Model Pembelajaran PAIKEM

0
2121

Didaksi.com−Salah satu model pembelajaran yang saat ini dianggap sebagai alternatif untuk mengurangi rasa jenuh dan monoton adalah PAIKEM.  PAIKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAIKEM bisa diartikan sebagai pendekatan mengajar yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan dengan baik sehingga proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif serta menyenangkan. PAIKEM membuka ruang pada siswa melakukan kegiatan yang beragam dalam mengembangkan keterampilan serta pemahaman. Para siswa dipancing tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan.

.

model pembelajaran paikem, strategi pembelajaran paikem

Model PAIKEM berangkat dari realitas model pembelajaran yang cenderung membuat siswa merasa malas dan bosan dalam belajar, dimana siswa hanya duduk pasif mendengarkan guru berceramah, tanpa memberikan reaksi apapun kecuali mencatat di buku tulis atas apa yang diucapkan oleh guru mereka. Model belajar monoton yang seperti itu hanya akan menggiring siswa pada kejenuhan. Kelas bagi siswa tak ubahnya sebagai ruang menakutkan yang tiap hari selalu dipaksa untuk duduk rapi sambil mendengarkan.

Model PAIKEM bisa pula disebut sebagai model peralihan dari yang sebelumnya hanya mengandalkan belajar perorangan pada gaya belajar kelompok, dari belajar yang menekankan pada cara menghafal pada belajar untuk memahami, dari yang hanya transfer pengetahuan pada bentuk yang interaksi, pemecahan masalah dan keterampilan dalam proses, dari paradigm guru mengajar ke siswa belajar dan dari bentuk evaluasi tradisional ke bentuk authentic assessment seperti portofolio, proyek, laporan siswa, atau penampilan siswa.

Baca juga:

Model mengajar PAIKEM menghadirkan paradigm baru yang membuat mengajar lebih menyenangkan. Kehadiran model PAIKEM menjadi amat penting dalam pendidikan kita karena PAIKEM lebih memungkinkan siswa dan guru sama-sama aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Dalam model pembelajaran konvensional guru yang aktif (monologis) dan para siswanya pasif. Inilah yang akan membuat proses belajar mengajar menjemukan, tidak menarik, tidak menyenangkan, bahkan kadang-kadang membuat siswa takut untuk mengikuti pelajaran.

Di samping itu juga PAIKEM membuka ruang pada guru dan siswa melakukan kreativitas bersama-sama. Guru akan berusaha untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran dengan kreasi-kreasi baru. Sementara itu, siswa juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, materi pelajaran dan segala alat bantu belajar. Keterlibatan aktif dari sekian komponen inilah yang akan membentak siswa lebih kreatif dalam belajar.

Karakteristik PAIKEM

Pembelajaran Harus Berpusat pada Siswa

Kehadiran guru bukan sebagai penceramah tunggal di hadapan siswa. Guru hanya berperan sebagai fasilitator yang menjadi pembimbing ketika ada kesalahan yang diperbuat siswa dan menjadi pendorong dari belakang saat ketika siswa sedang belajar. Focus pembelajaran juga harus pada siswa bukan pada guru. Guru hanya berperan sebagai perangsang kreativitas siswa sehingga yang dihasilkan bukanlah inisiasi atau replikasi dari guru, tapi benar-benar lahir dari kreativitas siswa.

Belajar yang menyenangkan

Kalau ada guru yang menggunakan model PAIKEM tapi siswa yang mengikuti justru merasa tertekan dan jenuh, maka itu bukanlah model PAIKEM yang tepat. Model PAIKEM akan selalu membawa suasana yang senang bagi siswa. Meski materi pelajarannya tergolong rumit, tapi dengan menggunakan model PAIKEM akan terasa mudah karena disajikan dengan menarik oleh guru.

Belajar Sambil Mengalami

Siswa akan mempunyai pengalaman dalam belajar apabila melakukan pengamatan, melakukan percobaan, melakukan penyelidikan serta melakukan wawancara.

Belajar dengan Berkomunikasi

Ini bisa berbentuk presentasi laporan, mengemukakan pendapat, menanggapi gagasan siswa lain dan pelbagai bentuk komunikasi lainnya.

Perkara yang Perlu Diperhatikan dalam PAIKEM

Kalau ingin melakukan pembelajaran PAIKEM, maka ada beberapa hal perlu diperhatikan oleh guru:

Memahami Sifat yang Dimiliki Siswa

Setiap anak memiliki imajinasi dan sifat ingin tahu. Itu sudah bawaan sejak lahir. Rasa ingin tahu dan imajinasi adalah modal dasar bagi berkembangnya sikap/pikiran kritis dan kreatif. Proses pembelajaran perlu dijadikan lahan agar menjadi tempat yang subur bagi perkembangan kedua potensi itu. Imajinasi anak itu tak akan berkembang dengan baik apabila guru salah kaprah dalam memahami anak. Imajinasi yang tidak berkembang dengan baik akan berimplikasi pada mandulnya kreativitas anak. Memahami sifat dan karakter dasar seorang anak menjadi fondasi utama tumbuh kembangnya kreativitas anak.

Membangun suasana pembelajaran yang diiringi dengan pujian guru terhadap hasil karya siswa, disertai pertanyaan guru yang menantang dan dorongan agar siswa melakukan percobaan menjadi amat penting bagi guru. Suasana pembelajaran harus dibangun secara lebih menantang agar imajinasi dan kreativitas anak tumbuh berkembang dengan baik. Guru memuji kreativitas anak juga harus disesuaikan dengan karakter dan sifat anak. Kadang ada anak yang tidak terlalu suka dipuji terlalu lama atau bahkan dipamerkan dan kadang ada pula ada anak kalau dipuji motivasi belajarnya akan kian terpacu. Guru dalam model pembelajaran PAIKEM ini mesti memahami sifat dan karakter yang dimiliki oleh tiap-tiap siswa.

Memahami Perkembangan kecerdasan siswa.

Setiap siswa mempunyai perkembangan kecerdasan. Memahami pola perkembangan kecerdasan anak secara umum atau bahkan secara lebih spesifik menjadi kewajiban bagi guru. tujuan tak lain adalah untuk berlangsungnya proses belajar mengajar secara efektif. Kalau ada guru mengajar dengan model PAIKEM tapi tidak memahami pola perkembangan kecerdasan anak, maka bisa berakibat fatal. Guru akan fatal apabila salah sasaran karena tanpa dilandasi dengan pengetahuan perkembangan kecerdasan anak.

Menurut Jean Piaget dalam Muhibbin Syah (2008), perkembangan kecerdasan akal/perkembangan kognitif manusia berlangsung dalam empat tahap, yaitu: Sensory-motor (Sensori-motor/0-2 tahun) Pre-operational (Pra-operasional / 2-7 tahun) Concrete-operational (Konkret-operasional / 7-11tahun) Formal-operational (Formal- operasional / 11 tahun ke atas). Dalam kurun waktu pendidikan dasar dan menengah, siswa mengalami tahap Concrete-operational dan Formal-operational.

Selama periode konkret-operasional yang berlangsung hingga usia menjelang remaja, anak mendapat tambahan kemampuan yang biasa disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Potensi satuan langkah berpikir ini berfungsi untuk mengonsolidasikan atau mengoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Dalam perkembangan kognitif tahap formal-operational, remaja telah memiliki kemampuan mengoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yaitu, pertama kapasitas menggunakan hipotesis. Kedua, kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas menggunakan hipotesis (anggapan dasar),  remaja akan mampu berpikir hipotetis, berpikir tentang hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan. Selanjutnya, dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, remaja tersebut akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, misalnya ilmu tauhid, ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan mendalam.

Sebagai bukti bahwa seorang remaja pelajar telah memiliki kedewasaan berpikir, dapat dilihat ketika ia menggunakan pikiran hipotesisnya sewaktu mendengar pernyataan seorang kawannya, seperti: “Kemarin seorang penggali peninggalan purbakala menemukan kerangka manusia berkepala domba dan berkaki empat yang telah berusia sejuta tahun”. Apa yang salah dalam pernyataan ini? Remaja pelajar tadi, setelah berpikir sejenak dengan serta-merta berkomentar: “Omong kosong!” Ungkapan “omong kosong” ini merupakan hasil berpikir hipotetis remaja pelajar tersebut, karena mustahil ada manusia berkepala domba dan berkaki empat betapapun tuanya umur kerangka yang ditemukan penggali benda purbakala itu.

Mengenal Siswa secara Perorangan

Setiap siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam PAIKEM  perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan proses belajar mengajar. Setiap siswa mempunyai tingkat pengalaman dan pengetahuan yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami dalam belajar dan ada pula siswa yang sedikit terlambat dalam memahami materi. Guru mesti memahami kemampuan siswa itu secara perorangan. Kalau ada siswa yang lambat memahami pelajaran, maka siswa lain yang lebih cepat dalam memahami bisa membatu. Itulah manfaat utama pentingnya mengenal siswa secara personal.

Memanfaatkan Perilaku Siswa dalam Belajar

Anak sejak kecil sudah mempunyai naluri untuk bekerja sama dengan yang lain. Ketika anak ingin bermain, mereka cenderung untuk berkelompok. Naluri untuk bekerja sama ini bisa dijadikan sebagai kesempatan bagi guru dalam proses belajar mengajar, seperti dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, siswa dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Siswa yang bekerja sama akan memudahkan berinteraksi dan bertukar pikiran antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi bukan berarti siswa mengabaikan tugas dan tanggung jawab perorangan. Siswa perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang dengan baik.

Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis

Belajar yang baik adalah memecahkan masalah. Belajar yang menghadapkan siswa pada masalah secara tak langsung telah mengasah kemampuan berfikir kritis dan kreativitas anak untuk memecahkan masalah. Potensi berfikir kritis dan kreatif siswa ketika dihadapkan dengan masalah secara otomatis terangsang. Siswa diajak kritis untuk menganalisis masalah secara mendalam dan dituntun kreatif dalam rangka melahirkan alternatif pemecahan masalah. Berpikir kritis dan kreatif berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Guru hanya mengasah dan mengembangkan dengan menghadirkan masalah, menganalisis bersama, hingga pada menari alternatif.

Lingkungan Belajar yang Menyenangkan

Menghias ruang kelas agar menarik sangat disarankan dalam pembelajaran PAIKEM. Menghias ruang kelas itu tak harus mengeluarkan uang banyak. Tapi cukup dengan mengumpulkan hasil pekerjaan siswa untuk dipajangkan mengitari ruang kelas. Kelas yang dikelilingi dengan pajangan karya kreativitas siswa akan membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Kelas akan terasa lebih hidup dibanding dengan ruang kelas yang sepi akan pajangan dan hiasan.

Di samping itu juga, hasil kreativitas siswa yang dipajangkan dapat memotivasi siswa untuk menghasilkan lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi yang lain. Hasil kreativitas itu bisa berupa hasil kerja perorangan, pasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan menarik, bisa membantu guru dalam proses kegiatan pembelajaran. Pembelajaran akan berjalan lebih menyenangkan dan siswa terhindar dari kejenuhan.

Memberikan Umpan Balik yang Baik

Proses pembelajaran yang interaktif bisa menjadi ukuran kualitas sebuah pembelajaran. Proses pembelajaran itu akan menjadi lebih baik apabila ada umpan balik (feedback) dari guru kepada siswa. Umpan balik sebagai salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa akan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran apabila lebih banyak mengungkapkan kekuatan daripada kelemahan siswa. Sebaliknya, kalau umpan balik itu hanya mengumbar kelemahan dan kekurangan siswa akan membawa efek negatif bagi berangsurnya pembelajaran.

Berilah umpan balik yang mengungkapkan kelebihan siswa. Guru bisa memberikan umpan balik harus secara santun, agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Jangan berdasarkan suka dan tidak suka guru memeriksa pekerjaan siswa.  Koreksi guru jauh lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekadar tulisan angka-angka. Maka jangan lelah untuk memberikan catatan pada siswa baik ketika berinteraksi secara verbal atau pun dalam bentuk tulisan saat mengoreksi tugas.

Membedakan antara Aktif Fisik dan Mental

Siswa aktif tak melulu diukur dari aktivitas fisik, tapi melibatkan aktivitas mental yang sehat. Saat ini banyak guru yang cepat merasa puas saat menyaksikan para siswa sibuk bekerja dan bergerak, apalagi jika bangku diatur berkelompok dan para siswa duduk berhadapan. Itu hanya aktivitas fisik. Siswa yang mencerminkan aktivitas fisik seperti ini bukan ciri berlangsungnya PAIKEM yang sebenarnya. PAIKEM melibatkan aktivitas fisik dan mental yang keduanya berjalan secara berkesinambungan dalam standar mental yang positif.

Salah satu cirri utama mental positif bisa dilihat dari intensitas siswa dalam mempertanyakan gagasan orang lain, seringnya mengemukakan gagasan serta tumbuhnya perasaan tidak takut, seperti: takut ditertawakan, takut disepelekan, dan takut dimarahi jika salah. Aktivitas mental dan fisik seperti itulah yang mesti diamati oleh guru ketika menggunakan model PAIKEM.

Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Salah satu sumber belajar adalah lingkungan. Lingkungan bisa dijadikan sebagai objek belajar. Belajar dengan menggunakan objek lingkungan akan lebih mudah dipahami oleh siswa dibanding dengan hanya terpaku pada buku an sich. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus di luar kelas, tapi bisa di dalam kelas dengan membawa bahan dari lingkungan ke ruang kelas. Ini tentu akan menghemat biaya dan waktu. Guru yang memanfaatkan lingkungan ternyata mampu mengembangkan keterampilan. Layaknya siswa akan belajar mengamati, mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi serta mampu membuat tulisan.

Penjabaran PAIKEM

Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang memerlukan keterlibatan penuh semua siswa dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Guru berkreasi sehingga siswa aktif bertanya, membangun gagasan, serta melakukan kegiatan yang mampu memberikan pengalaman langsung. Siswa yang aktif berupaya untuk membangun pengetahuannya sendiri. Siswa didorong bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Salah satu contoh adalah di pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) ihwal materi alam semesta. Siswa bisa melakukan pengamatan tentang kejadian alam alam. Siswa melihat dan mengamati matahari bersinar di siang hari dan berjalan pada porosnya, terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat, bulan bersinar di malam hari dan beredar pada porosnya. Siswa juga dapat mengamati bintang-bintang berkelip di malam hari dengan jarak yang sangat jauh dari bumi. Siswa juga dapat mengamati adanya laki-laki dan perempuan, adanya siang dan malam, dan adanya panas dan dingin.

Semua itu adalah sunnatullah. Dengan sunnatullah, manusia dapat mendorong dirinya untuk melakukan penelitian terhadap benda-benda ciptaan Allah. Manusia memetik pelajaran dari sesuatu yang berlawanan. Dengan aktivitas ini secara fisik semua indera aktif terlibat, berpikir, menganalisis, dan menyimpulkan bahwa semua benda dan fenomena itu terjadi karena atas kekuasaan dan kehendak Allah SWT

Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran inovatif adalah suatu proses belajar mengajar yang selalu menghadirkan sesuatu yang baru sehingga mampu menghilangkan rasa jenuh dan bosan. Pembelajaran inovatif selalu menghadirkan sesuatu yang baru dalam setiap elemen pendidikan, mulai dari aspek model guru, bahan, perangkat dan beberapa elemen penting lainnya. Pembelajaran inovatif selalu memperbaharui elemen-elemen itu.

Pembelajaran inovatif berbeda jauh dari pembelajaran konvensional yang memang sudah menjadi kebiasaan dalam pembelajaran. Guru membangun suasana “Learning is fun” kepada semua siswa yang merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Kalau siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.

Mengembangkan pembelajaran inovatif bisa dilakukan dengan cara-cara menampung setiap karakteristik siswa serta mengukur kemampuan daya serap setiap siswa. Memahami gaya belajar siswa menjadi penting untuk proses inovasi. Ada siswa yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dan keterampilan dengan menggunakan daya visual (penglihatan) dan auditory (pendengaran), dan tidak sedikit pula siswa yang mempunyai kemampuan menyerap ilmu dan keterampilan secara kinesthetic (rangsangan/gerakan otot dan raga).

Dalam pembelajaran inovatif, ada dua subjek pendidikan, guru dan siswa, yang mempunyai peran penting untuk membawa suasana pembelajaran. Guru mesti melakukan tindakan inovatif dengan pelbagai cara:

  • Selalu menemukan dan menggunakan materi baru yang berguna.
  • Menggunakan ragam pendekatan pembelajaran dengan gaya baru.
  • Memodifikasi pola pembelajaran yang konvensional menjadi pembelajaran yang menarik di hadapan siswa.
  • Menggunakan perangkat teknologi pembelajaran

Siswa bisa melakukan tindakan inovatif:

  • Mengikuti proses pembelajaran inovatif sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditentukan.
  • Siswa tidak hanya focus menerima dari guru, tapi juga aktif mencari bahan materi diluar jam pelajaran yang relevan.
  • Siswa juga mampu menggunakan perangkat teknologi yang maju dalam proses pembelajaran.

Di samping menerapkan pembelajaran yang inovatif diperlukan adanya beraneka ragam model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam beragam bidang studi. Ragam model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran inovatif menurut Muhibbin Syah  meliputi (2009):

  • Metode Examples non-examples, langkah-langkahnya sebagai berikut:
  • Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai tujuan pembelajaran;
  • Guru menempelkan gambar di papan atau bisa pula ditayangkan melalui power point;
  • Guru memberikan petunjuk dan peluang kepada siswa dalam rangka menganalisis gambar;
  • Kelompok yang terdiri atas 2-3 siswa bisa melakukan diskusi dan analisis mengenai bagian yang merupakan contoh dan bukan contoh, kemudian mencatat hasilnya;
  • Setiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya;
  • Guru mengomentari dan memberi penjelasan mengenai materi sesuai dengan sesuai tujuan yang ingin dicapai;

 

– Metode Numbered heads together, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor;
  • Guru memberi tugas pada tiap kelompok dan masing-masing kelompok mengerjakannya;
  • Setiap kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok bisa mengetahui jawabannya;
  • Guru memanggil salah satu nomor siswa dan melaporkan hasil kerja sama mereka;
  • Beberapa tanggapan dari teman yang lain ditampung, kemudian guru menunjuk nomor yang lain;

– Metode Cooperative script, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Guru membagi siswa ke dalam sejumlah pasangan;
  • Guru membagikan wacana/materi dan siswa membaca dan membuat ringkasannya;
  • Guru dan siswa menetapkan siswa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siswa-siswa lain yang berperan sebagai pendengar;
  • Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara itu, para siswa pendengar: 1) menyimak/mengoreksi/ menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap; 2) membantu mengingat / menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  • Penutup

– Metode kepala bernomor struktur, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Siswa dibagi ke dalam sejumlah kelompok, dan setiap siswa anggota kelompok mendapat nomor;
  • Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas yang berangkai misalnya: siswa No.1 bertugas mencatat soal, siswa No. 2 mengerjakan soal, dan siswa No. 3 melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya;
  • Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar-kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang bernomor sama dari kelompok lain. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka;
  • Melaporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain;
  • Metode teams-achievement divisions (STAD), dengan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Membentuk kelompok yang anggotanya terdiri atas 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll);
  • Guru menyampaikan pelajaran.
  • Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan. Anggota yang sudah memahami bisa menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu benar-benar paham.
  • Guru memberikan kuis pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab siswa tidak diperbolehkan saling membantu.
  • Memberi evaluasi.

Metode Jigsaw (Model Tim Ahli), dengan langkah-langkah   sebagai berikut:

  • Guru mengelompokkan siswa ke dalam tim-tim yang terdiri atas 4 siswa;
  • Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda.
  • Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  • Anggota dari tim yang berbeda bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan subbab mereka.
  • Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang subbab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
  • Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi dengan baik
  • Guru memberi ruang evaluasi.

Metode Problem-based instructions (PBI), dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan.
  • Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
  • Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masa- lah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
  • Guru membantu siswa dalam merencanakan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
  • Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Kreatif

Pembelajaran kreatif tak hanya terpaku pada kurikulum. Pembelajaran kreatif menekankan pada proses terciptanya kreativitas. Imajinasi dan nalar siswa atau pun guru sama-sama dikembangkan. Tak ada batas yang mampu menghalangi terciptanya kreativitas karena ruang kreatif itu akan tercipta dalam ruang yang bebas dan tanpa banyak aturan. Tak heran dalam perjalanannya guru yang kreatif selalu melakukan tindakan-tindakan baru diluar rambu-rambu kurikulum.

Kreativitas merupakan tahapan yang paling penting dalam dunia pendidikan. Dinamika pengetahuan itu terus berkembang hingga melahirkan beberapa model penemuan-penemuan baru tak lain adalah buah dari kreativitas. Sungguh sengsara dunia pendidikan kita kalau sumua kreativitas itu hilang karena yang ada hanyalah proses reproduksi dari pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya. Pembelajaran kreatif menjadi kunci utama agar kreativitas siswa mampu dikembangkan dengan baik.

Guru kreatif selalu mengembangkan kegiatan belajar yang beragam. Proses belajar yang berlangsung di depan kelas bagi guru kreatif tak hanya cukup menyampaikan materi an sich, tapi juga mempunyai rasa tanggung jawab untuk menggugah, menginspirasi dan memotivasi siswa untuk melakukan eksprimentasi dalam hidupnya. Guru kreatif tak akan kehilangan bahan untuk berbicara. Ia selalu melakukan inovasi pengetahuan dengan banyak membaca.

Guru kreatif juga tidak tergantung pada satu elemen pendidikan yang tidak pokok, layaknya harus ada LCD. Guru kreatif akan membuat alat bantu belajar meskipun sederhana. Fasilitas yang mumpuni dan gedung sekolah yang mewah bukan ukuran utama bagi guru kreatif. Fasilitas seadanya di tangan guru kreatif bisa menjadi sangat berarti bagi siswa. Fasilitas yang mencukupi tapi gurunya hanya membawakan pembelajaran dengan monoton hanya akan menciptakan kebosanan.

Efektif

Efektifitas menjadi poin penting dalam proses pembelajaran. Efektif tidaknya sebuah pembelajaran bisa dilihat dari sejauh mana sasaran minimal dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan itu tercapai. Pembelajaran disebut efektif ketika pembelajaran telah mencapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikan, seperti pada penguasaan IPTEKS sebagai bahan ajar, pembentukan keterampilan atau kemampuan belajar yang lebih efektif dan efisien. Dan akan dikatakan lebih efektif sebuah pembelajaran apabila mampu member pengalaman baru bagi siswa atau pun juga bagi guru.

Agar proses pembelajaran menjadi efektif, ada beberapa hal yang patut dimiliki guru:

  • Menguasai materi dengan baik
  • Menguasai Model dengan baik
  • Memahami gaya belajar siswa.
  • Memotivasi siswa
  • Memahami tujuan pembelajaran.
  • Tidak monoton dalam menggunakan metode
  • Mengajarkan cara mengajari sesuatu.
  • Melakukan penilaian dengan benar

Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan adalah situasi dimana siswa merasa nyaman,  tenang dan tak ada tekanan dalam belajar. Pembelajaran menyenangkan akan selalu menggugah rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu. Siswa akan fokus terhadap materi pelajaran. Sekolah akan menjadi tempat yang selalu dirindukan dan guru akan selalu menjadi sosok yang dinanti-nanti kehadirannya.

Pembelajaran menyenangkan membutuhkan dukungan pengelolaan kelas serta penggunaan media pembelajaran. Kelas yang artistic dan dilengkapi dengan fasilitas yang mencukupi berpengaruh terhadap iklim pembelajaran. Pembelajaran yang menyenangkan dapat juga tercipta karena guru mampu menyesuaikan proses pemelajaran dengan karakteristik siswa dan mampu membangun suasana humoris di dalam kelas.

Ada beberapa indikasi dasar proses pembelajaran menyenangkan, baik dalam aspek lingkungan, guru dan siswa:

  • Terciptanya lingkungan yang rileks, tidak tegang, aman, menarik serta tidak membuat siswa ragu untuk mencoba.
  • Munculnya situasi belajar emosional yang positif ketika berlangsung proses pembelajaran
  • Timbulnya situasi belajar yang menantang bagi siswa untuk mengeksplorasi materi pelajaran.
  • Terjaminnya ketersediaan materi dan metode yang relevan
  • Tidak membuat siswa dianggap sepele oleh guru.
  • Siswa tidak takut untuk ditertawakan dan tidak takut dihukum.
  • Siswa berani bertanya.
  • Siswa berani mempertanyakan gagasan orang lain.
  • Dan siswa berani berbeda pendapat.

Guru mempunyai peran vital terhadap terciptanya pembelajaran berbasis PAIKEM. Keterampilan guru untuk mengemas pembelajaran menjadi penentu. Kalau guru tidak menguasai banyak model dan metode pemelajaran, maka PAIKEM tidak bisa diterapkan dengan efektif. PAIKEM membutuhkan guru yang mampu membangun suasana dengan dinamis dengan memanfaatkan beberapa fasilitas, ruangan, dan sarana penunjang lainnya.

Daftar Bacaan

D.r. Muhibbin Syah,Me, E,d dan Dr. Rahayu Kariadinata,M,pd., Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (Paikem), makalah yang disampaikan pendidikan dan latihan profesi guru(PLPG) Rayon Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung  2009
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarat: PT Rajawali Press, 2008)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here