Sejarah Perkembangan Teori Bermain

Mainan Edukatif

Didaksi.com−Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Khalid binti Khalid Ibnu Sa’id Ibnul ‘Ash yang menceritakan masa kecilnya. Ummu Khalid menceritakan bahwa Nabi Saw. menerima hadiah berupa kain sutera atau wool yang tidak terlalu besar bergambar salur-salur hitam. Nabi Saw bersabda, “Bagaimana menurut kalian siapakah orang yang pantas menerima kain itu?”

Kaum yang hadir diam, tidak ada yang menjawab, lalu beliau bersabda, “Bawakanlah kepadaku Ummu Khalid” Ummu Khalid pun dibawa dengan digendong, lalu beliau mengambil kain itu dan mengenakannya dengan tangannya sendiri pada Ummu Ummu Khalid (Bukhari, Kitabul libas 5375).

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa sesudah itu Nabi Saw bercengkrama dengannya seraya mengucapkan, “Sanah! Sanah! Menggunakan bahasa Etiopia yang artinya cantik, cantik.  Ummu Khalid melanjutkan, “Sesudah itu aku memainkan cap kenabian yang ada di antara belikat Nabi Saw. Ketika ayahku menghardik, Rasulullah saw bersabda, “Biarkan dia, kemudian beliau bersabda, “Semoga awet sampai kumal! Semoga awet sampai kumal! Semoga awet sampai kumal!” Abdullah, perawi hadits ini mengatakan bahwa kain itu tetap ada pada Ummu Khalid sampai jangka waktu yang cukup lama. (Bukhari, Kitabul Adab 5534).

Sejarah Bermain; dari Teori Klasik hingga Modern

Istilah bermain berasal data kata dasar, “main” yang mendapat imbuhan “ber-an”. Dalam kamus bahasa Indonesia, main adalah berbuat sesuatu yang menyenangkan hati dengan menggunakan alat atau tidak. Bermain adalah kesibukan yang dipilih sendiri oleh anak sebagai bagian dari usaha mencoba-coba dan melatih diri. Menurut Mayke S.Tedjasaputra (2001) yang penting dan perlu ada dalam kegiatan bermain adalah rasa senang yang ditandai oleh tertawa.

Bermain tidak sekadar mengisi waktu, tapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan perawatan, cinta kasih dll. Kesenangan adalah elemen pokok dalam bermain. Anak akan terus bermain sepanjang itu menyenangkan. Bermain bukan membuang-buang waktu, tapi melalui bermain mereka mendapat pengalaman hidup yang nyata (Soetjiningsih,1995: 105) .

Dalam sejarah ilmu pengetahuan, para ahli jiwa pada mulanya tidak memberi perhatian khusus kepada dunia bermain, karena terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak. Tokoh yang paling berjasa yang meletakkan dasar bermain adalah Plato. Plato adalah filsuf yang cukup berjasa karena mampu melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Menurut Plato, anak-anak akan lebih mudah mempelajari aritmetika dengan cara membagikan apel kepada anak-anak. Plato mengatakan “You can discover more about a person in an hour of play than in a year of conversation”

Filsuf lain yang juga berjasa adalah Aristoteles yang berpendapat bahwa anak-anak perlu didorong untuk bermain dengan apa yang mereka tekuni di masa dewasa nanti. Tokoh pendidikan selanjutnya mulai menyadari pentingnya bermain, seperti Comenius (abad 17), Rosseau, Peztalozzi, Froebel hingga Montessori. Para tokoh pendidikan sudah menyadari bahwa bermain adalah aktivitas yang mempunyai nilai praktis. Tapi pada saat itu memang belum bisa dibuktikan secara ilmiah karena teori perkembangan anak belum berjalan secara sistematis.

Kenapa terjadi proses bermain dalam mahluk hidup adalah pertanyaan yang belum bisa dijawab secara memuaskan oleh banyak tokoh. Akhir abad 19, saat teori revolusi bergulir, pembahasan teori bermain terus bergulir tentu dengan sedikit dipengaruhi dari teori evolusi yang mengatakan bahwa bermain mempunyai fungsi untuk memulihkan tenaga orang setelah bekerja dan merasa jenuh. Tentu teori ini banyak disangkal karena anak-anak yang tidak bekerja ternyata tetap melakukan kegiatan bermain. Pertanyaan mengapa terjadi kegiatan bermain pun belum bisa terjawab dengan memuaskan.

Sebelum perang dunia 1, tokoh-tokoh yang mencoba mendalami dunia bermain dikategorikan sebagai tokoh klasik. Teori periode klasik ini biasanya disandarkan pada refleksi filosofis, bukan pada riset eksperimental. Ada dua teori klasik mengenai bermain yang cukup berpengaruh, yakni (1) Surplus energi dan teori rekreasi (2) teori rekapitulasi dan praktis.

Friedrich Schiller seorang penyair berkebangsaan Jerman (abad 18) dan Herbert Spencer seorang filsuf Inggris (abad 19) mengajukan teori surplus energi untuk menjelaskan mengapa ada perilaku bermain. Menurut Herbert Spencer kegiatan bermain seperti berlari, melompat, bergulingan yang menjadi ciri khas kegiatan anak kecil maupun anak binatang perlu dijelaskan secara berbeda. Spencer berpendapat bermain terjadi akibat energi yang berlebihan dan ini hanya berlaku pada manusia serta binatang dengan tingkat evolusi tinggi. Pada saat itu teori surplus energi mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan psikologi. Tapi di saat yang bersamaan juga mendapat tantangan kuat karena ternyata anak akan cepat menyelesaikan tugasnya kalau di janjikan untuk bermain atau terkadang anak atau bayi yang sedang mengantuk akan tetap ingin bermain dengan mainannya.

Paradoks dengan teori surplus energi, teori rekreasi justru berpendapat bahwa tujuan bermain adalah untuk memulihkan energi yang mulai terkuras. Morits Lazarus, penyair berkebangsaan Jerman menegaskan bahwa bermain adalah media rekreatif untuk memulihkan tenaga dan pikiran setelah lelah dalam bekerja. Bermain adalah lawan dari bekerja.

Stanley Hall dengan teori rekapitulasi, yang sangat banyak dipengaruhi oleh teori evolusi, menganggap bermain adalah rantai evolusi dari binatang sampai menjadi manusia. Anak menjalankan semua tahapan evolusi, mulai dari protozoa (hewan bersel satu) sampai menjadi janin. Sejak konsepsi atau bertemunya sel telur dengan sperma sampai anak lahir, melampaui beberapa tahap perkembangan yang serupa dengan urutan perkembangan dari species ikan sampai menjadi species manusia. Dengan demikian, perkembangan sesorang akan mengulangi perkembangan ras tertentu sehingga pengalaman-pengalaman ’nenek moyangnya’ akan tertampil di dalam kegiatan bermain pada anak (Mayke S.Tedjasaputra, 2001:4).

Karl Groos dengan teori praktisnya mengatakan bahwa bermain adalah bermain berfungsi untuk memperkuat insting yang dibutuhkan guna kelangsungan hidup di masa mendatang. Dasar teori Groos adalah prinsip seleksi alamiah yang dikemukakan oleh Charles Darwin. Binatang dapat mempertahankan hidupnya karena dia mempunyai keterampilan yang diperoleh melalui bermain. Bayi yang baru lahir dan juga binatang mewarisi sejumlah instink yang tidak sempurna dan instink ini penting guna mempertahankan hidup. Bermain bermanfaat bagi yang masih muda dalam melatih dan menyempurnakan instingnya anak (Mayke S.Tedjasaputra, 2001:5).

Teori klasik Bermain

Teori modern datang sebagai penyempurnaan dari teori klasik. Kalau teori klasik hanya menyebutkan tujuan bermain, maka teori modern mulai mengeksplorasi manfaat bermain melalui penelitian yang ilmiah. Inilah beberapa peranan bermain dalam perkembangan anak menurut beberapa tokoh.

Teori Modern Bermain

 

 Daftar Bacaan

Mayke Sugianto, Bermain, Mainan dan Permainan, (Jakarta :Dirjen Pendidikan Tinggi, 1995)

Soetjingsih, Tumbuh Kembang Anak, (Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 1995).

Jeffrey Goldstein, Play In Children’s Development, Health And Well-Being, (Toy Industries of Europe, 2012)