Pendidikan yang Memerdekakan

Sosok

Didaksi.com−Ketika pertama kali saya berkunjung ke museum Ki Hadjar Dewantara (KHD) di Taman Siswa, Jogjakarta, tampaklah pengaruh Friedrich Fröbel (21 April 1782–21 June 1852) dan Maria Montessori (31 Agustus 1870-6 Mei 1952) terhadap konsep pendidikannya: bagian dinding di sebelah barat terdapat lukisan Froebel, Montessori dan Rabindranath Tagore yang berjajaran. Lukisan itu dipasang di Museum Perpustakaan Taman Siswa karena ada pertalian erat dengan pemikiran pendidikan KHD, terutama pendidikan yang memerdekakan.

Kekaguman KHD terhadap konsep Frobel dituliskan dalam sebuah Jurnal Pusara, edisi Mei 1941, jilid XI. No.5. dengan judul, “Tentang Froebel dan Metodenya”. KHD menulis kekaguman pada Frobel yang dianggap sebagai pelopor pendidikan anak yang beraliran romantiasme sehingga anak-anak selalu didekatkan pada alam, bernyanyi dan berfantasi.  Ketika anak-anak banyak bergerak, bernyanyi dan berfantasi, maka itulah cara untuk mendidik pikiran anak. Kalau ada anak-anak yang tak bergerak, maka itu berarti tanda badan-jiwanya kurang sehat. Hanya saja kebebasan anak ala Froebel masih terperintah.

KHD juga mengagumi Maria Montessori yang sangat rasional dan ilmiah. KHD menulis artikel, “Dr Maria Montessori, Tokoh Pendidikan Merdeka” dalam Pusara, September 1952-Jilid XIV No.5. KHD sangat mengagumi Maria Montessori sebagai penganjur pendidikan merdeka, menekankan kebebasan dan juga aktivitas latihan panca indra. Bagi Maria Montessori, tak ada istilah pengajar, yang ada adalah penuntun dan tak ada istilah larangan yang ada adalah rekayasa lingkungan. KHD juga kagum pada Maria Montessori dalam hal rekayasa setiap indra anak melalui permainan, bahkan taman pendidikan anak (1922) dibuat KHD dengan nama Taman Indriya, karena anak-anak di bawah umur 7 tahun masih berada dalam perkembangan panca-indra.

Jalan Tengah Ki hadjar Dewantara

KHD membangun jalan tengah di antara sosok Frobel dan Maria Montessori. KHD menyebut Frobel beraliran romatik atau lebih tepat dikatakan sebagai sahabat anak-anak dan Maria Montessori yang lebih rasionalis—prinsip-prinsip pendidikannya bersandar pada data-data empiris—lebih tepat dikatakan sebagai pemikir anak atau ahli tentang anak.

Baca Juga: Ki Hadjar Dewantara dan paradoks Kita

Kalau Maria Montessori sangat mementingkan panca indra dengan memberi kemerdekaan dan kebebasan yang leluasa—permainan untuk mengaktifkan panca indra anak—dan Frobel sangat mementingkan permainan anak-anak untuk membangkitkan jiwa anak, kegembiraan anak dengan kebebasan yang masih terperintah, maka KHD menggunakan kedua konsep tersebut, yakni menjadikan permainan dan panca indra sebagai sesuatu yang tak terpisahkan serta melakukan pemaduan konsep kebebasan dengan batasan tertentu anak sehingga lahir ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani sebagai pendekatan pendidikan dan Pancadarma Pendidikan sebagai pegangan dalam menjalankan pendidikan yang memerdekakan.

Dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

KHD menjadikan pendidikan tidak bebas nilai, pendidikan mempunyai keberpihakan untuk kemerdekaan hidup lahir dan batin rakyat Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, KHD membuat asas-asas pendidikan taman siswa 1922, sebagai alat perjuangan menghadapi kolonial. Ketika Indonesia merdeka, dan dalam rangka pendidikan berkontribusi untuk mengisi kemerdekaan, maka lahirlah Dasar-Dasar Taman Siswa 1947 atau Pancadarma. Inilah dasar pendidikan yang saya kira masih cukup relevan untuk menuntun anak dalam rangka mengisi kemerdekaan hingga saat ini.

“Berilah kemerdekaan dan kebebasan kepada anak-anak kita; bukan kemerdekaan yang leluasa, namun yang terbatas oleh tuntutan-tututan kodrat alam yang nyata dan menuju ke arah kebudayaan, yakni keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Agar kebudayaan tadi dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan, akan tetapi jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertantangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan (Azaz-Azaz Taman Siswa, 1961).

Dalam rangka menuntun anak Indonesia, maka proses pendidikan harus memerdekakan anak yang berasaskan pada kodrat alam, keunikan dan karakter tiap-tiap anak. Dalam kajian psikologi kemerdekaan yang berdasarkan pada kodrat alam berarti kemerdekaan yang memperhatikan tertib dan damainnya anak. KHD tidak menuntut anak agar disiplin dalam membuang air tetapi dengan cara kekerasan. Itu adalah contoh tuntunan ketertiban yang menegasikan kedamaian hidup anak-anak.

KHD juga menuntun anak mengenal kebudayaan sendiri. Dalam pendidikan anak, tampak sekali bagaimana KHD menjadikan alat-alat permainan tradisional serta nyanyian tradisional sebagai media pembelajaran. Kebudayaan menjadi dasar pengembangan bagi KHD, karena kalau anak-anak teralienasi dari kebudayaan sendiri, bagaimana mereka mampu melakukan proses pengembangan kebudayaan.

Proses pendidikan juga harus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, seperti menjunjung tinggi nilai kerja sama, gotong royong, mengedepankan hidup bersama serta yang paling penting adalah menjunjung tinggi Bhinika Tunggal Ika. KHD ingin menanamkan bahwa perbedaan budaya, agama dan kebangsaan itu juga harus ditopang dengan nilai kemanusiaan. Asas pendidikan itu akan mengantarkan anak-anak Indonesia yang merdeka—menggali potensi dan keunikan nya sehingga mempunyai keahlian, berdiri dan berkembang sesuai alam kebudayaan nasional, mempunyai nasionalisme tinggi serta menjunjung tinggi kemanusiaan.

KHD sebagai penggerak pendidikan nasional sudah membangun pondasi ihwal impian manusia Indonesia dan pegangan bagi setiap pendidik. Ketika saat ini banyak lahir peserta didik yang tak mempunyai jiwa merdeka, intoleran dengan alasan etnis, suku dan agama serta jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, maka ada yang terlepas dari dasar pendidikan kita.

Tulisan ini pernah tayang di kedaulauatan Rakyat, 16/Februari/2018