Perkembangan Emosi dan Sosial pada masa Early Childhood

0
381

.

Anak kita bukanlah kita, pun bukan orang lain. Ia adalah ia. Dan hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Karena itu memerlukan sesuatu yang lain dengan yang kita butuhkan. Kita hanya boleh memberi rambu-rambu penentu jalan dan menemaninya ikut menyebrangi jalan. Kita bisa memberikan kasih sayang tapi bukan pendirian. Dan sungguh pun mereka bersamamu, tapi bukan milikmu

Itulah salah satu pernyataan seorang pujangga Libanon, Kahlil Gibran (1883). Statemen tersebut cukup tepat untuk mewakili siapa sebenarnya anak-anak kita dan bagaimana seharusnya kita berbuat yang terbaik untuknya.

Anak itu bukan manusia dewasa yang harus dibonsai sesua dengan keinginan-keinginan orang dewasa. Anak mempunyai dunia tersendiri dan standart perkembangan tersendiri. Jangan paksakan anak untuk memasuki dalam jagad dunia orang dewasa sehingga mereka akan tumbuh dan berkembang dengan paradoks; ketika mereka masih anak-anak akan menjadi dewasa dan ketika mereka memasuki masa tua akan beralih menjadi seperti anak-anak. Ironis bukan!.

Hanya saja dalam perjalanannya, banyak praktik ketidakpatuhan orang tua terhadap anak dengan mengkarbit anak untuk berkembang secara instan. Mereka berkeinginan mempunyai anak ajaib yang mempunyai kecerdasan intelektual mulai dini. Mereka tidak memperhatiakn kesiapan emosional anak, yang terpenting mereka mampu mengkarbit anaknya menjadi cerdas mulai dini. Anak-anak seakan miniatur orang dewasa.

Baca juga

Perkembangan Kehamilan Periode Zigot

Perkembangan Otak Janin

Pada kajian kali ini, penulis akan mencoba mengekplorasi ihwal emosi— yang mempunyai ritmenya tersendiri—mulai dari pola dan perkembangannya, kondisi yang mempengaruhi, serta metode belajar anak yang mampu mempengaruhi perkembangan emosi anak. Itulah beberapa poin penting yang akan diekplorasi dalam makalah yang sederhana ini.

Makna dan Macam Emosi

Dalam kamus Oxford Englis Dictionery emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, dan setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Itulah makna harfiahnya. Tapi beberapa kalangan psikolog atau bahkan ahli filsafat belum bisa menerima makna emosi tersebut sehingga hingga kini proses pendeinisian masih bersifat relatif. Dari beberapa kalangan tokoh psikolog yang menekuni di bidang emosi memberikan beberapa tanda universal yang dapat digolongkan emosi[4]

Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, kesal hati, tersinggung, tindaan kekerasan dan kebencian patalogis.
Kesedihan: muram, suram, melankolis, kesepian, putus asa, dan depresi besar.
Rasa takut: gugup, khawatir, waswas, waspada, tidak tenang, dan panik.
Kenikmatan: gembira, bahagia, puas, riang, senang, bangga, takjub, rasa terpesona, senang sekali.
Cinta: penerimaan, persehabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat dan kasih sayang.
Malu: malu hati, rasa salah, sesal dan hina.

Muhammad Utsman Najati (1993), emosi merupakan bangkitan perasaan dan rasa dalam hasil tindak balas seseorang terhadap sesuatu perkara, pengalaman dan peristiwa yang berlaku seperti emosi takut, marah, kecewa, gembira, suka dan kasih sayang.[5]

Dalam Islam, berdasar atas ayat-ayat Al-quran, hadits dan pendapat para ulama, telah digambarkan juga ihwal wujud dan bentuk emosi. Emosi takut itu akan muncul ketika manusi sedang berhadapan dengan parkara yang bida membahayakan dan membawa kemudharatan. Dalam Al-quran disebutkan:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS Al-an’am: 15)

Takut itu adalah bagian dari emosi. Secara lebih luas beberapa ulama islam membagi perasaan takut yang terdapat pada diri manusia menjadi beberapa jenis, yakni takut kepada Allah Swt, takut pada kematian dan takut pada kemiskinan.

Islam juga menyeru agar manusia mampu mengendalikan emosi marah. Marah pada dasarnya itu baik, asala itu mampu dikawal. Marah itu akan berbuah menjadi tidak baik, abahkan bisa melahirkan sikap keji, apabila tidak mampu dikawal dengan baik. Maka islam menyeru agar manusia mampu menahan marah. Dalam Al-Quran disebutkan:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Islam tidak melarang seseorang untuk marah. Rasulullah dalam sejaranya juga pernah marah ketika menjumpai sesuatu yang melenceng dari kebenaran. Marah itu suatu hal yang manusaiwi. Hanya saja marah itu akan membawa bencana apabila tidak terkontrol.

Emosi marah yang berlebihan dapat menyebabkan sakit jantung. Takut yang berlebihan menyebabkan kemurungan. Kebimbangan yang berlebihan memudaratkan buah pinggang. Sedih yang berlebihan menyebabkan sakit jantung. Malu yang berlebihan menyebabkan penyakit seperti ulser dan penyakit hati.[6]

Emosi benci juga kebaikan dan keburukan. Emosi benci itu mempunyai efek positif apabila tertuju pada parkara kemungkaran. Itu akan memdorong manusia untuk memperbaiki menuju jalan kebenaran. Emosi benci akan membawa efek kurang baik apabila hanya didorong oleh nafsu, sehingga sesuatu yang tidak sesua dengan keinginan nafsunya akan dibenci. Benci seperti ini hanya akan membaea permusuhan dan pertengkaran. Dalam Al-Quran dijelaskan ihwal wujud emosi benci pada diri manusia.

“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).

Emosi benci itu satu sisi dibutuhkan bagi kita semua ummat manusia selama itu didasari atas kebenaran. Benci itu hendaknya digunakan di tempat yang betul dan saat yang tepat. Kalau kita selalu mempunyai emosi benci tidak di tempat yang tepat dan saat yang tepat, maka itu hanya akan menciptakan kegaduhan, permusuhan dan konflik yang berkepanjangan.

Setiap manusia juga mempunyai perasaan malu, baik lelaki atau wanita. Perasaan ini menjadikan manusia menyedari kepentingan perilaku yang baik dan mengelak daripada melakukan sesuatu yang dikatakan memalukan. Hal ini membantu mereka mengawal tingkah laku mereka sendiri. Berbagai perasaan bercampur aduk ketika seseorang mengalami malu. Ini termasuklah perasaan takut, berminat, tertekan dan nyaman. Seiring dengan perasaan ini, terdapat peningkatan degupan jantung dan tekanan darah. Tanda luaran perasan malu ialah tenungan mata yang menyimpang ke samping serta terjurus ke lantai dan anggota menjadi tegang serta lidah menjadi kelu. Suara seorang yang berasa malu bernada rendah, lembut, menggeletar dan teragak-agak. Mimik muka menjadi tersipu, mulut akan tersenyum dan dia akan mengundur diri.[7]

Itulah beberapa golongan emosi. Tentu masih banyak sifat-sifat emosional yang tak dicantumkan. Tapi paling tidak dari beberapa golongan emosi kita bisa mengidentifikasi prilaku emosional yang lahir dari seseorang. Timbulnya emosi itu jauh lebih cepat dibanding dengan proses berfikir. Maka tak heran kalau dalam perjalanannya banyak orang yang lebih didominasi oleh emosi dibanding dengan pikiran. Banyak orang yang lebih bertindak brutal dan keras dibanding dengan menyelesaikannya dengan bijaksana dan banyak orang yang frustasi, dan depresi hingga bunuh diri dari pada memandang hidup secara lebih arif dan bijak.

Banyak orang yang menyamakan antara perasaan dan emosi. Pada prinsipnya, perasaan dan emosi adalah dua hal yang berbeda tetapi keduanya tidak bisa dilepaskan. Perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, tersembunyi dan tertutup ibarat riak air atau hembusan angin sepoy-sepoy sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, dan terbuka, ibarat air yang bergolak atau angin topan, karena menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah yang bisa diamati.[8]

Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis). Emosi Sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang dan lapar.

Emosi Psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan – alasan kejiwaan. Yang termasuk emosi jenis ini diantaranya; Pertama, perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam bentuk : Rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah, rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran, rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan – persoalan ilmiah yang harus dipecahkan

Kedua, perasaan sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun kelompok. Wujud perasaan ini seperti, rasa solidaritas, persaudaraan (ukhuwah), simpati, kasih sayang dan lain sebagainya.

Ketiga, perasaan susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai baik dan buruk atau etika (moral), seperti rasa tanggung jawab (responsibility), rasa bersalah apabila melanggar norma, rasa tentram dalam mentaati norma, perasaan keindahan (estetis),yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan ataupun kerohanian

Keempat, perasaan Ketuhanan, yaitu merupakan kelebihan manusia sebagai makluk Tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia dianugerahi insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, maka manusia di juluki sebagai “Homo Divinans”dan “Homo Religius” atau makluk yang berke-Tuhan-an atau makhluk beragama.[9]

Pola Perkembangan Emosi

Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir. Gejala pertama prilaku emosional adalah keterangsangan umum terhadap stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebihan ini tercermin dalam aktivitas yang banyak pada bayi yang baru lahir. Reaksi umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan. Reaksi yang tidak menyenangkan dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi secara tiba-tiba, membuat suara keras dan tindakan tidak menyenangkan lainnya. sebaliknya, reaksi menyenangkan tampak jelas saat bayi menetek.[10]

Emosi anak akan terus mengalami perkembangan. Menurut Abin Syamsuddin Makmun[11] pola perkembangan emosi anak adalah sebagaimana tabel di bawah ini:

UMUR
PERKEMBANGAN
saat dilahirkan
Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur)
0 – 3 bulan
Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya
3 – 6 bulan
Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan
9 – 12 bulan
Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
18 bulan
pertama
Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang
2 tahun
Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan
5 tahun
Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangan berdiferensiasi ke dalam harapan dan kasih sayang

 

Dalam Islam, anak yang baru lahir tidak mempunyai daya kognitif dan emosional. Bakat yang berasal dari keturunan memang ada, tetapi itu hanya akan mampu berkembang dengan baik apabila ada intervensi dari luar dirinya. Sebagaimana hadits yang artinya “Setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, maka hanya kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nasrani, atau seorang Majusi” (HR. Bukhari). Pendidikan adalah suatu kemutlakan dan kebutuhan dasar anak agar pola pematangan dan perkembangan, baik itu yang berbentuk fisik, mental dan emosional.

Maka periodesasi (perkembangan emosi anak) dalam konsep psikologi islam sebenarnya bisa berlangsung dari beberapa tahap.[12]

Pertama, periode pra-konsepsi

Periode perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum. Tugas perkembangan pada masa ini meliputi; mencari pasangan hidup yang baik, membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan selalu berdoa pada Allah Swt agar selalu diberi keturunan yang baik.

Kedua, periode pra-natal

periode perkembnagan manusia yang dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran. Periode ini dibagi menjadi 4 fase; (1) fase nuthfah (zigot) yang dimulai sejak pembuahan sampai usia 40 hari dalam kandungan, (2) fase ‘alaqah (embrio) selama 40 hari, (3) fase mughghah (janin) selama 40 hari dan, (4) fase peniupan ruh ke dalam janin setelah genap empat bulan, yang mana janin manusia telah terbentuk secara baik, kemudian ditentukan hukum-hukum perkembangannya, seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku (seperti sifat, karakter dan bakat), kekayaan, batas usia, dan bahagia-celakanya. Tugas-tugas perkembngan yang diperankan oleh orang tua adalah; (1) memelihara suasana psikologis yang damai dan temtram, agar secara psikologis janin dapat berkembnag secara normal, (2) senantiasa meningkatkan ibadah dan meninggalkan maksiat, terutama bagi ibu agar janinnya mendapat sinaran cahaya hidayah dari Allah SWT, (3) berdoa kepada Allah SWT, terutama sebelum 4 bulan dalam kandungan, sebab masa-masa itu hukum-hukum perkembangan akan ditetapkan.

Ketiga, periode kelahiran hingga meninggal dunia.

Dalam Al-Quran disebutkan:
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya Dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. dan kamu Lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS Al-Haj: 5)

Dalam fase kelahiran hingga kematian ini ada beberapa fase kehidupan yang akan dilalui oleh manusia. Dalam Al-Quran dijelaskan:

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS Al-Hadid: 20)

Ayat pertama menunjukkan bahwa kehidupan di dunai terbagi dalam tiga fase; fase kanak-kanak, fase baligh dan fase usia lanjut. Pada ayat kedau menujukkan ada lima fase kehidupan di dunia. Pertama, fase permainan (la’ib), dimulai post-natal sampi sekitar usia 5 tahun. kedua, fase main-main (lahw), dimulai sekitar usia 6 tahun sampai usi 13 tahun. Kehidupan manusia adalah untuk main-main untuk kesenagan semata, tanpa memilikitujuan yang hakiki. Ketiga, menghias dan mempercantik diri (zianab), dimulai sekitar usia 14 tahun sampai pada usia 24 tahun. Hidup adalah untuk mempercantik diri karena masa pubernya mulai tumbuh. Keempat. Fase bermegah-megahan (tafakhur) dimulai sekitar usia 25 sampai sekitar 39 tahun. Pada fase ini kecenderungan seseorang adalah bermegah-megahan terhadap apa yang telah dirintis di fase sebelumnya, seperti gelar akademik, pekerjaan, dan peran di dalam masyarakat. Kelima, fase memperbanyak (takatsur) dan menikmati harta dan anak, dimulai sekitar usia 40 sampai meninggal dunia.

Itulah beberapa bentuk pola perkembangan dalam islam. Perkembangan itu tak hanya mencakup aspek intelektual dan emosional, tetapi juga spritual. Tahap perkembangan itu juga tidak hanya berawal saat anak baru dilahirkan, tetapi mulai prakonsepsi, memilih pasangan hidup hingga anak itu dilahirkan. Dengan penggabungan pola perkembangan yang datang dari Eropa dengan konsep psikologi islam, maka kita akan mampu menumbuhkembangkan emosi anak menjadi lebih baik.

 

Ciri Emosi Anak

Setiap anak mempunyai tahap perkembangan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Tapi ada beberapa ciri khas unik dari emosi anak. Menurut Elizabeth B. Hurlock[13] ada beberapa ciri khas emosi pada anak antara lain :

Pertama, emosi yang kuat. Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.

Kedua, emosi seringkali tampak. Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.

Ketiga, bersifat sementara. Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang, kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.

Keemapt Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.

Kelima, reaksi mencerminkan individualitas Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang.

Keenam, emosi berubah kekuatannya dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai.

Ketujuh, emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

Metode Belajar yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

Menurut Elizabeth B. Hurlock[14], ada beberapa metode belajar yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi. Pertama, belajar secara coba dan ralat. Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali.

Kedua, belajar dengan cara meniru. Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang popular di kalangan teman sebayanya, maka teman-teman yang lain juga akan ikut marah kepada guru tersebut.

Ketiga, belajar dengan cara mempersamakan diri. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar secara menirukan, yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Kedua, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang.

Keempat, belajar melalui pengkondisian. Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.

Kelima, pelatihan. Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.

Catatan:
[1] http://rumahinspirasi.com

[2] Baca lebih lanjt baca karya Kathy Hirsh Pasek, PhD., Roberta M. Golinkoff, PhD, “Einstein Never Used Flash Cards”, (Bandung: Kaifa, 2005)

[3] Baca Buku Wahyudi, Maa…Aku Bisa, (Jogjakarta: Prou Media, 2006)

[4]Daniel Golemen, Kecerdasan Emosional, terj, T Hermaya, (Jakarta: Gramedia, 1996), hal. 412

[5] Fariza Md. Sham, Tekanan Emosi Remaja Islam, ( Latihan Ilmiah, Jabatan Pengajian Dakwah dan Kepimpinan, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, 2005), hal. 6

[6] Baca Mohammad Ali Toha Assegaf, 365 Tips Sehat Ala Rasulullah, (Jakarta Hikmah, 2010)

[7] Abdul Rashid Mohamed, & Mohamad Daud Hamzah, Kajian Korelasi Emosi Malu Dengan Pencapaian Akademik Di Kalangan Mahasiswa Melayu, (Jurnal Pendidik dan Pendidikan, Jil 20, 2005), hal.154-155

[8]Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya, 2005)

[9] SyamsuL Yusuf LN. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (Bandung : PT Rosda Karya Remaja, 2003)

[10]Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak,penerjemah Med. Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih, (Jakarta: Erlangga, 1978), hal. 212

[11] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan, (Bandung : PT Rosda Karya Remaja, 2003)

[12] Abdul mujib, Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 98

[13] Elizabeth B. Hurlock, Opcit, hal. 216

[14] Ibid, hal. 214

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here