Nabi Muhammad Kaya dengan Berdagang, Tapi Hidup Sederhana

0
430

Didaksi.com-Nabi Muhammad kaya atau miskin selalu menjadi pertanyaan yang mengemuka. Nabi Muhammad adalah sosok yang unik dalam parkara kekayaan. Ada saat dimana beliau menjadi orang yang miskin dan ada pula dimana beliau menjadi sosok yang kaya. Pada saat tertentu beliau berada di posisi keduanya. Tapi dari semua itu beliau tetap memberi teladan bagi kita semua. Ketika Nabi Muhammad menjadi orang kaya, sebenarnya ia ingin memberi agar orang-orang kaya di antara umatnya dapat mencontoh bagaimana Nabi Muhammad berinteraksi dengan harta, seperti bagaimana cara memperoleh harta yang baik, mensyukuri kekayaan dan membelanjakannya di jalan yang benar. Dan Nabi Muhammad pernah menjadi orang miskin agar dapat menjadi contoh yang baik bagi orang-orang yang kekurangan, seperti bagaimana cara bersabar dan menjaga kehormatan dalam kemiskinan serta bagaimana keluar dari jeratan kemiskinan dengan cara yang baik pula.

.

Salah satu bukti bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang kaya bisa dilihat dari pelbagai transaksi perdagangan dan harta yang beliau miliki, baik sebelum dan sesudah kenabian. Nabi Muhammad kerapkali melakukan transaksi dagang; baik untuk penjualan dan pembelian dalam jumlah yang tak sedikit. Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad banyak melakukan transaksi pembelian ketika beliau sudah masa kenabian dan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Dan Nabi Muhammad banyak melakukan transaksi penjualan sebelum beliau hijrah ke Madinah.

Tentang traksaksi penjualan disebutkan oleh Anas yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum sambil mengatakan, “Siapa yang ingin membeli kain pelana dan Bejana Air minum?” Seorang laki-laki menawarnya seharga satu dirham, dan nabi menyanykan apakah ada orang yang ingin membayar lebih mahal. Seorang laki-laki menawar kepadanya seharga dua dirham, dan ia pun menjual barang terseut kepadanya (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dalam riwayat yang lain juag disebutkan, dari Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan, “Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan dengannya, maka aku menjanjikan untuk mengantarkan kepadanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pergi ketempat tersebut dan menemukan nabi masih beada di sana. “Nabi berkata, “Engkau telah membuatku resah, aku berada disini selama tiga hari menunggumu” (HR. Abu Daud)

Dan Nabi Muhammad juga melakukan banyak transaksi pembelian sebelum masa kenabian. Jabir berkata, “Saya sedang melakukan perjalanan dengan menunggang seekor unta yang sudah kelelahan, tetap ketika nabi lewat dan memukulnya, unta itu berjalan lagi. Ini belum pernah ia lakukan sebelumnya. Nabi lalu berkata, ‘Jualah unta itu kepadaku seharga satu uqiyah (40 dirham)’ saya setuju, tapi dengn syarat saya boleh mengendarainya sampai rumah. Ketika sampai di Madinah, saya serahkan unta tersebut dan saya membayar kontan.” (HR Bukahri dan Muslim)

Dalam hadits yang lain juga disebutkan ihwal proses transaksi pembelian Nabi Muhammad. Urwah ibn Abu al-Ja’d al-Bariqi mengatakan, Nbai telah memberikan kepadanya satu dinar untuk membeli seekor biri-biri. Ia pun membeli dua ekor biri-biri untuk Nabi, dan menjual satu di antaranya seharga satu dinar. Maka nabi pun mohon berkah atas transaksi dagang ini dan membawakan untuknya seekor biri-biri dan uang satu dinar, dan berkata bahwa ia memiliki bakat sedemikian rupa sehingga jika membeli butir sedepu pun, ia akan mendapatkan untung” (HR Bhukari)

Dalam hadits tersebut secara tak langsung Nabi Muhammad adalah sosok orang yang kaya. Beliau melakukan banyak proses transaksi dagang dengan jumlah yang tak sedikit. Meski tidak catatan akurat tentang jumlah persis kekayaan Nabi Muhammad saw sepanjang hayatnya, tapi ada beberapa catatan yang menunjukkan Nabi Muhammad adalah orang berpunya dan memiliki harta banyak, namun beliau selalu mendahulukan kepentingan umat melebihi kepentingan dirinya sendiri dalam bentuk infak, sedekah dan membantu fakir miskin. konon dalam sebuah cerita,  nabi, Syu’aibi mencatat, Nabi Muhammad membagikan al-kutaibah (pemberian rutin) kepada kerabat dan istri-istri beliau. Kepada Fatimah 200 wasaq, Ali bin Abi Thalib 100 wasaq, Usamah bin Zaid 250 wasaq, Aisyah 200 wasaq, Ja’far bin Abi Thalib 50 wasaq, Rabiah bin Harits bin Abdil Mutthalib 100 wasaq, Abu Bakar 100 wasaq, Aqil bin Abi Thalib 140 wasaq, Bani Ja’far 140 wasaq, untuk sekelompok orang dan istri-istrinya 700 wasaq. Lainnya untuk Bani Mutthalib yang sebagian masih di Mekkah (Syu’aibi, 2004). Selain itu, seusai perang Khaibar, nabi memperoleh sekitar 100 perisai, 400 pedang, 1000 busur dan 500 tombak.

Memang tak ada catatan secara khusus ihwal kekayaan Rasulullah, tapi ini bisa dilihat dari maskawin yang diberkan pada Khadijah sebanyak 20 ekor unta dan 12 uqiyah (ons) emas. Kalau di uangkan ini cukup banyak pada saat itu atau pun sekarang. Kekayaan nabi terus bertambah ketika terus dikembangkan dengan harta Khadijah lewat perdagangan bersama.

Rasulullah adalah sosok yang menganggap penting berusaha atau berbisnis sesua dengan ketentuan yang telah di tetapkan, tapi beliau juga tak terlena dengan banyaknya harta yang dimiliki. Kekayaan yang didapat bukan semata-mata untuk diriya, tapi semunya banyak dialokasikan untuk kepentingan dakwah, meantuni, faqir miskin dan kepentingan-kepentingan umum lainnya.

Diceritakan oleh Ibnu Hisyam bahwa Muhammad saw pernah membagikan lebih dari 1500 ekor unta kepada beberapa orang Quraisy sesudah perang Hunain. Kemudian, beliaupun pernah memiliki tanah Fadak. Fadak adalah sebuah daerah pemerintahan otonomi Yahudi di Hijaz. Penduduknya mayoritas Yahudi. Tanah Fadak diserahkan oleh kaum Yahudi kepada rasul tanpa melalui pertempuran.

 

Kalau setiap manusia yang ada dimuka bumi ini ingin menjadi orang yang berkecukupan secara materi, maka contohlah Nabi Muhammad baik dalam berdagang atau pun dalam menggunakan harta ketika sudah kaya. Nabi Muhammad telah mencontohkan menjadi orang yang kaya lewat jalur perdagangan.

Menjadi kaya bukan berarti sebuah tujuan, tapi itu sebagai mediasi untuk membantu mereka yang lemah, bersedakah dan kebutuhan-kebutuhan sosial lainnya. Islam secara normatif memamg menyeru ummatnya untuk selalu bersikap zuhud, alias meninggalkan kenikmatan duniawi. Menjadi zuhud bukan berarti orang muslim harus miskin, tapi zuhud dalam pengertian yang lebih esesnsial adalah tidak menjadiklan hal-hal yang bersifat duniawi masuk ke dalam hati, tapi itu hanya berhenti dalam genggaman tangan.

Orang zuhud tetap saja boleh mempunyai banyak harta untuk menghidupi diri dan keluarga. Islam menyeru untuk bersikap zuhud layaknya Nabi Muhammad yang kaya tapi tak menjadikan kekayaannya sebagai tipu daya untuk mengabdikan diri pada Allah Swt. Nabi Muhammad adalah teladan yang kompleks, beliau orang kaya. Dengan jalur perdagangan atau bisnis. Beliau gigih bekerja hingga mampu menjadi orang kaya karena menganggap harta itu bermamfaat.

Suatu ketika Nabi Muhammad memanggil sahabatnya yang bernama ‘Amar bin Ash. Beliau bermaksud menyuruhnya memakai baju besi dan membawa senjata. Ketika ‘Amar sudah datang, Nabi Muhammad menatapnya dan berkata, “Aku mengutusmu pergi berekspedisi dimana kau mampu membawa banyak harta rampasan, dan kau akan kembali dengan selamat, ku harap kau kembali membawa banak harta (harta rampasan perang).”

‘Amar menjawab, “Wahai Nabi Muhammad! Aku memeluk islam bukan untuk memperkaya diri, melainkan karena semangat mulia islam.”

Nabi Muhammad menjawab, “ O ‘Amar ! Sungguh terpuji, harta yang suci itu bagi orang-orang yang shaleh!

Hadits tersebut mengajarkan pada kita bahwa uang atau harta itu bukan parkara yang tak penting. Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad sudah jelas-jelas menyuruh ‘Amar untuk membawa pulang harta dengan banyak untuk kepentingan penegakan agama islam. Jadi orang yag encari harta itu bukan semata-mata materialistis, tapi itu adalah salah satu sarana untuk mendekatkan diri pada Allah. harta bukanlah sesuatu yang berbahaya, tapi itu akan menjadi barang berharga di tangan seorang yang beriman.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad juga pernah bersabda, “Tidak ada madarat (kerusakan atau bahaya) dalam harta bagi mereka yang bertakwa.” Justru di tangan orang yang bertakwa inilah harta akan mempunyai banyak fungsi. Secara umum inilah beberapa mamfaat orang yang memiliki harta banyak.

  • Memenuhi Perintah agama. Allah Swt menyeru setiap manusia untuk selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja apabila itu bermamfaat. Bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang bermamfaat sangat dianjurkan dalam islam. Orang yang tak bekerja keras alias hanya santai-santai dan bermales-malesan dalam hidupnya justru itu tak baik dalam pandangn islam. Agama islam selalu menyeru seserorang untuk bekerja keras mengais rezeki. Allah berfirman, “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al-Jumu’ah: 10)  

Dari ayat tersebut sudah nampak jelas bahwa bekerja keras dalam islam itu menjadi kewajiban. Nabi Muhammad dan para sahabat tempo dulu telah memberi kita teladan. Nabi Muhammad adalah sosok pedagang yang bekerja keras ehingga beliau mampu menjadi seorang pedagang yang handal. Tak terkecuali mereka para sahabat. Mereka banyak bekerja keras demi mencukupi kehidupannya. Mereka tak ingin menjadi beban bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya. Hidup mandiri dari hasil kerja keringat sendiri lebuh utama bagi mereka. Yang terpenting untuk dicatat bagi kita bersama, Nabi Muhammad dan mereka para sahabat bekerja keras tanpa bersikap lalai terhadap ibadah.

  • Menghindari Sifat Meminta-minta. Sikap meminta-minta tentu sangat dilarang dalam islam. Dan orang yang meminta-minta biasanya adalah mereka yang tak ingin bekerja keras memeras keringat. Meminta dalam alasan apapun secara tak langsung telah menjatuhkan harkat dan martabat diri serseorang. Sifat meminta-minta ini sungguh sangat tercela dan rendah dalam pandangan orang lain. Islam sangat melarang sifat ini. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Seorang yang bekerja keraspagi sampai sore akibat mencari nafkah akan lebih disukai Allah dari peminta-minta yang kadang diberi dan kadang tidak.” (HR Bukhari). Agar terhindar dari sikap meminta-minta, maka orang islam dituntu untuk rajin bekerja bagi diri , keluarga dan kalau lebih tentyu untuk keperluan orang lain juga.
  • Inspirasi bagi orang lain. Orang yang sukses dalam bidang tertentu, layaknya bisnis tentu akan memberikan inspirasi bagi orang lain, lebih-lebih mereka yang dalam situasi dan kondisi serba terbatas secara ekonomi. Di samping menjadi inspirasi, banyak pula orang yang sukses langsung berbagi dan membantu mereka untuk juga sukses, seperti memberikan pinjeman modal untuk membuka usaha. Jadi orang yang sukses bisa berbagi pada orang lain, baik dalam bentuk harta, gagasan dan tindaklan demi kebaikan bersama. Untuk itulah betapa berartinya orang kaya yang seperti ini bagi orang lain, terutama di tengah penyakit kemiskinan yang kian melanda.
  • Mengurangi beban negara. Mengabdi pada negara tentu tak harus jadi politisi. Menjadi seorang pebisnis dan pedagang yang handal dan sukses sercara tak langsung juga bentuk pengabdian terhadap negara. Kita secara tak langsung telah membantu roda perekonomian. Bagimana kita tak dikatakan membantu kalau dari sekian banyak perusahaan yang dimiliki menampung ratusan atau bahkan ribuan kariawan. Andai saja tak ada perusahaan, mereka akan menjadi kaum pengangguran. Tapi dengan hasil kerja keras kita dalam berdagang dan mampu menjadi pengusaha yang sukses, maka begitu banyak pula orang yang telah terselamatkan dari identuitas pengagguran.

Itulah beberapa keutamaan bagi orang islam yang kaya raya. Tak selamanya kaya itu akan membuat orang lupa diri. Semua tergantung pada tiap-tiap orang yang menjalaninya. Banyak orang yang miskin tapi hidupnya justru bukan kian ingat terhadap Allah. Banyak mereka yang terpaksa mencuri. Dan banyak pula orang kaya yang banyak harta yang kian hari kian bertambah imananya. Mereka menjadikan harta kekayaan sebagai alat untuk mengahmab diri pasa Allah. Sungguh telah menjadi teladan yang baik dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah sosok yang kaya raya dengan perdagangan tapi semua kekayaan itu semata-mata dijadikan sarana untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here