Metode Mendidik Anak secara Islami

Strategi

Anak-islami

Anak Belajar mengaji

Didaksi.com-Islam mempunyai ragam metode mendidik anak. Rasulullah sebagai teladan utama dalam proses pendidikan telah membrikan beberapa metode dalam mendidik anak, mulai dari keteladanan, nasehat, perhatian dan pengawasan serta bermain. Metode mendidik anak secara islami, terutama di era digital ini dimana pengaruh negatif banyak datang dari ragam sumber sangat penting bagi kita semua. Ada beberapa metode dalam proses pendidikan anak usia dini dalam islam:

.

Keteladanan

Secara naluriah anak itu polos. Ia akan mudah meniru segala bentuk yang dilihat dan didengar. Usia dini adalah usai dimana anak itu sangat suka meniru, baik itu dari orangtua serta orang yang ada di sekitarnya. Maka memberi taladan yang baik bagi anak menjadi metode paling efektif untuk anak usia dini. Orangtua dan orang yang ada di sekitar ditutut untuk memberi keteladanan yang baik pada anak-anaknya, baik itu dalam bentuk perkataan dan juga tindakan.

Proses peniruan biasanya terjadi pada anak berusia dua tahun. Proses ini terus mengalami perkembangan yang luar biasa ketika anak sudah berusia lima atau enam tahun. Pada usia dini, nasehat dan perintah saja tidak akan pernah cukup, tanpa diikuti dengan keteladanan. Karena pada dasarnya keteladanan merupakan terjemahan langsung dari konsep yang bersifat abstrak. Umar bin Uthbah mengatakan bahwa apa yang baik bagi anak adalah apa yang dikerjakan oleh pendidik, dan apa yang buruk bagi anak adalah apa yang ditinggalkan oleh pendidik. Anak-anak belum dapat memahami konsep-konsep yang abstrak dengan mudah. Mereka tidak bisa menerima begitu saja nasehat orangtua atau gurunya tanpa ada contoh yang dapat dilihat langsung.

Metode keteladanan adalah salah satu metode efektif dalam membentuk karakter anak mulai usia dini. Kalau orangtua dan guru mempunyai akhlak yang bagus, selalu berkata jujur, menjauhkan dari perbuaan yang bertentangan dengan agama dan selalu memberikan contoh-contoh yang berkaitan dengan perintah agama, maka anak juga akan tumbuh dan berkembang selaras dengan keteladanan para guru dan orangtua. Tanpa keteladanan yang baik, sulit rasanya menanamkan nilai-nilai yang positif dalam jiwa anak dan membangun pondasi yang kuat. 

Adat Kebiasaan

Kebiasaan adalah proses tindakan yang seragam secara berulang-ulang. Kebiasaan itu dibentuk melalui pengulangan demi pengulangan dengan cara disengaja serta direncanakan. Dalam jagad pendidikan, terutama pendidikan anak usia dini, pembiasaan mempunyai peran yang penting untuk menumbuhkan dan menanamkan kebiasaan yang baik pada anak-anak mulai dini.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, peranana pembiasaan, pengajaran, dan pendidikan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak akan menemukan tauhid yang murni, keutamaan budi pekerti, spiritual dan etika agama yang benar. Anak-anak mulai kecil sudah terbangun kebiasaan dengan nilai-nilai yang positif, maka itu sebenarnya membentuk sebuah pondasi yang menghujam dalam jiwa anak sehingga pada gilirannya nanti anak akan mempunyai karakter yang baik.

Kunci utama dalam metode pembiasaan ini adalah ada pada orangtua, guru dan lingkungan masyarakat. Tiga lingkungan pendidikan itu menjadi factor penentu dalam membangun kebiasaan. Tentu yang pertama dan utama adalah lingkungan keluarga. Orangtua sejak kecil harus sudah mengajarkan kebiasaan pada anak, seperi membiasakan anak ikut shalat berjamaah, membiasakana anak berpuasa meskipun tidak tuntas dan kebiasaan-kebiasaan lain. Lingkungan sekolah atau guru juga harus menampilkan kebiasaan yang mendorong anak untuk tetap terlelihara kecerdasan spiritual, intelektual dan emosionalnya.   

Nasehat

Nasehat adalah proses pemberian patuah dari orangtua atau guru terhadap anak dengan penuh bijaksana dan lemah lembut. Nasehat diberikan pada anak untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan, emosional serta nilai-nilai kebijaksanaan. Dengan metode nasehat orangtua atau pendidik bisa mengajari ihwal prinsip-prinsip islam, mulai dari yang bersifat ibadah hingga pada aspek yang bersifat akhlak. Menurut Abdullah Nashih Ulwan (2013) pendidikan dengan nasehat termasuk metode yang cukup berhasil dalam proses pembentukan akidah anak dan mempersiapkannya dalam aspek moral, emosional maupun sosial.

Dalam metode nasehat ini, konsekwen antara materi nasehat dengan tindakan dan prilaku sehari-hari menjadi prinsip utama. Kalau ada pendidik yang menasehati banyak hal tentang moral sementra dalam kehidupan sehari-harinya justru bertolak belakang, maka itu akan menimbulkan pesan yang kurang baik bagi anak. Kunci utama agar metode nasehat ini berhasil adalah dengan membangun integritas yang tinggi, baik bagi orangtua atau pun guru. 

Perhatian dan Pengawasan

Perhatian dan pengawasan sangat dibutuhkan bagi orangtua dan pendidik. Perhatian bisa menjadi gizi bagi proses pertumbuhan dan perkemangan anak sementara pengawasan bisa menjadi pagar agar anak tidak terjebak dalam hal-hal yang negative. Orangtua yang berhatian berarti senantiasa memantau proses perkembangan aspek akidah dan akhlak anak serta mengawasi dan memperhatikan kesiapan mental dan akhlak anak, disamping juga bertanya ihwal situasi pendidikan jasmani dan kemampuan ilmiahnya.

Bernyanyi, Bercerita dan Bermain

Anak usia dini mempunyai naluri bermain yang tinggi. Melaksanakan pendidikan dengan metode permainan menjadi sangat penting. Pemilihan permainan harus  yang positif dan dapat mengembangkan intelektual dan kreativitas anak-anak. Bagi anak-anak usia balita, bermain dengan ibu sebagai teman terbaik tentu lebih banyak dampak positifnya karena lebih memperlancar komunikasi antara keduanya. Agar mainan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka benar-benar bisa bermanfaat, maka kedua orang tua perlu mempertimbangkan: apakah mainan itu termasuk mainan yang akan membangkitkan aktivitas jasmani dan kesehatan yang berguna bagi anak.