Tokoh Pendidikan Anak Usia Dini dan Pemikirannya

Konsep Dasar PAUD
pixabay image

 

Pendidikan anak usia dini dalam prosesnya harus dilandasi ilmu pendidikan anak. Pendidikan anak usia dini tanpa dilandasi dengan ilmu pendidikan hanya akan berjalan tanpa arah. Landasan pendidikan anak usia dini bersumber dari pemikiran para tokoh. Tokoh pendidikan anak usia dini dalam sejarahnya telah memberikan kontribusi pemikiran terhadap penerapan pendidikan anak usia dini secara praktis saat ini.

Pertanyaan yang selalu berkelindan; siapakah anak usia dini itu? Apakah ketika lahir mereka sudah mempunyai kemampuan atau tidak? Apakah ketika anak lahir membawa potensi yang baik atau tidak? Apakah anak usia dini mempunyai karakteristik khusus atau mereka sama seperti orang dewasa kebanyakan? Apakah anak usia dini bisa belajar sendiri atau perlu stimulus dan rangsangan dari luar? Aspek apa saja perkembangan anak usia dini? Apakah lingkungan mempunyai pengaruh pada perkembangan anak usia dini? Apakah anak hanya dibekali dengan kecerdasan tunggal atau kecerdasan jamak?

Pertanyaan itu selalu muncul dalam sepanjang sejarah untuk mencari kebenaran hakikat anak usia dini. Kebenaran ihwal hakikat anak usia dini akan mengantarkan pada kebenaran proses pendekatan dan cara untuk mendidik anak usia dini, mulai dari cara melayani anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik, kegiatan yang cocok untuk kebutuhan anak serta nilai-nilai yang perlu ditumbuhkan dalam anak usia dini.

Dalam sejarah pendidikan anak usia ini, ada beberapa nama para tokoh yang pemikiran dan gagasanya masih menjadi acuan hingga saat ini. Meskipun ada beberapa pandangan yang kadang bertolak belakang dan berbeda, tapi paling tidak kita bisa belajar dari mereka untuk menyelenggarakan proses pendidikan anak usia dini selalu menjadi lebih baik.

Inilah beberapa filsuf pendidikan anak yang mempunyai kontribusi dan pengaruh bagi pendidikan anak usia dini hingga saat ini. Ada Martin Luther (1483-1546), John Comenius (1592-1670), John Locke (1632-1704), Jean Jasques Rousseau (1712-1778), Johann Pestalozzi (1746-1827), Friedrich Froebel (1782-1852), Maria Montessori (1870-1952), John Dewey (1859-1952), Jean Piaget (1896-1980), Lev Vygotsky (1896-1934), Abraham Maslow (1908-1970), Erik Erikson (1902-1994), Uria Bronfenbrenner, Ki Hadjar Dewantara (1922-), Howerd Gardner (1943-). Tiap-tiap tokoh memberikan kontribusi khusus pada pendidikan anak usia dini.

Baca juga: Mengenal Hakikat Anak Usia Dini

Martin Luther (1483-1546)

Martin Luther adalah sosok yang meyakini bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting diberikan pada anak-anak. Pendidikan bagi Martin Luther adalah bekal yang utama untuk kehidupan anak di kemudian hari. Untuk itu, Martin menekkankan perlunya ada sekolah untuk mengajar anak membaca dan perlunya juga peran keluarga sebagai institusi pertama yang menjadi dasar bagi pendidikan dan perkembangan anak. Sekolah dan keluarga bagi Martin harus berkolaborasi untuk mendidik anak.

Pada mulanya membaca hanya untuk kaum rohaniawan, bukan untuk masyarakat umum. Martin dengan gebrakannya telah menggantikan otoritas hierarki gereja katolik barat dengan Otoritas Alkitab. Dengan menerjemahkan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa sehari-hari masyarakat setempat, maka membaca dan berpengetahuan bukan lagi milik kaum rohaniawan, tapi sudah menjadi milik bersama. Masyarakat bisa belajar sendiri serta pendidika menjadi hak semua masyarakat.

John Amos Comenius (1592-1670)

Sosok yang lahir di Moravia (sekarang republik Czech) sangat berkontribusi dalam proses penulisan buku teks untuk anak-anak. Karyanya, The Great Didactic dan Orbit Pictus adalah buku bergambar pertama yang hadir untuk anak-anak. John Amos Comenius meyakini bahwa anak-anak lahir ke dunia sebagai citra Tuhan. Untuk itulah pendidikan anak usia dini sangat diperlukan.

Sumbangan John Amos Comenius adalah penekanannya pada panca indra. Ia meyakini bahwa anak-anak sejak dini proses pembelajarannya harus melibatkan panca indra, mulai dari penglihatan, sentuhan, pendengaran, pengecap, serta penciuman. Mengajar adalah menempatkan sesuatu di hadapan indra secara nyata. Kalau kita ingin mengajarkan benda-benda, maka benda-benda yang dihadirkan pada diri anak harus hadir di didepannya. Jangan pernah mengajarkan sesuatu tanpa kehadiran barang tersebut di depannya. Buku Orbit Pictus membantu anak-anak belajar mengenal nama benda-benda dengan gambar dan tulisan. Pembelajaran panca indra ini pada gilirannya banyak diterapkan di beberapa lembaga PAUD di kemudian hari.

John Locke (1632-1704)

Filsuf kelahiran Inggris ini sangat dikenal dengan konsep tabula rasa atau lembar kosong; keyakinan bahwa anak-anak sejak lahir mempunyai jiwa yang kosong sehingga pengaruh lingkungan menjadi penentu. Lingkungan bagi John Locke adalah penentu utama anak-anak akan menjadi apa di kemudian hari. John Locke dianggap sebagai peletak dasar bagi teori environmentalisme, sebuah teori yang menyatakan bahwa lingkungan paling utama yang mempengaruhi perkembangan intelektual  dan perkembangan budaya anak dibanding dengan faktor hereditas.

John Locke meyakini bahwa semua anak lahir kedunia dengan kapasitas yang sama. Faktor lingkungan, seperti lingkungan keluarga, kontek sosial ekonomi, serta pengalaman lain yang akan mempengaruhi perkembangan mental dan pembelajaran anak. Asumsi inilah yang kemudian memunculkan program-program pendidikan anak usia 3-4 tahun di negara maju untuk mensekolah-negerikan. Hal itu berangkat dari asumsi bahwa beberapa anak tidak memiliki kesiapan yang dibutuhkan bagi TK sehingga mempunyai resiko gagal di kehidupan.

Jean Jasques Rousseau (1712-1778)

Buku Emile karya Jean Jasques Rousseau telah membuat gebrakan baru pada masanya ihwal pendidikan anak. Buku yang sangat terkenal itu telah membingkai pandangan-pandangan Jean Jasques Rousseau ihwal bagaimana anak sebaiknya diasuh. Dalam kalimat pembukaannya Jean Jasques Rousseau berkata, “Tuhan membuat semua hal baik; manusia bermain-main dengan hal-hal tersebut  dan menjadikan mereka jahat.”

Dari pernyataan tersebut sudah sangat kental bahwa Jean Jasques Rousseau adalah sosok naturalis yang mengajak semua orang untuk meninggalkan ambisi-ambisi mereka untuk memaksakan kehendaknya pada anak-anak. Rousseau meyakini bahwa proses pendidikan alamiah menguatkan spontanitas anak dan cara anak melakukan eksplorasi. Anak-anak dengan berintaksi dengan alam dan bermain bebas secara natuyral akan menjadikan mereka lebih bahagia dan eksploratif.

Naturalisme yang di bawa Jean Jasques Rousseau telah membuka jalan pikiran Pestelozzi, Froebel hingga perkembangan kognitif Jean Piaget. Beberapa tokoh tersebut seakan mata rantai dari teori Jean Jasques Rousseau ihwal ajakan kembali pada alam karena sejatinya anak-anak sudah mempunyai tahapan perkembangan sendiri. Anak-anak, bagi Jean Jasques Rousseau, berkembang sebagai hasil dari pendewasaan menurut jadwal-jadwal perkembangan bawaan mereka. Lingkungan, baik orangtua dan guru memang bisa mengontrol pendidikan yang bisa berasal dari pengalaman dan indra, tapi mereka tak bisa mengontrol pertumbuhan alami anak.

 

Johann Heinrich Pestalozzi (1746-1827)

Pestalozzi adalah pengikut setia konsep naturalismenya Rousseau. Pestalozzi membeli sebuah peternakan untuk membangun sekolah yang diberi nama Neuhof. Sekolah itu sebagai pengejawantahan ide-ide Pestalozzi ihwal integrasi kehidupan rumah, pendidikan baca tulis dan pendidikan untuk menyiapkan tenaga kerja.

Pestalozzi mengasuh putranya, Jean-Jacques dengan menggunakan karya Rousseau, Emile sebagai panduannya. Pengaruh paling menonjol pemikiran Rousseau terhadap konsep pendidikan Pestalozzi tentang perkembangan alamiah anak. Pestalozzi pun meyakini bahwa anak-anak sudah mempunyai tahap perkembangan alamiah.

Pestalozzi juga meyakini bahwa proses pendidikan anak harus berlangsung dengan melibatkan semua panca indra. Dengan rangsangan dan pengalaman panca indera yang tepat, maka anak-anak akan belajar dengan maksimal. Proses pembelajaran, mulai dari cara menghitung, mengukur, merasakan, menyentuh harus dengan proses menyentuh sesuatu yang kongkrit.

Konsep pendidikan Pestalozzi menekkankan pada pengamatan alam, menumbuhkan keaktifan jiwa dan raga anak serta proses pembelajaran dilakukan secara teratur dan berurutan, mulai dari sederhana ke kompleks dan dari kongkrit ke abstrak.

Friedrich Froebel (1782-1852)

Friedrich Froebel yang lahir di Oberweiszbach, Jerman adalah tokoh pendidikan anak yang memberikan pemikiran baru. Jika Pestalozzi sebagai koleganya lebih fokus pada sistem pengajaran, maka Froebel lebih memilih untuk mengembangkan kurikulum dan metodologi pendidikan seacar lebih utuh. Kontribusi utama pemikiran Froebel ada dalam bidang pembelajaran, kurikulum, metodologi serta pelatihan guru. Froebel dikenal sebagai Bapak taman Kanak-kanak karena dianggap sebagai pendidik pertama yang mengembangkan sebuah program sistematis dan terencana untuk mendidik anak kecil.

Froebel menggunakan konsep penyingkapan dalam mendekati anak-anak. Bagi Froebel, peran pendidik adalah mempelajari proses penyingkapan alamiah anak dan pendidik menyediakan lingkungan dan aktivitas dimna anak nantinya sudah siap untuk belajar. Pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi inheren yang ada dalam dirinya.

Ide Froebel tentang penyingkapan mengibaratkan anak-anak sebagai benih dan pendidik adalah tukang kebunnya. Benih itu ditanam, bertunas, tumbuh, berbunga, terus tumbuh membesar dan akhirnya berbuah. Tukang kebun bertugas untuk memahami hakikat benih dan bertugas untuk merawat dengan menyuburkan tanahnya, mulai dari menyiram, memupuk serta membasmi dari ancaman ancaman hama yang membahayakan.

Dalam proses penyingkapan dan perawatan itulah Freobel membuat kurikulum melalui permainan, bernyanyi dan memanipulasi hadiah-hadiah Froebel. Bagi Froebel anak-anak harus melakukan proses bermain secara terstruktur dan guru harus bertanggung jawab untuk membimbing anak-anak.

Hadiah-hadiah Froebel tentang belajar lewat bermain. Image/froebel foundation.org

 

Salah satu kontribusi yang sampai saat ini masih dirasakan adalah Hadiah Froebel (Froebel’s Gifts), yang terdiri dari 10 perangkan bahan pembelajaran yang dirancang untuk membantu murid belajar lewat bermain dan manipulasi. Ide penting dari adanya hadiah ini adalah mengajari anak-anak untuk meneliti hal-hal yang ada di lingkungan sekitar mereka dengan bebas tapi dengan terstruktur. Hadiah froebel ini nyaris masih digunakan di seluruh TK di dunia. Apakah Anda bisa membayangkan sebuah TK tak ada alat permainan balok, blok-blok bangunan serta sejenisnya?

Konsep Froebel ihwal Hadiah Froebel (Froebel’s Gift) telah membangkitkan industri permainan modern hingga saat ini, mulai dari blok-blok bangunan papan besar, perangkat alfabet, puzle 3-D serta ragam permainan lainnya. Selain konsep Hadiah Froebel (Froebel’s Gifts), Froebel juga menyediakan bahan-bahan aktivitas kerajinan atau yang lebih dikenal dengan konsep Pekerjaan (occupation), mulai dari kerajinan menggambar, menggunting, menempel, melipat, merajut, menjahit, serta membuat model dari tanah liat. Bagi Froebel, aktivitas itu untuk memperluas konsep Hadiah Froebel (Froebel’s Gifts) agar anak-anak melakukan aktivitas yang berberda-beda.

ragam bahan aktivitas kerajinan atau yang lebih dikenal dengan konsep Pekerjaan (occupation), image/froebel fundations.org

 

 

Maria Montessori (1870-1952)

John Dewey (1859-1952)

Jean Piaget (1896-1980)

Lev Vygotsky (1896-1934)

Abraham Maslow (1908-1970)

Erik Erikson (1902-1994)

Uria Bronfenbrenner

Ki Hadjar Dewantara (1922-1959)

Howerd Gardner (1943-)