Nabi Muhammad Pedagang yang Tekun

0
234

Didaksi.com-Kalau kita amati secara teliti, Rasulullah adalah sosok pekerja keras yang melanglang buana ke pelbagai wilayah. Ini menandakan bahwa bekerja dalam Islam itu merupakan sebuah keharusan. Bekerja dengan tekun menjadi karakter dan sifat dari seorang muslim sejati. Tentu kalau bekerja hanya mengejar keuntungan finansial tanpa ada nilai keutamaan yang berbentuk pengabdian pada Allah, Rasulullah tidak akan menggeluti dunia kerja dengan amat sangat serius. Tapi kerja keras sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah

.

Imam Ar-Raghib al-ishfani pernah berkata, “siapa saja yang tidak mau berusaha dan bekerja, maka nilai kemanusiaannya telah rusak bahkan nilai kebinatangannya dan menjadi orang yang telah mati.” Pernyataan tersebut ingin menegaskan bahwa bekerja itu adalah bagian dari jati diri manusia sebagai makhluk yang hidup di muka bumi ini. Manusia butuh makan, minum, dan kebutuhan-kebutuhan materril lainnya. Agar kebutuhan itu terpenuhi salah satu jalannya adalah dengan bekerja.

Allah Berfirman, “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, (QS An Naba’: 10)

Dalam ayat tersebut secara tak langsung Allah telah memerintahkan manusia untuk mencari rezeki di siang hari dan beristirahat di malam hari. Ayat tersebut menandaskan bahwa hidup ini butuh keseimbangan dan keselarasan. Salah satu alat untuk mencapai keselarasan dalam hidup ini adalah dengan bekerja. Dan sebaliknya, orang yang hidupnya tak bekerja hidupnya tak akan selaras dan ini menjadi salah satu dari karakter dan sifat dari setan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, dari Abu Ustman, ia berkata, “suatu ketikaNabi Isa as. Melakukan shalat di depan pegunungan. Lalu iblis mendatanginya dan berkata, ‘Bukankah engkau yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi karena qadha dan qhadarnya-Nya?’ Ia menjawab, ‘ya’. Iblis berkata, ‘kemparkanlah dirimu dari atas gunung dan katakanlah, Allah telah menakdirkan dirimu kepadaku’. Isa berkata’. Wahai makhluk laknat, Allah (lah) yang memberio cobaan pada hambanya, bukan hambanya yang menguji Allah’.”

Hadits tersebut terdapat kerancuan yang iblis bisikkan pada manusia agar menerima takdir begitu saja tanpa berusaha dan bekerja. Iblis selalu mengajak manusia agar tak usah berusaha. Manusia oleh iblis diajak untuk menunggu begitu saja. Jadi kalau ada manusia yang hanay menunggu tanpa berusaha dan bekerja keras, maka itu tak lain adalah sifat dari iblis. Kita akui semua rezeki ini adalah dari Allah dan sudah Allah tentukan, tapi itu tak turun begitu saja tanpa usaha dan kerja dari orang yang bersangkutan. Untuk itulah Allah menempatkan orang yang bekerja dan berusaha layaknya sebagai pejuang.

Dalam sebuah hadist disebutkan, “Pedagang yang amanah dan benar akan bersama para syuhada di hari kiamat nanti.”  (HR Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Hadits tersebut telah menempatkan bahwa seorang pedagang secara khusus   atau mereka yang rajin bekerja dengan ketentuan-ketentua Syariat islam kedudukannya sama dengan syuhada. Sungguh tinggi nilai bekerja dalam islam sampai-sampai Allah di suatu hari nanti akan menempatkan posisinya sejajar dengan para syuhada. Dan kita ketahui bersama bagaimana posisi syuhada di hadapan Allah Swt.

Atas dasar itu maka tak heran apabila Rasulullah dengan sangat tekun menjadi pekerja yang gigih, tangguh serta komitmen terhadap kejujuran. Beliau adalah sosok yang tidak suka tergantung pada orang  lain dan bahkan keluarganya sendiri. Kekayaan yang didapat tak melulu untuk kepentingan diri, tapi bagi keluarga dan kepentingan untuk membantu orang lain. Harta yang didapat rasulullah adalah jalan untuk mengabdi pada Allah Swt.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here