Pentingnya Muatan Kelautan dalam kurikulum PAUD 2013

Kabar Pendidikan

kurikulum paud 2013, rpph paud kurikulum 2013

Didaksi.com−Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki tidak kurang dari 17.000 pulau dan dikelilingi oleh laut dengan potensi sumberdaya hayati maupun non hayati yang sangat besar. Hanya saja pengetahuan dan wawasan bidang kemaritiman masih minim sehingga potensi alam tak mampu dikelola dengan baik. Untuk itulah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Maritim (Menkomaritim) telah mengembangkan muatan kemaritiman dalam Kurikulum PAUD 2013 melalui diversifikasi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.

Baca juga Enam Kebijakan Strategis PAUD

“Muatan kurikulum Kemaritiman ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk secara dini melakukan restorasi pemahaman dan kebanggaan anak bangsa sebagai bagian dari bangsa maritim,” ujar Direktur Pembinaan Anak Usia Dini, Dr Muhammad  Hasbi dalam Kegiatan Penguatan Kapasitas Pembelajaran Daerah Maritim di Kuta, Bali 14 hingga 16 Desember seperti dilansir laman Anggun PAUD Kemdikbud.

Menurut Dr Hasbi, dalam rangka meningkatkan minat dan pemahaman bidang kemaritiman adalah dengan membekali kompetensi PAUD sehingga dapat menghadirkan proses pembelajaran yang berwawasan maritim serta dapat menambah informasi bahwa laut sebagai fenomena geosfer merupakan tanda kekuasaan, kebijaksanaan, kasih sayang, kebesaran Tuhan yang Maha Pencipta, Pemelihara dan Pengatur semesta alam.

Kendala

Sayangnya, memang potensi alam kita belum tergarap dengan baik. Menurut Hasbi hal ini disebabkan oleh beberapa kendala.

Pertama, kendala budaya; Kedua, kendala dari sudut pandang sejarah bangsa Indonesia. Kendala ini yaitu meredupnya kejayaan Nusantara sebagai negara bahari setelah Kerajaan Majapahit runtuh; Ketiga, kendala dari bidang pembangunan ekonomi, yaitu selalu diposisikannya sektor kelautan sebagai anak tiri dalam prioritas pembangunan ekonomi nasional selama tiga dasa warsa terakhir.

Keempat, dari sisi politis yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan nasional; Kelima, dari sisi sosial, kesadaran masyarakat untuk melindungi, menjaga keseimbangan dan melestarikan ekosistem laut masih rendah, sehingga terjadi banyak pengrusakan ekosistem laut untuk kepentingan jangka pendek; Keenam, dari sisi pendidikan, wawasan tentang maritim belum mendapatkan perhatian yang maksimal dari pemerintah sebagai wahana sosialisasi pembangunan kelautan.

Dirjen PAUD dan Dikmas, Ir Harris Iskandar yang hadir dalam pertemuan itu juga menambahkan bahwa upaya pemerintah menempatkan sektor kelautan sebagai bagian penting dalam program nawacita merupakan langkah jitu untuk menjadikan laut Indonesia menjadi poros dan jalur lintas dunia.

“Kami sudah membahas bersama dengan Menkomaritim terkait pengembangan kurikulum yang lebih banyam menamamkan kembali bahkwa kita negara maritim  sejak tiga tahun lalu. Mendikbud dan Menkomaritim menyadari anak anak sebagai generasi penerus bangsa merupakan agen penting dalam pembangunan kemaritiman,” Tegas Harris.

Menurut Harris ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi respon anak salah satunya adalah kedekatan terhadap obyek dan informasi yang diperoleh oleh anak. Anak yang kurang mendapatkan stimulasi atau informasi terkait dengan lingkungan kelautan menjadi kurang peka terhadap lingkungan tersebut. Sehingga pada akhirnya memiliki minat yang kurang terhadap lingkungan kelautan.

Sumber Anggunpaud.Kemdikbud