PAUD Inklusi: Konsep dan Perkembangannya

Sejarah

Pendidikan itu adalah hak semua anak. Semenjak anak berada dalam kandungan, lahir ke dunia, tumbuh dan berkembang hingga menjadi anak-menginjak dewasa, pendidikan menjadi suatu keharusan. Sebagai suatu yang asasi dalam diri anak, mengenyam pendidikan akan selalu menjadi bagian inheren dalam diri anak. Melupakan pendidikan anak sama halnya dengan mengabaikan dan menelantarkan hak-hak anak. Aset kebudayaan dan peradaban ini tunasnya layu, tunggulah saat-saat kehancuran.

Mereka dengan segala jenis perbedaan sama-sama mempunyai hak untuk memperoleh dan menyenyam pendidikan yang layak. Cerita pilu ihwal orang tertutup aksesnya dalam lembaga pendidikan karena jensi kelamain, usia yang terlalu tua, kelompok etnik tertentu, perbedaan kemampuan anak dan perbedaan linguistk mestinya sudah hilang dalam kamus pendidikan kita. Diskriminasi itu hanya ada ada masyarakat primitif atau masyarakat jahiliyah yang jauh dari nilai-nilai keadaban.

Sebuah negara-bangsa yang menjunjung tinggi hak-hak pendidikan untuk semua telah meniadakan diksriminasi karena perbedaan. Ada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk penduduk asli Amerika (Orang Indian), PAUD bagi warga kulit hitam yang ada di Amerika, ada PAUD bagi kaum imigran, baik itu yang datang dari Cina, Jepang, India dan negara lainnya dan ada juga PAUD bagi kaum miskin dan kaum difabel.[1] Beberapa negara lain sudah mulai respek dan menggalakkan pendidikan anak usia dini tanpa mengenal perbedaan.

PAUD justru hadir dalam menantang penjajahan yang menyiratkan keseragaman budaya. Sebuah contoh saat penjajahan Eropa datang ke Amerika dan mencoba menghapuskan budaya asli, maka PAUD menjadi tameng untuk terus bergerak dalam keragaman budaya, mempertahankan kepribadian dan bahasa. PAUD tetap terus berkembang bersama dengan identitas yang berbeda antara yang satu dengan yang liannya, sesua dengan identitas nenek moyangnya.[2]

PAUD di pelbagai negara maju tak hanya akomodatif terhadap perbedaan, tapi juga menjadi alat perang terhadap kemiskinan. Di Amerika ada Head Start yang berdiri tahun 1965 ini—pada mulanya berdiri sebagai alat perjuangan sosial politik pada era Hak Asasi Warga sipil—bergerak dalam mengintervensi pendidikan anak dari kalangan keluarga miskin, mulai dari melakukan perawatan sebelum melahirkan, mengurangi gizi buruk, memerangi lingkungan yang dikelilingi kejahatan serta diskriminasi jenis kelamin-ras yang memengaruhi kehidupan dari keluarga orang miskin.

Di Indonesia, PAUD yang ramah terhadap segala bentuk perbedaan telah lama berkembang. Jauh-jauh hari sebelum kita gaduh memperbincangkan pendidikan anak yang ramah terhadap keragaman, Bapak pendidikan nasional kita, Ki Hajar Dewantara telah mendirikan Taman Indria. Berdirinya perguruan nasional Taman Siswa Yogyakarta, pada tanggal 3 Juli 1922, dimulai dengan dibukanya sekolah bagi anak-anak kecil dibawah umur 7 tahun.[3] Sekolah itu pada mulanya diberi nama ‘Taman lare’ yang kemudia terus berkembang menjadi taman indria.

Taman indria ini berdiri cukup akomodatif terhadap perbedaan anak. Falsafah yang digunakan Ki hajar Dewantara tak lepas dari pengaruh Friederich Frobel[4] yang memberi kebabasan anak dengan aturan yang tertib dan Maria Montessori[5] yang lebh membebaskan anak-anak tanpa batas. Ki Hajar dengan Sikap nasionalisme dan komitmen kebudayaan yang tinggi tak serta merta mengadopsi secara hitam putih kedua tokoh tersebut, tapi beliau menyesuakan dengan konteks alam Indonesia sehingga lahirlah semboyan ‘tut wuri handayani’ dengan ‘among’ sebagai sistemnya.

Taman Indria mendidik anak-anak di bawah umur 7 tahun sesua dengan tabiaat-tabiaat anak, umur, keadaan asal anak. Taman indria yang sudah ada mulai zaman Belanada ini, dalam segala pelajaran dan ksesibukan, serta pemberi kesenangan kepada anak-anak selalu dicari hubungan dan kesesuaian dengan alam anak-anak rakyat sendiri. Misalnya anak dipelajari membuat segala pekerjaan tangan (topi, makuta, wayang, bungkus ketupat) dengan daun-daunan, rumput, dan bahan alam lainnya.[6]Maksud dari pembelajaran itu agar anak tak merasa asing dan teralienasi dari lingkungan masyarakatnya sendiri.

Kita pernah punya fajar pembawa pendidikan inklusif untuk menghadapi pelbagai keragaman masyarakat, mulai dari keragaman kelasi sosial, etnis, bahasa, kemampuan.[7] Fajar yang diusung ki Hajar Dewantara itu tak hanya ingin menyongsong pendidikan inklusif yang mempu menyesuakan dengan keadaan dan kebutuhan anak, tapi juga mengusung misi kebudayaan besar agar anak-anak tak terlepas dari akar kebudayaannya sendiri.

Fajar pendidikan inklusi bagi anak-anak itu telah lama bersinar, tapi apakah lembaga pendidikan kita sudah menjadi fajar baru dalam menghargai perbedaan, baik itu dari aspek jender, usis, kecacatan, kelompok etnis atau linguistik? Masih adakah diskrimanis di sekitar lembaga pendidikan kita? Apakah sudah tak ada lagi anak-anak tubuhnya kurus dan pucat karena kekurangan gizi? Dan apakah masyarakat kita sudah mampu memahami dan memaknai perbedaan?

Sepertinya kegelapan masih menyelimuti pendidikan kita. Menurut data terbaru, jumlah anak berkebutuhan khusus di Indonesia tercatat mencapai 1.544.184 anak, dengan 330.764 anak (21,42 persen) berada dalam rentang usia 5-18 tahun. Dari jumlah tersebut, hanya 85.737 anak berkebutuhan khusus yang bersekolah. Artinya, masih terdapat 245.027 anak berkebutuhan khusus yang belum mengenyam pendidikan di sekolah, baik sekolah khusus ataupun sekolah inklusi.[8] Forum Peduli Penyandang Cacat (FP2C) Ciamis mencatat lebih dari 1.000 anak penyandang cacat atau difabel yang tersebar di Kabupaten Ciamis tidak bisa mengenyam pendidikan formal atau putus sekolah. Di samping itu, kondisi mereka dalam keadaan memprihatinkan karena tidak mendapatkan keterampilan khusus. Salah satu penyebabnya, karena keterbatasan jumlah sekolah dan tenaga pendidik.[9]

Begitu juga dengan yang terjadi di Klaten. Hasil survei yang dilakukan Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Para Cacat Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM) Prof Dr Soeharso selama Mei tahun 2012 menyebutkan bahwa sebanyak 40 persen responden dari 20 perempuan difabel yang ada di Kecamatan Klaten Tengah dan Ngawen Klaten, tidak mengenyam pendidikan formal. Bahkan dari jumlah itu hanya 3 persen responden difabel yang dapat mengenyam pendidikan hingga program Diploma I dan III.[10]

Nasib mengenaskan juga terjadi pada belita yang kekurangan gizi lantaran kemiskinan mendera. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional mencatat lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami kekurangan gizi. saat ini Indonesia masih menjadi penyumbang angka anak pendek dan kurang gizi di dunia, yang jumlah totalnya mencapai 165 juta.[11]

Beberapa data mencengangkan tersebut menjadi salah satu indikasi ihwal pendidikan anak inklusi masih belum berjalan secara maksimal. Pendidikan inklusi seakan masih menjadi konsep elit yang banyak diperbincangkan oleh para pakar dan praktisi pendidikan. Pendidikan Inklusi itu masih bertebaran di perkotaan dan nyaris tidak ada di pelbagai pelosok yang justru sangat membutuhkan.

Persoalan lain juga banyak orang yang menerjemahkan pendidikan inklusi secra sempit, yakni pendidikan bersama kaum difabel. Pendidikan iklusi secara universal mencakup semua kalangan, termasuk mereka yang selama ini terekslusi dalam ranah pendidikan, mulai dari kalangan kaum miskin, anak-anak para TKI dan kaum terekslusi lainnya.

Menjadi penting untuk membahas geneologi dan konsep perkembangan pendidikan inklusi. Penyempitan makna pendidikan inklusi hanya pada kaum difable akan menggiring konsep pendidikan inklusi pada wacana yang sangat ekslusif. Setelah memahami perkembangan dan kosep pendidikan inklusi kita beralih untuk menelaah secara kritis ihwal upaya penerapan paud inklusi di negeri yang penuh dengan keragaman ini.

Silsilah Pendidikan Inklusi

Semua bermula dari kepedulian. Anak yang beragam dalam menangkap pelajaran—ada yang cepat dan tak sedikit pula yang lambat—membuat Erik Pontoppidan (1698-1764), salah satu penggagas utama sekolah untuk ‘semua dan setiap’ anak di Norwegia itu tergerak dirinya untuk membuat buku pendidikan yang sangat berpengaruh. Buku yang lebih dikenal dengan Penjelasan Pontoppidan itu menjadi rujukan penting untuk tumbuh kembangnya pendidikan bagi semua. Buku teks pendidikan yang dirancang oleh Pontoppidan itu mengandung sejumlah contoh tentang kesadarannya akan perbedaan individual dalam hal peluang belajar serta berisikan sejumlah rekomendasi ihwal metode yang tepat individu yang berbeda-beda.[12]

Kepedulian dalam merespon perbedaan kemampuan belajar individu itu belum menyentuh pada orang yang tunagrahita dan tunarunga prabahasa. Pada saat itu ada penentangan keras terhadap edukabilitas anak tunarungu. Pandangan negatif terhadap anak yang tunarungu ini berimplikasi pada peminggiran meraka dalam dunia pendidikan. Ketunarunguan itu menjadi penderitaan bag masyarakat dan tentu juga beban psikologis bagi penderitanya. Sekolah yang pada mulanya dirancang untuk ‘semua dan setiap’ itu ternyata masih mengeklusi mereka kelompok yang dianggap tidak masuk kreteria, seperti anak yang mendapat gangguang mental atau fisik, mempunyai penyakit menular serta siswa yang mempunyai prilaku sangat buruk.

Di beberapa negara Eropa kajian ihwal mereka yang terekslusi sudah mendapat perhatan dari awal. Ada Informasi mengatakan bahwa sejak abad kelima telah ada berbagai kelompok orang tunanetra yang dapat mencukupi dirinya sendiri dan yang mengatur pelatihan pekerjaan internal. Satu contoh tentang mengajarkan membaca bibir kepada orang tunarungu ditemukan di Keuskupan York pada abad kedelapan. Namun, menurut Enerstvedt (1996), pengetahuan mengenai cara mendidik orang yang tunarungu berat mulai disebarkan dari apa yang disebut “revolusi Spanyol yang tidak begitu terkenal” ke berbagai bagian benua Eropa lainnya dan kepulauan Inggris pada akhir abad ke-16. [13] Kepedulian ini ini ternya terus menjalar ke pelbagai negara dan daerah lainnya.

Paris menjadi kota penebar konsep pendidikan inklusi secara lebih komplek. Para pendidik dan dokter tidak hanya konsen dalam bidang ketunaruguangan dan ketunanentraan, tetapi pelbagai jenis kecacatan dan kelainan mencoba dirangkul dan dimanusiakan. Philippe Pinel (1745-1826) adalah salah satu tokoh yang mencoba merangkul mereka yang terekslusi untuk didiagnosa dan dikategorisasi untuk mendapat solusi yang tepat. Optimisme yang timbul di beberapa negara Eropa ini seakan menghapus kecemasan banyak kalangan yang peduli akan keragaman. Norwegia yang pada mulanya masih belum total dalam membangun pendidikan untuk semua pada akhirnya, dengan Johan A. Lippestad (1844-1913), sebagai pendobraknya, berdirilah sekolah khusus (1881) pertama klii yang tanggap terhadap mereka anak yang tunanetra, tunarungu dan tunagrahita.

Saat fajar pembaharuan dalam bidang pendidikan khusua itu mulai bergema, terumata pasca disahkannya undang-undang pendidikan khusu di Norwegia, muncul kembali perdebatan yang menggiring pada kerancuan ihwal anak yang dapat didik dan anak yang tak dapat dididik.[14] Perdebatan itu seakan ingn membangun garis damarkasi antara anak yang mampu didik sebagai penerus masa depan harus mengyeam pendidikan dan anak yang tak dapat didik hanya bisa ditempatkan diembaga kesehatan. Anak yang tak dapat didik, seperti mereka yang mempunyai kelainan mental, kelompok tunanrtra, tunarungu dan bentuk kelainan lainnya dianggap sebagai penghambat kemajua sebuah peradaban.

Hanya saja perdebatan yang telah mengkristal itu tak memadamkan gerakan penyelamat anak-anak. Di tengah hingar bingar ‘periode egenetika’ masih banyak yang peduli terhadap kelompok mereka yang terekslusi atau orang yang dalam persepektif ‘poeriode egenetika’ mendapat predikat anak tak bisa didik. Golongan penyelamat yang bergerak serius di Norwegia, Denmark dan beberapa negara di Eropa ini mencoba hadir untuk anak-anak. Gerakan penyelamat anak ini tak hanya membantu anak-anak berkembang pada mereka yang mengalami gangguan mental, kelainan belajar dan cacat fisik, tetapi juga membantu menaikkan standart moral anak-anak dari keluarga miskin untk bisa mengenyam penddikan dan mendapat layanan yang sesua dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Inilah saat-saat menjamurnya sekolah-sekolah khusus di Eropa. Waktu terus berlalu, pemikiran manusia terus berkembang dan zaman pun berubah, maka undang-undang sekolah khusus yang segragatif mengalami proses rekontruski menuju sistem pendidikan yang integraif. Perubahan ini menuntut banyak perubahan dalam pelbagai aspek, termasuk dalam kontek kurikulum. Dari sistem integrasi—dengan pelbagai kritik dan masukan—berubah menjadi pendidikan inklulsi. Perubahan demi perubahn itu terus berlanjut hingga pada titi akhirnya menjadi pendidikan inklulsi tak lepas dari niat baik bagi kalangan pendidik dan dokter untuk mememuhi hak pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal.

Perubahan demi perubahan dalam mengakomodasi kelompok yang tereklusi menjadi bagian dari salah satu pergerakan hak asasi manusia. Pendidikan inklusif menjadi titik kulminasi dari sekian perubahan pergerakan masyarakat yang memperjuangkan hak asasi manusia secara umum. Pergerakan hak asasi manusia ini tentu bukan datang dari kalaengan elit, tetapi tumbuh dan berkembang dari masyarakat, organisasi penyandang cacat, perkumpulan orang tua dan beberapa bentuk pergerakan lainnya yang menuntut perlindungan. Sasaran utama gelombang pergerakan ini tentu adalah para pemangku kebijakan atau politisi yang mampu memberi payung hukum. Muncul beberapa bentuk payung hukum yang melindungi mereka yang terekslusi dan beberapa ragam dekarasi.

Inilah beberapa bentuk instrumen-instrumen internasioanl yang menjadi landasan bagi tumbuhkembangnya pendidikan inklusif; 1948: Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, 1989, konvensi PBB tentang Hak Anak, 1990 Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua, Jomtien, 1993 Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat, 1994 pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang, Pendidikan Kebutuhan Khusus, 1999 Tinjauan 5 tahun Salamanca, 2000, Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar, 2000 Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada, Penurunan Angka Kemiskinan dan Pembangunan dan tahun 2001 ada Flagship PUS tentang Pendidikan dan Kecacatan.[15]

Beberapa dokumen internasioanl yang terus mengalami perubahan itu menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tak lahir serta merta lahir begitu saja. Pendidikan inklusi itu adalah hasil dari beberapa perbaikan dan inovasi dari beberapa konsep pendidikan khusus. Menurut Sue Stubbs[16] ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan pendidikan inklusif.

Pertama, gerakan peningkatan mutu sekolah. Ada beberapa problem akut yang menimpa sekolah di negara-negara selatan dan utara. Problem pengajaran yang sangat buruk, banyak anak yang putus sekolah, konflik yang berkepanjangan, melebarnya jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin menjadi problem negara selatan. Di beberapa negara selatan juga mengidap penyakit yang tak juah beda. Dalam merespon semua itu muncul inisiasi untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan konsep sekolah yang responsip. Sebuah konsep yang tanggap terhadap semua kebutuhan semua anak, memiliki sumber daya yang memadai dan menyediakan pendidikan yang berkualitas yang relevan dengan kebutuhan anak.

Kedua, pendidikan luar biasa. Banyak pencetus dan pejuang inklusi pada awalnya adalah pendukung kuat pendidikan khusus. Lambat laun mereka mulai menyadari keterbatasan dan kekurangan filosofi dan praktek pendidikan kebutuhan khusus. Namun, terdapat banyak pelajaran dan keterampilan positif yang dipelajari oleh mereka yang terlibat dalam pendidikan kebutuhan khusus yang berkualitas, seperti pengajaran kreatif yang berfokus pada anak yang tanggap terhadap gaya belajar individu, pendekatan holistik kepada anak, yang berfokus pada semua bidang kemampuannya, hubungan erat antarakeluarga dan sekolah, dan keterlibatan orang tua yang sangat aktif, pengembangan teknologi dan peralatan khusus untuk, memfasilitasi akses ke pendidikan dan membantu mengatasi hambatan belajar.[17]

Ketiga, organisasi penyandang cacat dan organisasi orang tua. Banyak organisasai penyandang cacat, terutama di negara-negara selatan yang sangat vokal dalam melakukan pergerakan. Hanya saja tuntutan mereka tidak secara spesifik menuntuk pendidikan inklusi, tetapi lebih pada terciptanya pendidikan khusus. Hal ini bisa dimaklumi mengingat organisasi itu masih mempunyai pemahaman yang sempit ihwal pendidikan inklusif. Tapi saat yang bersamaan juga ada orang yang mempunyai kesepahama dengan konsep pendidikan inklusi. Ada juga organisasi orang tua yang bergerak secara radikal menuntut terciptanya pendidikan inklusif. Organisasi orang tua yang radikal ini nonabene datang dari negara utara. Beberapa di Negara Selatan masih banyak orang tua yang berkutat dalam kemiskinan dan kemelaratan di banding dengan berorganisasi.

Kontribusi penting dari organisasi penyandang cacat dan organisasi orang tua terhadap perkembangan pendidikan inklusi ini meliputi; mendesak agar inklusi didukung dengan sumber-sumber yang sesuai dengan kebutuhan, meningkatkan partisipasi aktif para penyandang cacat dan orang tua dalam pengembangan kebijakan dan praktek pendidikan, memperjuangkan hak anak penyandang cacat untuk bersekolah bersama-sama dengan teman-teman sebayanya dan tidak didiskriminasikan, serta adanya model orang dewasa yang positif.[18]

Keempat, pendekatan berbasis masyarakat. Program Rehabilitasi Berbasis Masyarakat [RBM] telah tersebar di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang, sejak awal tahun 1980-an. Pada awalnya fokus utamanya adalah pada berbagai terapi rehabilitasi dan respon medis. Dalam perkembangannya, konsep RBM semakin diartikan sebagai upaya untuk mempromosikan hak-hak asasi dan meningkatkan kesamaan kesempatandan inklusi penuh bagi para penyandang cacat.

Dukungan bagi anak-anak penyandang cacat agar mendapatkan akses ke pendidikan menjadi komponen yang alami dari RBM. Kontribusi utama dalam perkembangan pendidikan inkulsif meliputi; Adanya hubungan yang erat antara keluarga, masyarakat dan sekolah; Anak secara penuh didukung dengan alat bantu dan terapi yang tepat untuk meningkatkan keberfungsiannya; Adanya dukungan yang berkesinambungan dari pekerja RBM.[19]

Itulah beberapa pengaruh sosial-budaya atas terbentuknya pendidikan inklusi. Sebagai sebuah konsep yang saat ini sangat familiar, pendidikan inklusi menjadi model pendidikan terbuka yang telah melalui proes perkembangan panjang dengan koreksi dan perbaikan. Pergulatan panjanga hingga akhirnya terbentuk konsep pendidkan inklusif bertujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi makluk mungil yang bernama anak itu. Anak-anak itu memang tak menuntut untuk diberi pelayanan terbaik untuk memenugi tugas perkembangan, tetapi sebagai sebuah masyarakat yang sudah berkeadaban kita tentu mengetahui bagaimana pentingnya anak-anak bagi masa depan.

Pendidikan inklusi, kalau dilihat dari aspek perkembangan, sungguh berbeda dengan dengan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Integrasi. PLP berasumsi bahwa ada anak yang terpisah yang memiliku ‘kebutuhan pendidikan khusus. Asumsi ini mendapat koreksi karena dianggap tidak benar; setiap anak manapun dapat mengalami kesulitan belajar dan banyak anak penyandang cacat yang tidak memiliki masalah dalam belajar. Jadi PLP memandang anak adalah sumber masalah, bukan sistem atau guru yang bermasalah. PLP ingin mengkarbit anak menjadi normal sesua dengan format yang telah dibentuk orang dewasa.

Pendidikan Integrasi mencoba memasukkan anak yang cacat dalam sistem sekolah reguler. Perbedaannya dengan pendidikan Inklusi, konsep integrasi masih memandang individu anak sebagai yang bermasalah, sehingga harus disiapkan untuk masuk pendidikan integrasi. Anak masih menjad obyek yang harus menyesuakan dengan sekolah, bukan sekolah yang disiapkan untuk anak-anak. Konsep Integrasi ini masih menyisakan ironi karena membiarkan anak untuk mengatasi sendiri sistem sekolah reguler yang kaku. Jika anak telat mengikuti kurikulum yang telah ditetapkan sekolah, maka anak menjadi objek yang disalahkan.[20]

Pendidikan inklusi itu menjadikan anak tak ubahnya sebagai raja. Semua anak dengan ragam perbedaan—usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan dan penyakita kelainan—mampu belajar, berkumpul dan berintraksi tanpa harus dibedakan. Sebagai raja, proses restrukturasi budaya, kebijakan, metodologi pembelajaran dan praktik untuk merespon keberagaman siswa dalam lingkungannya harus dilakukan perubahan demi anak-anak.[21]

Pendidikan inklusi diupayakan untuk menciptakan “taman surga” bagi anak, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah dan masyarakat. Pendidikan inklusi itu selalu berkaitan dengan terciptanya masyarakat inklusif, sebuah masyarakat yang mampu menghargai dan memaknai keragaman secara arif. Pendidikan Inklusif itu bisa juga dimaknai sebagai gerakan untuk menantang pelbagai bentuk kebijakan dan praktik eksklusi.[22]

PAUD Inklusi

Sebagai bangsa yang telah belajar respek terhadap keragaman, terutama semenjak Indonesia mendeklarasikan pendidikan inklusi di Bandung, 11 Agustus 2004, PAUD inklusi seakan menjadi agenda mendesak untuk terus dikembangkan. PAUD inklusi–program layanan reguler yang mengkordinasikan dan mengintegrasikan layanan PAUD reguler dan layanan anak berkebutuhan khusus dalam program yang sama[23]–dirancang sebagai langkah meningkatkan akses layanan PAUD tanpa harus membedakan-bedakan dan mendorong agar PAUD mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. PAUD Inklusi adalah proses humanisasi yang dimulai dari sejak dini.

PAUD Inklusi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal. Tentu kalau kita lihat geneologi pendidikan inklusi secara umum tak lepas dari sejarah panjang negar-negara Eropa dan Amerika, tetapi kita bisa mengambil nilai universal yang bisa transmisikan dalam konsep PAUD inklusi untuk konteks keindonesiaan. Ada beberapa nilai-nilai universial yang mesti kita tetap jadikan rujukan dalam konsep PAUD inklusi.

Pertama, kita mampu menyadari bahwa anak-anak dari pelbagai latar yang berbeda secara etnis, ekonomi, usia, jenis kelamin dan mental, mempunyai kesempatan dan hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak. Kalau selama ini telah banyak anak-anak terekslusi dalam dunia pendidikan karena perbedaan mental, maka dengan nilai universal pendidikan iklusi itu sudah saatnya dibuang jauh-jauh. Semua anak mempunyai hak yang sama untuk mengakses pendidikan, berintraksi dan bermain bersama.

Kesadaran universal ihwal hak-hak anak dalam mendapatkan pelayanan pendidikan itu paling tidak terpancar pada tiga elemen, yakni keluarga anak yang meliputi ayah, ibu, serta anggota keluarga yang lain, lingkungan biotik yang meliputi lingkungan di sekitar rumah dan lingkungan sekitar sekolah serta mereka para pemangku kebijakan, seperti Kepala PAUD, guru pendamping khusus dan guru kelas.[24]

Ketika kesadaran itu muncul, anak yang lahir dengan ragam perbedaan menjadi bagian dari warnai-warni kehidupan. keluarga tidak mengnaggap kehadiran mereka sebagai sebuah aib yang harus ditutu-tutupi, apalagi diasingkan. Masyarakat dan lingkungan sekitar menerima kehadiran mereka sebagai bentuk dari keragaman yang harus diterima. Kesadaran nilai saling menghargai, tolerasi, menjadikan mereka bagian dari masyarakat, diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan bakat dan saling membantu menjadi pondasi dasr terbentuknya PAUD inklusif.[25] Nilai-nilai dasar itulah yang akan menjadikan PAUD inklusi terus berkembang di masa-masa yang akan datang.

Kedua, membiarkan anak berkembang menjadi dirinya sendiri. Anak itu mempunyai dunia sendiri dan akan menghadapi dunia yang berbeda dengan kita. PAUD iklusi ingin menjadikan anak itu hidup dengan dunianya, bukan dipaksa untuk menjadi anak kecil yang dewasa. Anak-anak yang dipaksa masuk dalam dunai orang dewasa maka itu masuk dalam bagian kekerasan anak.

Pujangga Libanon, Kahlil Gibran, dalam The Prophet (1923) menulis puisi, “On Children” yang terjemahan bebasnya adalah, “Anak-anakmu, bukanlah milikmu, mereka adalah anak-anak kehidupan. mereka lahir melalui kamu, tetapi tidak berasal dari kamu. Mereka bersama-sama kamu, tetapi bukan milikmu. Kamu bisa memberi kasih pada mereka, tetapi bukan kehendakmu. Karena mereka punya kehendak sendiri. Kamu bisa mengurung tubuhnya, tetapi tidak untuk jiwanya.”[26]

Pernyataan tersebut cukup tepat untuk mewakili siapa sebenarnya anak-anak kita dan bagaimana seharusnya kita berbuat yang terbaik untuknya. Pernyataan di atas sejatinya dijadikan refrensi dalam memandang anak-anak oleh keluarga, terutama orang tua dan pemangku kebijakan yang ingin menjadikan anak dengan segala kerahaman berkembang secara kreatif, dinamis dan produktif. Dunia anak adalah dunia dimana keliaran imajinasi terus mengalir deras. Anak sudah mempunyai dunianya tersendiri yang beda dengan orang dewasa. PAUD inklusi berupaya untuk menyesuakan dengan anak, sehingga anak tetap berkembang dan menjadi dirinya sediri.

Ketiga, membuat dan menjalankan program sesua dengan tingkat perbedaan anak-anak dan tingkat perkembangan anak-anak. Saat ini cukup banyak anak yang dikarbit hanya demi memenuhi kenginan dan tuntutan orang tua atau lembaga pendidikan Anak itu unik dan mempunyai pola perkembangan. Kalau anak itu dikaribit, maka akan menyalahi pola pertkembangan anak, sehingga efeknya cukup bahaya bagi masa depan anak.

Ada kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun.

Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.[27]

PAUD inklusi menginginkan anak-anak berkembang sesua dengan tingkat perkembangan dan perbedaan anak. Setiap anak yang anak yang dikarbit memang cepat masak dan juga cepat membusuk. PAUD inklusi mendekati anak sebagai makhluk unik yang mempunyaitugas perkembangan dan perbedaan. Tugas perkembangan dan perbedaan itu dipahami untuk memberikan pelumas agar anak mampu berjalan, berlari dan terbang sesua dengan keunikannya.

Keempat, kasih sayang pada semua anak. Kasih sayang pada semua anak, tanpa membeda-bedakan, menjadi modal paling utama untuk perkembangan anak. Banyak anak yang mempunyai kelainan mental tetapi dengan kasih sayang yang cukup ternyata mereka mampu berkembang dengan baik. Kasih sayang yang melibatkan emosi itu adalah modal berharga bagi guru dan orang tua untuk kesuksessan anak. Banyak masa anak-anak kerapkali mendapat label dungu dan mengalami keterbelakangan karena kerapkali bermain-main dengan imajinasi dan emosinya justru saat dewasa mereka mampu menggemparkan dunia.

Sebut saja Albert Einstein, menurut pengakuan Kathi Hirts Pask[28] Einstein memiliki pikiran yang hebat bukan karena otaknya mengumpulkan informasi yang cukup luas saat masa kecil, tapi semua itu terkait dengan proses pendidikan pada masa kecilnya yang merangsang tumbuhnya kreaktivitas melalui kasih sayang. Pelajaran terpenting dari Einstein semasa kecilnya adalah dibirinya ruang kebebasan untuk berekspresi, bermain dan bereksprimentasi. Orang tua Eintein tidak membajak emosinya sehingga ia mampu tumbuh dan berkembang dengan semestinya.

Begitu juga dengan tokoh sekaliber Tomas Alva Edison, dan Sir Isaac Nerwton. Tekoh-tokoh penemu besar tersebut pada usia kecil dikenal dengan anak yang bodoh, pemalu dan pelamun. Tapi mengapa tokoh-tokoh tersebut menjadi penemu hebat se dunia ?. Hal ini menurut Wahyudi[29] berangkat dari bentuk kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang dilandasi dengan pemahaman multi intelegence. Pemahaman orang tua tentang kompleksitas kecerdasan harus ditambahi dengan rasa kasih sayang yang penuh terhadap anak. Ada faktor perkembangan emosi yang selalu diperhatiakan. PAUD inklusi ingin memberikan kasih sayang pada semua anak tanpa harus membeda-bedakan.

Refleksi Kritis PAUD Inklusi

Ketika nilai-nilai dasar universal sudah dipahami, dimaknai, diinternalisasi dan menjadi bagian dari sikap dan laku hidup kita sehari-hari, maka kontekstualisasi dengan identitas lokal Indonesia menjadi suatu kelebihan. Kita menginginkan PAUD inklusi berkembang hasil adaptasi dengan kontesk identitas lokal yang ada di Indonesia, bukan secara total alias (copy paste) mengambil konsep PAUD inklusi dari Eropa. Spirit kontektualisasi ini bisa tercermin sejauh mana kita mampu mengkombinasikan kekayaan budaya dan tradisi lokal untuk alat pengembangan, sebut saja alat permainan, bahan-bahan permainan dan program pembelajaran yang digunakan. Kalau kita mempunyai dasar konsep sendiri, untuk apa banyak meniru.!

PAUD inklusi berkembang sesua dengan konteks sosial masyarakat apabila ada partisipasi aktif dari kalangan masyarakat dalam pelbagai elemen, mulai dari orang tua dan masyarakat, guru dan sekolah, kalangan profesional dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan kesehatan, serta mereka kelompok yang selama ini terpinggirkan. Keterlibatan aktif dari mereka menjadi akan memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap perkembangan PAUD iklusif di masa yang akan datang.

Meningkatkan keterlibatan aktif itu memang tidak mudah. Butuh kesadaran dan penanaman nilai-nilai dasar kemanusiaan. Perlu ditanamkan bahwa PAUD inklusif bukan hanya sekedar kebijakan elit yang sengaja digulirkan, tetapi itu menjadi bagian dari panggilan hidup setiap orang dalam membangun kehidupan yang lebih humanis. Sebagai panggilan hidup, PAUD inklusi bergulir dan berjalan bukan sebagai beban—apalagi hanya sebagai proyek—,tetapi lebih bermakna sebagai alat perjuangan meneggakkan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini tersisihkan.

Kalau PAUD inklusif dijalankan, mestinya sudah tak ada lagi cerita anak yang kekurangan gizi karena keluarganya dililit kemiskinan, anak-anak yang tidak sekolah karena kelainan mental, anak-anak dengan korban kekerasan fisik dan psikis serta mereka kelompok yang terekslusi lainnya. Semua anak dari pelbagai latar belakang berhak mendapat pendidikan yang layak, mengenal kebudayannya sendiri dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Najamuddin Muhammad—nama pena dari Najanuddin—mahasiswa Pascasarjana Prodi PGRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Artikel ini pernah dipublikasikan dalam Antologi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar (Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013) yang digabungkan dengan tulisan M. Agus Nuryatno, Dosen Pascasarjana Prodi PGRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sumber Bacaan
Jaipul L.Roopnarine dan James E. Johnson, Pendidikan Anak Usia dini dalam Pelbagai Pendekatan, penerjemah Sari Narulita, (Jakarta: Kencana, 2011)
Ki Hajar Dewantara bagian pertama, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2004)
Sue Stubbs, Pendidikan Inklusif, ketika hanya ada sedikit sumber, penerjemeh, Susi Septaviana R, (The Atlas Alliance, 2002)
J. Milburn Thompson, Keadilan dan Perdamaian, tanggung jawab kristiani dalam pembangunan dunia, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009)
Mukhtar Latif Dkk, Orentasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, teori dan Aplikasi, (Jakarta: Kencana, 2013)
Purnawan Kristanto, My Blessed Family, inspirasi menuju keluarga bahagia dan diberkati, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009)
Baca Kathy Hirsh Pasek, Roberta M. Golinkoff, Einstein Never Used Flash Cards, Bagaimana Sesungguhnya anak-anak belajar-dan mengapa mereka harus banyak bermain dan sedikit menghafal , (Bandung: Kaifa, 2005)
Wahyudi, Maa…Aku Bisa, (Jogjakarta: Prou Media, 2006)

DATA INTERNET
http://edukasi.kompas.com
http://daerah.sindonews.com
http://krjogja.com
http://www.tempo.co
http://www.idp-europe.org
pokjainklusifkuningan.com

Catatan:
[1] Baca Jaipul L.Roopnarine dan James E. Johnson, Pendidikan Anak Usia dini dalam Pelbagai Pendekatan, penerjemah Sari Narulita, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 2-11
[2]Ibid, hal. 24
[3] Ki Hajar Dewantara bagian pertama, (Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2004), hal. 275
[4] Ibid, hal. 276.
[5] Ibid.
[6] Ki Hajar Dewantara Opcit, hal. 276
[7] Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 telah menegaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
[8] http://edukasi.kompas.com, senin, 7 Mei 2012.
[9] http://daerah.sindonews.com, Jumat, 9 November 2012.
[10] http://krjogja.com, minggu, 30 Juni 2013
[11] http://www.tempo.co, Selasa, 16 Juli 2013
[12] Berit H. Johnsen dan Miriam D. Skjørten, Special Needs Education, (Pendidikan Kebutuhan Khusus)penerjemah, Susi Septaviana Rakhmawati, Versi Bahasa Indonesia Disponsori oleh: Departemen Pendidikan Nasional, Braillo Norway dan Universitas Pendidikan Indonesia [UPI], Bagian Dua
[13] Ibid.
[14] Menurut Berit H. Johnsen, anak yang tidak mampu dididik bermula dari Bapak pergerakan egenetika, Francis Galton (1822-1911). Tokoh ini ternyata mendapat pengaruh kuat dari teori evolusi yang diciptakan oleh sepupunya, Charles Darwin (1809-1882), yang mendapat inspirasi dari Jean-Baptiste Lamarck (1744-1829), pemberi nama biologi. Argumen dasar, sifat kepribadian bisa menjadi herediter. Gagasan itu menegaskan bahwa seorang anak pencuri akan mewarisi sifat mencurinya dari bapaknya, seorang pembunuh juga bisa mewarisi karakter dari pembunuh dari bapaknya. Ini tentu sebuah pandangan yang sangat bertolak belakang dengan gagasan pendidikan inklusi. Lihat Berit H. Johnsen dan Miriam D. Skjørten, Op. Cit, Bagian 2
[15] Sue Stubbs, Pendidikan Inklusif, ketika hanya ada sedikit sumber, penerjemeh, Susi Septaviana R, (The Atlas Alliance, 2002), hal. 14
[16] Negara- negara bagian utara disebut juga dengan negara-negara kaya dengan tekhnologi yang maju. Ini meliputi Amerika Utara, Eropa Barat, Jepang dan Pasifik. Negara-negar Selatan termasuk kategorisasi negara miskin dengan tekhnologi yang kurang maju. Ini meliputi Amerika Latin, Afrika, sebagian besar timur tengah dan Asia. J. Milburn Thompson, Keadilan dan Perdamaian, tanggung jawab kristiani dalam pembangunan dunia, (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), hlm. 52
[17] Sue Stubbs Opcit, hal. 31
[18]Ibid, hal. 33
[19]Ibid, hal. 34
[20] Ibid, hal. 44
[21] Baca Definisi Pendidikan Inklusif yang dirumuskan dalam Seminar Agra disetujui oleh 55 peserta dari 23 negara (terutama dari ‘Selatan’) pada tahun 1998. Definisi ini kemudian diadopsi dalam South African White Paper on Inclusive Educationdengan.
[22] Hasil kajian UNESCO terhadap perkembangan pasca 5 tahun Konfrensi Salamanca
[23] Kemendikbud, Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal, 2013.
[24] Lihat Mukhtar Latif Dkk, Orentasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, teori dan Aplikasi, (Jakarta: Kencana, 2013), hal. 324-326
[25] Sue Stubbs Opcit, hal. 55
[26] Purnawan Kristanto, My Blessed Family, inspirasi menuju keluarga bahagia dan diberkati, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009), hal. 47
[27] http://rumahinspirasi.com
[28] Baca Kathy Hirsh Pasek, Roberta M. Golinkoff, Einstein Never Used Flash Cards, Bagaimana Sesungguhnya anak-anak belajar-dan mengapa mereka harus banyak bermain dan sedikit menghafal , (Bandung: Kaifa, 2005)
[29] Baca Buku Wahyudi, Maa…Aku Bisa, (Jogjakarta: Prou Media, 2006)
Sumber Gambar: http.gambar.com