Panduan Melaksanakan Evaluasi Pembelajaran

Artikel

Didaksi.com−Kualitas evaluasi pembelajaran ada di tangan evaluator; bisa guru yang melaksanakan proses pembelajaran dalam bidang studi atau kelompok guru yang dibentuk dalam rangka melakukan evaluasi. Evaluator, dalam hal ini guru, mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap proses lancarnya evaluasi. Guru dalam melaksanakan evaluasi dituntut untuk melakukan prosedur pelaksanaan evaluasi. Prosedur pelaksanaan evaluasi perlu dimiliki oleh tiap-tiap guru agar evaluasi dapat berjalan dengan maksimal. Ada beberapa tahapan-tahapan yang mesti dikuasai oleh guru dalam melakukan evaluasi.

Baca juga Makna Evaluasi Kegiatan Belajar Mengajar

Perencanaan Evaluasi

Perencanaan adalah konsep dasar setiap ingin melakukan kegiatan, termasuk evaluasi pembelajaran.  Melakukan sesuatu tanpa perencanaan sama halnya dengan orang buta berjalan tanpa tongkat. Dia bisa nyasar dan bisa pula tepat sasaran. Orang yang melakukan sesuatu tanpa perencanaan lebih banyak gagal. Maka guru dalam melakukan proses evaluasi pertama sekali yang mesti dilakukan adalah melakukan perencanaan. Evaluasi dengan perencanaan yang matang akan menghasilkan hasil yang berbeda dengan proses evaluasi yang tanpa perencanaan.

Dalam melakukan perencanaan evaluasi pembelajaran ada beberapa perkara yang patut diperhatikan secara serius oleh guru.

  1. Menentukan tujuan penilaian.

Sebelum melakukan evaluasi pembelajaran, maka guru harus memperjelas terlebih dahulu tujuan penilaian. Tujuan penilaian mesti ditentukan sejak awal. Tujuan penilaian menjadi fondasi utama untuk menentukan ruang lingkup materi, jenis dan karakter penilaian. Guru jangan sampai menentukan tujuan penilaian secara umum karena itu ruang lingkupnya bisa lebih luas sehingga pada gilirannya akan kurang focus. Guru mesti menentukan tujuan penilaian dalam kerangka yang sederhana; apakah penilaian itu berguna untuk proses pembelajaran (formatif) atau dalam rangka menentukan keberhasilan peserta didik dalam menyerap materi (sumatif), dan bisa pula dalam rangka mengidentifikasi kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran (diagnostik). Itulah beberapa ragam tujuan penilaian. Guru dalam melakukan penilaian harus mempunyai tujuan yang jelas.

Kalau tujuan penilaian tidak ditetapkan dari awal, maka guru bisa mengalami kegagalan dalam proses penilaian. Tanpa sebuah tujuan yang jelas penilaian biasanya hanya akan berjalan sebatas formalitas yang kurang bernilai dan bermakna. Maka persoalan yang paling mendasar untuk pertama kali diperhatikan bagi guru adalah menentukan tujuan penilaian. Pilihlah salah satu tujuan penilaian sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kalau tujuannya luas, ingin mencakup semua tujuan penilain, maka butuh format strategi dan cara yang luas pula. Tujuan penilaian dalam hal ini menjadi fondasi utama untuk menentukan langkah-langkah evaluasi.

  1. Mengidentifikasi kompetensi.

Ketika guru ingin melakukan perencanaan penilaian hasil belajar, maka aspek kompetensi menjadi perkara yang tidak terpisahkan. Kompetensi yang meliputi kapasitas pengetahuan, keterampilan dan sikap menjadi aspek penting yang tidak boleh dilupakan untuk diidentifikasi. Dalam tiap perbuahan kurikulum tentu ada cakupan kompetensi. Guru mesti melihat aspek kompetensi yang telah diterapkan dalam kurikulum itu. Dalam menentukan perencanaan, guru bisa mengidentifikasi bagian kompetensi bagian apa yang ingin dinilai.

  1. Menyusun kisi-kisi soal

Kisi-kisi merupakan format pemetaan soal yang menggambarkan ihwal distribusi item untuk beberapa macam topic atau pokok bahasan berdasarkan jenis kemampuan. Kisi-kisi menjadi penting agar penilaian benar-benar representative dengan apa yang telah diajarkan oleh guru di kelas. Kalau guru sebelumnya tidak biasa membuat kisi-kisi, maka bisa saja proses penilaian itu akan berlangsung kurang baik. Kisi-kisi bisa dikatakan sebagai pedoman awal bagi guru untuk membuat soal.

Poin penting yang mesti diketahui oleh guru, kisi-kisi soal itu dibuat atau disusun berdasarkan silabus dalam tiap mata pelajaran. Sebelum guru membuat soal, maka guru mesti menganalisis silabus terlebih dahulu. Tidak sedikit guru yang salah kaprah, membuat soal langsung berdasarkan buku sumber. Cara ini kurang tepat karena buku sumber belum tentu sesuai dengan apa yang ada di silabus. Maka langkah pertama yang mesti dilakukan oleh guru dalam menyusun kisi-kisi soal ini; analisis silabus, menyusun kisi-kisi, membuat soal, menyusun lembar jawaban, membuat kunci jawaban, menyusun pedoman penskoran.

Kisi-kisi soal itu paling tidak harus memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, kisi-kisi soal harus representative. Kisi-kisi soal harus mewakili kurikulum sebagai suatu sampel dari apa yang akan dinilai oleh guru. Kalau ada kisi-kisi soal yang tidak merepresentasikan dari kurikulum yang ada, maka itu telah menyalahi kaidah umum dalam melakukan penilaian.

Kedua, komponennya harus terurai dengan jelas serta mudah untuk dipahami. Komponen soal itu tergantung pada bentuk penilaian guru; apakah guru ingin melakukan dengan komponen metrik atau komponen identitas, yang akan dijelaskan selanjutnya.

Soal yang baik itu menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Meski guru membuat soal yang mudah, tapi disampaikan dengan bahasa yang kurang jelas atau bahkan tidak efektif, maka itu bisa ditangkap sebagai sebuah soal yang sulit oleh peserta didik. Penguraian yang jelas setiap komponen soal menjadi hal yang harus diperhatikan oleh guru.

Ketiga, soal itu dibuat sesuai dengan indicator. Membuat soal harus benar-benar memperhatikan indicator. Kalau ada soal yang jauh dari indicator maka itu telah menyalahi kaidah pembuatan soal secara baik. Guru mesti mengembangkan soal itu dengan mengacu pada indicator.

Dalam kisi-kisi terdapat dua komponen utama, yaitu komponen identitas dan komponen metrik. Komponen identitas biasanya ditulis di bagian atas metrik, sedangkan komponen metrik dibuat dalam bentuk kolom yang sesuai dengan tujuan penilaian.

Komponen identitas mencakup aspek :

  • Jenis sekolah atau jenjang sekolah
  • Mata pelajaran
  • Kurikulum yang diacu
  • Tingkat kelas
  • Alokasi waktu
  • Jumlah soal

Komponen metrik paling tidak mencakup hal-hal :

  • Kompetensi Dasar
  • Materi
  • Jumlah Soal
  • Jenjang Kemampuan
  • Indikator
  • Nomor Urut Soal

Dari beberapa komponen tersebut, patut mendapat perhatian lebih adalah kompetensi materi, uraian materi dan indicator. Komponen kompetensi materi merupakan bagian yang mesti penjelasan lebih rinci. Komponen itu berkaitan dengan proses pemilihan materi yang akan diujikan. Kita semua tahu, dalam satu tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan, dapat diujikan dalam waktu singkat. Atas dasar itu, perlu dipilih materi yang penting‑penting saja. dalam memilih materi ini ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan.

  • pokok bahasan atau materi yang secara teoretis mutlak harus dikuasai oleh siswa
  • Guru memilih materi yang berkesinambungan dari materi sebelumnya. Materi yang dipilih bisa berupa pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya, baik dalam jenjang yang sama maupun antar jenjang. Dengan ini peserta didik tidak akan mengalami keterputusan pengetahuan.
  • Nilai kegunaan. Materi yang dipilih paling tidak harus mempunyai nilai aplikasi yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari, lebih utama dalam konteks realitas kehidupan masyarakat.
  • Materi yang dipilih harus berupa pokok bahasan yang berkaitan dan diperlukan untuk mempelajari atau memahami bidang studi lain.

Aspek lain yang butuh penjelasan lebih rinci berkaitan dengan uraian materi dan indikator. Uraian materi dipilih sebagai bagian dari beberapa materi yang terdapat pada materi terpilih. Pemilihan uraian materi itu bisa dilaksanakan atas dasar materi yang akan ditanyakan dalam tes. Sedangkan indikator merupakan suatu rumusan yang menggunakan kata kerja operasional dengan baik. Rumusan kata kerja itu memuat perilaku peserta didik dan materi yang akan diukur sesuai dengan uraian materi yang telah ditentukan. Guru dalam persoalan ini harus benar-benar memperhatikan korelasi antara indikator dengan uraian materi dan kompetensi dasar/standar kompetensi lulusan.

Guru mempunyai tugas untuk merumuskan secara lebih lanjut uraian materi yang telah dipilih menjadi indicator. ini sangat penting mengingat dari indicator yang ada pada kisi-kisi soal itu guru bisa mengetahui tingkat kemampuan peserta didik yang ingin diukur. Kita semua tahu, bahwa indicator itu dibuat berdasarkan uraian materi yang berasal dari kompetensi dasar maka indikator ini dibuat untuk melihat ketercapaian kompetensi dasar.

Ada beberapa tahap dalam proses penjabaran kompetensi dasar menjadi indicator.

  • Memilih kompetensi dasar
  • Memilih materi yang dianggap penting
  • Merumuskan uraian materi
  • Membuat indicator

Guru itu bisa dikatakan berhasil membuat indicator apabila

  • Memuat ciri‑ciri kompetensi dasar yang akan diukur.
  • Memuat satu kata kerja operasional yang bisa diukur. Apabila soal berbentuk uraian, maka kata kerja itu bisa lebih dari satu.
  • Indicator selalu berkaitan dengan uraian materi beserta kompetensi dasar.
  • Dapat dibuatkan soalnya dengan bentuk yang telah ditetapkan dalam kisi‑

Indicator banyak dibahas panjang lebar karena ini merupakan unsure sangat penting dalam komponen matriks. Indicator merupakan rumusan pernyataan sebagai salah satu bentuk ukuran spesifik yang mampu menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar melalui penggunaan kata kerja operasional. Inilah beberapa rumus kata kerja operasional dari pelbagai aspek.

  • Aspek Kognitif
  • Pengetahuan: mendefinisikan, mengidentifikasi, member nama, mencocokkan, menyusun daftar, menyebutkan, memilih, mengatakan dan beberapa kata kerja operasional lainnya.
  • Pemahaman: mempertahankan, membedakan, mengubah, menjelaskan, member kesimpulan, menerangkan dengan menggunakan bahasa sendiri dan lain-lain.
  • mengungkapkan, mendemonstrasikan, menghitung, menghubungkan, menggunakan, menunjukkan dan lain-lain.
  • Analisa: memisah-misahkan, membuat diagram, menguraikan, memerinci, menghubungkan dan lain-lain.
  • Sintesis: menghimpun, menggabungkan, membangkitkan, menggolongkan, merevisi, menyimpulkan, menciptakan dan lain-lain.
  • Evaluasi: membandingkan, menilai, mempertimbangkan, memilah-milah, mengkritik dan lain-lain.
  • Aspek Afektif.
  • Kemauan menerima: menggambarkan, memilih, bertanya, berpegang teguh, menjawab, menggunakan dan lain-lain.
  • Kemampuan menanggapi: membantu, menjawab, member nama, menunjukkan, mempraktikkan, mengemukakan, melaporkan, menuliskan da lain-lain.
  • Ketekunan, kecermatan, memeriksa, melayani, merevisi dan lain-lain.
  • Aspek Psikomotor

Menggunakan, membersihkan, menampilkan, menghubungkan, memanaskan, menyusun, menukar, mengambil, menyatukan dan lain sebagainya.

 

  1. Mengembangkan Draf Instrumen

Draf instrument penilaian merupakan prosedur perencanaan yang sangat penting. Instrument penilaian itu bisa disusun dalam bentuk non tes atau pun test. Kalau guru menggunakan instrumen penilaian melalui test, maka guru harus membuat soal. Dalam proses penulisan soal ini guru harus melakukan penjabaran dari indicator menjadi butiran pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan kisi-kisi yang sebelumnya telah dibuat. Yang patut diperhatikan dalam membuat soal ini adalah efektifitas serta kejelasan soal. Ini sangat penting untuk diperhatikan karena kualitas soal menjadi ukuran dari penilaian. Kalau soal yang dibuat itu selaras dengan indicator dan menggunakan bahasa yang jelas dan efektif, maka juga berpengaruh terhadap kualitas penilaian secara umum. Ketika soal itu selesai dibuat, alangkah lebih baiknya bila soal itu didiskusikan lagi dengan pihak sekolah, para guru, atau bahkan tim penelaah soal, bila ada.

Ada beberapa aturan umum dalam membuat soal.

  • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Jangan menggunakan bahasa yang hanya berlaku setempat, kecuali dalam konteks soal bahasa daerah. Hindari bahasa yang bertele-tele atau bahkan muter-muter. Bahasa itu harus sederhana, jelas dan mudah dipahami.
  • Dalam membuat soal jangan mengutip langsung kalimat dari buku. Kalau pembuat soal mengutip langsung, maka akan memancing siswa untuk menyontek atau membuka buku pelajaran.
  • Soal tidak memberi isyarat jawaban bagi soal lain
  • Inti soal harus dirumuskan secara tegas, lugas dan jelas
  • Setiap soal harus menggunakan bahasa Indonesia yang benar, alias merujuk pada EYD.
  • Bahasa yang digunakan harus komunikatif dan interaktif. Siswa akan lebih mudah memahami soal.
  1. Menguji Validitas Soal

Soal itu bisa dikatakan berkualitas atau tidak apabila sudah melalui tahap uji coba. Validitas soal harus diuji coba di lapangan untuk mengukur sejauh mana kualitas soal yang telah dibuat. Ketika guru sudah mampu menyusun soal dengan baik, maka uji coba itu sangat perlu. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui lebih jauh di lapangan ihwal soal mana yang perlu dirubah, diperbaiki dan soal mana yang bisa dipertahankan. Soal itu akan dikatakan bagus apabila guru sudah melakukan uji coba empiris di lapangan. Praktik menguji coba soal di lapangan menjadi acuan bagi guru untuk melakukan perbaikan demi perbaikan agar kualitas soal menjadi lebih baik.

Meski hanya uji coba soal, tapi guru harus serius untuk mempraktikkan di lapangan. Di depan peserta didik tentu guru tidak berposisi sebagai actor yang hanya ingin menguji tingkat validitas soal. Tapi guru benar-benar tampil sebagai sosok yang ingin melakukan penilaian terhadap peserta didik. Dengan demikian, guru tidak hanya focus dalam soal an sich, tetapi secara lebih jauh guru juga harus memperhatikan factor eksternal, seperti ruangan, pengawas, peserta didik dan hasil dari penilaian itu sendiri.

Ruangan tentu kedengarannya cukup sepele. Tapi factor kualitas ruangan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan peserta didik. Ruangan yang dekat dengan jalan raya, jendela terbuka sehingga kebisingan itu menghampiri akan membuat konsentrasi peserta didik menjadi pecah. Peserta didik yang mesti menjawab dengan benar pada akhirnya bisa salah karena konsentrasi yang pecah. Tidak jauh beda dengan lampu penerang. Ruang dengan lampu penerang yang kurang akan membuat peserta didik kurang nyaman. Ketika ingin melakukan tes, ruangan harus juga harus jadi perhatian. Carilah ruangan yang nyaman dengan penerang yang bagus.

Masalah waktu juga penting untuk diperhatikan. Waktu yang digunakan untuk mengerjakan soal harus sesuai dengan jumlah dan tingkat kesukaran soal. Waktu harus diperhatikan dengan serius. Jangan sampai guru memberikan alokasi waktu untuk mengerjakan soal tanpa pertimbangan yang selaras dengan jumlah dan tingkat kesukaran soal. Kalau itu yang dilakukan, maka akibatnya bisa fatal. Peserta didik bisa tergesa-gesa dalam mengerjakan soal. Untuk itu, aturlah tameng waktu yang tepat sesuai dengan jumlah dan tingkat kesukaran soal sehingga peserta didik mampu mengerjakan dengan baik.

Ketika guru telah selesai menguji validitas soal, maka langkah selanjutnya adalah menindaklanjuti hasil uji coba tersebut. Hasil uji coba lapangan itu hendaknya diolah dan dianalisis kekurangan dan kelebihannya. Kalau ada soal yang kurang baik, maka lebih baik guru merevisi menjadi lebih baik. Tahap ini perlu kecermatan yang serius bagi guru agar hasil uji coba lapangan mampu menjadi pintu masuk agar lebih baik dalam membuat soal.

  1. Membuat Soal

Ketika guru selesai melakukan uji coba soal; melakukan revisi sesuai dengan tingkat proporsi nya, memperbaiki dalam aspek bahasa, mengubah item soal atau bahkan membuang soal yang dianggap tidak perlu, maka dibuatlah soal sebagai sebuah instrument yang integral. Tahap membuat soal adalah tahap akhir dari sekian banyak perbaikan dan perombakan soal, mulai dari persoalan yang paling sederhana hingga paling rumit dan pada gilirannya melahirkan sebuah instrument yang tingkat validitas nya sudah tidak diragukan lagi.