Mengurai Kebenaran Ilmiah Konsep PAUD dalam Islam

Artikel

pendidikan anak, parenting, anak muslim

Didaksi.com−Pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam Islam butuh pendekatan multidisipliner dalam rangka mengurai kebenaran ilmiah yang terkandung dibalik perintah doktrin teks-teks agama yang normative. Kajian multidisiplin keilmuan PAUD islam itu penting mengingat realitas persoalan anak tidak hanya bisa dipecahkan dalam satu disiplin keilmuan yang parsial, tetapi membutuhkan saling tegur sapa dan saling mengisi antara kebenaran teks dengan pengetahuan yang bersifat kontekstual, seperti ilmu kedokteran, psikologi, Neurosains dan disiplin ilmu lain yang mendukung terhadap proses pendidikan anak menjadi lebih konferehensif.

Baca juga Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini dan Pemikirannya

Ada banyak konsep PAUD dalam islam yang ketika didekati dengan ragam keilmuan ternyata menemukan kebenaran ilmiahnya. Pendidikan anak dalam islam menyeru agar anak ketika baru lahir itu dikumandangkan adzan, malakukan penyusuan dan pengasuhan, mengaqiqahi anak, memberi nama yang baik, menghitan anak dan pelbagai perintah yang terkandung dalam al-quran dan hadits. Semua perintah itu mengandung rahasia dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Mengumandangkan Adzan

Bersyukur dan mengumandangkan adzan serta iqomah ketika anak lahir. Dalam Islam anak yang baru lahir disyariatkan untuk dikumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Sunni dari hadits Hasan bin Ali dari Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa yang dianugrahi seorang anak, kemudian ia mengumandangkan adzan pada telinga kanannya dan iqomah pada telinga kirinya maka anak yang lahir itu tidak akan terkena bahaya Ummush Shibhan”.

Mari kita bandingkan dengan penelitian Masaru Emoto (2007), terhadap air. Beliau menuangkan air dalam wadah, kemudian disebutkan kata-kata, “cinta dan syukur” serta beberapa kata-kata jelek lainnya. Ternyata ketika dipotret dengan sebuah peralatan yang canggih, air yang disebutkan dengan kalimat-kalimat positif itu tambah bening dan air yang disebutkan kalimat-kalimat negative itu menjadi keruh. Ada reaksi yang berbeda.

Dalam tubuh manusia 70 % mengandung air. Kalau kita selalu menggunakan kata-kata yang positif, maka itu akan membentuk sebuah respon positif yang bening. Ketika kita selalu mengungkapkan rasa sykur pada Allah Swt, maka air yang ada dalam tubuh akan membentuk kristal yang indah dan tersusun rapi sehingga akan keluar dalam tubuh kita sebuah energi posistif (Ahmad Zainal Abidin, 2014).

Ketika anak dilahirkan kemudian diungkapkan rasa syukur, diadzankan dan diiqomahkan, maka ada energy positif yang tersalurkan, bisa menjadi kilauan mutiara yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan emosi anak di masa yang akan datang.

Penyusuan dan Pengasuhan

Dalam al-Quran dijelaskan, “Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqoroh 233).

Organisasi Kesehatan Dunia di awal abad ke-20 melaporkan bahwa para ilmuwan menemukan makanan sempurna untuk bayi, yakni air susu ibu. Menyusui bayi ternyata tidak hanya memberi dampak psikologis pada ibunya, tetapi juga akan memberikan efek medis, yakni kekebalan tubuh bayi. Air susu Ibu ternyata mengandung anti bodi yang membuat anak bisa lebih tahan terhadap ragam penyakit (William Sears dkk, 2007).

Begitu juga dengan pengasuhan terhadap anak, orang yang paling utama adalah kedua orang tua, kalau tidak adalah kerabat dekatnya. Orang yang paling berhak terhadap pengasuhan ini adalah orang yang paling dekat kekarabatannya. Pengasuhan ini menjadi sangat penting karena pada usia dini anak harus dipenuhi dengan kasih sayang, perasaan mesra dan hangat serta penuh dengan kegembiraan. Islam sangat menekankan pengasuhan anak pada kedua orang tua karena masa itu sangat krusial.

Dalam kajian neurosain, anak yang baru lahir mempunyai 100-200 milyar neuron sedangkan perkembangan otaknya mencapai 50% ketika mencapai usia 6 bulan. Pada usia 2 tahun perkembangan otaknya mencapai 75 % dan pada usia 5 tahun perkembangan otaknya mencapai 90 % (Adi W. Gunawan, 2003).

Mengaqiqahi Anak

Aqiqah secara sederhana bisa diartikan menyembelih kambing karena kelahiran anak pada hari ketujuh dari kelahirannya. Rasulullah saw bersabda, “Bersama anak itu di aqiqah. Maka tumpahkanlah darah baginya (dengan menyembelih domba) dan jauhkanlah penyakit darinya.” (HR Bukhari).

Aqiqah merupakan tebusan terhadap anak dari segala bentuk musibah dan kecelakaan, sebagaimana Allah Swt menebus Nabi Ismail dengan sembelihan yang besar. Aqigah juga menjadi penguat jalinan cinta kasih antara anggota masyarakat, dengan berkumpulnya mereka di tengah jamuan makan sebagai bentuk kegembiraan akan hadirnya anak (Abdullah Nashih ‘Ulwan: 2012). Pencukuran rambut pada saat kelahiran akan membuat bayi bertambah kekuatannay serta membuka pori-pori kepalanya., memperkuat indra penglihatan, penciuman, dan pendengarannya (Musafir bin Said Az-Zahrani, Konseling Terapi, 2005).

Menghitan Anak

Khitan berarti memotong penutup (kulit) yang menutupi zakar (kemaluan). Dalam islam anak itu harus dikhitan. Rasulullah bersabda, “fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu-bulu yang tunbuh di sekitar kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur kumis.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam kajian medis ditemukan bahwa khitan mempunyai dampak posistif. Ada lapisan kulit zakar yang sulit dibersihkan. Kalau tidak dikhitan, kotoran yang biasa disebut smegma itu bisa menggupal dan bisa menimbulkan infeksi pada zakar. Kulub laki-laki mempunyai potensi menyimpan penyakit kelamin dan menyebabkan terjadinya pemancaran sperma secara dini, sebab kepala penis yang berkulub lebih sensitive daripada yang tidak berkulub. Maka tak heran ketika para kumpulan para dokter menyarankan kepada pemerintah negaranya masing-masing agar menyerukan khitanan missal guna membebaskan penyakit dan gangguan seksualitas di dalam masyarakat (Nasaruddin Umar, 2001).

Memberikan nama yang baik pada anak

Dalam surah al-Baqarah ayat 31 disebutkan ihwal pentingnya nama. Dalam kajian numerology—sistem, tradisi atau kepercayaan dalam hubungan mistik atau esoterik di antara benda hidup—nama seseorang dipercaya mengandung kualitas tertentu. Nama menurup prinsip matematis numerologi bisa membuat lebih rileks menjalani hidup dan lebih mudah memenuhi apa yang menjadi panggilan hidup kita (Reni Sukma, 2005)

Itulah bentuk kebenaran ilmiah yang terkandung dibalik perintah doktrin teks-teks agama. PAUD dalam Islam ternyata sarat dengan mamfaat bagi proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebelum beberapa penelitian ilmiah menunjukan bukti empiris dan rasinal ihwal pendidikan anak usia dini, Islam sudah sejak awal menyeru pada setiap orangtua ihwal pentingnya PAUD sejak lahir dengan beberapa seruan yang bersifat normatif. Saat ini seruan PAUD dalam Islam itu menemukan titik temu dengan beberapa fakti ilmiah ketika disandingkan dengan ragam disiplin keilmuan.