Prinsip-Prinsip Evaluasi Pembelajaran

Artikel

Evaluasi Pendidikan

Didaksi.com—Evaluasi adalah proses menilai dan mengukur. Dalam melakukan proses evaluasi pembelajaran, ada beberapa prinsip utama untuk menunjang efektivitas evaluasi. Prinsip-prinsip umum pembelajaran adalah mengukur hasil-hasil belajar yang telah ditentukan dengan jelas dan sesuai dengan kompetensi serta tujuan pembelajaran, di antaranya adalah mengukur sampel tingkah laku yang mengacu pada bahan-bahan yang telah tercakup dalam proses pembelajaran. Secara lebih luas ada beberapa prinsip evaluasi, yakni.

.

Adil dan objektif

Kata adil dan objektif itu mudah untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk direalisasikan menjadi sebuah tindakan. Dalam melakukan proses evaluasi pembelajaran, maka yang paling utama wajib dimiliki oleh guru adalah bersifat adil dan objektif terhadap siswa. Guru tidak pilih kasih terhadap siswa. Siapapun mereka kalau tidak memenuhi standar untuk mendapat nilai baik, maka harus ditulis apa adanya. Guru juga harus memandang siswa tanpa pandang bulu dan melakukan penilaian dengan menjauhkan diri dari sikap like and dislike, perasaan serta prasangka negatif lain. Guru harus menilai siswa sesuai dengan kenyataan dilapangan yang sebenarnya.

Komprehensif

Ketika guru ingin melakukan evaluasi terhadap siswa, maka harus dilihat secara utuh kepribadian siswa. Guru tidak cukup hanya dengan mengevaluasi aspek kognitif an sich dengan mengabaikan aspek lainnya, seperti afektif dan psiomotorik. Kalau guru hanya melihat bagian aspek tertentu saja terhadap siswa, maka evaluasi tidak akan sempurna atau bahkan bisa salah paham. Sebagai sebuah contoh, ada guru melihat siswanya sangat pintar dalam mengerjakan soal dan berdiskusi. Murid itu seakan sangat pintar sehingga sang guru langsung memberikan siswa itu nilai yang tinggi tanpa memperhitungkan aspek lainnya. Ini sungguh proses evaluasi yang kurang komferehensip. Bisa saja siswa itu hanya handal secara kognitif tapi lemah dalam aspek afektif dan psiomotorik. Evaluasi yang baik harus dilakukan secara menyeluruh.

Kontinuitas

Proses pembelajaran itu dilakukan secara terus menerus. Tidak jauh beda dengan evaluasi. Melihat siswa tidak hanya pada saat melakukan evaluasi sekarang, tapi hasil evaluasi sebelumnya juga menjadi komparasi. Proses perkembangan siswa bisa dipantau dengan baik apabila ada komparasi antara hasil evaluasi yang sekarang dengan evaluasi yang sebelumnya. Perkembangan peserta didik akan jelas dengan melakukan komparasi itu. Jadi, perkembangan peserta didik terus dipantau mulai dari input, proses hingga out pout. Evaluasi dengan system kontinuitas ini akan  menjadikan evaluasi lebih bermakna holistic.

Kooperatif

Dalam melakukan proses evaluasi, guru tidak bisa berdiri sendiri. Evaluasi itu akan berjalan dengan baik apabila guru mampu melakukan proses kerja sama yang baik dengan pelbagai pihak; mulai dari keluarga peserta didik, guru BK, wali kelas, kepala sekolah dan elemen-elemen lain dalam sekolah. Jalinan kerja sama itu menjadi penting karena guru bisa mempunyai pandangan yang lebih luas terhadap perkembangan peserta didik dan hasil evaluasi pun mampu membuat semua pihak merasa puas.

Praktis

Guru mesti menggunakan alat evaluasi yang mudah dicerna dan dipahami oleh peserta didik atau pun guru lain yang akan menggunakan alat tersebut. Dalam membuat soal, guru harus membuat dengan sesederhana dan sejelas mungkin, baik itu dalam aspek bahasa, petunjuk dalam mengerjakan atau pun isi soal itu sendiri. Tidak sedikit guru yang pintar dan cerdas tapi kadang belum tentu mampu memberikan penjelasan serta petunjuk pada orang lain. Kecerdasannya seakan tidak akan banyak berarti tanpa diiringi dengan metode atau cara yang jelas terhadap peserta didik. Ini juga berlaku dalam proses evaluasi belajar mengajar. Memilih instrumen yang tepat dan membuat petunjuk serta soal yang jelas menjadi prinsip dasar evaluasi pembelajaran.

 Follow-up atau tindak lanjut

Hasil evaluasi pembelajaran tidak hanya dijadikan arsip mati yang harus disimpan dalam rak. Hasil evaluasi itu mesti ditindaklanjuti dengan aksi nyata oleh guru atau pun pihak sekolah. Kalau evaluasi tidak di follow-up dengan aksi nyata, maka evaluasi tidak lebih hanyalah sebatas ritual formal yang tidak akan memberikan efek apa-apa terhadap kualitas belajar mengajar. Hasil evaluasi mesti ditindaklanjuti dengan perbaikan nyata oleh guru, baik itu dalam aspek strategi pembelajaran atau pun factor siswa iu sendiri. Dengan tindak laut ini, proses belajar mengajar akan terus perkembangan menuju perbaikan demi perbaikan.