Romo Mangun, Kali Code dan Pembela Masyarakat Pinggiran

0
242
Romo Mangunwijaya Pembela kaum tertindas

Didaksi.com-Dia mengasihi dan menyentuh setiap manusia dengan penuh ketulusan. Dia menyapa manusia dengan penuh kehangatan. Cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan yang dalam telah mampu merangkul manusia dengan keakrapan tanpa pandang bulu. Mereka yang malang dan yang beruntung, yang gembira atau yang sedih, yang agama islam atau kristen dan hindu, yang kaya atau pun yang miskin, bagi dia adalah sama saja. Semua adalah sama-sama manusia yang harus dibangun harmoni dengan cinta kasih. Dia akrab dengan komunitas kali code dan pembela utama masyarakat pinggiran yang ingin digusur.

.

Itulah Mangunwijaya dari nama panjang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (6 Mei 1929) berasal dari Ambarawa Jawa tengah. Ayahnya Yulianus Sumadi Mangunwijaya, berprofesi sebagai guru sekolah dasar, ibunya Sarafin Kamdaniyah menjadi guru taman kanak-kanak. Sebagai salah satu tokoh generalis, mulai dari sastra dengan beberapa karyanya, arsitektur, dan tekhnisi mesin. Mangunwijaya adalah pejuang agama yang gigih, kritikus sosial yang mampuni serta juga sangat dikenal sebagai sosok yang sangat getol dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Anak sulung dari 12 bersaudara menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan kolonial Belanda, di Muntilan. Mangunwijaya kecil masuk sekolah swasta yang didirikan oleh para messionaris untuk rakyat biasa. Di tempat itu pula bapak Manguwijaya mengajar. Beberapa buku milik bapaknya, seperti Socrates, Plato dan buku pemikiran lainnya telah mewarnai masa remajanya. Romo Mangun berada dalam iklim pendidikan keagamaan yang kuat. Romo mangun menuturkan ihwal pengaruh pendidikan keluarganya terhadap pandangan-pandangan kemanusiaannya:

“Ya pegangan hidup yang menjadi kekuatan saya tentu saja pertama dari pendidikan orang tuayang mendidik saya dalam suasana keagamaan yang dapat dicakup di dalam pedoman yang diwariskan kepada kami yaitu bahwa kami harus mencintai Tuhan dengan segenap akal budi kita, dengan segala cita rasa kita, dan segala energi yang kita punya. Dan kita juga harsu mencintai sesama kita terutama kepada yang lemah miskin, sebagaimana kita mencintai diri kita secara wajar.”[1]

Mangun muda mengalami ptoses transisi pengaruh tujuan dan kurikulum pendidikan ala Belanda dengan gaya pendidikan ala Jepang. Belanda lebih mengedepankan pengasahan olah pikir dan pengenalan terhadap budaya. Berbeda dengan Jepang yang hanya mengajari anak pintar dalam berkelahi, berperang atau kemampuan fsik-motorik lainnya. Mangun Muda lebih suka terhadap pendidikan ala Belanda dibanding dengan Jepang.

Ketika memasuki usia 16 tahun, Romo mangun mendaftar menjadi tentara dan bergabung dalam kompi Zeni di Yogyakarta. Benteng Vredeburg menjadi tangsi pertama Romo Mangun. Romo Mangun menjadi sopir dalam beberapa pertempuran di Magelang. Tentang pengalamannya di meda perang, Romo Mangun Menuturkan sebagai berikut:[2]

“Karena masih kecil, saya paling muda ketika itu dalam pasukan, saya disuruh menjadi sopir bersama kawan-kawan untuk mengangkut peluru, amunisi, makanan, barang-barang perbekalan ke medan perang itu. sementara itu, sekolah dibuka lagi, saya masuk sekolah. Tetapi karena ingin berjuang, saya masuk tentara pelajar yang ketika itu dibentuk oleh mas mas Martono yang bekas Mentri transmigrasi itu, diikut sertakan dalam batalyon Jogja. Sesudah perang kemerdekaan pertama, saya menjadi komandan seksi di Magelang Kompi Kedu, sampai perang kemerdekaan kedua. Ya itulah liku-liku anak muda remaja saya keika itu. tapi lalu meneruskan sekolah. Hanya ketika itu saya belum tahu mau kemana persisnya. Sebenarnya sudah tahu juga tapi semuanya masih tergantung nasib karena orang tua saya juga tidak berada. Dan karena saya orang Katolik. Maka saya melihatsalah satu jalan yang baik yaitu menjadi seorang pastor. Saya masuk didalam isntitut Filsafat dan Tekhnologi di Jogjakarta. Sementara itu saya mendapat tugas ke Jerman….”[3]

Berbagai fenomena sosial yang penuh dengan intimidasi dari razim orde baru membangkitkan kometmen Mangunwijaya untuk kemudian keluar dari kungkungan penguasa. Realitas kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan masyarakat karena di karangkeng kebebasanya oleh penguasa menimbulkan spirit yang berkobar-kobar dalam mengompori kesadaran masyarakat yang masih magis menuju kesadaran kritis transformatif.

Gusdur pernah menulis ihwal Romo Mangun, “Sosok Romo Mangun adalah pribadi yang mampu memancarkan sinar kasih keimanan dalam kehidupan umat manusia. Dalam diri Romo Mangun, keimanan tidak sekadar terbelenggu dalam sekat-sekat ritual agama atau simbol-simbol semata. Lebih dari itu, cinta kasih keimanan Romo Mangun mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme. Dia kasihi dan dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan dan keyakinannya. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia.”[4]

Ketika Romo Mangun telah memutuskan menjadi pastor, maka dia melanjutkan sekolah di Seminari. Potensi dalam bidang kesusastraan kian dikembangkan oleh Romo Mangun. Beberapa temannya mengenal Romo Mangun sebagai sosok yang kreatif dan sangat produktif dalam menulis. Romo mangun kalau berpendapat selalu sistematis dan argumentatif. Romo menekuni kesusatraan yang mengangkat tema-tema kemanusiaan. Dalam karyanya Romo mangun cukup kental dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Apa yang membuat Romo mangun memutuskan untuk menjadi pastur?  “membalas budi terhadap rakyat” itulah kira-kira alasan yang cukup kuat sehingga Romo mangun memilih untuk menhadi pastor. Romo Mangun ingin mengabdikan hidupnya bagi kepentingan ummat manusia, khususnya anak-anak miskin. Perjuangan Romo mangun di bidang kemanusiaan kerapkali dianggap sebagai pertobatan sejati.[5] Menjadi pastor adalah panggilah hidup untuk mengabdi pada kemanusiaan. Tentang panggilan hidup ini, Romo Mangun menceritakannya pada Tuti Indra Malaon dan Drigo L. Tobing dari majalah Matra (April 1988)

“Pilihan Anda Menjadi pastor itu bagaimana ceritanya? Ceritanya panjang. Mungkin juga ada unsur kebetulan. Kedua orangtua saya katolik yang saleh. Mereka selalu mengajarkan, hidup ini tidak hanya dari uang dan nasi. Lalu ada sebuah peristiwa yang tidak bisa saya lupakan. Bagaimana ceritanya? Ketika itu saya di malang, sedang menyambut kedatangan TNI, awal 1950-an. Tokohnay mas Isman, waktu itu masih Mayor. Ada resepsi besar di dekat alun-alun malang. Gongnya. Mas Ismanti Pidato. Dia bilang begini, ‘kami jangan dieelu-elukkan. Kami bukan pemuda yang murni, kami bukan bunga bangsa. Kami pernah membunuh, membakar rumah, tangan kami berlumuran darah. Yang kami butuhkan, bantulah kami untuk menjadi manusia yang normal’. Saya tercekam. Gila ini! Buat saya, ini luas biasa. Malamnya saya dhak bisa tidur. Kok sampek begitu? Saya kan bekas tentara, saya mengalami banyak hal, malam itu saya berpikir, saya harus membalas budi orang desa, orang kecil, karena merekalah yang banyak berperan dalam menyalamtkan hidup kami. Sejak itu saya berniat untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang desa. Karena saya Katolik, saya memilih menjadi rohaniawan, supaya tidak ada urusannya dengan soal-soal mencari uang, mencari kekuasaan.”[6]

Ketika Romo mangun sudah selesai sekolah Saminari, maka dia ditahbiskan sebagai imam untuk keuskupan di Semarang. Beberapa saat kemudian, Romo mangun diberi tugas oleh Uskup Agung A. Soerjabranata untuk melanjutkan pendidikan ke ITB. Romo Mangun pun melanjutkan, beberapa saat kemudian Romo Mangun ditugaskan untuk melanjutkan studinya di jurusan arsitektur di UniversitasTekhnologi Aachen. Tahun 1966 Romo mangun kembali Indonesia dan kembali menjadi pastur yang biasa memimpin misa secara rutin. Romo mangu juga menjadi dosen di fakultas tekhnik jusuras arsitektur UGM. Aktivitas utama Romo Mangun adalah sebagai Pastur yang ingin mengabdikan hidupnya untuk nilai-nilai kemanusiaan.

Sebuah keputusan diluar jangkaun banyak orang, lima belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1981 Romo Mangun memilih meninggalkan kehidupan di lingkungan gereja untuk pindah dan tinggal berasama pendudk di bantaran kali Code, Yogyakarta. Kondisi Kali Code pada saat itu ada dalam kesemrawutan. Air hujan yang yang mengalir di drainase bercampur dengan sampah dan kotoran manusia sehingga menimbulkan bau yang menyengat. Hunian dibuat dari barang bekas yang mereka kumpulkan tanpa harus membayar, seperti bambu, karton, seng yang pada gilirannya menghasilkan bangunan berupa kamar-kamar gelap tanpa jendela. Penduduknya tidak mendapat fasilitas jaringan air minum dan listrik. Air minum mereka ambil dari pinggir kali dan hajat pun mereka buang di pinggir kali.[7]

Pada saat itu kali Code masuk dalam rencana untuk disingkirkan dan dibersihkan. Penduduk pada saat itu memang tidak bisa berbuat banyak. Penduduk secara hukum salah. Mereka tidak mempunyai hak untuk menggunakan lahan. Penduduk kali code rata-rata tidak mempunyai kartu kependudukan resmi, seperti kartu penduduk. Mereka sebenarnya tidak mempunyai akses politis dan sosial. Tapi lagi-lagi kali Code menjadi maghnet kuat bagi mereka penduduk untuk tempat singgah. Rata-rata mereka bekerja di sektor informal, layaknya pemuluk, penarik becak, penggali pasir hingga, menurut Khudari, para pelacur dan pencuri.

Romo mangun hadir untuk mereka penduduk yang ada di Kali Code. Ketika pemerintah menggiring penggusuran dan penertiban terhadap penduduk yang tinggal di kali Code, maka Romo Mangun dengan lentang menolaknya. Ketidak ketidaksetujuannya. Romo mangun juag diejawantahkan dengan ragam tulisan di pelbagai media dan melayangkan surat atas ketidaksetujuannya terhadap penguasa.

Pembela Masyarakat Lemah

Bagi  Romo  Mangun  penggusuran yang  tak berdasarkan kemanusiaan yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu Maka Romo Mangun  dan  tim  relawan  lain  menjadi  “ibu”  yang  merawat  dan  mendampingi  para  penduduk  selama pengasingan  mereka  dari  masyarakat  sekitar,  yang  sebenarnya  sesama  penduduk  Yogyakarta,  sesama  warga negara Indonesia, dan yang lebih fundamental adalah sesama manusia yang setara.  Bagi Romo Mangun, ide pemerintah  membentuk  jalur  hijau  justru  memalukan  dan  menakutkan.[8]

Romo Mangun justru mengusulkan agar penduduk yang tinggal di kali Code tetap dipertahankan serta diberdayakan. Romo Mangun secara lebih jauh juga menggagas agar kali Code didesain menjadi lebih estetika dengan pola bangunan dan desain yang baru. Romo mangun justru tidak menyalahkan penduduk yang tinggal di kali Code. Bagi Romo mangun mereka adalah manusia yang selama ini tersisihkan hak-haknya. Maka Romo mangun terjun langsung dan hidup bersama masyarakat untuk bangkit dan maju.

Romo Mangun menganggap penduduk kali Code berada dalam posisi tertindas. Penduduk yang tinggal di kali Code berada dalam bayang-bayang feodalisme. Hanya penduduk tertentu yang mempunyai relasi dengan kekuasaan yang hidupnya bisa mendapat jaminan. Penduduk yang tinggal di kali Code juga ada yang menjadi mafia kecil yang mempunyai hubungan erat dengan pemilik modal. Beberapa penduduk yang mempunyai akses itu hanya membangun hubungan dengan masyarakat secara timpang. Ada pola intraksi yang tinpang sehingga terjadi pola disparitas di antara beberapa penduduk yang tinggal di Kali Code.

Romo Mangun datang dan bergabung dengan penduduk Kali Code menghadapi pelbagai tantangan. Tantanga paling utama adalah melakukan gerakan agar Kali Code tidak digusur dan ditertibkan oleh pemerintah. Setelah itu Romo harus menyadarkan penduduk kali Code serta membanguan beberapa infrastruktur yang ada agar menjadi tempat yang mampu menyuguhkan kesejukan dan tentu harus dengan menghilangkan tumpukan-tumpukan sampah, bangunan kumuh nan jorok.

Langkah pertama Romo Mangun adalah membangun dan menguatkan solidaritas antar penduduk. Kalau sebelumnya penduduk Kali Code masih belum terkonsolider dengan baik, maka Romo mangun menggalang solidaritas itu menjadi lebih kuat. Solidaritas itu dibangun di atas kesadaran bersama sebagai penduduk Kali Code yang mempunyai banyak tantangan-tantangan. Romo mangun juga mampu menyadarkan masyarakat agar tidak terlalu apatis terhadap konisi politik, ekonomi dan sosial. Penduduk kali Code dipersatukan dan disolidkan oleh Romu mangun di atas bingkai kemanusiaan.

Perlahan tapi pasti solidaritas antara penduduk mulai terbentuk dengan kuat. Ketika solidaritas itu mulai terbentuk, maka Romo dan beberapa relawan lainnya menjadi pendamping dan fasilitator untuk membangkitkan kesaaran mereka dalam berpartisipasi aktif memperjuangkan kondisi ekonomi dan sosialnya. Romo mangun dalam konteks ini tidak melakukan pendekatan doktrinir, tetapi melakukan pendekatan manusia untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Romo Mangun ingin mendidik penduduk Kali Code lepas dari segala bentuk ketergantungan. Mereka para penduduk adalah subjek yang bisa berpartisipasi aktif dalam melakukan proses perubaha bagi diri dan lingkungannya.

Penduduk kali Code pun kian hari kian menunjukkan perkembangannya. Hunian yang pada mulanya dikelola secara individu, maka mulai dikelola secara kolektif. Ada koperasi yang menjadi pengatur dan pengantar penduduk kali Code. Ada uang iuaran pemeliharaan bersama dan ada koperasi juag berperan untuk mendistribusikan secara adil beberapa barang bekas. Penduduk kali Code juag mulai kreatif untuk menjadikan bantara kali Code sebagai tempat yang indah yang mampu dijadikan sebagai ndustri parawisata bagi masyarakat Yogyakarta.

Penduduk kali Code pun mulai berkembang dan maju menjadi warga negara yang berpartisipasi aktif dalam bidang sosial dan budaya. Penduduk yang pada mulanya hanya melawan penggusuran dan penertiban ternyata telah mampu mampu bergerak lebih jauh dan melesat dengan menjadikan bantara kali Code sebagai bentuk keindahan yang memikat banyak orang. Semua capaian-capai yang telah dilakukan oleh penduduk kali Code tida akan pernah lepas dari kepedulian Romo Mangun untuk turun ke lapanga dan hidup bersama mereka.

Romo Mangun telah mampu menyulap kekumuhan penduduk di kali Code menjadi kali yang memancarkan aura kemanusiaan bagi siapapun yang ingin berteduh di dalamnya. Kepedulian Romo Mangun terhadap penduduk kali Code, perjuanganya melawan pemerintah yang ingin menggusur dan ketulusannya dalam membantu sesama adalah kepribadian yang sulit dilupakan. Kalau saja Romo Mangun menjadi pastor yang tidak turun langsung ke lapangan, mungkin Kali Code akan berbeda ceritanya. Kepedulian Romo mangun dan komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiannya telah mengubah kesemrawutan yang ada di kali Coda menjadi indah dan penduduk pun kehidupannya menjadi tertata. Tak heran apabila pada tahun 1992 karya arsitektur Kali Code yang menjadi bukti bagi pengabdian kemanusiaan mendapat penghargaan Aga Khan Award for Architecture.

Sisi kemanusiaan Romo mangun tidak hanya berhenti di kali Code, tetapi juga terus berlanjut mengiringi setiap jeak langkah dan menghadiri serta mendampingi mereka yang lemah. Pada tahun 1986 Romo mangun mendampingi warga Kedungombo yang pada saat itu sedang memperjuangkan lahanya dari pembangunan waduk. Pembangunan Waduk Kedung Ombo ini dibiayai USD 156 juta dari Bank Dunia, USD 25,2 juta dari Bank Exim Jepang, dan APBN, dimulai tahun 1985 sampai dengan tahun 1989. Waduk mulai diairi pada 14 Januari 1989. Menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten, yaitu Sragen, Boyolali, Grobogan. Sebanyak 5268 keluarga kehilangan tanahnya akibat pembangunan waduk ini.[9]

Ketika beberapa warga sudah mulai pindah, maka ada beberapa warga yang masih tersisa dan menolak untuk indah. Mereka menolak karena konpensasi yang diberikan pemerintah terlalu kecil. Warga yang menolak itu mengalami pelbagai ancaman dan teror. Romo Mangun dan Romo Sandyawan dan K.H. Hammam Ja’far hadir dan memberi perlindungan terhadap warga yang masih bertahan. Romo mangun membangun sekolah untuk anak-anak yang masih ada dan membangun infrastruktur yang sudah rusak karena genangan air. Romo hadir bersama mereka yang hak-hak didzalimi oleh penguasa. Dia bahu membahu bersama relawan lainnya untuk memberi pelayanan pelayanan terhadap mereka yang tertindas.

Pembelaan terhadap penduduk Kedung Ombo membuat Romo angun mendapat label macem-macem dari penguasa. Pelbagai ancaman kerapkali Romo Mangun. Dengan tenang Romo Mangun menjawab, “Kalau saya dituduh melakukan kristenisasi kepada para santri, silakan tanyakan langsung kepada warga Kedungombo. Kalau saya dikatakan sebagai warga negara yang tidak taat kepada pemerintah, saya jawab, ketaatan itu harus pada hal yang baik. Orang tidak diandaikan untuk menaati perintah yang buruk. Apa yang saya kerjakan sesuai dengan Mukadimah UUD 1945 dan Pancasila”[10]

Pendidikan yang Membebaskan

Romo Mangun juga dikenal sebagai pemikir pendidikan humanis. Lewat pendidikan Romo Mangun memunculkan pelaku-pelaku perubahan sosial yang menanamkan kesadaran bagi semua orang untuk memihak kepada kepentingan rakyat yang tertindas. Perubahan sosial menurut Romo Mangun penting dilakukan agar masyarakat bisa bangkit untuk tinggal landas dari keterkungkungan, kemelaratan, dan kemiskinan.

Pendidikan sejati menurut Manguwijaya adalah pendidikan yang membebaskan dari belenggu-belenggu tatanan sistem sosial yang memperkosa fitrah kemanusiaan itu sendiri. Pendidikan sejati baginya adalah proses humanisasi. Sehingga dalam kontek ini tak heran apabila Mu’arif[11] memberi predikat terhadap Mangunwijaya sebagai “Paulo Fraire jilid ke dua”. Hal ini memang tidak lepas dari konsep dan karangka praksis yang diterapkan Mangunwijaya banyak terpengaruh dari konsep pendidikan Paulo Fraire, Ivan illich dan Jean Piaget.

Guna mewujudkan gagasanya tentang pendidikan, maka Romo Mangun mendirikan yayasan Dinamika Edukasi dasar (DED). Yayasan ini—didirikan pada tanggal 4 Agustus 1989—lahir dari keprihatinan yang mendalam atas kondidi pendidikan di Indonesia, khusunya pendidikan dasar, dan keprihatinan Romo mangun pada mereka yang miskin.[12] Yayasan DED bertujuan untuk memberikan pendidikan yang lebih humanis bagi setiap warga negara.

Romo Mangun sebagai pejuang kemanusiaan tenaganya kian hari kian termakan usia.  Hanya saja semangat dan komitmenya untuk terus mengabdikan dirinya terus berkobar. Tepat pada tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, setelah menyampaikan seminar tentang pentingnya buku dalam membentuk peradaban bangsa. Bangsa ini telah kehilangan tokoh generalis, mulai dari sastra dengan beberapa karyanya, arsitektur, dan tekhnisi mesin, sosok pemikir pendidikan pembebasan dan tentu pejuang kemanusiaan.

[1]Film “Y.B. Mangunwijaya; profil Budayawan, edisi xx-1988”, produksi TVRI Yogyakarta.

[2] Y. Dedy Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional, kontestasi kekuasaan dalam pendidikan dasar, (Yogayakarta: Kanisius, 2007), hal. 31

[3] Ibid, hal. 32.

[4]Abdurrahman Wahid, Perjalanan Romo yang Bijak, (Kompas 11/2/1999)

[5] Priyanahdi, Y.B. mangunwijaya Pejuang Kemanusiaan, (Yogyakarta: kanisius, 1999)

[6] Y. Dedy Pradipto, hal. 33

[7] Darwis Khudori, Menuju Kampung Pemerdekaan: Membangun Masyarakat Sipil dari Akar-Akarnya Belajar dari Romo Mangun di Pinggir Kali Code, (Yogyakarta: Yayasan Pondok Rakyat, 2002)

[8] Y.  B. Mangunwijaya  Surat  Terbuka  Kepada  Yth.  Para  Wakil  Rakyat  Formal  dan  Non

Formal. Kedaulatan Rakyat (1985,  Maret  25).

[9] http://id.wikipedia.org

[10] http://www.sabda.org

[11] Mu’arif, Wacana Pendidikan Kritis, ( Yogyakarta: Ircisod, 2005)

[12] Y. Dedy Pradipto, hal. 74.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here