Model Pembelajaran Inkuiri

0
1180

Didaksi.com−Salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah inkuiri. Inkuiri adalah model pembelajaran yang merangsang, mengajarkan dan mengajak siswa untuk berpikir kritis, analitis dan sistematis dalam rangka menemukan jawaban secara mandiri dari pelbagai permasalahan yang diutarakan. Model ini merupakan pembelajaran yang menuntut keterlibatan aktif para siswa untuk menyelidiki dan mencari melalui proses berpikir aktif. Yang punya banyak aktivitas dalam model ini adalah siswa melalui proses mental. Siswa mempunyai keleluasaan dan kebebasan untuk mengeksplorasi seluruh kemampuannya tanpa harus terbebani.

.

Model pembelajaran ini sangat menekankan pada siswa. Yang berperan sebagai subjek pembelajaran adalah siswa. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya menjadi penerima materi pembelajaran dari keterangan verbal seorang guru, tapi siswa berperan untuk menemukan sendiri makna dan substansi dari materi pembelajaran itu sendiri. Aktivitas siswa diarahkan untuk menemukan jawaban dari sesuatu yang dipertanyakan oleh guru. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghantarkan pada permasalahan melalui pertanyaan.

Baca juga: Strategi Pembelajaran Ekspositori

Model pembelajaran inkuiri pada prinsipnya tak hanya mengajarkan siswa untuk memahami dan mendalami materi pembelajaran, tapi juga melatih kemampuan berpikir siswa dengan baik. Siswa yang mempunyai kemampuan untuk menguasai materi pembelajaran belum tentu mengembangkan proses berpikir secara benar, tapi siswa yang sudah mempunyai kemampuan berpikir benar dengan mudah memahami materi pembelajaran. Model inkuiri ingin menembangkan kemampuan menguasai materi melalui proses berpikir yang baik.

Model pembelajaran inkuiri ini mempunyai asumsi bahwa manusia pada dasarnya mempunyai kodrat ingin tahu tentang alam dan lingkungannya. Sejak manusia itu dilahirkan manusia sudah mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mulai dari mengenal sesuatu melalui indera pengecapan, pendengaran, penglihatan, serta indera-indera lainnya. Semakin manusia dewasa maka kian besar pula rasa ingin tahunya. Inilah yang kemudian membuat model pembelajaran inkuiri itu dikembangkan.

Model pembelajaran inkuiri ini banyak dipengaruhi oleh teori belajar kognitif dan constructivism. Dalam teori kognitif disebutkan bahwa belajar itu tak hanya sekadar menghafal serta menumpuk ilmu pengetahuan, tapi secara lebih jauh belajar adalah proses memperoleh pengetahuan melalui keterampilan berpikir. Belajar bagi teori kognitif adalah proses yang melibatkan mental dan berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki. Ada proses pengolahan kognisi yang ditempa dengan keterampilan berpikir.

Teori belajar konstruktivistik yang banyak dikembangkan oleh Piaget menegaskan bahwa pengetahuan itu mempunyai makna apabila dicari dan diselidiki secara mandiri oleh siswa. Bagi Piaget manusia sejak kecil sudah berusaha untuk mengembangkan pengetahuan melalui skema yang terdapat dalam struktur kognitif. Skema itu melalui mengalami proses pembaharuan dengan intensitas berpikir. Itulah beberapa teori belajar yang banyak mempengaruhi model pembelajaran inkuiri.

Bagi Piaget perkembangan mental intelektual dipengaruhi oleh empat factor. Pertama, maturation atau akrab disapa dengan kematangan. Kematangan ini berkaitan dengan proses perkembangan fisiologis anak, lebih-lebih proses perkembangan struktur otak manusia. Otak yang mengandung ribuan sel selalu mengalami proses perkembangan seiring dengan proses stimulus dari luar. Otak inilah yang menjadi sentral dari perkembangan intelektual anak.
Kedua, tindakan-tindakan fisik yang melibatkan aktivitas pikiran. Pengetahuan itu bisa diraih dan dirakit melalui pengalaman. Tindakan apabila dimaknai sebagai sebuah pembelajaran akan mempunyai aktivitas mental yang bisa diperas menjadi pengetahuan. Komponen utama dari pengetahuan itu adalah pengalaman. Pengetahuan tanpa didasari dari sebuah pengalaman akan terasa hambar.

Ketiga, aktivitas yang berhubungan dengan orang lain. Berinteraksi dengan orang lain mempuyai pengaruh bagi perkembangan mental anak. Anak dihadapkan dengan bentuk baru yang berbeda dengan dirinya dalam pelbagai aspek. Ini menumbuhkan kesadaran baru bahwa ada aturan lain yang berbeda dengan dirinya. Berinteraksi dengan orang lain juga dapat memperkaya perbendaharaan bahasa dan mengurangi egonya. Bahasa itu akan berkembang ketika menjalin diskusi. Dan ego itu akan kian hilang setelah mengetahui bahwa ada begitu banyak orang yang mempunyai prinsip berbeda dengan dirinya.

Keempat, proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang baru didapatkan. Pengetahuan seseorang itu tidak hanya berdiri stagnan. Pengetahuan itu selau mengalami gerak melalui proses pembaharuan. Ada kalanya pengetahuan lama itu diganti karena ada pengetahuan baru yang datang dan bertentangan.

Ada beberapa prinsip-prinsip utama dalam model pembelajaran inkuiri yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Inilah prinsip-prinsip tersebut.

Berorentasi pada Pengembangan Intelektual

Tujuan utama dari pembelajaran inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Mengukur siswa tidak dari sejauh mana menguasai dan memahami materi, tapi bagaimana siswa itu mencari dan menemukan suatu makna melalui proses berpikir.

Prinsip Bertanya

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pembelajaran ini adalah guru sebagai penanya. Kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Di samping itu, pada pembelajaran ini juga perlu dikembangkan sikap kritis siswa dengan selalu bertanya dan mempertanyakan berbagai fenomena yang sedang dipelajarinya.

Prinsip Interaksi

Belajar adalah proses interaksi, baik interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan guru, guru dengan lingkungan dan siswa dengan lingkungannya. Sebagai sebuah proses interaksi, guru mempunyai peran penting untuk mengatur proses interaksi tersebut agar siswa mampu terangsang untuk meningkatkan kualitas berpikir. Guru mempunyai peran penting untuk mengatur interaksi itu agar bisa berjalan dengan dinamis. Membangun interaksi guru dengan siswa memang tidak mudah. Guru kerapkali terjebak sebagai orang yang paling tahu dan berkuasa di kelas sehingga tidak memberi kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi.

Belajar untuk Berpikir

Belajar itu tak hanya mengingat dan menghafal. Ada proses mental yang membuat siswa berpikir dan menggunakan segala kemampuannya, baik dalam aspek otak kiri atau atak kanan, kecerdasan, emosi, spiritual dan intelektual. Belajar itu harus melibatkan semua potensi diri siswa. Tentu guru tak hanya linier mengasah otak kiri anak yang selalu menuntut anak untuk berpikir logis dan rasional, tapi pengembangan otak kiri yang berkaitan dengan seni dan keindahan harus juga diasah. Itulah makna belajar yang sesungguhnya.

Prinsip Keterbukaan

Belajar adalah proses eksprimentasi yang selalu membuka pelbagai kemungkinan. Pembelajaran yang baik selalu membuka ruang bagi anak untuk mencoba sesuai dengan tingkat perkembangan pemikirannya. Kita semua mengetahui bahwa kreativitas itu tak akan pernah lahir dalam situasi terkurung. Kreativitas itu akan berkembang di tengah-tengah belantara keterbukaan. Untuk itu, guru hanya bertugas memberikan ruang itu dan memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan pelbagai hipotesis. Tidak sedikit prinsip keterbukaan ini oleh guru dipahami sebagai sebuah kebebasan yang kebablasan. Banyak guru yang membuka ruang keterbukaan itu tapi tanpa control sehingga ruang itu disalahgunakan oleh siswa. Tentu bukan keterbukaan semacam itu yang diinginkan. Prinsip keterbukaan itu tetap ada tapi guru harus mengawasi dan mengontrol anak.

Itulah beberapa prinsip mendasar model pembelajaran inkuiri. Setelah mengenal prinsip dasar itu poin berikutnya adalah langkah-langkah praktis pelaksanaan pembelajaran inkuiri. Secara umum ada beberapa langkah pembelajaran inkuiri, mulai dari orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan.

Orientasi

Pada tahap ini guru bertanggung jawab untuk membina suasana pembelajaran yang responsive. Kalau dalam model ekspositori guru berupaya untuk mengkondisian siswa agar siap dalam menerima pelajaran, maka dalam model ini guru akan merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir dalam memecahkan suatu masalah. Itulah perbedaan preparation dalam model ekspositori dengan orientasi dalam model inkuiri.

Orientasi ini menjadi tahapan yang paling menentukan bagi berlangsungnya proses pembelajaran. Model inkuiri berjalan dengan baik ketika siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk menggunakan kemampuan berpikirnya dalam memecahkan masalah. Kalau siswa tidak mempunyai motivasi untuk menggunakan kemampuan berpikirnya dengan baik, maka model inkuiri tidak akan berjalan baik. Untuk itu, tahapan orientasi menjadi penting untuk merangsang kemampuan berpikir siswa. Ada beberapa tahapan langkah orientasi ini.

  • Menjelaskan tujuan dari topik yang akan dibahas dan capaian-capaian yang bisa didapat siswa dari proses belajar itu.
  • Menerangkan poin-poin kegiatan yang mesti dilakukan siswa untuk mencapai tujuan itu. Guru menjelaskan beberapa langkah-langkah itu secara lebih terperinci.
  • Menjelaskan ihwal pentingnya topic yang aka menjadi pokok bahasan. Ini menjadi penting agar dalam diri siswa termotivasi.

Merumuskan masalah

Merumuskan masalah adalah tahapan dimana siswa diajak untuk memecahkan dengan proses berpikir. Setelah itu, siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat dengan melibatkan kemampuan berpikir. Inilah proses yang paling penting dalam model inkuiri. Siswa mendapatkan pengalaman yang cukup berharga. Kemampuan berpikir diasah melalui proses pencarian jawaban ini. Ada beberapa poin penting dalam merumuskan masalah itu.

  • Siswa terlibat aktif dalam merumuskan masalah. Dalam proses merumuskan masalah siswa hendaknya juga terlibat aktif. Guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari dan rumusan masalah yang akan menjadi bahan untuk dikaji lebih baik diserahkan pada siswa. Motivasi siswa berbeda antara guru yang merumuskan masalah dengan siswa yang merumuskan.
  • Guru mengawasi ketika siswa membuat rumusan masalah, maka arahkan pada jawaban yang sudah pasti. Jangan sampai rumusan masalah itu melebar dan mempunyai jawaban yang tidak pasti. Siswa itu tinggal mencari jawaban dari rumusan masalah yang telah dibuat.
  • Guru mesti menjelaskan konsep-konsep masalah. Siswa harus terlebih dahulu memahami konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah sebelum lebih jauh guru membawa pada tahapan inkuiri secara lebih jauh. Kalau siswa belum memahami dan beralih pada tahapan inkuiri selanjutnya, maka proses pembelajaran tak akan berjalan secara maksimal.

Merumuskan hipotesis

Hipotesis itu adalah jawaban sementara dari permasalahan yang dikaji. Siswa perlu diajak untuk merumuskan hipotesis sesuai dengan kapasitas kemampuan berpikirya. Pada prinsipnya setiap siswa mempunyai potensi untuk melakukan hipotesis. Agar siswa terdorong untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya, maka guru bisa merangsang dengan pertanyaan yang mampu merangsang siswa agar mencari dan menemukan jawaban sementara dan bisa pula siswa mencari alternative jawaban lain yang ditopang dengan cara berpikir yang rasional, sistematis serta didukung oleh data dan informasi yang kuat. Siswa dilatih untuk menggunakan pikirannya untuk menganalisis suatu masalah hingga menemukan jawabannya.

Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data itu adalah aktivitas untuk mengambil informasi dalam rangka menguji kebenaran hipotesis. Aktivitas mengumpulkan data mempunyai manfaat yang cukup urgen dalam proses pengembangan berpikir siswa. Dalam mengumpulkan data siswa diuji ketekunan dan kegigihannya untuk mencari informasi. Ketekunan siswa untuk mengumpulkan data itu juga bisa dipengaruhi oleh pertanyaan guru. Pertanyaan guru yang baik dapat merangsang siswa untuk mencari jawabannya dengan baik. Kalau proses inkuiri itu stagnan, maka guru juga bisa menghidupkan suasana dengan pertanyaan pada seluruh siswa sehingga terus terangsang untuk berpikir dan berpikir.     

Menguji Hipotesis

Ini adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan informasi yang didapat dari upaya siswa untuk mengumpulkan data. Menguji hipotesis itu mengembangkan kemampuan berpikir siswa secara benar. Bagaimana argumentasi siswa dan dari mana data serta informasi yang menjadi landasan argumentasi itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dengan benar.

Merumuskan Kesimpulan

Merumuskan kesimpulan merupakan proses deskripsi temuan yang diperoleh yang berlandaskan pada hasil pengujian hipotesis. Dalam pembelajaran, merumuskan kesimpulan merupakan keharusan agar siswa mampu menemukan jawaban setelah sebelumnya melalui proses berpikir dalam mencari data. Kesimpulan mengantarkan siswa pada sebuah bentuk pengetahuan yang akurat. Guru harus mampu merumuskan kesimpulan dengan akurat. Guru harus bisa memilah mana data yang penting dan tidak dari sekian banyak argumentasi dan data yang sebelumnya telah dipaparkan oleh siswa. Guru bisa memberikan kesimpulan yang akurat di hadapan siswa.

Ragam Model Pembelajaran Inkuiri

Model Inkuiri Terbimbing

Inkuiri terbimbing adalah suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam praktiknya guru menyediakan bimbingan dan petunjuk pada siswa. Peran guru dalam model ini lebih dominan dari pada siswa. Guru membuat rumusan masalah setelah itu diserahkan pada siswa. Guru tidak langsung melepas segala kegiatan yang dilakukan siswa. Bimbingan dan arahan dalam model ini masih sangat dibutuhkan. Inkuiri terbimbing ini biasanya digunakan pada siswa yang belum pernah melakukan model inkuiri. Jadi, banyak bimbingan dan arahan sebagai awal untuk menuju pada model pembelajaran inkuiri yang benar-benar mandiri. Guru dituntut kreatif dan dinamis ketika melakukan model pembelajaran ini pada siswa yang baru mengenal. Ketika pembelajaran stagnan, maka guru berperan sebagai penggerak untuk menghidupkan suasana dengan pertanyaan.

Inkuiri yang Dimodifikasi

Inkuiri yang dimodifikasi adalah model pembelajaran dimana guru hanya memberikan permasalahan pada siswa da siswa diminta untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi, atau melalui prosedur penelitian. Guru berperan sebagai pendorong, narasumber dan bertugas member bantuan apabila siswa membutuhkan. Siswa dengan model ini diarahkan untuk mengeksplorasi, merancang dan melakukan eksprimen. Meski guru dapat membantu, tapi bukan yang sifatnya jawaban. Guru bisa membantu siswa untuk mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan.

Inkuiri Bebas

Inkuiri bebas adalah model pembelajaran yang memberi kemandirian penuh terhadap siswa. Siswa merumuskan masalah, memecahkan masalah dan mencari data secara mandiri. Intervensi guru cukup minim dalam model ini. Siswa benar-benar diuji kemandirian belajarnya. Kemampuan siswa untuk berpikir, ketekunan dan ketelitian siswa benar-benar dipertaruhkan dalam model ini. Siswa dengan model ini seakan diarahkan untuk menjadi sosok ilmuwan. Model ini biasanya diterapkan pada siswa yang sudah terbiasa dengan model pembelajaran inkuiri.

Mengajak pada Penyelidikan

Model ini tidak jauh beda dengan inkuiri bebas. Siswa diajak untuk merancang eksprimen, merumuskan hipotesis serta menetapkan pengawasan melalui pertanyaan yang sebelumnya telah dikaji dengan teliti. Siswa berperan layaknya seorang ilmuwan. Perbedaan mendasar dengan inkuiri bebas, kalau inkuiri pada penyelidikan ini dikerjakan secara berkelompok yang lebih terstruktur maka inkuiri bebas lebih bersifat individual. Kalau dalam kelompok pertanyaan tidak dapat dipecahkan, guru mempunyai peran untuk membantu.

Pendekatan Peran

Model pembelajaran inkuiri pendekatan peran ini adalah suatu model yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri dari empat orang untuk memecahkan masalah. Keempat orang itu mempunyai peranan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada siswa yang berperan sebagai koordinator tim, penasehat teknis, pencatat data, serta evaluator proses. Anggota tim mengerjakan peranannya sesuai posisi dan bekerja sama antara satu dengan yang lainnya untuk memecahkan masalah yang telah diberikan.

Teka-teki Bergambar

Pembelajaran dengan model ini merupakan salah satu teknik untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam sebuah diskusi besar atau pun kecil. Guru dapat menggunakan gama atau alat peraga untuk merangsang nalar kritis siswa. Guru bisa menggunakan riddle yang berupa gambar di papan tulis, poster atau alat yang lainnya. Alat itu menjadi saranan bagi guru untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan riddle yang digunakan. Inkuiri model ini memang tidak mudah. Ada beberapa langkah yang mesti diikuti.

  • Memilih beberapa konsep atau prinsip yang akan diajarkan.
  • Menunjukkan suatu ilustrasi atau gambar yang dapat menggambarkan konsep atau situasi tertentu.
  • Menunjukkan suatu prosedur yang tidak sewajanya. Setelah itu guru bisa langsung menanyakan untuk membenarkan dengan menanyakan posisi yang salah dari riddle
  • Guru membuat beberapa pertanyaan yang berbentuk divergent. Pertanyaan itu mestinya diarahkan untuk membantu siswa untuk memperoleh konsep dan prinsip yang telah ada di dalamnya.

Itulah beberapa model pembelajaran inkuiri. Model pembelajaran ini tidak hanya mengandalkan hasil, tapi juga melibatkan proses. Ada banyak model pembelajaran dirancang untuk hanya mengejar hasil tanpa memperhatikan proses. Hasilnya, banyak guru yang hanya mengajarkan anak menghafal untuk mengingat ketika ujian. Model pembelajaran inkuiri ternyata mampu menyeimbangkan antara proses dan hasil. Model inkuiri beranggapan bahwa tak akan ada hasil yang baik tanpa melalui proses yang baik pula. Dua hal itu selalu berkaitan.

Model inkuiri ini juga mengedepankan pengasahan potensi yang sesuai dengan bakat dan minat anak. Ada begitu banyak model inkuiri ini yang semua itu bisa dipakai oleh guru dengan pertimbangan siswa. Tak ada metode baku dalam model inkuiri yang itu harus menjadi standar baku. Semuanya bersifat fleksibel tergantung pada kemampuan berpikir siswa. Model inkuiri ini menekankan pada aspek kognitif, afektif dan psiomotorik. Model ini juga sangat memperhatikan gaya belajar tiap-tiap siswa seat mampu melayani siswa yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Itulah beberapa kelebihan model inkuiri yang mudah diterima oleh siswa.

Daftar Bacaan
Dr. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorentasi Standart Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)
Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran yang Menyenangkan, (Yogakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009)
Sambar Pixabay image

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here