Pemikiran Al-Qabisi tentang Pendidikan Anak

Sosok

Al qabisi, pendidikan anak

Didaksi.com−Usia dini adalah masa yang sangat potensial bagi anak-anak. Masa yang berlangsung di bawah usia 7 tahun itu adalah era keemasan bagi tumbuh kembangnya potensi dan keunikan yang dimiliki oleh anak-anak.[1] Tak ada masa yang lebih peka selain pada masa anak-anak. Masa ini diibarakan dengan pondasi untuk membangun rancangan akan masa depan anak yang baik.

Dalam banyak penelitian juga banyak disimpulkan bahwa anak usia dini adalah masa emas “golden age” periode perkembangan kognitif, bahasa dan sosial emosional mengalami peningkatan.[2] Dan keterlambatan stimulasi pada usia ini mempunyai efek jangka panjang dalam kehidupan seorang manusia. Begitu juga sebaliknya, maksimalisasi proram pendidikan anak usia dini bisa berimplikasi serius baik terhadap kecerdasan dan karakter peserta didik, maupun masa depan pendidikan secara umum.[3]

Baca juga Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini dan Pemikirannya

Tak heran apabilaPendidikan anak usia dini menyita perhatian di belahan dunia. Bermula dari pertemuan Jomtien, Thailand pada 1990. Forum itu melahirkan Deklarasi Jomtien yang berisi ihwal pentingnya pendidikan untuk semua dari kandungan sampai liang lahat. Ada juga Deklarasi ” A World Fit For Childran”, di New York, Amirika Serikat pada tahun 2002. pertemuan ini sangat menekankan untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak.

Dalam konsep islam, himbauan dan perhatian beberapa negara untuk menyegerakan memperhatikan program pendidikan anak usia dini bukan hal yang baru. Jauh sebelum deklarasi itu diproklamirkan dan penelitian itu dilakukan, konsep pendidikan islam sudah sejak awal menganggp penting utuk pendidikan anak usia dini, lebih-lebih dalam kontek pendidikan aqidah dan ibadah dalam lingkungan keluarga. Allah Swt berfirman,

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S Lukman: 17-19)

Maka pada kali ini penulis akan coba fokus terhadap konsep pendidikan Al-Qabisi tentang pendidikan anak. Al-Qabisi adalah salah satu tokoh yang cukup serius menekuni pengembangan dunia pendidikan islam. Dalam makalah yang singkat ini akan diuraikan pemikirannya tentang pendidikan islam, secara lebih spesifik tentang pendidikan anak menurut Al-Qabisi.

Biografi Al-Qabisi

Al-Qabisi adalah salah seorang tokoh ulama ahli hadits dan seorang pendidik yang ahli,[4] yang hidup pada 324-403 H. di kota Qaeruen, Tunisia[5]. Nama lengkap Al-Qabisi adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Khalaf Al-Qabisi, lahir pada Rajab 224 H. atau 13 Mei 1936 M. Ia pernah merantau ke negara-negara timur pada 353 H. Atau 963 M. Selama 5 tahun kemudian kembali ke negeri asalnya dan meninggal dunia pada tanggal 3 Rabi’ul awal 403 H. atau tanggal 23 Oktober 1012 M.[6]

Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Kota Qairawan untuk belajar. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Ia pernah juga tinggal di Mesir beberapa waktu lamanya, dan berguru pada salah seorang ulama iskandariyah.[7] Ia juga memperdalam ilmu agama, dan ilmu hadits dari ulama-ulama terkenal di Afrika Utara, seperti Abul Abbas Al-Ibyani dan Abul Hasan bin Masrur Ad-Dibaghi, Abu Abdillah bin Masrut Al-Assaali serta ulama lainnya.[8]

Al-Qabisi adalah salah satu pengagum berat terhadap guru-guru tersebut. Kepada Abul Abbas Al-Ibyani ia mengatakan, “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas.”[9] Al-Qabisi pun terkenal sebagai ulama yang sangat menonjol pada zamannya. Ia adalah ulama yang gemar berpuasa, sembahyang tahajjud, berwatak qona’ah, berhati halus terhadap orang yang menderita musibah dan ia orang yang sabar.

Keluasan ilmu Al-Qabisi–dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastra Arab—menjadi pilar untuk memecahkan persoalan yang terjadi di masyarakat. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam yang terjadi pada saat itu. ia pun diangkat menjadi mufti dinegerinya. Pada awalnya ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah hati), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi). Kondisi yang membuat Al-Qabisi harus menjadi mufti. Ketika wafat Ibnu Syilun, mufti negeri Tunis, maka tak ada pilihan lain yang pantas untuk mengiai jabatan yang kosong ini kecuali Al-Qabisi[10]

Di samping itu juga dikenal sebagai tokoh pemikir pendidikan, terutama tentang pendidikan anak-anak di kuttab-kuttab. Salah satu karya dalam bidang pendidikan Islam yang sangat populer adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, kitap itu cukup terkenal pada pada abad 4 dan setelahnya. Kitab itu merupakan riancian prilaku murid dan hukum-hukum yang mengatur para murid dan guru.

Konsep Pendidikan Anak

Tujuan pendidikan pendidikan bagi Al-Qabisi adalah mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang murni.[11]

Secara lebih luas ada yang mengatakan, pendidikan menurut Al-Qabisi adalah mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta agama dan berpegang teguh terhadap ajarannya dan membekali anak keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan hidup secara mandiri.[12]

Al-Qabisi menaruh perhatian serius terhadap pendidikan anak-anak di kuttab-kuttab, salah satu jenis lembaga pendidikas islam yang berkembang pada abad kedua hijriah yang biasanya bertempat di sudut-sudut masjid.[13] Mendidik anak bagi Al-Qabisi adalah tiang bangsa yang harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan ketekunan.[14] Kalau diibaratkan piramida pendidikan, maka pendidikan anak adalah pondasi yang harus dibangun dengan kokoh dan kuat. Pondasi pendidikan yang kokoh menjadi dasar untuk pembangunan jenjang-jenjang pendidikan berikutnya.

Al-Qabisi tidak memberikan penegasan khusus untuk memasukkan anak ke Al-kuttab. Ia tidak memberi penegasan umur untuk masuk ke kuttab-kuttab karena kematangan psikologi antara anak yang satu dengan yang lain itu berbeda. Hanya saja Al-Qabisi membuat perkiraan, anak-anak masuk al-kuttab itu mulai dari sekitar lima sampa enam tahun. Sebelum itu, didik oleh kedua orang tuanya. Jadi mula-mula pendidikan itu dimulai dari rumah. Al-kuttab yang menjadi perhatian serius Al-Qabisi hanyalah kelanjutan dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik anaknya.

Anak-anak masuk ke al-kuttab ketika mulai mendapat kematangan psikologis,[15] yang itu berkisar antara 5-7 hingga masa akil baligh. Ketika anak-anak yang ada dikuttab belajar menghafal Al-Quran, lalu diajari tulis menulis, dan pada waktu dzuhur mereka pulang ke rumah masing-masing untuk makan siang, kemudia n kembali lagi ke kuttab untuk belajar lagi sampai sore.[16]

Anak-anak di al-kuttab mempelajari ragam macam ilmu, seperti Al-Quran, tulis menulis, nahwu, bahasa arab dan juga kerapkali diajari syair dan kisah-kisah Arab. Tetapi yang menjasi titik kekkan utama adalah mempelajari Al-quran yang dimulai dengan menghafal secara individual dan kelompok, dimana guru membaca secara berulang-ulang yang kemudian diikuti oleh anak-anak.

Al-Qabisi memulai pembelajaran melalui beberapa klasifikasi yaitu pada pagi hari Sabtu sampai Kamis itu dianggap satu kali pembelajaran. Guru dapat melihat langsung kegiatan peserta didiknya.Proses belajar mengajar diakhiri diahir pekan dan dievaluasi sejauh mana perkembangan anak didik. Di samping anak-anak libur pada hari Jum’at. Menurut beliau selain hari Jum’at sebagai hari libur anak-anak termasuk juga hari Raya ‘Idil Fitri dan terkadang sampai lima hari pada hari raya qurban.[17]

Al-Qabisi juga menyuruh agar anak diberi tugas, mulai dari hafalan, menulis, mengamati yang kemudia hasil dari semua itu ditunjukkan pada guru. Kalau ada anak yang melanggar, maka guru bisa memberi hukuman. Pada awalnya anak diberi nasehat, setelah itu diasingkan. Pukulan juga menjadi hukuman tahap akhir apabila anak nasehat, petunjuk, dan peringatan tidak mampu mengubah anak.

Al-Qabisi ternyata tidak hanya fokus pada pembentukan kepribadian anak, tapi juga perhatian terhadap tumbuh-kembang bakat-bakat anak dan mempersiapkan mereka bagi kehidupan sosialnya. Al-Qabisi juga menyeru agat anak mampu berdiri sendiri, mampu bertanggung jawab atas kehidupan mereka, menyesuakan diri terhadap tuntutan lingkungan dimana mereka hidup.

Al-Qabisi juga memberi kebebasan pada anak, seperti memperbolehkan anak untuk mengajar anak yang lain jika memang ada mamfaatnya, mendikte ilmu antara satu anak dengan anak yang lain, boleh mengajarkan Al-Quran satu anak pada yang lain. Sikap seperti itu menegaskan bahwa Al-Qabisi melalui al-kuttabnya mengembangkan sikap menghormati kepribadian anak dan memberikan kebebasan kepada mereka yang memberikan mamfaat bagi banyak orang.

Di samping itu juga, Al-Qabisi memberikan kebebasan kepada anak dalam pelaksanaan keagamaan. Bagi anak yang yang telah berusia dewasa (baligh), maka diperkenankan untuk menjadi imam sembahyang di kalangan anak-anak lainnya. Semua itu dalam rangka untuk meningkatkan pemahawam ihwal bersembahwang berjamaah. Al-Qabisi juga tidak akan melarang anak untuk bermaian, selama itu mampu bermamfaat dalam kreatifitas anak. [18]

Lembaga al-kuttab yang menjadi titik tekkan Al-Qabisi menjadi sebuah lembaga kompleks dalam proses pengembangan anak. Pendidikan anak bagi Al-Qabisi tidak hanya menumpuhkan pemahaman dan pengamalan agama, tapi juga mengajarkan kreatifitas anak dengan memberkan kebebasan dan demokrasi dalam dunia pendidikan.

Menurut Al-Qabisi kurikulum pendidikan dibagi menjadi dua, yakni kurikulum ijbari (wajib) dan kurikulum ichtiyari (tidak wajib).

Pertama, kurikulum ijbari adalah kurikulum yang menekkankan pada materi belajar Al-Quran dan ilmua alatnya, belajar sembahyang dan berdoa, menulis, ilmu nahwu, bahasa Arab. Semua ilmu itu mengarah pada pemdidikan budi pekerti anak agar mampu mencintai agama serta mengajarkan anak agar mampu hidup dengan jalan yang terpuji.

Kedua, kurikulum ichtiyari terdiri dari beberapa materi, seperti ilmu hitung, syait, sejarah dan kisah-kisah bangsa Arab, ilmu nahwa grammer dan beberapa disiplin penunjang lainnya. Kalau kurikulum yang pertama untuk jenjang pendidikan pradasar al-kuttab, maka kurikulum yang kedua ini biasanya dipakai di jenjang pendidukan dasar. Selanjutnya ke dalam kurikulum ikhtiyari ini beliau memasukkan pelajaran keterampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja yang mampu membiayai hidupnya dimasa depan.[19]

Terobosan Al-Qabisi dalam bidang Pendidikan

Sebagai salah satu tokoh pendidik yang cukup populer pada abad ke 4 H, terutama dalam konteks pendidikan dasar anak, Al-Qabisi mempunyai pandangan cemerlang—yang sangat berani untuk ukuran zaman itu—ihwal masa depan pendidikan.

Pertama, kewajiban mengajar. Menurut Al-Qabisi, pemerintah dan orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anak yang masing-masing sesua dengan fungsinya dalam rangka melaksanakan kewajiban mendidik dan mengajar anak mereka secara keseluruhan. Jadi, Al-Qabisi yang hidup pada ke 4 itu sudah dengan berani menyerukan kewajiban mengajar.

Kedua, persamaan dan demokrasi dalam jagat pendidikan. Anak-anak yang ada di al-kuttab tidak ada perbedaan derajat dan martabat. Bagi Al-Qabisi pendidikan adalah hak semua warga negara tanpa ada pengecualian. Al-Qabisi menyeru agar anak-anak kaum muslimin hendaknya diajar dan didik tanpa terpengaruh oleh perbedaan stratifikasi sosial-ekonomis dan keuangan masyarakat yang ada. Setiap guru bagi Al-Qabisi harus mengajar anak orang yang kaya dan yang tidak berdasarkan atas persamaan dan penyediaan kesempatan belajar bagi semua anak secara bersama.

Al-Qabisi juga menyeru agar orang islam yang berkemampuan hendaknya bisa berbuat banyak untuk membantu anak-anak yang tidak mampu. Al-Qabisi menganjurkan agar Baitul Mal kepada orang-orang yang mengajar. Nafkah itu bagi Al-Qabisi adalah tanggungan pemerintah, selaku wakil kaum fakir miskin yang tidak mampu untuk membayar ongkos pendidikan anak-anaknya.

Al-Qabisi juga memberikan perhantian terhadap pendidikan anak laki-laki dan perempuan. Bagi Al-Qabisi pendidikan bagi anak perempuan adalah suatu keharusan, seagaimana layaknya pendidikan untuk naak-laki-laki. Mengajar anak perempuan itu harus sama porsinya dengan mengajar anak laki-laki. Baginya, kewajiban mengajar itu adalah kewajiban agama yang tidak membeda-bedakan tingkatan dan kedudukan sosial di masyarakat.

Hanya saja, Al-Qabisi menghendaki adanya pemisahan tempat antara laki-laki dan perempuan. Ia tidak setuju bila murid laki-laki dan perempuan dicampur dalam kuttab, hingga anak itu belajar sampai usia baligh (dewasa). Al-Qabisi khawatir, kalau anak laki-laki remaja dan anak perempuan bercampur di kuttab, maka hal itu bisa meimbulkan kerusakan moral.

Ketiga, gaji guru. Bagi Al-Qabisi, pembayaran gaji guru sebagai imbalan dari pekerjaan lain yang ia tinggalkan. Di samping itu juga guru bagi Al-Qabisi memperbolehkan menerima hadiah-hadiah pada hari-hari besar.[20] Ibnu Mas’ud menjelaskan sebagaimana dikutip oleh al-Qabisi: “Tiga hal yang mesti ada bagi mansia: Pemimpin yang mengatur diantara mereka, seandainya tidak ada (pemimpin) maka manusia akan memakan manusia lainnya., membeli dan menjual mashaf, jika ini tidak ada akan runtuhlah kitab Allah Swt, dan yang terakhir guru yang mengajari anak mereka dan memperoleh gaji darinya, dan jika ini tidak ada, manusia akan menjadi bodoh”.[21]

Di samping guru bisa menerima imbalan, yang terpenting dan utama bagi Al-Qabisi guru harus mempunyai akhlak yang baik dan kepribadian yang baik. Guru adalah orang yang paling dekat dengan anak setelah orang tua. Untuk itulah guru harus menjadi teladan bagi anak-anak di al-kuttab. Menurut Dr. Ahmad Fu’ad Al Ahwani yang meminjam dari pernyataan Al-Qabisi menegaskanbahwa kepribadian guru mempunyai kesan yang sangat mendalam yang mempengaruhi pemikiran pelajar dan tingkah laku mereka. Mereka sangat mudah dipengaruhi oleh guru, khususnya diusia sangat muda. Guru menjadi contoh unggul pada mereka dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dari segi gerak langkahnya, tutur katanya dan gaya hidupnya[22].

Kesimpulan

Al-Qabisi adalah salah seorang tokoh ulama ahli hadits dan seorang pendidik yang ahli, yang hidup pada 324-403 H. di kota Qaeruen, Tunisia. Keluasan ilmu Al-Qabisi menjadi pilar untuk memecahkan persoaln yang terjadi di masyarakat. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam yang terjadi pada saat itu.

Di samping itu juga, ia dikenal seagai tokoh pemikir pendidikan, terutama tentang pendidikan anak-anak di kuttab-kuttab. Salah satu karya dalam bidang pendidikan Islam yang sangat populer adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, kitap itu cukup terkenal pada pada abad 4 dan setelahnya. Kitab itu merupakan riancian prilaku murid dan hukum-hukum yang mengatur para murid dan guru.

Konsep pendidikan menurut Al-Qabisi meliputi; lembaga pendidikan anak-anak, tujuan pendidikan Islam, Kurikulum pendidikan Islam, kurikulum pendidikan yang meliputi kurikulum Ijbari dan kurikulum ikhtiyari, metode pembelajaran. Al-Qabisi juga menarih perhatian serius terhadap pemerataan pendidikan, pengembangan kreatifitas anak, dan persamaan mengenyam pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan, pentingnya keteladanan bagi guru serta diperbolehkannya guru mendapat tujangan.

Catatan:
[1] Disebut masa keemasan karena menurut data neorosain menemukan bahwa anak yang baru lahir mempunyai 100-200 miliyar neoron (sel saraf) dan perkembangan otaknya mencapai 50 % ketika berusia 6 6 bulan. Lihat Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy, Petunjuk Praktis Menerapkan Accelerated Learning, (Jakarta: Gramedia, 2003), hal. 2
[2] Lihat Solehuddin Dkk, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Bagian 4 Pendidikan Litas Bidang, (Bandung: Imatima, 2007), hlm. 96
[3] Lihat Lawrence E Shapiro mengatakan bahwa anak hingga usia 6 sampai tujuh tahun mempunyai harapan tinggi untuk berhasil mempelajari segala hal, meskipun hasilnya buruk. Lihat dalam bukunya, Mengajarkan Emosional Intelegensi pada Anak, alih bahasa oleh AlexTri Kentjono (Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal. 4.
[4] Aliran pendidikan Islam yang berkembang pada masa keemasan dipetakan menjadi dua, yakni aliran konservatif dan aliran rasional. Di antara tokoh pendidikan muslilm yang termasuk ke dalam aliran pertama adalah: Ibn Sahnun (202-256 H.), al-Qabisi (342-403.), al-Ghazali (450-505 H.). Lihat Dr. Mahmud Arif, Pendidikan Islam Transformatif, (Yogyakarta: LkiS. 2008), hlm. 108-109
[5] Republik Tunisia adalah sebuah negara Arab Muslim di Afrika Utara, tepatnya di pesisir Laut Tengah. Tunisia berbatasan dengan Aljazair di sebelah barat, dan Libya di selatan dan timur. Di antara negara-negara yang terletak di rangkaian Pegunungan Atlas, wilayah Tunisia termasuk yang paling timur dan terkecil. 40% wilayah Tunisia berupa padang pasir Sahara, sisanya tanah subur. http://id.wikipedia.org
[6]Ali Al-Jumbulati Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, pener Prof. H.M. Arifin, M.Ed, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994) , hlm. 76
[7] Iskandariyah atau Alexandria adalah pelabuhan utama di Mesir, dan kota terbesar kedua di negara tersebut, dan juga ibu kota pemerintahan Al Iskandariyah yang terletak di pantai Laut Tengah. http://id.wikipedia.org
[8] Pada waktu tinggal di Queruan, Madzhab Maliki berkembang pesat di wilayah afrika utara, maka dari itu Al-Qabisi belajar kepada guru-guru yang bermadzhab Maliki , sampai ia menjadi orang yang ahli fiqih, ahli hadits bermadzhab Maliki. Ibid, hlm. 77
[9]Abdullah al-Amin al-Nu’my, Kaedah dan Tekhnik Pengajaran Menurut Ibnu Khaldun dan Al-Qabisy (Jakarta: t.pt., 1995), hal. 184
[10] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2003), hlm. 26
[11]Abuddin Nata, Op.Cit, hlm 28
[12] Ali Al-Jumbulati, Op.Cit, hlm. 76
[13] Sejarah Al-kuttab dalam pendapat yang lain juga dapat ditelusuri sampai pada zaman Rasulullah Saw, dimana Rasulullah saw pernah memerintahkan para tawanan perang (badar) yan gdapat menulsi dan membaca untuk mengajar sepuluh anak-anak madinah, bagi setiap orang tawanan. Ada juga yang menayakan bahwa Al-kuttab ini sudah ada sejak pra-islam, dan islam meneruskan serta menyempurnakannya. Baca K.H. Muhammad Sholohin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, (Jogjakarta: Narasi, 2008), hlm. 48.
[14] Ali Al-Jumbulati, Op.Cit, hlm. 81
[15] Kematangan psikologis adalah kondisi yang tampak pada perilaku seseorang untuk mampu melakukan dan mempelajari sesuatu sesuai dengan tuntutan tugas perkembangannya, seperti anak TK, lebih fokus pada kseiapan anak untuk memasuki jejang pendidikan dasar dan seterusnya. Antara anak yang satu dengan anak yang lain mempunyai tingkat kematangan yang berbeda. Baca Shahabuudin Hasyim Dkk, Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur: PTS Profesional, 2006), hlm. 50.
[16] Ali Al-Jumbulati, Op.Cit, hlm. 81.
[17] Abuddin Nata, Op.Cit, hlm. 34.
[18]Ali Al-Jumbulati, Op.Cit, hlm. 100
[19] Abuddin Nata, Op. Cit, hlm. 31
[20] Ali Al-Jumbulati, Op.Cit, hlm. 109
[21] Moh. Syafi’il Anam el-Syaff, Pemikiran Al-Qabisi tentang Pendidikan Islam. Saya kutip dari http://maftuhtsaquf.blogspot.com
[22]Ahmad Kilani Muhamed, Pengurusan pendidikan di Sekolah, Huraian menurut perspektif Islam (Kuala Lumpur: Universitas Tekhnologi Malaysia, 2005), hlm. 132.