Tips Mengenalkan Sedekah pada anak

Tips

 

tips mengenalkan anak sedekan, sedekah adalah

Didaksi.com−Sedekah adalah suatu pemberian dari seseorang kepada orang lain yang membutuhkan tanpa dibatasi oleh tenggang waktu serta jumlah. Sedekah yang diberikan pada orang itu bisa berupa harta, barang, tenaga atau bahkan pikiran. Cakupan Sedekah tak hanya melulu pada materi, tapi juga mencakup non materi. Kalau ada orang yang menolong orang tua buta yang ingin menyebrangi jalan itu sudah termasuk sedekah, karena telah mengorbankan tenaga kita untuk membantu orang lain. Dan kalau menjelaskan pelajaran sekolah pada teman sebaya karena mereka tidak paham juga termasuk Sedekah, karena kita telah menggunakan keluasan ilmu kita untuk membantu orang lain.

Sebagai ibadah yang mempunyai nilai cukup tinggi di hadapan Allah Swt, mengajarkan sedekah mulai usia dini menjadi sangat penting. Karakter dan kepribadian anak yang gemar bersedekah adalah dambaan tiap-tiap orang tua. Dambaan itu tak datang dan bisa diraih secara tiba-tiba, tapi membutuhkan latihan dan latihan yang konsisten mulai dari masa usia dini. Inilah langkah-langkah utama bagi orang tua yang ingin menjadikan anaknya gemar bersedekah  mulai dari usia dini.

Baca Juga:

Mendidik Anak Mencintai Al Quran Sejak Dini

Kiat Anak Mencintai Shalat Mulai Dini

Menjadi Teladan dalam Bersedekah

Anak adalah peniru ulung. Kehidupan keluarga, baik dalam perkataan tindakan dan segala bentuk aktivitas kehidupan keluarga akan dengan mudah ditiru oleh anak. Rasulullah Saw pernah berpesan kepada seluruh orang tua agar mereka memperlakukan anak karena anak adalah ibarat kertas putih. Orang tualah yang mempunyai andil cukup besar untuk menuliskan kertas itu; apakah akan ditulis dengan warna merah, jingga, hitam atau pun warna lainnya. Keteladanan menjadi penting bagi orang tua untuk menanamkan sifat dan membentuk karakter anak menjadi lebih baik.

Agar anak suatu saat gemar untuk bersedekah, maka sudah selayaknya mulai dari usia dini dalam diri anak diajarkan nilai-nilai sedekah . Mengajari anak nilai-nilai sedekah  tentu beda dengan mereka yang sudah dewasa yang sifat penyampaiannya bisa dengan ceramah, diskusi atau bahkan seminar, tapi menanamkan nilai-nilai sedekah  dalam diri anak, lebih-lebih anak usia dini adalah melalui keteladanan.

Perkataan dan perbuatan orang tua sehari-hari sangat menentukan. Kalau dalam sehari-hari orang tua tidak pernah memberi ketika ada seorang pengemis, maka dalam pikiran dan hati anak sudah terkonstruk bahwa suatu saat kalau ada pengemis, anak juga akan menghadapi layaknya sikap yang telah diajarkan oleh orangtuanya.

Begitu juga sebaliknya, kalau ada pengemis, tiba-tiba orang tua sangat respek mengasih uang, anak juga akan merekam dan tercetak dalam memorinya. Suatu saat, kalau anak menerima pengemis ia akan melakukan seperti yang sebelumnya telah dilihat dari sikap orangtuaya. Sikap keseharian orangtua dalam hal ini menjadi panutan utama bagi anak.

Agar anak bisa mencintai sedekah, maka mulailah dari kehidupan internal keluarga, lebih-lebih kehidupan kedua orangtua untuk selalu sedekah . Anak tidak meniru apa yang dikatakan oleh orangtua sementara kedua orangtua tidak perbuat. Anak lebih terangsang untuk meniru apa yang telah diperbuat. Bagi orangtua yang menginginkan anaknya gemar sedekah , jadilah teladan dalam kehidupan sehari-harinya untuk selalu rajin sedekah  pada mereka yang membutuhkan.

Menggugah Rasa Empati Anak

Menggugah rasa empati anak mulai dari usia dini merupakan langkah sangat penting agar anak cinta sedekah . Empati sosial adalah fondasi untuk bisa berbagi terhadap orang lain dari sesuatu yang telah dimiliki. Kalau anak mulai dari usia dini sudah dilatih oleh kedua orang tuanya untuk tumbuhnya rasa empati sosial, maka lambat tapi pasti karakter untuk selalu berbagi dengan orang lain dengan sendirinya akan terbentuk.

Hanya saja kebanyakan orang tua saat ini bukan melatih anak agar tumbuh empati sosialnya, tapi justru melatih anak untuk bersikap individualis terhadap lingkungan sosial kita. Orang tua banyak mengajarkan anak untuk mengunjungi mall-mall dibanding panti asuhan, berbelanja untuk kepentingan diri sendiri dibanding untuk sedekah  terhadap lembaga-lembaga sosial.

Itu adalah contoh sikap orang tua yang kurang baik bagi tumbuhnya empati sosial anak. Sikap itu mengajari anak untuk melihat sebuah dunia yang antah berantah dan jauh dari realitas yang sebenarnya. Anak tidak tahu bahwa masih banyak anak-anak sebaya yang tiap hari tiap malam malam menjadi buruh untuk hanya sesuap nasi, terlalu banyak anak-anak yang tiap hari berada di bawah lampu merah meminta-minta, dan banyak pula anak yang hidup di penampungan dengan serba kekurangan.

Untuk menanamkan empati terhadap realitas kehidupan sosial, orang tua semestinya mengajak anaknya untuk mengunjungi rumah yatim piatu, menyapa anak-anak jalanan dan anak-anak terlantar, mengunjungi panti jompo, dan kalau bisa mengajaknya berjalan berkeliling kota. Kalau di tengah jelan menemukan pengemis ajarkan anak memberi dari tangan mungilnya langsung beberapa uang receh yang pantas. Itu akan menggugah rasa kemanusiaan anak yang paling dalam sehingga dalam dirinya akan timbul rasa ingin sedekah .

Mengajari Kepedulian pada Teman Sebaya

Setiap anak pasti mempunyai permainan. Mainan tiap-tiap anak tidak sama antara anak yang satu dengan yang lainnya. Sebagai sesuatu yang lazim, sifat latah anak kadang muncul untuk meminjam punya teman yang satunya. Ada sebagian anak yang langsung memberi pinjaman tak sedikit pula anak yang mainannya tak ingin dipinjam, bahkan tak sedikit pertengkaran itu terjadi gara-gara saling rebut.

Sebagai orang tua yang bijak, kalau mempunyai anak yang tak bisa meminjamkan permainannya pada anak yang lain, semestinya dijelaskan bahwa sikap itu termasuk sikap bakhil dan pelit.

Teguran orang tua itu tentu adalah suatu hal yang positif. Meski secara kasat mata itu hanya permainan yang seakan sepele, tapi bagi orang tua itu jangan dianggap sepele. Kalau dilihat dari kacamata orang dewasa kelihatan sepele, tapi bagi dunia anak sesuatu yang berkaitan dengan permainan sangat berperan dalam membentuk karakter dan kepribadian anak dikemudikan hari.

Ketika anak-anak sudah berlatih memberi alias tidak pelit mulai dari usia dini, secara tak langsung dalam dirinya sudah timbul rasa kepedulian terhadap teman dan orang lain. Anak ini sudah memilih suatu pilihan sikap yang tepat untuk berbagi dengan teman-temannya. Dalam diri anak sudah terekam dan tertanam suatu sifat kepedulian sosial.

Timbulnya kepedulian yang pada mulanya dimulai dari tingkat antar teman ini lambat laun seiring dengan berkembangnya usia seseorang akan dengan mudah untuk melakukan sedekah. Kepedulian sosial dapat mengetuk pintu hati seseorang untuk berbagi dan memberi mengurangi beban mereka yang kurang mampu.

Berilah Kotak Infak yang Lucu

Anak biasanya suka terhadap yang lucu-lucu. Sesuatu yang lucu bagi akan mudah disukai dan disenangi. Agar anak tumbuh mental untuk selalu memberi, maka berilah kotak infak yang lucu di dalam rumahnya dan biarkanlah anak untuk memasukkan uang receh dengan sendirinya. Kalau bisa orang tua menyediakan kotak infak yang penuh warna dan akan berbunyi ketika anak memasukkan uang receh. Anak akan tambah terhibur dan kian senang sehingga melakukan aktivitas itu tak menjemukan.

Memberi kotak infak sebenarnya adalah bentuk permainan untuk membiasakan anak melakukan sedekah mulai dari usia dini. Jangan segan-segan orang tua untuk melakukan permainan yang edukatif ini, karena latihan yang terus menerus yang berangkat dari keluarga dan berlangsung secara konsisten mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk karakter dan sifat anak di kemudian hari.

Ajari untuk Memberi Tanpa Pamrih

Di zaman yang konon katanya penuh kemajuan ini, sulit untuk menjumpai seorang yang dalam tiap laku hidupnya selalu dipenuhi dengan ketulusan. Setiap perbuatan seakan tak lepas dari kepentingan, lebih-lebih ketika ada orang yang ingin sedekah dengan kadar yang tak lazim, maka masyarakat tentu banyak berpikir, apa keinginan si pemberi. Ini merupakan pertanda ihwal tipisnya etika sedekah dalam sebuah masyarakat sehingga kalau memberi sesuatu, maka ia mengharapkan imbalan yang lebih.

Bagi orangtua yang ingin mengajari anak usia dini sedekah secara benar, maka buanglah paradigma di atas dan ajarilah anak untuk memberi sesuatu dengan tanpa pamrih. Mengajari anak untuk memberi tanpa pamrih adalah memberikan contoh bagaimana ketika sedekah motif utama bukan untuk mendapatkan imbalan, tapi memberi karena iklas karena Allah Swt.

Kalau anak diajari oleh orang tuanya untuk memberi sesuatu atas motif tertentu alias ada keinginan tertentu dibalik pemberian, maka anak suatu saat akan memberi sesuatu bukan karena mereka layak untuk diberi, tapi lebih pada motif kepentingan; apakah karena motif keluarga, teman atau bahkan kepentingan-kepentingan lainnya. Ini tentu sebuah cara sedekah  yang kurang tepat dalam islam.

Maka mulai kecil ajarilah anak untuk sedekah tanpa pamrih. Rasulullah saw dan para sahabatnya  tak akan pernah memberi terhadap seseorang kecuali karena Allah. Maka apa pun reaksi orang yang menerima pemberiannya, tidak akan menjadi masalah. Karena mereka tidak mengharap imbalan apapun dari manusia atau si penerima, tapi hanya berharap kepada yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Imbalan.

Memberikan sesuatu tanpa pamrih bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari anak. Misalnya, ketika anak sedang bermain tiba-tiba ada teman sebayanya datang dan ingin meminjam permainannya. Sikap anak ada yang akan memberikan dengan syarat dan ketentuan tertentu dan ada yang langsung memberikan mainan itu tanpa permintaan apapun. Anak tipe pertama ini berpotensi untuk menjadi orang yang lebih sedikit individualis dan sulit untuk tulus ketika memberikan sesuatu.

Kalau orang tua menjumpai anak tipe pertama tersebut, alangkah lebih baiknya jika anak yang bersangkutan ditegur dengan nada yang sopan dan bahasa yang halus agar bisa memberikan permainan secara tulus alias tanpa syarat. Ini mungkin kelihatan sepele, tapi kalau anak seperti itu terus dibiarkan berkelanjutan, maka itu akan menjadi kebiasaan yang terus menumpuk menjadi sifat dan terbentuk menjadi karakter. Ketika sudah menjadi karakter sangat sulit untuk dirubah. Sebelum terlambat, ajarilah anak mulai usia dini untuk memberi tanpa pamrih.

 Berilah Keterangan Tentang Keutamaan Sedekah

Ketika orang tua sudah banyak memberikan teladan bagi anak dalam sedekah , maka carilah momentum yang tepat bagi anak untuk memberikan penjelasan ihwal keutamaan Sedekah  dan pahala bagi orang yang konsisten mengerjakannya. Anak perlu diberikan penjelasan lebih lanjut agar bisa memahami apa yang telah dikerjakan. Penjelasan ihwal pahala dan keutamaan sedekah tersebut secara lebih detail juga disebutkan ihwal ayat Al-quran dan hadits sesuai dengan pokok pemikirannya.

Berilah Penjelasan Sesuatu yang Dapat disedekahkan.

Tidak setiap sesuatu itu dapat disedekahkan. Anak mulai awal sangat penting mengetahui hal ini agar anak belajar memilih dan memilah sesuatu yang dapat nilai urgen dalam sedekah . Untuk itulah, penting bagi orang tua untuk memberikan penjelasan bagi anak ihwal sesuatu yang itu dapat disedekahkan. Ada beberapa yang bisa disampaikan oleh orang tua.

  • Salah satu yang mempunyai nilai untuk disedekahkan adalah harta. Setiap orang membutuhkan harta. Ia adalah alat untuk bisa survive dalam kehidupan ini. Harta cakupannya cukup luas. Ini bisa berbentuk uang atau pun barang. orangtua bisa menjelaskan pada anak bahwa harta adalah salah satu yang bisa disedakhkan.
  • Memberikan pekerjaan. Salah satu yang mempunyai nilai sedekah bagi orang lain adalah memberikan pekerjaan atau bahkan memberikan informasi pekerjaan pada orang yang lain. Memberikan pekerjaan atau informasi pekerjaan pada orang lain membuat mereka mandiri. Ini adalah sebuah pemberian yang luar biasa, apalagi di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang diselimuti pengangguran. Sedekah dengan pekerjaan menjadi oase yang kemandirian. Meskipun ini seakan cukup jauh untuk dilakukan oleh anak, tapi ini penting diberikan pada anak agar mereka bisa mengetahui dan mengerti lebih jauh ihwal sesuatu yang bernilai sedekah .
  • Tenaga dan pikiran. Jelaskan pada anak bahwa Sedekah itu tak melulu harta dan memberikan pekerjaan, mengeluarkan seluruh tenaga dan pikiran untuk membantu orang lain dengan penuh keikhlasan juga bernilai Sedekah . Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Belajarlah kalian ilmu, karena sesungguhnya belajar ilmu adalah baik. Mencarinya adalah ibadah, menyebut-nyebutnya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, memberikannya adalah mendekatkan diri pada Allah, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak berilmu adalah Sedekah .”
  • Memberikan senyuman dan wajah ceria. Kedengarannya memang sepele, tapi kalau dilakukan dengan penuh ketulusan senyuman dan penampakan wajah yang ceria ketika bertemu juga bernilai sedekah. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda, “Senyuman kepada saudaramu adalah Sedekah . Kamu menyuruh orang berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar adalah Sedekah. Menunjukkan jalan pada orang yang tersesat juga Sedekah. Menuntun membantu orang yang kelihatannya terganggu juga Sedekah . Menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan adalah juga Sedekah . Menuangkan air dalam timbamu ke dalam timba saudaramu adalah Sedekah . (H.R.at-Tirmizi)
  • Bersilaturahmi pada saudara. Jelaskan pada anak bahwa ketika seseorang mengunjungi saudaranya juga mempunyai nilai Sedekah . Rasulullah Saw bersabda, “Setiap kebaikan adalah Sedekah, dan diantara kebaikan adalah menjumpai saudaramu dengan muka yagn manis, dan menuangkan air dari timbamu ke dalam wadah saudaramu.” (H.R Bukhari).

Berilah penjelasan Bahaya Orang Bakhil

Bakhil atau pelit adalah lawan dari sifat dermawan atau orang yang gemar bersedekah. Orangtua juga perlu menjelaskan pada anak bahwa orang yang bakhil itu di sisi Allah Swt akan mendapat teguran. Sifat teguran itu bisa bersikap keras bagi orang dan bisa saja hanya sebagai sapaan. Semua itu tergantung pada tingkat kebakhilan seseorang. Dalam sebuah hadis disebutkan ihwal sesuatu yang akan menimpa orang bakhil. Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash Shiddiq ra. ia berkata sebagai berikut “Orang yang bakhil tidak akan selamat dari tujuh perkara, yaitu: Ia mati, kemudian hartanya diwarisi oleh orang yang membelanjakannya untuk keperluan diluar yang diperintahkan oleh Allah Swt. Ia dikuasai oleh penguasa jahat yang merampas hartanya setelah menyakitinya dulu. Allah Swt. membangkitkan nafsu syahwatnya, sehingga memusnahkan hartanya. Ia mempunyai kemauan untuk membangun atau memugar bangunan di tempat yang rawan, yang menyebabkan hartanya musnah. Ia ditimpa musibah duniawi, seperti kebanjiran, kebakaran atau kecurian dan lain sebagainya. Ia terserang penyakit yang tak kunjung sembuh, hingga hartanya habis untuk biaya berobatnya; atau mungkin ia menawan hartanya di dalam suatu tempat, kemudian ia lupa letak tempatnya dan tidak dapat menemukannya kembali.”

Orangtua perlu menjelaskan pada anak secara gamblang ihwal dampak bagi orang yang bakhil di kemudian hari. Hal ini bukan untuk menakut-nakuti anak atau memberi ancaman, tapi penyampaian itu bertujuan agar anak dapat mengambil hikmah dari balik semua itu sehingga dalam diri anak mulai awal sudah tertanam untuk membuang jauh-jauh sifat bakhil dan akan selalu tertanam untuk bersikap dermawan.

Memberi Penghargaan pada Anak

Penghargaan adalah bentuk apresiasi dan respek bahwa apa yang telah dikerjakan itu sangat penting. Penghargaan juga menjadi bukti bahwa orang tua itu sangat perhatian terhadap anak. Anak yang diberikan penghargaan juga akan merasa bahwa apa yang selama ini diserukan oleh orangtua untuk selalu bersikap dermawan dan selalu sedekah pada orang lain itu bukanlah pekerjaan sepele, tapi itu suatu amalan ibadah yang cukup istimewa. Dalam diri anak akan tertanam bahwa sedekah adalah istimewa. Sesuatu yang tak mungkin apabila itu tidak istimewa orang tua akan mengapresiasi dalam bentuk penghargaan. Itulah yang akan tertanam dalam diri anak ketika orang tuanya memberikan penghargaan.

Agar anak tetap semangat, orang tua mesti memberikan bentuk penghargaan bagi anak-anaknya ketika mereka sudah melakukan Sedekah. Penghargaan itu tak harus berupa uang. Anak bisa diajak ke suatu tempat untuk berlibur bersama seluruh keluarganya dan bisa pula orang tua memberikan mainan, baju atau bahkan makanan yang menjadi kesukaan anak. Semua itu tergantung pada minat anak dan tiap-tiap orangtua. Yang terpenting orang tua sudah menunjukkan perhatian dan respek yang lebih terhadap sikap anak dalam melakukan amal Sedekah  yang itu dapat dibuktikan dengan memberikan penghargaan.

Kisah-kisah Tentang Sedekah

Untuk mengatasi kebosanan dalam diri anak, orangtua semestinya bisa memilih pelbagai metode untuk menyampaikan pesan terhadap anak, salah satunya adalah dalam bentuk cerita. Ketika melihat anak sudah tak lagi semangat atau dalam kondisi bosan, alangkah lebih baiknya jika orang tua mengajak anaknya untuk bercerita yang ada sangkut pautnya dengan sedekah. Maka pada bagian terakhir di bab ini akan diberikan beberapa bentuk cerita yang bisa menjadi bahan bagi orangtua untuk berkisah ihwal orang yang dermawan, orang yang kikir dan pelit serta ereka yang menjadikan Sedekah sebagai media pengobatan dan mereka bisa menolak balak dengan Sedekah

Mereka yang Dermawan

Salah satu sahabat yang cepat masuk Islam adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau termasuk dalam kelompok delapan sahabat yang paling awal masuk Islam dan bagian dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Dan yang paling utama beliau juga adalah sosok sahabat yang sangat dermawan dan selalu gemar menyedekahkan hartanya untuk kepentingan penegakan agama Islam.

Abdurrahman bin Auf adalah  sahabat paling kaya di antara sahabat-sahabat yang ada. Kekayaannya itu berawal ketika hijrah ke Madinah. Pada saat itu Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshari, salah seorang kaya yang pemurah di Madinah. Beliau juga pernah ditawari Sa’ad untuk memilih salah satu dari dua kebunnya yang luas. Hanya saja, menolaknya. Dan beliau hanya minta kepada Sa’ad ditunjuki salah satu lokasi pasar di Madinah.

Pada saat itulah Abdurahman bin Auf menjadi salah satu pedagang yang mempunyai keuntungan sangar besar. Kian hari bisnisnya kian berkembang dengan pesat, sehingga suatu saat beliua dikenal sebagai salah satu pedagang yang sukses.

Hanya saja kesuksesannya tak membuat belia lupa diri akan sedekah . Keberhasilannya tak membuatnya congkak dan sombong. Harta yang dimiliki tetap disalurkan pada jalan yang benar. Beberapa sahabat beliau sempat mempertanyakan ihwal hartanya yang melimpah ruah dengan nada menyangsikan.

Pada suatu hari, setelah Rasul SAW dipanggil keharibaan Allah SWT, para sahabat Abdurrahman bin Auf berkata kepadanya,  “Wahai Abdurrahman bin Auf, kami kuatir banyaknya harta yang kau miliki akan membuat engkau terlambat menemui Rasul.”

“Kenapa bisa demikian?” tanya Sahabat Abdurrahman keheranan

“Apakah engkau tidak mengetahui hadist Rasulullah, “Tidaklah kedua kaki seorang hamba tergelincir sampai ia ditanya tentang empat buah soal: tentang bagaimana ia mengisi masa mudanya ?,  kemana ia menafkahkannya ?, serta ilmu yang telah ia amalkan?.”

“Engkau akan ditanya,” lanjut para sahabat Ibn auf, “Tentang masa muda, umur dan ilmu hanya berkenaan tentang harta.”

“Pertanyaan pertama, dimanakah engka u menafkahkan harta dan yang kedua dari mana engkau mendapatkannya.”

Ibn Auf mendengar dengan seksama kemudian berujar dengan mantap, “Kalau begitu, apa yang kulakukan dan apa dosaku, jika setiap pagi aku kukeluarkan infaq sebesar 100 dinar , maka niscaya Allah akan memberiku seribu dinar di malam harinya.”

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf  tak hanya disitu, tapi beliau menjadi sosok yang terus membagikan hartanya pada yang membutuhkan, lebih-lebih terhadap Rasulullah ketika dalam sebuah peperangan. Abdurrahman bin Auf menjadi orang pertama yang siap membantu. Pada suatu saat, ketika Rasulullah saw hendak menghadapi tentara Rum dalam Perang Tabuk. Maka datanglah Abdurrahman sebagai pelopor dengan dua ratus ‘uqiyah emas.

Melihat hal tersebut, sahabat Umar ibn Khaththab berbisik kepada Rasulullah, “Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun”

Maka bertanyalah Rasulullah saw, “Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Abdurrahman menjawab, “Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak dan lebih baik daripada yang telah aku infakkan”.

“Apakah itu?”, tanya Rasulullah.

Dia menjawab, “Apa yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya, berupa rezeki, kebaikan, dan pahala yang banyak”.

Selain itu, nyaris tiap hari rumah sahabat Abdurrahman bin Auf tak pernah sepi pengunjung. Dalam beberapa keterangan dijelaskan bahwa sepertiga penduduk Madinah berbondong-bondong mendatangi kerumahnya dengan pelbagai tujuan; ada yang ingin membayar hutang, sepertiga lainnya berkunjung untuk berhutang dan sepertiga berikutnya bersilaturahmi sambil mengambil sedekah. Itulah sikap kedermawanan Abdurrahman bin Auf.

Dengan sikap itu rezeki Abdurrahman bin Auf terus mengalir. Abdurrahman bin Auf menjadi sosok paling kaya di madinah dan Abdurrahman bin Auf juga dijamin masuk surga.

Suatu hari, ada iring-iringan kafilah dagangan Abdurrahman bin Auf yang terdiri dari 700 ekor unta dengan muatan pangan, sandang, serta barang-barang kebutuhan penduduk tiba di Madinah. Suara itu cukup nyaring dan penuh dengan hiruk-pikuk, sehingga Aisyah bertanya kepada seseorang, “Suara apakah itu?

Orang itu menjawab, “Iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman.”

Aisyah berkata, “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada Abdurrahman di dunia dan akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”

Orang itu langsung menemui Abdurrahman bin Auf dan menceritakan apa yang didengarnya dari Aisyah. Mendengar hal itu, ia pun bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, apakah ibu mendengar sendiri ucapan itu dari Rasulullah?. “Ya,” jawab Aisyah, itulah hikmah dari sifat kedermawanan Abdurrahman bin Auf. Di tengah-tengah harta yang melimpah Abdurrahman bin Auf tidak lupa bahwa semua itu hanyalah amanat Allah Swt. Abdurrahman bin Auf orang yang loyal untuk menyedekahkan hartanya di jalan Allah Swt sehingga belai dijamin masuk surga oleh Rasulullah Saw.

Itulah beberapa kisah ihwal keutamaan Sedekah. Orang tua atau pendidik bisa memberikan menyampaikan kisah-kisah tersebut pada anak-anaknya untuk menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap Sedekah. Anak yang sudah timbul rasa kagum dan cinta pada Sedekah, maka ia akan dengan mudah dituntut dalam hidupnya untuk senantiasa melakukan Sedekah  terhadap mereka yang membutuhkan

Daftar Bacaan

Ridwan Abqory, 101 Info tentang Sedekah , (Bandung: Mian Pustaka, 2010)
Fuad Abdurrahman, Kehebatan Sedekah, (Bandung: Mizan Pustaka, 2009)
Indria Rusmana Dani & Muthia Esfand, Cantik Dengan Sedekah , (Jakarta: Qultum Media,2010 )
Muhammad Thobroni, Mukjizat Sedekah , (Yogyakarta: Pusataka Marwa, 2007)
Wahyu Indah Retnowati, Hapus Gelisah dengan Sedekah , (Jakarta: Kultum Media, 2007)