Thomas A. Edison; Si Jenius yang Diusir dari Sekolah

Sosok
Thomas Alva Edison, Penemu lampu, Biografi thomas Alva Edison
(Thomas Alva Edison/pixabay.com)

 

Didaksi.com-Banyak guru lebih suka menjadi hakim dibanding pembelajar. Guru yang bertindak sebagai hakim selalu memvonis anak didiknya; pemalas, telat belajar, kelainan mental dan konotasi negatif lainnya. Ujung-ujungnya mengatakan siswa ini gagal. Di tangan guru pembelajar, kegagalan tidak terletak pada anak didik, tetapi ada pada keterbatasan guru untuk memahami dan menangkap keunikan tiap-tiap peserta didik. Guru pembelajar akan selalu memperluas wawasan pedagogisnya.

Thomas A. Edison pernah menjadi korban dari dakwaan guru sebagai hakim itu. Manusia jenius yang akan dikenang sepanjang masa ini—lahir 11 Februari di Milan, Ohio, Amerika Serikat dari pasangan Samuel Edison dan Nancy Edison—didakwa sebagai anak yang mengalami keterlambatan belajar. Masih beruntung Thomas mempunyai ibu berpendidikan yang mampu memahami keunikannya, sehingga ia terselamatkan dari dakwaan guru yang killer itu. Nancy Edison, ibu Thomas, menjadi guru terbaik yang sangat berpengaruh atas kesuksesan Thomas di kemudian hari. Tak heran dalam catatan Martin Woodside (2007), Edison berkemonter ihwal peran besar orangtunya, “My mother was the making of me. She was true, so sure of me”.

***

Di lingkungan keluarga dan teman-temannya, Thomas A. Edison  biasa dipanggil Al. Tubuhnya kecil, selalu sakit-sakitan. Kesehatan Thomas sungguh mencemaskan, apalagi saat dokter berkata, sakitnya Thomas bisa berpengaruh terhadap perkembangan otaknya. Thomas juga mempunyai masalah dengan pendengaran. Atas segala kemungkinan yang terjadi, Thomas harus siap hilang pendengarannya di kemudian hari.

Baca Juga: Apakah Thomas mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau Dyslexia?

Terlepas dari aspek biologis yang tak meyakinkan itu, mulai kecil, Thomas mempunyai rasa ingin tahu tinggi. Kadang orangtuanya tidak mampu memberi penjelasan secara bernas atas pertanyaan Thomas yang menghujam. Orangnya tak mudah puas. Pernah suatu waktu, ibunya menjemur pakaian. Thomas bertanya, “mengapa matahari tidak terjatuh dari langit, Ma?” Ibunya menjawab, “Tidak akan mungkin Thomas” Thomas pun terus bertanya, “Kenapa itu tidak mungkin, Ma?” Ibunya terus menjawab tetapi Thomas selalu memperdalam pertanyaan demi pertanyaan hingga ibunya kehabisan kata-kata, sementara Thomas tidak puas.

Thomas kecil tidak hanya mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, tetapi juga hobi bereksprimen dengan sesuatu yang baru. Suatu waktu Thomas bertanya pada ibunya, “Kenapa itik mengeram telur-telurnya?” maka dengan santai ibunya menjawab, “Induk itik sedang mengeram agar nanti menetas dan mengeluarkan itik-itik kecil”. Thomas hanya heran. Thomas memang tak memberikan pertanyaan lanjutan tetapi menghadirkan peristiwa mencengangkan yang bisa dibilang lucu, lugu tetapi juga menjadi tanda-tanda jenius. Pada malam harinya, Thomas tiba-tiba hilang pada jamuan makan malam. Setelah dicari bersama-sama, ternyata anak kecil yang menggemaskan itu ada di kandang itik dengan posisi duduk sambil tertidur. Setelah ditanya, “Kenapa Thomas ada disini?” Ia menjawab santai, “saya sedang mengerami itik-itik kecil ini”. Itulah bentuk rasa ingin tahu Thomas dan eksprimennya saat masih kecil.

Masa kecil selalu bersahabat dengan kesepian, karena saudaranya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Tapi tak ada kesepian yang paling mencekam kecuali saat ibunya mendaftarkan ke sekolah—Thomas berusia delapan tahun ketika mendaftar ke sekolah. Thomas yang pelamun dan suka menggambar itu merasa tidak cocok dengan sistem sekolah yang kaku. Kondisi sistem sekolah itu juga diperparah dengan guru Thomas, Mr. Crewford yang killer, keras dan selalu memerintahkan para siswanya untuk belajar sesuatu dengan rambu-rambu yang sudah dia berikan, tanpa melihat keunikan tiap-tiap siswa.

Pergi ke sekolah seperti siksaan bagi Thomas.  Thomas masuk kelas, tetapi ia lebih tertarik menggambar sesuai imajinasinya yang luas ketimbang mengerjakan tugas yang diperintahkan gurunya. Tindakan Thomas membuat jengkal gurunya. Paling menjengkelkan lagi ketika Thomas suka bertanya  tetapi tak gemar mengikuti apa yang diarahkan oleh gurunya. Thomas selalu tak mengikuti intruksi gurunya. Menurut Linda Tagliaferro (2003), keingintahuan yang besar dan pertanyaan yang tajam kadang menggangu gurunya. Hanya saja guru Thomas tak memandang rasa ingin tahu yang tinggi sebagai potensi, tetapi lebih dianggap sebagai pembangkangan.

Atas dasar itu Mr. Crewford berkesimpulan, Thomas mengalami kesulitan belajar. Crewford yang selalu menghukum dan mengejek anak yang dianggap bermasalah di depan teman-temannya beranggapan bahwa Thomas mengalami kesulitan belajar, karena sulit menerima dan menjalankan instruksi. Thomas tetap bertahan di sekolah meskipun selalu mendapat hukuman dari gurunya hingga tiba pada suatu waktu Thomas sudah tak tahan dengan olok-olok di sekolah, maka Thomas pulang sambil menangis dan memberitahu Ibunya bahwa guru Crewford telah mengecap anak yang kesulitan belajar alias anak bermasalah. Dalam versi cerita David M. Atkinson (2007), Thomas pulang dari sekolah dengan membawa lipatan kertas dari gurunya yang bertuliskan, “Keep this boy at home. He is too stupid to learn”.

Nancy Edison, ibunya Edison, marah dan tersinggung atas ungkapan dalam surat itu. Thomas hanya bertahan tiga bulan di sekolah. Nancy yang memang sosok berpendidikan dan mempunyai pengalaman mengajar akhirnya memutuskan untuk mengajari Thomas di rumah (Homeschooling). Nancy Edison sangat sabar  mengajari membaca, menulis hingga keingintahuan yang besar dari Edison terus tersalurkan dengan baik. Nancy Edison juga guru yang tak membuat sulit anaknya. Ia sebagai sosok yang paham karakter anaknya selalu memberikan pilihan-pilihan terbaik. Thomas belajar dengan menyenangkan. Inilah yang membuat Thomas kecil merasa nyaman belajar hingga pada usia sembilan tahun, Thomas sudah melahap buku-buku berat, seperti buku karya Edward Gibbon, The Decline and Fall of The Roman Empire dan buku karya David Hume, The History of England serta membaca buku-buku sastra seperti Shakespeare and Dickens.  Thomas juga membaca karyanya Sir Isaac Newton, The Principia.

Kecintaan Nancy Edison menjadikan Thomas sosok yang gila membaca dan rajin melakukan eksprimen. Buku-buku yang bagi orang dewasa sulit bisa dipahami dengan mudah oleh Thomas. Thomas juga gila dalam melakukan praktik. Pada usia 10 tahun, Thomas sudah membangun laboratorium sainnya di ruang bawah tanah. Usia 12 tahun Thomas mulai kehilangan pendengarannya, seperti yang diprediksi oleh dokter. Tetapi Thomas tidak gusar, karena justru dengan pendengaran yang tak terlalu tajam, ia bisa lebih konsentrasi dalam melakukan eksprimennya—ciri Thomas selalu mengambil sisi positif atas segala yang tiba Hak paten pertama didapatkan saat usia 22 tahun. Itulah kisah Thomas kecil si jenius yang diusir dari sekolah.