Permainan yang Berbahaya bagi Anak

0
216
Permainan Bahaya bagi Anak

Sepupu saya, yang masih berusia 5 tahun, tiba-tiba saat bertemu langsung mengajak bermain tembak tembakan, bergelut dengan menendang dan menangkis layaknya actor dalam film hollywood. Saya kaget dengan perkembangan imajinasi bermainnya, karena satu tahun sebelumnya ketika saya bertemu, imajinasi bermainnya tidak bernuansa kekerasan.

.

Ketika saya amati lebih jauh dan bertanya ihwal permainan dan tontonannya,ternyata ia lebih banyak menyaksikan pelstesion yang bernuansa kekerasan, membeli alat-alat permainan yang menjadi pelengkap kekerasan, seperti pedang-pedangan dan alat tembak-tembakan. Tontonan pun sulit dibedakan antara program acara untuk orang dewasa dengan program khusus anak-anak.

Itulah yang juga banyak dialami oleh banyak anak-anak yang ada di Indonesia. Lingkungan yang melingkupi anak-anak begitu terstruktur rapi menanamkan benih-benih kekerasan pada mental anak-anak, mulai dari game yang bernuansa kekerasan, alat permainan yang juga mengarah pada pornografi, horor, hingga tontonan yang tak ada lagi pembeda antara anak-anak dengan orang dewasa.

Pada tahun 2014 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan 95 persen pusat perbelanjaan atau mall di Indonesia menampilkan permainan anak yang tidak mendidik sehingga mengancam perilaku dan psikologi anak.Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi adalah kota terbanyak menampilkan permainan tersebut. Kategori kurang mendidik adalah permainan yang menampilkan kekerasan, perjudian, dan pornografi. Permainan yang disajikan ternyata tak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pernyataan KPAI itu berdasarkan hasil pemantauan mulai dari tahun 2012 hingga tahun 2014.

Tentu semua itu adalah faktor ekternal yang bagi kalangan psikolog masih bisa dilawan dengan faktor internal kepribadian anak dengan semboyan; kalau kepribadian anak itu baik, maka lingkungan tidak akan mempengaruhi secara signifikan. Hanya saja patut kita pahami bahwa segala sesuatu yang masuk pada usia anak usia dini itu menjadi dasar untuk pertumbuhan selanjutnya; apakah pondasi itu akan lebar atau justru sempit, tinggi atau pendek, semua itu akan berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya.

Di samping itu juga, masa anak-anak itu masih belum bisa membedakan antara yang fiktif dan yang nyata, antara imajinasi dan kenyataan, karena mereka belum sepenuhnya menggunakan logika, tetapi masih dominan menggunakan insting dan imajinasi sehingga sesuatu yang dianggap menyenangkan akan mudah disenangi. kalau lingkungan, baik itu lingkungan keluarga, masyarakat sudah mengkondisikna dengan permainan yang tak ramah anak, maka itulah momen eksternalisasi nilai-nilai kekerasan, pornografi dan unsur perjudian dalam diri anak.

Dengan alasan apapun berbagai permainan yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, horor dan perjudian harus segera diberantas demi melindungi masa depan anak. Semua pihak harus saling bekerja sama untuk menjaga dan melindungi tumbuh kembang anak dengan rekayasa permainan yang ramah anak. Bermain adalah hak anak yang dilindungi undang-undang tetapi apabila permainnya tak edukatif, maka itu akan sangat kontras dengan spirit perlindungan anak.

Pemerintah melalui Kemenkominfo sudah mengeluarkan Rancangan Peraturan Menteri (RPM) mengenai Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan Sistem Rating Game Indonesia. Dalam rancangan peraturan ini, game diatur atas dasar konten dan usia pengguna. Batas usia dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu kelompok usia 2 – 6 tahun, kelompok usia 7 – 12 tahun, kelompok usia 13 – 16 tahun, kelompok usia 17 tahun atau lebih, dan kelompok semua pengguna semua usia. Sedangkan konten yang diatur dan disesuaikan dengan kelompok usia layaknya penggunaan bahasa, penampilan tokoh, interaksi daring/online, kekerasan dan beberapa kategori konten lainnya.

Hanya rancangan peraturan itu masih memberi ruang untuk anak-anak dalam mengakses game yang non edukatif. KPAI, terkait dengan Rancangan Peraturan Menteri Klasifikasi Permainan Interaktif Elektronik, mengkritik keras. Rancangan itu dianggap memberi keleluasaan pada anak-anak untuk bermain game online yang mengandung horor, kekerasan, pornografi, narkoba hingga pemerkosaan. KPAI secara ekstrem menolak isi rancangan tersebut karena dianggap tidak melindungi anak dan melegalkan ragam permainan yang non edukatif dekat dengan dunia anak mulai dini.

Kemenkominfo sudah melakukan uji publik yang melibatkan KPAI dan para pengembang permainan anak. Hanya saja Kemenkominfo dan KPAI belum ada titik temu terkait dengan Sistem Rating Game Indonesia. Menurut ketua KPAI, Asrorun Niam Sholeh, usia anak-anak adalah 0-18 tahun, dan tidak selayaknya diklasifikasikan menjadi beberapa bagian layaknya yang tertuang dalam RPM. Dalam RPM usia anak-anak dipetakan menjadi beberapa bagian, mulai dari 2-6 tahun, 7-12 tahun, 13-16 tahun, dan 17 tahun ke atas— masing-masing kategori ditentukan apa saja unsur yang boleh ditampilkan, dan apa yang tidak. Bagi KPAI, spirit dalam Sistem Rating Game Indonesia tidak sesui dengan undang-undang perlindungan anak yang ada di Indonesia.

Kita sebagai orang tua tentu berupaya melindungi dan hanya berharap pemerintah secepatnya untuk sinergi dalam memberantas ragam permainan yang sudah merusak tumbuh kembang anak. Membuat peraturan jangan hanya mengedepankan kepentingan komersial dengan terlalu banyak melakukan pembiaran terhadap ragam permainan yang selama ini sudah menggurita. Pemerintah jangan hanya melakukan pemetaan semata ihwal pemetaan permainan. Sikap tegas pada developer yang dan keberanian untuk memblokir permainan anak yang merusak sangat perlu. Mari selamatkan anak-anak kita dari bahaya permainan yang non edukatif.

Sumber Gambar
robmosesphotography.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here