Perkembangan Otak Janin

1
340
Perkembangan otak janin dalam kandungan dan setelah lahir
pixabay image

 

.

Pada minggu pertama ibu hamil, setiap hari diproduksi 250.000 neuroblast, sel saraf yang belum sempurna. Neuroblast itu menyebar hingga sampai pada lapisan otak yang paling luar. Perpindahan Neuroblast dari tempat asal ke tempat tujuan tidak melulu berjalan lancar. Ada neuron yang berhenti di tengah jalan; ada yang kesasar dan menempati “kampung” yang salah. Ada juga sel-sel otak yang bertemu dengan sel-sel otak lainnya dan menghidupkan atau mematikan “stop kontak genetis” yang ada di dalamnya. Ada juga-malah banyak-yang mati dalam perjalanan. Pada saat inilah masuk pengaruh lingkungan[1].

Proses perpindahan neuroblast ke beberapa daerah bagian otak banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Terbukti, banyak orang yang dikenai radiasi radioaktif di Hiroshima dan Nagasaki mengalami cacat otak yang disebabkan oleh gagalnya perpindahan neuron. Kegagalan perpindahan neuron ini bisa menimbulkan pelbagai penyakit. Ada yang kehilangan indra pendengaran dan bisa juga menimbulkan kehilangan indra perasa. Yang jelas apabila proses perpindahan neuron itu mengalami hambatan karena faktor lingkungan, maka akan ada ketidak sempurnaan pada orang yang bersangkutan.

Pengaruh dari lingkungan itu bisa datang dari sesuatu yang dimakan, diminum, dirasakan, dan dihisap oleh ibu. Ada beberapa hal yang itu sangat berpengaruh terhadap proses perindahan neuron; mulai dari pengaruh rokok, alkohol, malnutrisi dan stres. Beberapa poin tersebut akan sanagat berpengaruh terhadap lancarnya proses penyebaran neuron ke beberapa bagian otak.

Alkohol adalah salah satu minuman yang cukup berbahaya kalau dikonsumsi oleh ibu hamil. Ketika ibu hamil meminum alkohol, maka neuron-neuron berpotensi kehilangan arah. Neuron itu tidak tahu kapan akan berhenti, bisa mati di jalan dan akan gagal mencapai tempat tujuna dari yang biasanya.

Kalau ibu tetap meminum yang mengandung banyak alkohol, maka otak bayinya biasanya mengecil, berbentuk buruk serta mempunyai tingkat kepadatan neuron yang rendah. Kondisi otak seperti inilah yang menyebabkan anak ketika lahir akan mempunyai IQ yang rendah, sulit memahami dan suilit membaca. Kalau anak itu sudah dewasa, biasanya ia lebih cenderung untuk kenakalan atau seringkali mengalami depresi.

Dari hasil beberapa penelitian tentang FAS (fatal alkohol sydrome) dan FAE (fatal alcohol effect) menunjukkan data yang menegaskan: 90 persen menderita penyakit mental, 60 persen gagal dalam pendidikan, 60 persen melakukan tindak pidana, 50 persen kepergok melakukan prilaku seksual yang menyimpang.[2]. Itulah akibat dari tersendatnya proses perpindahan neuron. Dan perpindahan itu tersendat karena meminum alkohol.

Rokok juga sangat berbahaya bagi ibu yang hamil. Rokok disinyalir dapat meningkatkan aborsi spontan 1,7 kali lebih besar, anak berpotensi mengalami reterdasi mental, dan bisda juag menyebabkan kemtian anak yang mendadak. Ini bisa terjadi pada Ibu yang merokok. Nekotin yang ada apada rokok dapat menggangu migrasi neuron, menghambat konekjsi serta bisa menyebabkan neuron salah jalan.

Selain itu juga telah banyak penelitian yang menegaskan bahwa nekotin bisa mengacaukan sistem yang dapat membantu proses menginngat atau lebih akrab dikenal dengan dopamain. Jadi ibu yang ketika hamil perokok aktif atau pun pasif, maka anaknya juga berpotensi untuk mengalami gangguan dalam bidang ingatan.

Stres juga berakibat kurang baik bagi perkembangan otak sang bayi. Mungkin selama ini kita menganggap bahwa stres hanya penyajit biasa yang dampaknya tak akan sampai pada kualitas pembentukan otak janin. Tapi sudah banyak penelitian yang mengatakn bahwa stres ternyata mempunyai efek negatif bagi proses pembentukan otak sang janin.

Salah satu fisiolog yang meneliti tentang dampak emosi pada kesehatan tubuh adalah Dr. Walter Cannon. Penelitian yang dilakuan pada tahun 1920-an menemukan bahwa perasaan cemas yang berlebuihan ternyata bisa menimbulkan efek berantai dalam makanisme tubuh kita. Ketika kita dalam kondisi stress, maka itu akan memicu hipotalamus, kalenjer pititari dan adrenal untuk mengeluarkan hormon tertentu. Kami tak terlalu fasih untuk berbicara dampak rokok dalam aspek medis. Yang cukup menakjubkan adalah uraian Vijai P. Sharmnan di bawah ini:

“Pada tahun 70-an dan 80-an, kita mengetahui bahwa jika ibu selama kehamilan mengkonsumsi zat-zat seperti alkohol, kokain, kafein, dan tembakau, ia akan merusak kesehatan bayi secara fisik dan mental, menurunkan berat badan, tinggi, dan lingkaran kepala, sert amerusak perhatian, memory, kecerdasan, dan tempramen. Begitu pula kita mengetahui untuk sementara bahwa jika ibu mengalami stres berlebihan, atau menderita trauma emosional, bayinya mungkin lahir dengan cacat tertentu yang terbawa sampai ker usis dewasa dan menyebabkan banyak komplikasi.

Pada tahun 90-an, kita mulai memahami bahwa stres dan keadaan emosional ibu mempengaruhi bayi yang belum lahie. Ambillah, sebagai contoh, hormon stres yang disebut sebagai kortisol. Ketika kita mengalami stres, kit amemproduksi kortisol. Jika kita mengalami stres sewaktu-waktu, kortisol tidak menimbulkan masalah. Jika kita mnederita strwes untuk waktu yang lama, kostisol terlalu beratuntuk diatasi tubuh kita. Kortisol dapat menyebabkan masalah tekanan darah tinggi. Kortisol berlebihan dapat menyerang bayi di dalam rahim dan menaikkan titk titik awal tekanan darah untuk selama-lamanya. Bayi ini, kelak setelah dewasa, besar kemungkinan menderita tekanan darah tinggi.

Banyak ibu yangh mengalami situai penuh stres ketika mengandung. Mereka dihadapkan pada situasi yang tidak sehat, seperti perceraian, pelecehan emosional dan fisik, perselingkuhan terbuka atau pengabaian dari pasanagan yang lebih senang tinggal di luar rumah ketimbang berada di rumah membantu pasangangnya yang hamil. Ibu-ibu seperti ini mengalami terus menerus stres, rasa malu, kesepian, dan kadang-kadang depresi klinis selama kehamilan atau sesudah melahirkan.

Bayi-bayi yang di kandung mereka berhadapan dengan pelbagai jenis hormon stres, toksin, dan ekkurangan gizi di dalam rahim. Sebagian dari bayi-bayi ini akan hidupdalam lingkungan yang sama atau mungkin lebih buruk lagi. Tidak mengherankan jika sebagian darinya kemudian menjadi hiperaktif, hipo aktif, tidak bisa menaruh perhatian, atau tempramental dan menunjukkan pengendalian diri yang buruk. Kebanyakan anka-anak ini nanti diobati dengan ratalin atau anti-depresan. Tidak semuanya mengetahui bahwa nmasalaha yang dihadapi anak itu hari ini boleh jadidisebabkan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.[3]”

Malnutrisi pada ibu hamil juga akan berdampak kurang baik bagi perkembangan bayi. Malnutrisi ini adalah terjadinya ketidakseimbangan antara gizi yang dibutuhkan oleh ibu dengan persediaan yang ada., seperti kekurangan zat besi, vitamin B, asama folat dan asam lemak. Ada yang lebih parah dari pada malnutrisi, yakni busung lapar. Maknutrisi hanya berakibat kurang baik pada pembentukan otak anak sedangkan busung lapar adalah bentuk pembajakan terhadap otak anak.

Yang cukup banyak di bangsa ini adalah malnutrisi. Kalau ini tak segera diatasi, maka akan berakibatterhadap pertumbuhan dan perkembangan janin yang ada dalam kangdungan sang ibu. Kalau ibu kehilangan zat-zat besi, maka proses pembentukan neuron menjadi kecil. Inilah yang membuat otak menjadi kecil dan proses perkembangan kognisi menjadi berhenti pula. Ketika anak itu lahir, biasanya akan mengalami pelbaga permasalahan yang serius, seperti alat indranya yang lambat dalam merespon, mengalami kesulitan untuk konsentrasi serta sangat potensial untuk diserang pelbagai penyakit.

Untuk itulah, disaat-saat ibu hamil berikanlah lingkungan yang kondusif; memberikan gizi yang cukup, menjauhi dari alkohol dan rokok, serta obat-obatan terlarang. Itu semua hanya akan menghambat proses perkembangan otak. Disamping meninggalkan parkara yang kurang baik untuk pembentukan otak, sang ibu juga sangat dianjurkan untuk meningkatkan perawatan untuk lancarnya perkembangan otak; mulai dari meningkatkan nutrisi pada otak, meningkatkan kepekaan orangtua dan yang terpenting juga aktivitas positif bagi sang ibu.

Daftar Bacaan

Jalaluddin Rakhmad, Belajar Cerdas, Belajar Berbasis otak, (Bandung: Mizan, 2005)
Taufiq Pasiak, Brain Management for Self Improvement, (Bandung: Mizan, 2007)
Najamuddin Muhammad, Misteri Gelombang Otak manusia, (Yogyakarta: Diva Press, September, 2010)
[1]Jalaluddin Rakhmad, Belajar Cerdas, Belajar Berbasis otak, (Bandung: Mizan, 2005), Hlm. 187.
[2] Ibid. Hlm. 191.
[3] Ibid. Hlm. 195.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here