis, menurutku ngak, hmm…sebenarnya ia sudah kehilangan pilihan, entah mau fundamentalis atau demokrasi. Ngak ada bedanya sama KNPI, mereka Cuma gerombolan orang cari hidup saja.”[4] Itulah salah satu kritik Munir pada saat itu. meskipun dalam perjalannya Munir tetap mendalami jati diri organisasi itu, sehingga ia mampu menemukan pijakan ideologis dari gerakannya dan tetap memilih menjadi aktivis untuk mereka kaum tertindas; para kaum buruh, penculikan aktivis yang tak ada ujung pangkal kejelasannya dan pelbagai korban-korban ketidakadilan lainnya.

Munir adalah aktivis yang sangat bersahaja, tampil sederhana dan sangat prinsipil. Dalam hidupnya, Munir mempunyai komitmen untuk setiap mereka yang tertindas, tanpa mengenal perbedaan agama, ras dan profesi. Munir adalah pejuang kemanusiaan universal yang tanpil dengan apa adanya, tidak gila harta, pangkat dan profesi. Munir mulai remaja sudah dididik untuk tidak tergila-gila pada kemewahan dan melihat orang karena hartanya. Munir memang sadar jalan yang ia tempuh tak berlimpah materi, tetapi jalan yang berlimpah nilai.

Menempuh jalan hidup yang berlimpah nilai di tengah banyak orang yang tidak dapat menghindar dari terjangan materialisme dan terperosok di dalamnya tentu bukan suatu parkara yang mudah. Munir adalah manusia dengan yang mempunyai kecenderungan-kecenderungan manusiawi pula. Tapi munir melawan segala bentuk keinginan-keinginan yang bermegah-megahan itu untuk mengabdikan diri dalam perjuangan hak asasi manusia. Banyak cobaan; mulai dari penghianatan yang tak disangka-sangka, perselisiha pendapat dan intrik-intrik dari pelbagi orang. Munir tetap hadir dengan berpegang teguh dengan prinsip-prinsipnya.

Inilah penuturan munir ihwal perjuangan hidup dan persahabatannya:

“Dalam hidup aku berkali-kali dikhianati. Kalau aku ditusuk dari belakang, mungkin aku kalah, aku terpental dari organisasi, tapi bagiku, dia kalah. Aku kadang-kadang lebih memilih untuk tidak punya teman dalam setu keadaan, dikeroyok orang banyak untuk mempertahankan apa yang menurutku benar. Ini rumit, termasuk dalam memilih orang. Memilih orang yang mengambil pilihan hidup, atau orang yang ingin berprofesi. Akhirnya aku harus mengawinkan profesi dengan pilihan hidup. Misalnya, soal keuangan, ya mesti milih orang yang ngerti keuangan, tapi untuk menghadapi realitas, sektor non administratif, ya milih orang yang memiliki pilihan politik karena tugas kitalah untuk membangun profesionalisme.

Saya tidak butuh 1.000 orang yang pinter, tetapi tidak punya valeu untuk mengerjakan itu. kalau suatu saat mereka dikencingan penguasa, mereka akan lari semua kalau ngak militan. Ya, kadang-kadang sakit hati jugalah aku. Yang paling sakit hati itu , waktu aku tiba-tiba dikeroyok orang banyak. Gagasan-gagasanky ciba tidak dipahami orang. Mereka tidak mau berdebat, tetapi mereka tiba-tiba mukul dari belakang. Aku yang paling sering kena, nah ini yang sakit”.[5]

Pernyataan sangat prinsipil dan mengandung komitmen untuk senantiasa mempertahankan nilai-nilai hidup yang telah diyakini. Munir berlabuh dalam pelbagai organisasisi sebagai instrumen atau wadah perjuangan kemanusiaan. Pada mulanya bermula dengan menjadi Relawan LBH Surabaya (1989), Ketua LBH Surabaya Pos Malang, Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993), Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995), Direktur LBH Semarang (1996), Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996), Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997), Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998), Koordinator Badan Pekerja KONTRAS (16 April 1998-2001), Ketua Dewan Pengurus KONTRAS (2001) dan Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Indonesia Imparsial.

Itulah beberapa bentuk karier dalam bidang hukum yang telah munir lalui. Cukup banyak kasus yang dibela oleh Munir diantaranya Penasehat Hukum dan anggota Tim Investigasi Kasus Fernando Araujo, dkk, di Denpasar yang dituduh merencanakan pemberontakan melawan pemerintah secara diam-diam untuk memisahkan Timor-Timur dari Indonesia; 1992, Penasehat Hukum Kasus Jose Antonio De Jesus Das Neves (Samalarua) di Malang, dengan tuduhan melawan pemerintah untuk memisahkan Timor Timur dari Indonesia; 1994 , Penasehat Hukum Kasus Marsinah dan para buruh PT. CPS melawan KODAM V Brawijaya atas tindak kekerasan dan pembunuhan Marsinah, aktifis buruh; 1994, Penasehat Hukum masyarakat Nipah, Madura, dalam kasus permintaan pertanggungjawaban militer atas pembunuhan tiga petani Nipah Madura, Jawa Timur; 1993, Penasehat Hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan dalam kasus perburuhan PT. Chief Samsung; 1995, Penasehat Hukum bagi 22 pekerja PT. Maspion dalam kasus pemogokan di Sidoarjo, Jawa Timur; 1993, Penasehat Hukum dalam kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta; 1997-1998, Penasehat Hukum kasus penembakan mahasiswa di Semanggi, Tragedi Semanggi I dan II; 1998-1999, dan beberapa kasus lainnya.[6]

Pada tahun 2003 Munir ikut dalam aktivis seior dan beberapa aktivis pro demokrasi lainnya mendatangi DPR pasca penyerangan terhadap kantor Tempo. Pada saat itu Munir sebenarnya masih masa istirahat, dari jadwal dokter. Munir dengan kepedulian yang tinggi terpanggil hatinya untuk juga ikut bergerak dan turun ke lapangan. Pada tahun 2004 Munir bergabung dengan Tim Advokasi SMPN 56 yang digusur oleh Pemda. Setiap ada kasus diskriminatif yang melipatkan para penindas dan kaum tertindas, maka Munir selalu hadir bersama mereka yang tertindas untuk memperjuangkan hak-hak dan menemukan keadilan.

Keadilan seakan menjadi taarikan hembusan nafas Munir. Perjuangan melawan ketdakadilan dimana pun itu berada dan siapaun yang menjadi korban serta lawan, akan selalu dibela oleh Munir. Nyali yang tak mudah surut, pengorbanan yang tanpa pamrih dan kesedethanaan yang tak dibuat-buat, dan karakter perjuangan untuk selalu memperjuangkan hal yang baik adalah warisan besar bagi bangsa Indonesia. Dalam rezim orde baru yang mencekam, segala hal ihwal aktivitas yang berseberangan dengan negara dikontrol ketat, maka Munir tampil melawan arus dan berdiri menyapu benag kusut demokrasi dari parktik politik kekerasn struktural.

Pilihan eksistensial Munir untuk menjadi aktivis pejuang hak asasi manusi tak ubahnya seperti memasuki kandang singa. Itu adalah arena yang sangat seram dan menakutkan. Kerja Munir untuk mengusut pelbagai bentuk praktik penculikan, penyiksaan hingga pembunuhan aktivis pro demokrasi berhadapan dengan tembok kekuasaan yang kebal. Munir berhasil menyusun kepingan-kepingan informasi menjadi sebuah fakta utuh yang akan mengagetkan banyak pihak. Ada kejahatan yang terorganisi yang telah dilakukan oknum aparat terhadap para aktivis menjadi kesimpulan yang bermata dua; satu sisi itu sangat berarti bagi terkuaknya selubung kejatahan terorganisir dan satu sisi tentu nyawa Munir akan menjadi pertaruhan.

Dalam keadaan apapun Munir dengan prinsip dan komitmen yang tinggi tak gentar menghadapi segala yang tiba. Pembelaan terhadap hak-hak sipil yang ditutupi akan selalu dibuka oleh Munir tanpa harus takut terhadap ancaman dan teror. Banyak teror datang menghantui Munir dan keluarganya. Lagi-lagi Munir nyalinya tak ciaut dan tetap berpegang teguh pada prinsipnya untuk selalu membela hak-hak sipil. Tepatnya pada 7 September 2004 Munir meninggal dunia di pesawat Garuda GA-974 kursi 40 G dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda—perjalanan itu adalah sebuah perjalanan untuk melanjutkan studinya ke Universitas Utrecht.

Munir ‘Tidak Mati’

Munir sudah tiada, tapi semangat dan roh perjuangan tak akan pernah mati. Perjuanganya akan tetap menyala dalam setiap ingatan publik. Kematian Munir yang dibunuh itu kian membuat imajinasi publik melanjutkan dan menindaklanjuti temuan-temuan kasus yang pernah ditangain Munir. Jalur hukum mamang buntu dan sengata ditutup rapat untuk menemukan titik terang ihwal kasus yang pernah diperjuangkan Munir dan kematian munir itu sendiri, tetapi imajinasi publik akan membentuk penghakiman kultural yang sudah bisa membedakan siapa aktor dibalik kejahatan terorganisir itu dan akan membuat tugu peringatan untuk Munir dalam setiap momen-momen tertentu untuk menolak lupa.

Munir ‘tidak mati’. Ia tetap berkelindan mengetuk pintu hati nurani mereka yang merasa melakukan pembunuhan dan mengiris-iris perasaan mereka dalam tiap ruang dan waktu. Munir tetap menggedor-gedor tembok tebal kekuasaan yang melakukan kejatatan kemanusiaan. Munir ‘tidak mati’. Ia tetap hadir dan berjuang membela hak asasi manusia dalam berbagai bentuk;  ia hadir dalam bentuk film dokumenter, musik, pamflet menolak lupa, kaos bergamar Munir, tugu mengenang Munir, Spanduk menolak lupa, poster ihwal Munir yang sengaja di dinding rumah dan pelbagai bentuk lainnya. Munir telah hadir menjadi simbol perlawanan itu sendiri.

Munir tak akan pernah mati. Sebuah lirik lagu dari Grup band pop indie Efek Rumah Kaca (ERK) yang berjudul Di Udara—lagu nomor ke-7 di album pertama mereka itu yang sengaja didedikasikan untuk Munir, menggambarkan bahwa Munir tak akan pernah mati:

 

Aku sering diancam

juga teror mencekam

Kerap ku disingkirkan

sampai dimana kapan

 

Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

 

Aku sering diancam

juga teror mencekam

Ku bisa dibuat menderita

Aku bisa dibuat tak bernyawa

di kursi-listrikkan ataupun ditikam

 

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

 

Ku bisa dibuat menderita

Aku bisa dibuat tak bernyawa

di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

 

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

 

 

[1] http://id.wikipedia.org

[2] Meicky Shoreamanis Panggabean, Keberanian Bernama Munir; Mengenal sis-sisi Personal Munir, (Bandung: Mizan, 2008), hal. 38-39.

[3]Ibid, hal. 42.

[4]Ibid, hal. 48.

[5] Ibid. Hal. 54.

 

[6] http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here