Sekolah Alam Ala Rabindranath Tagore

0
277
Tagoger Pendidik dan Aktivis Sosial

Didaksi.com-Ketika sekolah hanya menjadi kepanjangan tangan dari penjajah Inggris, maka ia hadir dengan ‘agama kemanusiaan’ dengan cara mendirikan sekolah yang mengembalikan anak-anak pada akar budaya dan jati diri kemanusiaannya. Sekolah-sekolah dari penjajahan Inggris hanya ingin menciptakan buruh murahan yang ingin dipekerjakan di birokrasi. Anak-anak dijauhkan dari bahasa dan tradisinya. Mereka dipaksa mengikuti cara berfikir kolonial Inggris hingga akhirnya menjadi penurut. Ia dengan prinsip dasar kemanusiannaya mendirikan sekolah untuk membebaskan anak-anak dari imprealisme kognitif yang telah ditanamkan oleh penjajahan Inggris melalui sekolah.

.

Itulah Rabindranath Tagore (bahasa Bengali: Rabindranath Thakur; lahir di Jorasanko, Kolkata, India, 7 Mei 1861 – meninggal 7 Agustus 1941 pada umur 80 tahun [γ]) juga dikenal dengan nama Gurudev).[1] Ia memang bukan sosok demonstran yang berjuang melawan kemanusiaan dengan teriakan yel-yel di tengah jalan dan ia juga bukan sosok aktivis yang rajin mengkonsolidasi untuk mengurusi kemanusiaan dan tentu juga bukan politisi yang memegang dan mempunyai otoritas dalam mengambil kebijakan. Tagore, begitu ia akrab dipanggil, adalah sosok penyendiri dengan pusi-puisi yang penuh dengan nilai kemanusiaan, pelancong ke pelbagai negara. Ia manusia biasa yang tidak suka sama sekali terhadap kekerasan atas nama apapun, apakah itu demi keadilan, reformasi politik dan ekonomi. Tagore suka kesunyian dan keheningan. Disana ia menemukan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Nilai-nilai kemanusiaan yang telah ia dapat dari pertapaan panjang itu tidak hanya untuk ditulis dalam bentuk karya yang berjibun-jibun. Tagore ingin memperjuangkan nila-nilai kemanusiaan itu lewat pendidikan. Jalan itu memang kedengarannya tidak seheroik menjadi sosok aktivis kemanusiaan yang terjun langsung melawan penindasan, tetapi cakupan nilainya berinvestasi masa panjang bagi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan di India. Sudah cukup banyak aktivis penetang kolonialisme Inggris di India. Tagore mendukunga semua gerakan itu. Dengan jalan lain yang dianggap lebih sunyi dan senyap untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, Tagore mendirikan Shanti Niketan sebagai perlawanan terhadap pemerintahan kolonial.

Tagore berpandangan bahwa rakyat India tidak mempunyai pilihan selain kembali pada akar kebudayaannya melalu jalur pendidikan. Tagore mendirikan lembaga penddikan secara menyeluruh, mulai dari sekolah rendah hingga pada sekolah tinggi. Lembaga pendidikan yang didirikan Tagore betul-betul menjadikan anak didik sebagai subjek utama. Anak-anak belajar di alam yang bebas dengan pemandangan yang tenang—untuk konteks Indonesia ini lebih dikenal dengan sekolah alam. Kesederhanaan tempat itu diiringi dengan penanaman nilai-nilai universal yang cukup membekas dalam diri anak-anak didiknya.

Shanti Niketan mengajarkan anak-anak untuk mengenal lingkungan dan kebudayaannya sendiri. Shanti Niketan mengajarkan keahlian yang sesua dengan kebutuhan masyarakat setempat dan sesua dengan keadaan alamnya. Ketika mereka lulus, maka mereka bisa langsung beradaptasi memamfaatkan keahliannya untuk mengembangkan kekayaan alam yang ada. Anak-anak dengan cara begitu akan bisa mandiri. Pada saat itulah sebenarnya anak-anak jati diri kemanusiaanya telah kembali pada dimana asal muassal mereka dilahirkan. Itulah cara Tagore dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Gerakan kemanusiaan melalui pendidikan adalah proses menyadarkan ihwal nilai-nilai kemanusiaannya dan tidak teralienasi dari lingkungannya. Proses pendidikan itu berbasis realitas sosial dimana anak-anak tidak tercerabut adari akar kebudayaannya dan menjadi subjek perubahan dari realitas sosial. Dengan menghadapkan anak didik pada masalah-masalah dehumanisasi penjajahan kolonial Inggris, maka proses kesadaran itu akan terbentuk hingga pada akhirny akan muncul kesadaran otonom untuk manjadi manusia bebas dari belenggu politik kolonial, ekonomi dan budaya. Pendidikan bagi Tagore adalah proses memanusiakan manusia, proses mendekatkan diri manusia dengan alam dan dengan ikatan-ikatan moral universalnya.

Tagore berbicara ihwal konsep pendidikan yang komplek tidak terlepas dari perjalanan dari masa kecilnya. Di tengah konsep pendidikan barat yang masih mengedepankan kemampua kognisi an sich, maka Tagore telah lebih utuh merumuskan bagaimana seutuhnya proses pendidikan untuk memanusiakan kemanusiaan itu dibangun. Tagore mempercayai bahwa ada keterikatan antara manusia dengan alam, antara pengajar dengan yang diajar, antara seni liberal dan seni panggung dan dimana manusia berada di pusat jagad raya. Pengetahuan dan keterampilan saja tidak akan membawa kita kemana-mana sebagai manusia. Manusia memerlukan yang lebih besar dari hanya sekedar terampil.[2]

Tujuan Pendidikan

Bagi Tagore pendidikan bukan hanya untuk tujuan dalam mendapatkan pekerjaan. tujuan hidup itu mestinya menjadi perencanaan pendidikan yang lebih prioritas dari hanya sekedar untuk tujuan mendapat pekerjaan. harus dibedakan antara tujuan pendidikan yang lebih tinggi, yakni kebebasan, kemerdekaan, dan kesopanan dengan tujuan pendidikan yang lebih rendah, yakni hanya sekedar untuk mendapatkan pekerjaan atau kemampuan teknis lainnya. Tagore dengan pendidikannya benar-benar ingin memperjuangkan otentisitas kemanusiaannya menjadi lebih sempurna.

Tapi apakah Tagore dalam konteks ini menghilangkan pengembangan intelek, seperti yang kerapkali di sematkan padanya? Untuk menjawab ini saya kutip pernyataan Tagore yang dikutip oleh Udaya Narayana Singh. Tagore mengatakan, “

‘Saya pernah bersumpah untuk menjadikan pendidikan sebagai bidang yang kreatif, bagian dari Supreme Creator. Saya ingin menempatkan Ilmu Pengetahuan diatas pedestal Kesenangan (Joy) dan untuk ini saya harus mengusahakan kerjasama antara tanah, air dan langit dari tempat ini. Saya mencoba untuk merangsang siswa-siswa akan keindahan alam saya dengan menyanyikan lagu-lagu untuk menyambut kedatangan setiap musim …Disini, sejak dari awal kami menciptakan sebuah ruangan untuk menguak misteri asal usul alam raya. Saya ingin menciptakan sebuah ruang untuk kaum intelektual dalam skema pemikiran saya, dan inilah sebabnya mengapa Science mempunyai tempat yang terhormat dalam tempat praktek kerja kami. Kitab Vedas berkata– ‘yasmadrite na siddhati yajno, vipashcitashcana sa dhiinam yogaminvati’ – ‘Dia yang tanpanya bahkan orang yang paling berpengetahuan sekalipun tidak akan dapat memetik hasil yajnas– Sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan intelek dan bukan dengan mantra-mantra atau ritual-ritual!’ Itulah sebabnya mengapa saya berusaha untuk memakai kesenangan (Joy) dan intelek dalam pembangunan tempat ini secara kreatif.”[3]

Tagore telah memadukan antara kemampuan intelek dan seni sebagai salah satu jalan untuk menemukan hakikat kemanusiaan yang sejati. Kedua kemampuan itu ditempatkan dalam ruang yang saling mengisi dan menjemput kemandirian. Itulah yang melandasi Tagore untuk terus mengembangkan segenap potensi yang ada agar manusia mampu menjalani hidup dengan manusiawi.

Perjuangan kemanusiaan melalui jalur pendidikan itu diperoleh Tagore melalui proses perjalanan yang panjang, berliku dan penuh dengan cadas. Tentang masa kecil dan proses pendidikannya, Tagore menulia, “Saya dibesarkan dalam suasana penuh aspirasi, aspirasi untuk pengembangan semangat manusia. Kami di rumah mencari kebebasan kekuatan dalam bahasa, kebebasan berimajinasi dalam kesusasteraan, kebebasanjiwa dalam menjalankan kewajibankewajiban agama dan kebebasan berpikir dalam lingkungan sosial kami. Hal ini telah meyakinkan saya akan kekuatan pendidikan, sebuah kekuatan yang hidup dan satu-satunya kekuatan yang dapat memberikan kebebasan yang real kepada kita, kebebasan dalam keterikatan moral dalam dunia manusia.”[4]

Nama kecil Tagore adalah Rabi. Anak yang lahir dari putra Debendranath Tagore dan Sarada Devi itu mempunyai empat belas bersaudara. Tagore adalah anak bungsu yang pada tanggal 14 Februari 1873 melakukan perjalanan panjang di India bersama ayahnya selama beberapa bulan hingga pada akhirnay tiba di kaki Himalaya. Disitulah Tagore mendalami ilmu-ilmu modern, seperti astronomi dan bahasa sansakerta. Tagore juga terlihat sanagat rajin mempelajari karya sastra klasik. Dengan pelbagai karya yang telah dihasilkan, pada tahun 1877 Tagore sudah cukup terkenal. Karya-karyanya dalam bidang kesusasteaan telah mengantarkan dirinya menjadi orang terkenal.

Meski Tagore telah menekuni dunai kesusastraan, tetapi ia bercira-cita menjadi pengacara. Maka ia mendaftar di sekolah Brighton, Inggris pada tahun 1878. Setelah itu Tagore melanjutkan di University College London. Hanya saja Tagore harus pulang dan meninggalkan studinya karena orangtunaya telah ayahnya telah menjodohkannya dengan Mrinalini Devi. Tagore pun menikah pada pada 9 Desember 1883. Dari pernikahan itu Tagore dikarunia lima orang anak, empat di antaranya meninggal. Tagore hidup tenang bersama keluarganya di Shelidah, wilayah yang saat ini sudah masuk bagian dari Banglades.

Pada tahun 1901, Tagore meninggalkan Shelidah dan pindah ke Shantiniketan, tinggal di Ashram yang didirikan oleh ayahnya. Di tempat inilah Tagore memulai perjuangan untuk mendidik manusia merdeka dan lepas dari proses dehumanisasi yang telah Inggrsi tancapkan. Tagore juga menulis banyak karya sastar. Beberapa bentuk puisi, cerpen dan karya seni lainnya kian membuat namanya dikenal publik. Mendidik dan berkarya adalah dua jalan yang ditempuh dengan penuh komitmen dan penuh cinta oleh Tagere. Tak heran pada tanggal 14 November 1913 Tagore memenangkan Penghargaan Nobel di Bidang Sastra. Itulah yang membuat Tagore dalam perjalannya lebih dikenal sebagai sosok seniman, penyair, dramawan, musikus dan filsuf. Proses menulis yang sudah dimuali sejak usia delapan tahun dan menulis cerita pendeka ketika sudah berusia enam belas tahun membuahkan hasil yang luar biasa.

Sekolah yang dikenal dengan Shriniketan di Surul, sebuah kampung dekat Asrama di Shantiniketan, betul-betul berdiri dan berjalan secara normal pada tahun 1921. Bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, mendirikan sekolah Melalui ini ia sendiri bermaksud menyediakan tempat alternatif, bagi gerakan Swaraj, yang digalang Mahatma Gandhi yang mana sebelumnya gerakan ini sempat ia kritik. Ia merekrut para sarjana, penyumbang dana serta pekerja dari berbagai negara untuk menjalankan sekolah ini. Membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan dengan cara memperkuat diri di sektor pendidikan. Pada tahun 1930an ia juga memberikan perhatian lebih terhadap kaum Dalit (kelompok kasta rendahan).[5]

Kalau ditanya apa agama Tagore, maka sulit untuk dijawab. Meskipun Tagore dibesarkan dalam lingkup sosial dimana gerakan Hindu mulai berjalan, tetapi Tagore sama sekali kurang terlalu suka membincangkan ihwal agamanya. Pikiran Tagore cukup terbuka dan tak terikat terhadap pandangan-pandangan agama konvensional. Kita bisa membaca pikiran keagamannya dari pernyataan berikut:

“Saya diminta untuk memberi tahukan kepada kalian tentang pendapat saya mengenai agama. Salah satu alasan mengapa saya selalu merasa enggan untuk berbicara mengenai hal ini adalah bahwa saya menganut agama saya ini bukanlah melalui penerimaan secara pasif sebuah kepercayaan tertentu karena kebetulan saya dilahirkan dalam lingkungan agama tersebut. Saya lahir dalam sebuah keluarga yang memelopori kebangkitan kembali di negeri kita ini sebuah agama besar, yang didasarkan kepada ucapan-ucapan pendeta-pendeta besar India di dalam kitab-kitab Upanisads. Tetapi karena temperamen idiosinkretik saya, tak mungkin bagi saya untuk menerima sesuatu ajaran agama hanya karena orang-orang disekitar saya percaya bahwa agama itu betul… Jadi pikiran saya dimatangkan dalam suasana kebebasan, bebas dari dominasi sesuatu kepercayaan yang otoritasnya berasal dari beberapa kitab suci atau dari ajaran-ajaran para penyembahnya.”[6]

Dalam perjalanan hidupnya Tagore memang tidak terikat oleh satu kepercayaan tertentu. Dengan cara begitu pemikiran Tagore terus bergerak dinamis berkembang menjadi lebih universal dalam memandang manusia. Tagore ingin mengambil semua aspek terbaik dari semua agama hingga terinternalisasi membentuk pandangan yang universal. Tagore adalah seorang manusia. Ia bukan hindu dan bukan pula kristen. Ia telah menjadi manusia universal. Sabujkoli Sen mengatakan, “Misi Rabindranath adalah–mendewatakan manusia dan memanusiakan Dewata. Perjalanan Tagore menuju “Religion of Man” atau Agama Manusia bermula dari seloka-seloka Upanisad pada masa kecilnya. Ini diperkaya dengan filosofi Gita, ajaran-ajaran Buddha, Mahavira dan juga radisi disamping tradisi Baul dan Sufi yang asli India.”

Dengan pemahaman kemanusiaan yang universal itu Tagore bisa mengabdi pada semua kalangan tanpa mengenal batas agama, geografis, status sosial. Tagore benar-benar berjuang untuk kemanusiaan secara universal. Perjuangan itu tak hanya tanpak dalam bentuk pembentukan lembaga pendidikan, tetapi Tagore juga terlibat aktif dalam kerja-akerja sosial yang ada di masyarakat. Pada saat itu Tagore sudah terkenal dan menghasilkan beberapa karya penting. Tagore tidak gengsi untuk turun ke lapangan untuk membantu penduduk desa untuk bergotong royong memabngun jalan, meningkatkan produksi pertanian, dan pelbagai gerakan sosial kemasyarakat yang itu bermamfaat untuk semua dan kemajuan masyarakat.

Tagore adalah sosok yang humanis dan sigap dalam bertindak. Ia menulis dalam ‘The History and Ideals of Sriniketan’, The Modern Review “Selama tinggal di desa, saya selalu berusaha untuk mengetahui sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Kebutuhan-kebutuhan pekerjaan saya telah memaksa saya untuk menempuh jarak-jarak yang jauh dari desa ke desa, dari Silaidah ke Patisar, melalui sungai-sungai, besar dan kecil, dan melalui payau-payau dan dengan cara seperti ini saya bisa menyaksikan semua sisi kehidupan desa. Saya ingin sekali memahami pekerjaan sehari-hari orang-orang desa dan berbagai rona kehidupan mereka … Secara berangsur-angsur kepedihan dan kemiskinan yang diderita oleh penduduk desa menjadi jelas bagi saya, dan saya mulai tidak sabar untuk dapat melakukan sesuatu demi membantu mereka. Adalah uatu hal yang memalukan bahwa saya menghabiskan hari-hari saya sebagai tuan tanah, hanya peduli dengan urusan mencari duit dan menghitung laba rugi.”[7]

Aktivis Sosial

Tagore mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Ia tak ingin menjadi sosok seniman, sastrawan atau drawan yang hanya duduk manis di atas kursi atau menepi di dalam kamar. Tagore menunjukkan aksi-aksi sosialnya dengan menjadi inspirator bagi penduduk-penduduk desa. Tagore tentu tidak hanya fokus pada aspek infrastrktur bangunan desa, teapi merasa mem[unyai tanggung jawab untuk menjadikan masyarakat mandiri dan masyarakat yang terdidik. Tagore menulis ihwal desa yang bebas dari segala bentuk kebodohan menuju masyarakat yang mandiri dan terdidik. Tagore menulis “jika kita bisa membebaskan walaupun satu desa dari belenggu ketidak berdayaan dan kebodohan, suatu keadaan yang ideal bagi seluruh India akan tercipta … Biarkan beberapa desa dibangun dengan cara ini, dan aku akan mengatakan mereka adalah Indiaku. Begitulah caranya untuk menemukan India sejati.”[8]

Tagore mengorganisir penduduk desa agar mereka bisa mandiri dalam bidang perekonomian. Tagore ingin penduduk desa bisa mandiri melalui koperasi jaringan rakyat dan bisa lepas dari ketergantungan terhadap kota. Tagore berharap koperasi yang telah berdiri bisa membantu mengemangkan perekonomian masyarakat. Tagore juga mengembangkan pertanian masyarakat. Tagore terjun dan bekerja langsung bersama para penduduk desa untuk keluar dari ketergantungan. Di saat yang bersamaan Tagore melakukan kritik keras terhadap kalangan elit-elit india yang hanya mengedepankan politik golongan. Bagi Tagore kalangan elit tidak melakukan gerakan realistis dan kontruktif untuk kemandirian penduduk desa. Mereak para elit hanya berkoar dan menyebar slogan sedangkan praktiknya nihil. Tagore mengecam kongres nasional india dengan cukup keras.

“Suatu rasa kekecewaan yang mendalam kini menghantui kehidupan pedesaan di seluruh negeri kita. Slogan-slogan besar seperti home rule, otonomi dan lain sebagainya bagi saya hanya terlihat sebagai pernyataanpernyataan edan dan saya merasa malu walaupun hanya untuk mengatakannya.”[9]

Tagore juga sosok yang mempunyai kontribusi besar terhadap emansipasi wanita di Bengali. Pada saat itu para pria dan wanita dari Inggris yang hanya menikmati kehidupan dengan leluasa. Sedangkan perempuan-perempuan desa dan para janda nasibnya terlantar. Tagore menghadiri seuah pesta dimana para prian dan waniat Inggri begitu bebas bergaul, sementara di Bengali wanita terisolasi dari lingkungan sosilnya. Tagore menulis dalam sebuah surat, “Adalah wajar jika lelaki dan wanita sama-sama ingin mencari hiburan. Wanita adalah bagian dari ras manusia dan Tuhan menciptakan mereka sebagai bagian dari masyarakat. Menganggap mencari hiburan melalui pergaulan antara sesama manusia adalah sebuah dosa besar, tidak sosiabel dan sebagi sebuah masalah sensasional bukan saja abnormal, tidak bermasyarakat, dan karenanya dapat dianggap tidak beradab. Kaum lelaki dapat menikmati segala macam hiburan di dunia luar, sementara wanita sangat terkungkung dan terikat di rumah-rumah mereka (Rabindranath Tagore, Letters from a Sojourner in Europe)[10]

Ketika Tagore dari keliling Eropa, maka spirit emansipasi itu direalisasikan dalam pendidikan. Perempuan yang pada mulanya terisolasi dari lingkungan pendidikan, maka Tagore dengan berani menyerukan hak yang sama untuk mendapat akses yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan. Tagore berpandangan bahwa antara laki-laki dan perempuan itu sama manusia yang mempunyai hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. Tagore juga menyebarkan spirit emansipasi wanita ini dalam beberapa bentuk tuliasan. Dalam tulisan yang berjudul ‘The Education of Women’ pada bulan Agustus 1915, judul ‘The Education of Women’ pada bulan Agustus 1915, Tagore menulis dengan tegas:

“Apapun yang harus kita ketahui adalah pengetahuan. Pengetahuan harus sama-sama dimiliki oleh lelaki dan perempuan – bukan untuk kepentingan kegunaan praktikalnya, tetapi untuk diketahui …keinginan untuk tahu adalah hukum sifat manusia (the law of human nature).”[11]

Spirit emansipasi perempuan yang ada dalam diri Tagore bukan lantas menyamakan antara laki-laki dan perempuan dalam pelagai aspek. Tagore juga membedakan ihwal beberapa aspek tertentu yang itu akan melekat pada diri kaum perempuan dan laki-laki. Tagore menulis, “Pengetahuan mempunyai dua sisi yang berbeda: satu, pengetahuan murni, (pure knowledge), yang lain, pengetahuan yang ada nilai kegunaannya (utilitarian knowledge). Di bidang pengetahuan murni, tidak ada pembedaan antara pria dan wanita;pembedaan baru ada di bidang kegunaan praktis (practical utility). Wanita harus mencari pengetahuan murni untuk menjadi makhluk yang matang, dan utilitarian knowledge untuk menjadi wanita sejait.”[12]

Itulah pandangan Tagore ihwal perbedaan antara kaum perempuan dan laki-laki. Tagore dengan komitmen yang tinggi berupaya menfasilitasi dengan sistem pendidikan alternatif yang mampu membentuk pendidikan kaum perempuan dan laki-laki secara utuh. Dengan kurikulum yang akomodatif terhadap perempuan dan program ekstra kurikuler yang sangt respek terhadap kaum perempuan, seperti pementasan drama, kegiatan seni tari, Tagore adalah sosok pejuang kemanusiaan universal yang datang pada mereka yang terekslui dari lingkungan sosila pada saat itu untuk ikut terlibat dan berpartisipasi aktif menjadi masyarakat yang mandiri.

Seiring dengan berjalanya waktu, kesehatan Tagore kian hari kian banyak gangguan. Pada tahun 1937 kesehatan Tagore betul-betul menurun karena penyakit yang menyerangnya. Tepat pada 7 Agustus 1941 seluruh penjuru dunia berduka. Tagore dalam usia ke 80 telah pergi untuk selamanya. Dunia berduka. Peran san dumbangan Tagore di pelbagai negara menjadi kenangan yang sulit terlupakan. Tagore telah banyak menginjakkan kaki dan menyisakan kesan di pelbagai negara membuat, kematianya pun menimbulkan duka yang mendalam.

Berikut saya kutip pusi Tagore yang telah diterjemahkan Phalguna dengan judul, ‘sayap-sayap kematian. Puisi ini ditulis pada hari ulang tahun ke-80 Tagore, ulang tahun terakhir sebelum tiba di tempat peristirahatanya terakhirnya. “Hari ini di tengah-tengah hari kelahiranku, aku hilang/ Aku ingin di dekat diriku, kawan sentuhan lembut tangan-tangan mereka akan kubawa bersamaku/ Kasih terakhir ibu bumi/ Bagian anugrah kehidupan, berkah terakhir manusia/ Keranjangku kosong hari ini/ Segala yang harus kuberikan telah kuberikan semuanya/ Anugrah kecil yang kuterima sehari-hari/ Kelembuatn kasih, pengampunan akan kubawa bersamaku/ Ketika diatas rakit kecil kulakukan loncatan terakhir/ Menuju Pesta Terakhir tanpa suara.”[13]

 

[1]http://id.wikipedia.org/wiki/Rabindranath_Tagore

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Rabindranath_Tagore

[3]Udaya Narayana Singh, Manusia di Tengah Jagad Raya Ide-ide Tagore Mengenai Pendidikan, (Majalah India Perspectives  VOL 24 NO. 2/2010), hal. 105

[4]Ibid.   

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Rabindranath_Tagore

[6] Sabujkoli Sen, Agama Tagore, (Majalah India Perspectives  VOL 24 NO. 2/2010), hal. 61

[7] Uma Dasgupta, Tagore dan Pembangunan Desa, Majalah India Perspectives  (Vol 24 No. 2/2010), hal. 86

[8] Ibid

[9]Ibid, hal. 89

[10] Kathleen M. O’connel, Peranan Rabindranath Dalam Emansipasi Wanita, (Majalah India Perspectives  Vol 24 No. 2/2010), hal. 81

[11]Ibid.

[12]Ibid.

[13]IBM Dharma Palguna Dkk, Rabindranath Tagore, Puisi Sepanjang Masa, (Denpasar, Yayasan Dharma Sastra, 2002), hal. 124

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here