Model Pembelajaran Tematik

0
2123

Didaksi.com−Pembelajaran tematik adalah salah satu Model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran satu dengan yang lainnya sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna pada siswa. Dengan Model pembelajaran tematik ini siswa akan lebih fokus dan konsentrasi sehingga pemahaman terhadap satu materi pelajaran akan lebih mendalam. Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif. Siswa tidak hanya dijadikan sebagai objek, tapi dituntut aktif untuk terlibat langsung di lapangan. Keterlibatan aktif membuat siswa memperoleh pengalaman yang luas. Pengalaman inilah yang akan membawa siswa mampu menghubungkan antara satu konsep dengan konsep yang lain.

.

pembelajaran tematik, model pembelajaran tematik

Ada beberapa manfaat penting dari Model pembelajaran tematik ini; siswa lebih mudah untuk memusatkan perhatian pada satu tema tertentu; siswa bisa mempelajari pengetahuan serta mengembangkan pelbagai kompetensi dasar antara pelajaran dengan tema yang sama; kompetensi dasar dapat dikembangkan secara lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; siswa mampu memahami materi pelajaran secara lebih mendalam; siswa bisa mengetahui dan merasakan manfaat dari belajar karena materi disajikan dengan tema yang jelas; guru bisa menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan secara sekaligus sehingga ini bisa berlangsung dua atau tiga pertemuan.

Baca juga:

Model Pembelajaran Inkuiri

Strategi Pembelajaran Kontekstual

9 Prinsip Mengajar yang Efektif dan Menyenangkan

Pembelajaran tematik menekankan belajar sambil melakukan sesuatu. Pengalaman guru menjadi penting untuk memadukan antara teori dan praktik serta memberikan makna belajar pada siswa. Pengalaman belajar guru akan menjadi pondasi dasar untuk memberikan makna belajar yang sesungguhnya pada siswa. Konsep pelajaran tematik secara ta langsung akan membentuk skema konseptual dari materi pembelajaran sehingga ada proses kesinambungan dan pertautan antara materi yang dulu dengan yang sekarang. Pada saat itulah siswa akan mengetahui mata rantai pengetahuan secara konseptual.

Ciri-Ciri Pembelajaran Tematik

  • Pengalaman dan kegiatan belajar tingkat belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan.
  • Beberapa bentuk kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik selalu bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
  • Proses belajar mengajar akan menimbulkan kesan yang lebih terhadap siswa sehingga hasil dari belajar mampu bertahan lebih lama.
  • Model tematik ini dapat membantu keterampilan siswa dalam berfikir.
  • Menyajikan pelajaran secara lebih realistis sesuai dengan tingkat permasalahan yang terjadi pada siswa.
  • Mengasah dan mengembangkan potensi social anak, layaknya toleransi, kerja sama, dan tanggap terhadap pelbagai perbedaan yang dimiliki oleh orang lain.

Sebagaimana sebuah Model pembelajaran pada umumnya, Model tematik ini juga tak akan pernah lepas dari landasan filosofis, psikologis dan yuridis. Model tematik ini banyak dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat pendidikan.

Aliran Progresivisme

Bagi aliran ini, belajar adalah proses mengasah potensi yang ada dalam tiap diri anak. Manusia dipandang sebagai subjek utama untuk melestarikan, merekonstruksi dan menembangkan niai-nilai kelompok dalam satu kebudayaan. Pendidikan bagi aliran progresif tak seharusnya lepas dari realitas social masyarakat. Pendidikan adalah proses untuk mengerahkan subyek didik agar mampu berkembang secara alamiah. Ada tiga cirri utama dalam aliran pendidikan progresivisme;

  • Pendidikan yang berpusat pada anak. filsafat progresivisme memandang bahwa fungsi utama pendidikan adalah mengembangkan secara optimal potensi individual seorang anak. Pengajaran otoriter atau guru yang hanya memandang anak sebagai objek harus dibuang jauh-jauh. Anak adalah manusia unik yang mesti menjadi pusat perhatian.
  • Pendidikan berperan sebagai proses rekonstruksi atau pembaharuan social. Pendidikan tak hanya sebagai proses melestarikan nilai-nilai sosial yang sudah langgeng, tapi secara lebih jauh pendidikan juga berfungsi sebagai alat pembaruan social. John Deway, salah satu tokoh pendidikan progresif, memandang pendidikan mempunyai peran sentral untuk terciptanya masyarakat yang demokratis.
  • Eksprimentalisme dalam pendidikan. Kaum progresif memandang bahwa anak-anak harus diajari untuk selalu melakukan eksprimen. Karena dengan itu anak-anak anak diajak untuk berpikir kritis, kreatif, serta mengambil kesimpulan berdasarkan pembuktian.

Aliran Konstruktivisme

Belajar bukan hanya membaca, mendengar dan menulis. Belajar adalah proses konstruksi pengetahuan lewat interaksi dengan realitas social pengetahuan bukan barang jadi yang siap dikonsumsi oleh siswa, tapi pengetahuan adalah proses yang diproduksi lewat pengalaman siswa berinteraksi dengan realitas social dan lingkungan. Pengetahuan itu tak bisa ditransfer begitu saja tanpa melibatkan pengalaman langsung siswa. Konstruktivisme sangat menekkankan pada keterlibatan siswa secara aktif untuk memproduksi pengetahuan.

Aliran Humanisme

Aliran ini lebih pada aspek keunikan tiap-tiap individu. Tiap individu yang satu dengan yang lain itu mempunyai potensi yang unik. Guru dalam pandangan pendidikan humanistic diposisikan sebagai fasilitator bagi peserta didiknya. Posisi guru dalam proses pembelajaran tidak lagi sebagai orang yang tahu segalanya tanpa melihat keseragaman potensi dan bakat yang sebenarnya dimiliki oleh peserta didik. Manusia adalah satu kesatuan utuh yang punya potensi besar untuk dapat dikembangkan menjadi lebih baik. Tak ada manusia yang bodoh. Semuanya mempunyai kekurangan dan kelebihan yang apabila dikembangkan akan tampak lebih baik.

Selain landasan filosofis, Model ini juga mempunyai landasan psikologis. Landasan psikologis dalam Model ini berpijak pada psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Guru mesti memahami teori psikologi perkembangan anak agar mampu menyelaraskan materi yang akan disampaikan dengan tingkat perkembangan mental anak secara integrative. Bagi guru kadang sebuah materi itu dianggap mudah tapi bagi siswa justru sangat sulit. Ini bisa terjadi karena guru memakai standar ukuran dirinya untuk melihat kemampuan siswa. Guru yang seperti itu adalah guru yang tidak memahami psikologi perkembangan anak.

Psikologi belajar berperan untuk memberikan kemudahan bagi guru bagaimana cara menyampaikan isi materi dengan baik pada siswa dan juga member rute bagaimana sesungguhnya siswa belajar sesuai dengan gayanya. Semua anak itu mempunyai cara belajar tersendiri. Apabila anak tidak menemukan gaya belajarnya, maka proses penyerapan, pemahaman dan internalisasi pengetahuan akan berlangsung lebih lama. Dengan psikologi belajar guru mudah untuk menyampaikan isi materi serta dapat membantu siswa untuk menemukan gaya belajarnya.

Landasan Yuridis dalam Model pembelajaran tematik adalah undang-undang No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasan sesuai dengan bakat dan minatnya (pasal 9). UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik dalam satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat dan minat dan kemampuannya.

Rambu-Rambu dan Implikasi Pembelajaran Tematik

Ada beberapa ramu-rambu dasar yang mesti dipahami dalam pemelajaran tematik. Inilah beberapa rambu-rambu pemelajaran tematik.

  • Tidak semua mata pelajaran itu bisa dipadukan.
  • Bisa terjadi penggabungan kompetensi dalam satu semester.
  • Kompetensi dasar yang tidak bisa dipadukan, maka jangan paksa untuk dipadukan karena itu akan mengakibatkan kerancuan. Lebih baik dipindahkan dan dipelajari secara mandiri.
  • Kemampuan belajar pada anak lebih ditekankan pada kemampuan untuk membaca, menulis, berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
  • Tema yang dipilih harus disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat dan lingkungan serta daerah setempat.

Apabila Model tematik ini diimplementasikan di sekolah, maka aka nada beberapa implikasi, baik bagi guru, sarana dan prasarana serta pengaturan ruangan.

  • Guru akan dituntut untuk lebih kreatif dalam menyiapkan materi pelajaran, memilih kompetensi dari pelbagai pelajaran serta mengemas dan menyuguhkan mata pelajaran menjadi menarik, menyenangkan dan membuat siswa gembira.
  • Siswa mesti mengikuti proses pembelajaran yang bisa memungkinkan bekerja secara individu, kelompok atau bahkan cara-cara klasik. Semua itu tergantung pada sejauh mana kemampuan guru untuk mencari pilihan yang terbaik bagi siswa dalam mencari metode pembelajaran. Yang terpenting siswa bisa mengikuti pembelajaran secara variatif.
  • Pembelajaran tematik memerlukan sarana dan prasarana yang lebih kompleks. Pembelajaran ini kadang memerlukan desain khusus maupun sumber belajar yang ada di lingkungan yang siap dimanfaatkan secara praktis. Pembelajaran ini memerlukan media pembelajaran yang bervariasi untuk memudahkan siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.
  • Pembelajaran tematik juga membutuhkan pengaturan ruangan. Pengaturan ruangan itu meliputi, penyesuian pengaturan ruangan dengan tema yang akan disajikan, pengaturan bangku peserta didik yang sesua dengan tema, kegiatan tak ellu di dalam ruangan, tapi juga bisa dilakukan diluar ruangan.

Tahapan Persiapan Pelaksanaan

Sebelum melakukan proses pembelajaran tematik, ada beberapa tahapan persiapan pelaksanaan yang mesti diperhatikan oleh guru. Tahapan persiapan pelaksanaan itu meliputi, pemetaan kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus serta penyusunan pelaksanaan pembelajaran. Berikut inilah akan dijelaskan secara lebih rinci.

  • Pemetaan kompetensi dasar. Pemetaan ini bertujuan agar dapat memperoleh gambaran yang menyeluruh semua standar kompetensi, termasuk kompetensi dasar serta indicator dari pelbagai mata pelajaran yang telah dipadukan sesuai dengan tema yang dipilih. Untuk itulah ada beberapa kegiatan yang mesti dilakukan.
  • Penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indicator. Dalam melakukan penjabaran ini ada beberapa hal yang mesti diperhatikan:
  • Indikator mesti dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
  • Indikator mesti dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
  • Dirumuskan dalam kerja operasional yang terukur dan bisa diamati.
  • Menentukan Tema. Untuk menentukan tema, ada dua cara. Cara pertama adalah mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang termuat dalam masing-masing mata pelajaran. Dan cara yang terakhir adalah menetapkan terlebih dahulu tema-tema tematik. Untuk menentukan tema guru bisa bekerja sama dengan siswa.
  • Prinsip penentuan tema. Dalam menentukan tema ada beberapa prinsip yang mesti diperhatikan; mengambil dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang kongkrit menuju yang abstark dan yang terpenting tema yang dipilih juga disesuaikan dengan minat, bakat dan kemampuan siswa.
  • Menetapkan Jaringan Tema. Agar dalam proses pembelajaran lebih sistematis dan terpadu, maka buatlah jaringan tema yang bisa menghubungkan kompetensi dasar dengan indicator. Dengan jaringan tema itu akan terlihat saling kaitan antar tema, kompetensi dasar dan indicator. Jaringan pengetahuan seperti inilah yang akan membuat siswa mudah untuk memahami dan mendalami.
  • Penyusunan silabus. Beberapa tahapan yang telah disebutkan sebelumnya bisa menjadi dasar untuk menyusun silabus. Komponen silabus yang terdiri dari standart kompetensi, kompetensi dasar, indicator, pengalaman belajar dan sumber serta penilaian bisa disusun berdasarkan tahapan-tahapan tersebut.
  • Penyusunan rancangan pembelajaran (RPP). RPP disusun untuk keperluan guru dalam melakukan proses belajar mengajar. RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam Silabus. Ada beberapa komponen rencana pembelajaran tematik, yakni.
  • Identitas sebuah mata pelajaran. Identitas ini bisa meliputi nama mata pelajaran yang akan dipadukan, semester, kelas, dan banyaknya jam pertemuan yang akan dialokasikan.
  • Standard kompetensi
  • Kompetensi dasar
  • Indikator pencapaian kompetensi
  • Tujuan pembelajaran
  • Materi ajar serta beberapa uraian yang perlu untuk dipelajari siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indicator
  • Alokasi waktu
  • Metode pembelajaran yang harus dipakai untuk menyampaikan materi dalam rangka mencapai kompetensi dasar dan indicator. kegiatan ini berlangsung mulai dari pendahuluan, isi dan penutup.
  • Melakukan penilaian dan tindak lanjut. Prosedur penilain yang akan dipakai dan instrument apa saja jug aperlu diperhatikan.
  • Sumber belajar, alat serta fasilitas yang digunakan untuk mencapai kompetensi dasar dan sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesua dengan kompetesi dasar yang mesti dikuasai.

Tahap Pelaksanaan

Dalam pembelajaran tematik terkandung pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Berikut inilah akan dijelaskan beberapa langkah tahap pelaksanaan dalam pembelajaran tematik;

  • Kegiatan pembukaan atau pendahuluan. Guru melakukan kegiatan pembukaan ini untuk menciptakan suasana awal pembelajaran serta memberi informasi awal pada siswa ihwal materi pelajaran yang akan dipelajari. Kegiatan awal ini bisa pula dikatakan sebagai penghangat untuk memasuki pada kegiatan inti. Dalam melakukan pembukaan guru bisa melakukan pelbagai yang mampu membangkitkan gairah anak untuk belajar dan mempunyai konsentrasi yang tinggi. Ini bisa melalui permainan, menyanyi atau kegiatan inti lainnya.
  • Kegiatan inti. Guru menggabungkan kemampuan anak dalam membaca, menulis dan berhitung. Bahan pelajaran dalam hal ini bisa dilakukan dengan pelbagai macam Model agar siswa tidak bosan. Guru bisa melakukan dengan cara klasikal, individual, dan bisa pula dengan cara kelompok.
  • Kegiatan penutup. Dalam kegiatan penutup guru menyimpulkan beberapa materi yang telah diperbincangkan oleh guru atau pun siswa. Guru memberi inti materi yang telah dipelajari oleh siswa. Guru juga bisa memberikan pesan moral pada siswa. Kalau guru melihat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran, maka guru menyampaikan pada sesi ini. Berilah kritik dan masukan sama siswa dengan nada yang ramah, santun dan tidak menyinggung siswa.

Inilah contoh jadwal pembelajaran tematik dalam bentuk tabel

Kegiatan Jenis kegiatan
Kegiatan pembukaan Ketika berkumpul, maka anak diusahakan untuk diajak bercerita tentang pengalaman, menyanyi, serta melakukan kegiatan fisik lainnya yang sesuai dengan tema.
Kegiatan inti Pengembangan kemampuan menulis melalui kegiatan kelompok besar

Pengembangan kemampuan berhitung melalui kelompok kecil atau bisa pula lewat perorangan

Melatih kemampuan pengamatan dan menggambarkannya. Suruhlah anak didik untuk mengamati sesuatu dan menggambarkannya.

Kegiatan Penutup Mendongeng

Pesan-pesan moral

Bernyanyi atau bisa pula lewat musik

 

Penilaian Pembelajaran Tematik

Penilaian pada pembelajaran tematik dilakukan untuk mengetahui lebih jauh apakah pembelajaran yang telah dilakukan telah memenuhi standar kompetensi dasar dan indicator yang terdapat dalam tiap-tiap mata pelajaran. Proses penilaian tak terpaku pada tema, tapi berjalan secara terpisah sesuai dengan kompetensi dasar, hasil belajar serta indicator mata pelajaran.

Alat penilaian bisa berupa tes atau non test. Test bisa meliputi test tertulis, test lisan, test perbuatan, test dengan melihat catatan harian perkembangan siswa atau bisa pula dengan hanya berpatokan pada portofolio. Dan test tertulis digunakan untuk menilai kemampuan menulis siswa, lebih-lebih dalam persoalan tanda baca dan angka-angka. Inilah salah satu contoh penilaian yang dapat dilakukan oleh guru.

 

Materi Pelajaran Jenis Test
Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial Test lisan: menyebutkan peristiwa dan kegiatan yang dialami.

Mengemukakan peristiwa dan kegiatan yang berkesan.

Mampu mengekspresikan perasaan waktu yang bisa berkesan.

Bahasa Indonesia Test perbuatan: kelancaran dalam membaca, melafalkan kata, melagukan sebuah intonasi, serta kemampuan dalam menggunakan kalimat.
Ilmu Pengetahuan Alam Test perbuatan: mampu mendemonstrasikan cara menggosok gigi dengan benar.

Test lisan: mampu menyebutkan pelbagai cara memelihara gigi dan menjelaskan manfaat dalam menggosok gigi.

 

Itulah Model pembelajaran tematik. Model ini menjadikan aktivitas pembelajaran sebagai sesuatu yang menyenangkan. Siswa menjadi pusat dari segalanya sehingga setiap sesuatu yang ingin disuguhkan mesti memahami betul kondisi psikologi siswa. Sisi kelemahan dari Model ini tentu dalam aspek jangkauan hanya lebih pantas untuk anak sekolah dasar. Di samping menjadi kelemahan pada sisi yang lain ini juga menjadi kelebihan karena justru Model untuk sekolah dasar itulah yang saat ini dibutuhkan.

Tentu Model ini mampu diterima dengan baik oleh siswa. Rencana utama dalam menentukan tema adalah untuk mengembangkan segenap kemampuan siswa sesuai dengan bakat dan minat. Siswa merdeka untuk memilih tema yang akan menjadi pokok bahasan dalam proses pembelajaran. Siswa merdeka dalam mengekspresikan kemampuannya dengan dibukanya ruang untuk bernyanyi, mendengar music dan aktivitas menyenangkan lainnya.

Daftar Bacaan

Agus Suprijono, Cooperative learning: teori & aplikasi Paikem, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)
Dr. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008)
Hamruni, Strategi dan Model-model Pembelajaran yang Menyenangkan, (Yogakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here