Strategi Bisnis Nabi Muhammad; Menjadikan Kerja Sebagai Ibadah

0
1046

Didaksi.com-Puncak kesuksesasan Nabi Muhammad dalam berdagang pada usia 25 tahun- untuk ukuran anak muda saat ini masih ingin memulai puncak karir-bukanlah datang secara tiba-tiba, tapi itu adalah hasil dari kerja keras dan komitmen Rasulullah untuk terus memegang teguh prinsip-prinsip berdagang. Apa rahasia Rasulullah sukses di usia muda dalam membangun karir perdagangan? Salah satu jawabannya adalaj menjadikan Kerja sebagai Ibadah.

.

Menjadikan Kerja Sebagai Ibadah

Saat ini kita selalu dihadapkan pada pemisahan dikotomis antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat. Orang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu dihadapkan dengan urusan duniawi seakan tak ada tiket untuk meraih kebahagiana akhirat. Sebaliknya, meraih kehidupan akhirat seakan harus jauh dari kemegahan duniawi. Kalau masih ada asumsi-asumsi semacam ini, maka mulai saat ini buanglah jauh-jauh. Semua pekerjaan di dunia ini bisa bernilai ibadah tergantung pada niat dan tujuannya.

Nabi Muhammad telah menjadi teladan kita bersama, dimana beliau menjadikan pekerjaannya sebagai bentuk ibadah. Sejarah telah membuktikan, menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah justru usahanya akan kian berhasil sebagaimana Rasulullah menjadikan aktivitas perdagangan sebagai bentuk ibadah.

Nabi Muhammad bekerja tak hanya mengedepankan upah dan keuntungan finansial. Beliau menjadikan semua aktivitas pekerjaan sebagai bentuk ibadah diri pada Allah Swt. Bekerja yang mengedepankan ibadah tentu tidak akan keluar dari prilaku tidak sopan yang dilarang, seperti membohongi orang, curang atau bahkan demi sebuah pekerjaan berani meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Swt, layakya shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban lainnya. Menjadikan kerja sebagai ibadah justru akan membat kita akan lebih displin diri dalam kontek waktu dan menejemen diri juga akan lebih rapi.

Dalam Islam kerja itu merupakan sebuah kewajiban. Sebagai bentuk kewajiban, orang yang tak melaksanakan akan mendapatkan siksaan dan orang yang mengerjakan akan mendapatkan pahala. Jadi secara umum bekerja itu itu sendiri sudah bernilai ialah dengan tujuan untuk memaksanaka kewajiban sebagai ummat islam. Dalam sebuah Alquran disebutkan:

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah:10 )

Dalam hadis juga disebutkan, “Jika pergi sesorang di antara kamu pada tengah hari untuk mengambil kayu bakar dibelakangnya, sehingga dia dapat bersedekah darinya dan mencegah daripada meminta-minta maka yang demikian adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain sama ada diberi atau tidak kerana tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang dibawah, mulailah daripada yang terdekat.”

Dari beberapa ayat dan hadits tersebut sudah nampak jelas bahwa bekerja itu adalah kewajiban. Sebagai kewajiban, mengerjakan akan mendapatkan pahala dan meninggalan justru akan mendapat murka dari Allah Swt. Dan sebagai bentuk ibadah juga, tentu suatu saat akan diminta pertanggng jawaban di hadapan Allah Swt ihwal cara-cara kerja kita, seperti kalau dalam kontek berdagang; bagaimana cara berjual beli, bagaimana oang memafaatkan harta dari jual beli itu.

Nabi Muhammad telah memberikan inspirasi bagi kita bersama bagaimana beliau berdagang menjadikan aktivitas ibadah secara benar. Menjadikan berdagang sebagai ibadah adalah terletak di niat awal. Dari awal Rasulullah telah menjadikan proses berdagang sebagai bentuk dari ibadah. Niat awal inilah yang akan menetukan proses dan tahap akhir dari berdagang. Dalam proses berdagang, beliau mengedepankan nilai-nilai etis. Kalau ada panggilan shalat di saat proses berdagang berlangsung, maka beliau lebih mengedepakan shalat sehingga pada akhirnya beliau juga melarang proses transaksi di saat adzan. Hasil akhir dari semua aktivitas berdagang Rasulullah sungguh sangat membanggakan. Beliau meraih banyak keuntungan dan hasil yang sangat memuaskan dari prosese berdagang.

Meskipun pada prinsipnya bekerja itu sendiri adalah ibadah, tapi tak semua aktivitas itu akan masuk ibadah. Kalau ada orang yang berdagang dengan tujuan dari hasil dagang itu untuk berjudi, maka tentu aktivitas dagangnya tak akan bernilai ibadah. Poin utama untuk menjadikan proses kerja itu bernilai ibadah adalah tergantung pada niatnya dan tujuan dari bekerja itu sediri. Kalau niat dari awal bekerja sudah salah, maka untuk proses dan akhir dari kerja kita berpotensi untuk berbohong, curang dan hanya mengedepankan kepentingan yang salah dan telah dipatok dari awal.

Bekerja tak hanya mengisi waktu lowong, bertahan hidup, dan memenuhi tuntutan masyarakat, tapi bekerja adalah aktivitas spritual yang berupa penghambaan diri kita pada Allah Swt. Setiap pikiran dan gerakan yang kita arahkan untuk pekerjaan akan bernilai ibadah. Pekerjaan yang seperti inilah Allah Swt akan mempermudah usaha dan memberi jalan untuk mencapai kesuksesan secara duniawai. Jadi, menjadikan pekerjaan sebagai ibadah akan memberikan kemudah, kesuburan dan jalan yang lapang bagi setiap orang. Ini telah dibuktikan oleh Rasulullah Saw.

Rasulullah sangat giat dan gemar dalam bekerja. Rasulullah adalah orang yang tidak pernah menagguhkan sebuah pekerjaan. Ketika mulai bekerja, maka beliau bekerja secara total dan tuntas. Ini menunjukkan bahwa komitmen Rasulullah terhadap kerja sungguh luar biasa. Di samping itu juga Rasulullah adalah sosok yang tidak menyia-nyiakan waktu. Bagi Rasulullah waktu adalah ibadah. Maka beliau sanagat menghormati waktu dan rajin bekerja sebagai bentuk manifestasi arti keimanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here