Paulo Freire, Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan

0
291
Pendidikan sebagai praktik pembebasan

Didaksi.com-Pada mulanya adalah sebuah pengalaman menjadi orang yang dililit kemiskinan. Pengalaman itu membekas dan mengajari arti sebuah kelaparan bagi mereka yang tertindas. Pengalaman masa kecil yang berdialektika dengan tumpukan literasi dari dunia akademik akhirnya membentuk paradigma, strategi dan aksi untuk membela mereka kaum buruh tani yang selalu berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ia hanya ingin mengajari mereka melek huruf dan melakukan proses  penyadaran ihwal siapa dirinya, dimana dirinya berada dan kemana dirinya harus melangkah. Ia berjuang tanpa pamrih untuk membebaskan manusia dari jurang kebodohan. Itulah Paulo Freire, pendidik dan pejuang kemanusian asal Brazil yang menjadikan proses pendidikan sebagai praktik pembebasan.

.

Paulo Freire berjuang untuk membebaskan masyarakat dari belenggu penindasan melalui jalur pendidikan. Paulo Freire menyadari bahwa salah satu alat untuk memanusiakan manusia itu adalah dengan jalur pendidikan. Hanya saja tak berlangsung lama, ketika terjadi transisi kekuasaan, Paulo Freire dianggap sebagai sosok yang berbahaya untuk keberlangsungan kekuasaan. Paulo Freire pun dipenjara, diasingkan ke pelbagai negara. Dalam masa-masa pembuangan dan pengasingan itu, Paulo Freire bukan justru ciut nyalinya. Paulo Freire tetap melakukan pelbagai aktivis perjuangan untuk melakukan pembebasan dari belenggu kekuasaan hinga akhirnya Paulo Freire diizinkan pulang ke Brazil dan mengabdi untuk bangsanya.

Di Recife, sebuah daerah paling miskin dan terbelakang di dunia ketiga, kota pelabuhan di timur laut Brazil, Paulo Freire dilahirkan, pada tanggal 19 september 1921.[1] Ayahnya bernama Joquim Temistockles  Freire, yakni seorang polisi militer tidak  terlalu  taat  pada  agama,  sehingga  jarang  sekali pergi ke gereja. Sedangkan ibunya Edeltrus Neves Freire, beragama Katolik. Freire berasal dari keluarga menengah, hanya saja ia sejak kecil hidup dalam situasi miskin karena keluarganya tertimpa kemunduran finansial, yang diakibatkan oleh krisis ekonomi yang menimpa Amerika Serikat sekitar tahun 1929 dan imbasnya juga sampai ke Brazil.[2]

Keadaan  tersebut  menimbulkan  pengaruh  yang  sangat  kuat  dalam kehidupan dan perjuangannya, sehingga  Freire  sangat menyadari apa artinya lapar  bagi  anak-anak  sekolah  dasar.  Keluarga  Freire  kemudian  pindah  ke abotao pada tahun 1931 dan di sanalah kemudian ayahnya meninggal. Prof. Richard Shaull, menceritakan bahwa pada tahap ini Freire memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada “perjuangan melawan kelaparan, sehingga tidak ada anak lain yang merasakan penderitaan yang ia alami.[3]

Paulo Freire dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat demokratis, dialogis dan memberikan kesempatan pada setiap anaknya untuk berekspresi dan mengemukakan pendapat. Meskipun bapaknya tidak mengikuti agama secara resmi, tetap ia mengukuti aliran kebatinan yang mempunyai kehalusan budi dan kebijaksanaan. Ibunya yang berasal dari katolik sangat lembut perangainya, penyayang dan selalu mengajarkan pada Paulo Freire untuk selalu menghargai pendapat dan pilihan orang lain. itulah yang membuat pribadi Paulo Freire tumbuh dan berkembang dengan baik. Meskipun kemiskinann pada saat kecil sedang melilit, Paulo Freire berkembang dengan kepribadian yang cemerlang.

Sebagaimana anak yang normal, Paulo Freire juga memasuki sekolah dasar. Menginjak usia 15 tahun, Paulo Freire berhasil menyelesaikan sekolah dengan nilai yang pas-pasan. Kondisi keluarga Paulo Freire yang berada dalam himpitan ekonomi membuat Paulo Freire hidup dalam serba kekurangan. Seiring dengan bergulirnya waktu, Paulo Freire pun berhasil menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke universitas Recife pada tahun 1943. Di universitas inilah Paulo Freire masuk ke fakultas hukum. Meskipun masuk fakultas hukum, Paulo Freire juga sangat gemar dan tekun mendalami filsafat dan psikologi bahasa.

Paulo Freire  juga  bekerja  paruh  waktu  sebagai  instruktur  bahasa  portugis  di  sekolah lanjutan,  dan  seperti  kebanyakan  remaja,  ia  mulai  mempertanyakan ketidaksesuaian yang ada antara khotbah yang didengarnya di Gereja dengan kenyataan keidupan sehari-hari.[4] Nalar kritis Paulo Freire mulai tumbuh. Ia mulai melihat disparitas yang tinggi antara apa yang telah disampaikan dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Bangunan intelektual Paulo Freire yang kritis kian hari kian berkembang. pengaruh bahasa dan mendalami filsafat seakan menjadi basis untuk bangunan pemikiran-pemikiran kritisnya.

Dalam penjelajahan intelektualnya, Paulo Freire banyak menelaah karya-karya Karl Marx, Maritain, Bernanos dan Mounier. Tidak hanya itu beberapa pemikiran dan para filosof sebelumnya juga tidak luput dari kehausan intelektualnya. Sebut saja Erich Fromm, Jean Paule Sartre, Friedrich Nietzche, Antonio Gramschi dan sebagainya. Literatur yang banyak itu kemudian semakin mematangkan konsep-konsepnya. Freire telah berhasil menarik buah pemikiran para tokoh sebelumnya menajdi bangunan konseptual yang berpengaruh di dunia pendidikan khususnya.[5]

Paulo Freire  melepas masa lajangnya pada tahun  1944 . Paulo Freire  menikahi  Elza  Maia  Costa  Oliviera  dari  Recife, seorang guru sekolah dasar (yang kemudian menjadi kepala sekolah). Dari proses pernikahan ini  ia  dikaruniai  dua  orang  putra  dan  tiga  orang  putri.  Paulo Freire ketika sudah selesai menikah dan mempunyai anak kian menaruh minat pada teori-teori pendidikan mulai muncul  dan mulai membaca buku-buku  pendidikan, filsafat dan sosiologi pendidikan dari pada buku-buku hukum.[6]

Pada  tahun  1959,  ia  meraih  gelar  doktor  dalam  bidang  sejarah  dan filsafat  pendidikan. Freire menyerahkan  disertasi  doktoral  di  Universitas Recife  dengan  judul Educacao  e  Atualidade Brazileira (Pendidikan  dan Keadaan  Masa  Kini  di Brazil). Inilah  saat  di  mana  ia  pertama  kali  mengemukakan pemikirannya tentang filsafat pendidikan melalui desertasinya di Universitas Recife, dan kemudian melalui karya-karyanya  sebagai guru besar sejarah dan filsafat pendidikan di Universitas Recife, juga dalam berbagai percobaannya dalam pengajaran pemberantasan buta huruf di kota yang sama.[7]

Paulo Freire menjabat sebagai cultural ektention service  di Universitas Of Recive. Salah satu program adalah melakukan pemberantasan buta huruf terhadap ribuah petani miskin. Hanya saja saat tahun 1960-an kondisi Brazil berada dalam situasi yang sulit.[8] Ada gerombang gerakan reformasi yang didengungkan, baik itu dari kalangan pelajar, komunis, kalangan buruh maupun militan kristen. Brazil yang mempunyai penduduk 34, 5 juta jiwa dan hanya 15,5 juta yang hanya dapat ikut pemilihan umum menggundang masalah serius. Pada saat itu hak untuk berpartisipasi politik harus mempunyai kemampuan untuk menuliskan nama, melek huruf.

Pada tahun 1961-1964 Paulo Freire mempunyai kesempatan yang banyak untuk menerapkan gagasan-gagasan pendidikan pembebasan. Paulo Freire telah mengajari banyak buruh untuk membaca dan menulis. Ekprimentasi ini diapresiasi oleh pemerintah Brazil sehingga Paulo Freire mengembangkan beberapa sentra untuk melakukan pemberantasan buta huruf.

Dehumanisasi

Disparitas antara si kaya dan si miskin begitu kental. Terjadi perbedaan yang mencolok antara masyarakat feodal sebagai penindas dan penghisap dan masyarakat akar rumpun yang menjadi objek penindasan. Tak heran kemiskinan terus melakat pada masyarakat bawah sementara akumulasi kekayaan terus menumpuk pada mereka kaum feodal. Kehidupan ini bagi Paulo Freire melahirkan sebuah budaya bisu, dimana kaum tertindas hanya menerima saja perlakuakn dari kaum penindas dan bahkan mereka tidak sadar akan ketertindasannya.

Paulo Freire dengan aksi-aksinya ingin melawan budaya bisu itu dan ingin menyadarkan masyarakat. Ada proses dehumanisasi yang terjadi di Brasil. Harkat dan martabat masyarakat sebagai manusia sudah kian rapun. Maka Paulo Freire ingin membangkitkan, menyadarkan mereka. Kondisi sosial yang kian carut marut itu membuat Paulo Freire bersuara lentang untuk menantang dan melakukan aksi pemberantasan buta huruf dan proses penyadaran. Paulo Freire mengatakan:

““Orang  radikal  yang  merasa  terpanggil  bagi  usaha  pembebasan manusia,  tidak  akan  menjadi  tawanan  dari  sebuah  “lingkaran kepastian”  di  mana  ia  juga  memenjarakan  realitas.  Sebaliknya, semakin  radikal  seseoran  semakin  jauh  ia  masuk  ke  dalam  realitas, karena  dapat  mengetahuinya  dengan  lebih  baik.  Ia  dapat mengubahnya  dengan  lebih  baik,  ia  tidak  takut  untuk  berhadapan dengan  apapun  untuk  mendenganrkan  dan  menyaksikan  dunia  yang terkuak.  Ia  tidak  gentar  untuk  bertemu  muka  dengan  rakyat  serta berdialog  dengan  mereka.  Ia  tidak  menganggap  dirinya  sebagai pemilik sejarah atau manusia, atau pembebasan kaum tertindas, tapi ia mengabdikan  dirinya  di  dalam  sejarah  untuk  berjuang  di  pihak mereka”[9]

Hanya saja dalam perjalannya, gerakan Paulo Freire dan beberapa tim yang ikut andil dalam proses pemberantasan buta dinggap sebagai proyek politik kepentingan golongan tertentu, apalagi pada saat itu beberapa penduduk pedalaman kerapkali hanya dijadikan sebagai alat untuk mendukung kepentingan tertentu. Paulo Freire hanya ingin menjadikan rakyat berpartisipasi aktif, sehingga suaranya tidak hanya dijadikan alat kepentingan golongan tertentu. Paulo Freire dengan metode khasnya melakukan pemberantasan buta huruf dengan gencar ke pelbagai pelosok daerah. Lambat laun banyak masyarakat yang bisa membaca dan mampu mengambil keputusan-keputusan sendiri dengan penuh kesadaran dan rasa bertanggung jawab.

 

 

Pendidikan sebagai Praktik Pembebasan

Kudeta besar-besaran itu terjadi pada April 1964, militer meruntuhkan rezim Goulart. Seluruh gerakan progresif  mengalami peminggiran dengan tindakan yang represif. Beberapa golongan progresif mendapat tekanan yang kuat dari penguasa. Mereka banyak yang ditangkap dan dipenjara, tak terkecuali juga dengan  Freire yang  ditangkap  dan di masukkan ke dalam penjara. Paulo Freire dianggap telah melakukan aktivitas subversif. Paulo Freire kurang lebih tinggal 70 hari di dalam penjara. Waktu yang sempit itu dimamfaatkan oleh Paulo Freire untuk menulis buku dengan judul, Education  as  the  Practice  of Freedom.

Setelah keluar dari hukuman, Paulo Freire diusir dari Brazil. Paulo Freire hidup dari satu negara ke negara lain dengan penuh arti. Paulo Freire pernah tinggal di Bolivia, setelah itu pindah ke Chile. Di negara inila Paulo Freire bekerja di organisasi  internasional Christian  Democratic  Agrarian Reform Movement. Dalam beberapa catatan sejarah, Paulo Freire mempunyai peran besar dalam mengantarkan Chile menjadi negara 1 dari 5 negara terbaik di dunia. UNESCO pun mengakui ihwal kesuksesannya dalam memberantas buta huruf.

Paulo Freire namanya ke terkenal sebagai sosok pendidik bagi mereka kaum tertindas. Maka tak heran ketika menjelang tahun 1970, dia  meninggalkan  Amerika  Latin menuju Amerika Serikat atas undangan Harvard University. Paulo Freire  mengajar  sebagai profesor tamu di Harvard’s Center for Studies in Education and Development and Social Change.[10]

Dari tahun 1969-1979, Paulo Freire pindah menuju Jenawa. Paulo Freire langsung diangkat sebagai penasehat khusus dalam bidang pendidikan bagi Dewan Gereja Dunia. Paulo Freire menjadi penasehat dalam bidang pembaharuan pendidikan  di beberapa tempat bekas koloni Portugis dan Afrika. Dia juga menjadi ketua komite  eksekutif  Institute  For  Cultural  Action  (IDAC)  yang  bermarkas  di Jenewa.  Lembaga itu mengadakan sejumlah penelitian dan berexperimen atas dasar pemikiran-pemikiran Paulo Freire.[11] Gagasan-gagasan Paulo Freire dalam bidang pendidikan menarik minat banyak kalangan, sehingga Paulo Freire dalam proses pembuangannya dari Brazil seakan peri untuk menghadiri undangan dan menjadi tamu kehormatan di beberapa negara.

Pada tahun 1979, Paulo Freire diizinkan kembali ke Brazil ketika Joao Batista Figuelredo menjabat sebagai kepala negara. Paulo Freire tetap mengiplementasi gagasan pendikan sebagai proses memanusiakan manusia. Dia bergabung dengan Partai Buruh (PT), di Sau Paulo. Dengan komitmen kemanusiaan yang tinggi Paulo Freire tetap melakukan proyek melek huruf bagi para buruh, petani dan mereka yang terpinggirkan. Paulo Frire juga menjadi guru besar di Universitas  Negeri Campinas dan Universitas Katolik  Sao  Paulo. Ketika partai Buruh menang dalam pemilu pada tahun 1986, maka Paulo Freire  diangkat menjadi sekretaris pendidikan di Sao Paulo.

Berita duka menimpa Paulo Freire pada tahun 1986. Elza, istri Paulo Freire, meninggal dunia. Tapi setelah beberapa lama Paulo Freire menikah dengan Maria Araujo, salah satu mantan mahasiswanya. Paulo Freire terus melakukan proses edukasi terhadap masyarakat, terutama mereka kaum yang terpinggirkan.

Pada tahun 1988, Paulo Freire ditunjuk menjadi Mentri Pendidikan untuk kota Sau Paulo. Bagi Paulo Freire ini adalah tanggung jawab besar sekaligus momentum bagi dirinya untuk melakukan proses pendidikan pembebasan secara lebih holistik. Paulo Freire.

Pada 1991 berdirilah sebuah institute Paulo Freire di Sau Paulo. Institue semuanya mengacu pada konsep dan prinsip pendidikan bagi rakyat menurut Paulo Freire. Pendidikan bagi Paulo Freire adalah media utama untuk melakukan proses humanisasi.

Memasuki usia yang ke 75, Paulo Freire kesehatannya kian memburuk. Penyakit jantung terus mengiringi hari-hari Paulo Freire. Pada 2 Mei 1997 Paulo Freire meninggal dunia. Paulo Freire telah mewariskan banyak hal bagi Brazil dan dunia pada umumnya. Paulo Freire telah mengajari kita untuk senantiasa mempunyai komitmen, menebar cinta dan harapan bagi mereka kaum tertindas. Paulo Freire telah mengajari dunia untuk selalu peka terhadap segala bentuk kesengsaraan dan penindasan.

Kalau kita melihat perjalanan kehidupan dan karier Paulo Freire sebagai pendidik, maka optimisme akan selalu mengiringi, meskipun dikungkung oleh kemiskinan, penjara, dan pembuangan. Dialah pemimpin dunia yang eksis memperjuangkan keadilan dan kebebasan bagi orang kelas marginal (pinggiran) yang menyusun “kebudayaan diam” di banyak wilayah. Paulo Freire berusaha membangkitkan kesadaran di hati setiap orang agar bertindak mengubah kenyataan yang selama ini membelenggu sebagian besar dari mereka yang miskin.[12]

Memanusiakan manusia (humanisasi) adalah fitrah manusia. Kalau ada orang atau golongan yang membelenggu nilai-nilai kemanusiaanya, maka itu harus dilawan, dimana pun dan kapanpun. Segala bentuk pemerasan dan penindasana adalah perlawanan dari fitrah manusia. Maka dengan lentang Paulo Freire dengan konsep pendidikan pembebasan ingin menghapus segala bentuk penindasan.

[1]Pengantar Richard Shaull dalam Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Penerjemah:Tim Redaksi LP3ES, cet.VII, (Jakarta: LP3ES, 2011), hal. x

[2]Muh. Hanif Dhakiri, Paulo Freire Islam Pembebasan, (Jakarta: Penerbit Pena, 2000), hlm. 17.

[3]Denis Collins, Paulo Freire:  Kehidupan, Karya, dan Pemikirannya, Penerjemah:  Henry Heyneardhi dan Anastasia P., cet.  III,  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar  Kerjasama dengan Komunitas APIRU Yogyakarta, 2002), hal. 6-7.

[4]Ibid, hal. 7

[5]Agung Prihantoro, Pendidikan sebagai Proses, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 9.

[6] Denis Collins, Paulo Freire, hal. 8

[7]Muh. Hanif Dhakiri,  Paulo Freire,  Islam dan Pembebasan, (Jakarta: Djambatan dan Penerbit Pena, 2002), hal. 18

[8] Baca Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, Penerjemah:Tim Redaksi LP3ES, cet.VII, (Jakarta: LP3ES, 2011), hal. Xii.

[9] Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas…, hal. 7.

[10]Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas…, hal. xv

[11] Ibid, hal. xv-xvi

[12]Firdaus M. Yunus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, (Yogyakarta: Logung Pustaka,2004), hlm. 21-22.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here