Penggagas Taman Anak

0
293

Didaksi.com−Dalam sejarah peradaban ummat manusia, konsepsi tentang anak selalu berubah-rubah. Adakalanya anak menjadi makhluk mungil yang hanya diperhatikan secara samar-samar, ada saat anak mendapat perhatian serius dan ada masa panjang dimana konsepsi tentang anak tenggelam dalam ketidakjelasan hingga pada saat tertentu anak muncul menjadi pusat perhatian yang sangat diseriusi dan ditekuni oleh para ilmuwan.

.

PAUD, PIAUD, anak. Sejarah PAUD

Orang Yunani memberi perhatian yang samar pada masa anak-anak sebagai sebuah kategori umur yang khusus. Pepatah lama yang menyebutkan bahwa orang Yunani punya kata yang mewakili segala sesuatu tidak berlaku bagi konsep mengenai anak. Kata-kata dari Yunani untuk anak dan pemuda bersifat ambigu, dan tampaknya menyangkut hampir semua yang termasuk antara masa bayi dan masa tua. Meski tidak satu pun lukisan Yunani tersisa, sangat mungkin orang Yunani kuno beranggapan bahwa menggambar anak-anak dalam lukisan mereka tidak perlu. Tentu di antara patung-patung yang tersisa, tak satu pun berupa anak.[1]

Baca juga:

Mengenal Hakikat Anak Usia Dini

Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini dan Pemikirannya

Peradaban Romawi mempunyai perhatian lebih terhadap anak-anak kalau kita bandingkan dengan Yunani. Romawi mengembangkan suatu kesadaran ihwal masa anak-anak melampaui ide Yunani. Kita bisa melihat dari seni Romawi, ada aspek perhatian yang luar biasa tentang usia bagi yang muda dan anak-anak. Orang Romawi sudah beranggapan bahwa masa anak-anak itu mesti dihindarkan dari rahasia-rahasia orang dewasa, khususnya rahasia-rahasia seksual. anak-anak membutuhkan perlindungan, pendidikan dan kebebasan dari rahasia-rahasia orang dewasa.

Setelah itu konsepsi tentang anak mulai lenyap. Hancurnya kekaisaran Roma, terkuburnya kebudayaan klasik, dan menurutnya kebudayaan Eropa yang kemudian dikenal dengan abad Kegelapan dan Pertengahan adalah babakan sejarah baru tentang konsepsi anak. Di antara sekian banyak kehancuran dan hilangnya peradaban yang sejak awal dirakit, adalah menghilangnya masa anak-anak. Antara anak-anak dan orang dewasa tidak ada perbedaan konsepsi yang jelas.

Apa yang bisa kita simpulkan dengan pasti bahwa di abad pertengahan tidak ada konsepsi mengenai perkembangan anak. Tidak ada konsepsi mengenai prasyarat-prasyarat atau pembelajaran yang bertingkat. Tidak ada konsepsi mengenai sekolah sebagai sebuah persiapan bagi dunai orang dewasa. Secara ekstrem Aries yang dikutip oleh Neil Postman.”Peradaban abad pertengahan telah melupakan pendidikan umum kuno dan tak tahu apapun dibanding pendidikan modern”[2]

Anak kembali menjadi objek yang dihormati setelah lima puluh tahun pertama dari munculnya mesin cetak. Ini disebut sebagai masa incunabula, yang secara harfiah berarti masa merangkak. Ketika mesin cetak mulai beranjak dari masa merangkak, gagasan mengenai usia anak-anak telah masuk. Masa merangkak ini berlangsung selama dua ratus tahun. setelah abad Keenambelas dan Ketujuhbelas usia kana-kanak mulai eksis diakui dan menjadi ciri tatanan alamiah. Anak anak secara bertahap menjadi obyek yang dihormati, makhluk spesial dengan sifat dan kebutuhan-kebutuhan yang berbeda yang memerlukan pemisahan dan perlindungan dari dunia orang dewasa.[3]

Iklim intelektual pada abad kedelapan belas dan selanjutnya mulai terbangun dengan lebih spesifik. Banyak ilmuwan yang secara khusus lebih serius menumbuhkan dan menyebarkan ide mengenai mahkluk mungil itu. Ada beberapa tokoh penting, seperti John Lockhe, Rosseau, Frenrich Froebel, Comenius, Pestalozzi, Maria Montessori, Jean Piaget yang memberi sumbangan yang tak ternilai akan pentingnya pendidikan anak, hingga pada gilirannya anak itu ditempatkan sebagai raja.

Salah satu tokoh pendiri taman kanak-kanak yang tenar pada abad 19 adalah Friedrich Wilheim Froebel (1782-1852). Froebel yang pernah belajar pada pertalozzi. mendirikan kindergarten( kinder = anak dan garten = taman) di Jerman pada tahun 1837). Froebel dianggap sebagai bapak dari pendidik anak usia bayi. Sekolah yang dirancang oleh Froebel ini, oleh banyak kalangan dikatakan berbeda dari sekolah yang pernah ada. Model rancangan Froebel mempengaruhi rancangan sekolah di seluruh dunia. Dialah penggagas sistem sekolah bagi anak-anak usia dini yang kita kenal dengan Taman kanak-kanak (kindergarten system).[4]

Pendidikan terus berkembang di pelbagai negara sesua dengan pemikiran tokoh dan kebutuhan zamannya. Ada Pendidikan Anak Usia Dini untuk penduduk asli Amerika (Orang Indian), Pendidikan anak bagi warga kulit hitam yang ada di Amerika, ada pendidikan anak bagi kaum imigran, baik itu yang datang dari Cina, Jepang, India dan negara lainnya dan ada juga pendidikan anak bagi kaum miskin dan kaum difabel.[5] Beberapa negara lain sudah mulai respek dan menggalakkan pendidikan anak usia dini tanpa mengenal perbedaan.

Ada juga pendidikan anak yang hadir dalam menantang penjajahan yang menyiratkan keseragaman budaya. Sebuah contoh saat penjajahan Eropa datang ke Amerika dan mencoba menghapuskan budaya asli, maka pendidikan menjadi tameng untuk terus bergerak dalam keragaman budaya, mempertahankan kepribadian dan bahasa. Pendidikan anak tetap terus berkembang bersama dengan identitas yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, sesua dengan identitas nenek moyangnya.[6]

Pendidikan anak di pelbagai negara maju juga menjadi alat perang terhadap kemiskinan. Di Amerika ada Head Start yang berdiri tahun 1965 ini—pada mulanya berdiri sebagai alat perjuangan sosial politik pada era Hak Asasi Warga sipil—bergerak dalam mengintervensi pendidikan anak dari kalangan keluarga miskin, mulai dari melakukan perawatan sebelum melahirkan, mengurangi gizi buruk, memerangi lingkungan yang dikelilingi kejahatan serta diskriminasi jenis kelamin-ras yang memengaruhi kehidupan dari keluarga orang miskin.

Catatan:

[1] Neil Postman, Selamatkan Anak-anak, penerjemah Siti Hidayah, (Yogyakarta: Resist Book, 2009), hal. 17
[2]Neil Postman, hal. 30
[3]Neil Postman, hal. 61
[4] Doni Koesoma, Anak-anak Tanpa Identitas, (Kompas, 05 Agustus 2004)
[5] Baca Jaipul L.Roopnarine dan James E. Johnson, Pendidikan Anak Usia dini dalam Pelbagai Pendekatan, penerjemah Sari Narulita, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 2-11
[6]Ibid, hal. 24
Sumber Gambar: www.froebelweb.org

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here